
Happy Reading...
Alisha keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai baju lengkap dia duduk di depan cermin meja riasnya dia mengambil sebuah buku dan pulpen.
Dan mulai menuliskan sebuah surat perpisahan kepada Nevan, karena dia akan pergi dari apartemen Nevan malam ini juga.
Untuk Mas Nevan.
Terima kasih untuk malam yang indah ini Mas, malam ini adalah malam yang paling membahagiakan untuk Alish dan malam yang tidak akan mungkin bisa Alish lupakan untuk selamanya.
Terima kasih sudah hadir di hidup Alish dan membuat Alish menjadi wanita yang lebih dewasa lagi.
Mas Nevan Alish pergi ya, Alish akan menunggu surat perceraian kita di rumah orang tua Alish, mulai sekarang Mas Nevan bebas tidak terikat hubungan apapun dengan Alish, semoga Mas Nevan dan Mbak Mesha selalu bahagia setelah ini.
Maafkan Alish yang sudah hadir di antara kalian dan membuat hubungan kalian jadi terhalang karena kehadiran Alish.
Mas jaga selalu kesehatan Mas Nevan ya, maafkan Alish yang tidak bisa jadi istri yang baik untuk Mas Nevan selama kita menikah,
Selamat tinggal Mas.
Saat menuliskan kata perkata di kertas itu air mata Alisha tanpa terasa berjatuhan di pipinya, Alisha mengusap pipinya dengan telapak tangannya.
Alisha menyimpan kertas itu di nakas samping tempat tidur dan melepaskan cincin pernikahan yang Nevan pakaikan padanya di depan penghulu dan di depan almarhum Ayahnya sesaat sebelum Ayahnya pergi untuk selamanya.
"Ternyata aku sampai juga di fase ini Mas, fase dimana Alish harus pergi dari kehidupan Mas Nevan dan melupakan semua perasaan yang Alish miliki untuk Mas Nevan," kata Alisha berjalan dan duduk di pinggir ranjang menatap wajah Nevan yang sedang tenang dalam lelapnya.
"Selamat tinggal Mas, semoga setelah ini kamu selalu bahagia dengan Mbak Mesha, aku ingin sekali bilang kalau aku sangat mencintaimu Mas tapi aku sadar itu tidak akan merubah apapun, kamu tidak akan pernah membalas perasaanku 'kan Mas? tapi tidak apa-apa Mas cukup aku saja di sini yang tau sebesar apa cinta yang aku miliki untukmu Mas," kata Alisha pelan dengan tersenyum getir, dia mengusap pipi Nevan dengan lembut dan perlahan agar tidak mengganggu tidur Nevan.
"Aku pergi ya Mas," kata Alisha dia mencium kening Nevan dan langsung bangun dia menarik koper yang sudah siap di sudut kamarnya itu dengan agak kesusahan.
Alisha keluar dari kamarnya dan melihat ke sekeliling apartemennya dia melihat sofa tempat dia biasa menunggu Nevan pulang.
Alisha juga pergi ke pintu dapur dia berdiri di ambang pintu melihat meja makan yang kadang menjadi tempatnya terlelap dengan makanan yang belum tersentuh olehnya karena menunggu kedatangan Nevan dengan harapan Nevan mau makan malam bersamanya meskipun itu hanya akan menjadi kekecewaan karena Nevan tidak pernah menggubris nya.
"Kenapa harus seberat ini Ya Allah," gumam Alisha lirih.
__ADS_1
Alisha mengusap lagi pipinya yang terasa basah dia kemudian bergegas pergi dari sana karena kalau terlalu lama di sana dia takut dia akan berubah pikiran dengan keputusan yang sudah di ambilnya dengan matang-matang.
Alisha berjalan menyusuri lorong apartemennya dengan kedua tangan menyeret koper.
Lobby apartemennya terasa sangat sepi itu karena waktu sudah menunjukkan tengah malam waktu dimana seharusnya semua orang terlelap.
Alisha memasukkan koper-kopernya ke bagasi mobil setelah itu dia masuk kedalam mobilnya dan mulai menjalankan mobilnya.
Mobil Alisha melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang tidak terlalu ramai itu.
Beberapa saat kemudian mobil Alisha sampai di rumah almarhum kedua orang tuanya, rumah yang beberapa bulan ini tidak dia tempati.
Alisha membuka pintu rumahnya dengan kunci cadangan yang selalu dia bawa kemanapun.
Dia menutup kembali pintu itu dan berjalan akan menaiki tangga menuju ke kamarnya tapi belum sempat dia menaiki tangga seseorang terlihat berjalan dari arah dapur dengan sapu ditangannya.
"Nona Alish kenapa datang malam-malam seperti ini," kata Art yang sudah Ratih siapkan untuk menemani Alisha di rumah itu agar dia tidak kesepian karena tinggal sendiri.
"Bibi kenapa belum tidur?" tanya Alisha heran.
"Maaf ya sudah buat bibi kaget," kata Alish tersenyum kepada Art-nya itu.
"Iya tidak apa-apa kok Non, oh iya Non Alish kenapa tidak bilang kalau mau pulang malam ini kalau Non Alish bilang mungkin Bibi akan persiapan apa gitu untuk Non Alish," kata Bibi dengan panjang lebar.
"Lebih cepat lebih baik Bi, kamar Alish sudah disiapkan 'kan Bi?" tanya Alisha.
"Sudah dong Non tadi siang saat Non Alish nelpon Bibi langsung laksanakan perintah Non Alish merapikan kamar Non Alish sampai rapi serapi-rapinya bahkan tidak ada satu butir debu pun kayaknya di kamar Non itu," Kata Bibi sama seperti sebelumnya Alisha hanya berkata beberapa kata dan Bibi menjawabnya dengan banyak kata hingga membuat Alisha tersenyum lebar.
"Baiklah kalau gitu terima kasih ya Bi," kata Alisha.
"Iya sama-sama Non, Non sebaiknya segera istirahat ini sudah malam," kata Bibi.
"Baiklah Bi, Bibi juga segeralah istirahat ini sudah malam," kata Alisha.
"Siap Non, Bibi juga sudah mulai ngantuk lagian film India favorit Bibi sudah selesai jadi sekarang Bibi juga mau tidur Non, tadi itu karena tidak bisa tidur akhirnya Bibi lanjutin lagi deh Non nonton film India favorit Bibinya di internet," cerita Bibi meskipun tidak ada yang bertanya.
__ADS_1
"Oh gitu ya Bi, ya udah kalau gitu Alish duluan ya Bi Alish capek mau istirahat," kata Alisha berpamitan.
"Iya Non selamat istirahat ya kalau Non merasa ada yang kurang di kamarnya langsung panggil saja Bibi ya," kata Bibi.
Alisha pun menganggukkan kepalanya dan menaiki tangga menuju ke kamarnya, untuk beberapa saat dia lupa dengan masalahnya karena mendengarkan perkataan Art-nya yang selalu berbicara banyak itu.
Alisha merebahkan tubuhnya di ranjangnya badannya sebenarnya sangat lelah karena seharian ini belum dia istirahatkan ditambah aktivitasnya dengan Nevan barusan membuat kakinya pegal apalagi di daerah privasinya terasa sangat sakit.
Mengingat aktivitasnya dengan Nevan beberapa waktu lalu membuat Alisha teringat lagi tatapan lembut yang Nevan tunjukkan untuknya saat dia meringis menahan sakit.
Tatapan yang selalu Alisha dambakan selama pernikahannya itu telah dia dapatkan untuk pertama dan terakhir kalinya.
"Untuk beberapa saat kamu seperti membawa aku ke alam mimpi Mas, Mimpi yang teramat indah namun hanya sesaat, mimpi yang hilang saat aku bangun dari tidur ku dan hanya tersisa bayangan-bayangannya saja," gumam Alisha dengan pandangan menerawang melihat lampu di langit-langit kamarnya.
Perlahan mata Alisha mulai berat hingga akhirnya dia pun tertidur dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa kasih dukungannya lagi ya kakak-kakak reader semuanya agar aku semakin semangat lanjut ceritanya.π
__ADS_1
Maaf ya kalau aku tidak bisa Up banyak-banyak semoga reader semuanya bersedia menunggu Up-an cerita yang lelet iniππ