
Happy Reading...
Hari ini adalah hari libur Alisha maupun Nevan tidak pergi keluar hari ini Nevan duduk santai di sofa yang ada di ruang tengah sambil memainkan laptopnya.
Sedangkan Alisha dia mencuci pakaiannya sendiri dengan menggunakan tangannya tidak memakai mesin cuci karena pakaian Nevan pun banyak yang harus Lastri cuci dan pasti akan lama kalau di nunggu pakaian Nevan beres.
Alisha memang tidak pernah lagi menyatukan pakaiannya dengan pakaian Nevan semenjak kejadian tempo hari dimana Nevan mengatakan dengan jelas kalau dia tidak mau pakaiannya tercampur dengan pakaian orang lain.
Mengingat hal itu lagi membuat Alisha menghela napas dalam-dalam karena dia merasa sedih bahkan hanya pakaiannya saja pun Nevan tidak sudi bersentuhan dengan pakaian Alisha.
"Non biar Bu Las saja yang cuciin bajunya itu pasti capek Non kalau di kerjakan sendiri," kata Lastri yang kasian melihat Alisha mencuci pakaiannya yang lumayan banyak menggunakan tangannya.
"Tidak perlu Bu sebentar lagi juga selesai Bu Las beresin saja mencuci pakaian Mas Nevannya," kata Alisha tersenyum kepada Lastri.
Pakaian kotornya lumayan banyak karena dia beberapa hari tidak mencuci pakaiannya, selain sibuk kuliah dia pun harus cuci darah dan setelah selesai sesi cuci darah badannya pasti tidak kuat untuk melakukan pekerjaan apapun.
"Tapi Non pasti kelelahan Bu Las bisa sambil nunggu kalau nyuci di mesin seperti ini Non,"
"Tidak Bu nanti malah Bu Las yang capek kalau gitu," Jawab Alisha.
"Sekarang Bu Las kerjakan yang lainnya saja Bu," kata Alisha lagi.
Lastri pun tidak membantah lagi dia menurut dan pergi dari sana mengerjakan pekerjaan yang lain lagi sambil menunggu cuciannya selesai.
Lastri selalu berpikir bagaimana bisa orang sebaik Alisha tidak mendapatkan cinta dari suaminya itu? Apa Nevan tidak bisa melihat semua ketulusan Alisha.
Beberapa saat kemudian Alisha selesai mencucinya bersamaan dengan Lastri yang selesai juga mencucinya.
...POV Alisha....
Setelah selesai mencuci pakaian ku, aku berniat akan kembali ke kamarku tapi tiba-tiba saja aku merasakan sakit yang luar biasa di perutku sehingga membuatku meringis sambil memegang perutku.
"Non kenapa?" tanya Bu Las dengan suara yang khawatir kepadaku.
"Alish tidak apa-apa Bu hanya merasa kram perut saja," jawabku dengan berusaha tersenyum meskipun perutku serasa ada yang menusuknya.
"Non duduk 'lah," Kata Bu Lastri memapah aku untuk duduk di kursi meja makan.
Aku pun menurut dan duduk di kursi yang ada di meja makan dengan masih menekan perutku yang masih terasa sakit.
"Bu bisa tolong ambilkan Alish minum tidak," kataku kepada Bu Las.
"Baik Non," jawab Bu Las menganggukkan kepalanya dan pergi mengambilkan air minum untukku.
Saat Bu Las kembali ke meja makan dengan membawa air putih di teko dan gelasnya aku pun segera meminum air putih itu sebanyak-banyaknya agar sakit di perutku segera hilang.
"Terima kasih ya Bu," kataku kepada Bu Las saat sudah selesai minumnya
__ADS_1
"Iya sama-sama Non apa sudah lebih baik?" tanya Bu Las.
"Alhamdulillah sudah Bu," jawabku tersenyum kepada Bu Las yang terlihat khawatir.
"Ya sudah kalau gitu Bu Las mau memasak untuk makan siang dulu ya Non," pamit Bu Las.
"Iya Bu maaf ya Alisha tidak bisa bantu Alisha mau istirahat dulu di kamar," kataku di jawab anggukkan oleh Bu Las.
Aku pun mulai berjalan menuju kamar ku saat melewati pintu apartemen terdengar suara bel berbunyi karena aku berada di dekat pintu akhirnya aku membuka pintu.
Saat pintu terbuka ternyata Mbak Mesha yang datang, Mbak Mesha menatapku dengan tatapan sinis.
"Aku kira saat aku ke sini lagi sudah tidak ada kamu di sini," katanya dengan nada yang mencibir.
"Ini rumah suamiku Mbak kalau aku tidak di sini terus dimana lagi? karena seorang istri harus ada dimana suaminya berada," jawabku santai.
Kalau berhadapan dengan Mbak Mesha aku masih bisa membalasnya tapi tidak dengan suamiku, aku tidak bisa melakukan apapun di depannya.
Mendengar perkataanku Mbak Mesha semakin menatapku dengan tajam tapi aku membalas tatapan itu dengan santai.
"Sa, sudah datang kenapa gak langsung masuk," kata Mas Nevan yang sudah berada dibelakang ku.
Ku lihat Mbak Mesha langsung merubah ekspresi wajahnya dengan senyuman manis kepada Mas Nevan, aku hanya menggelengkan kepalaku Mbak Mesha benar-benar cocok jadi Artis pikirku.
"Bagaimana aku bisa masuk kamu tidak lihat jalan masuknya di halangi seperti ini," kata Mbak Mesha dengan memasang wajah cemberutnya.
Mbak Mesha pun masuk dia dengan sengaja menabrak pundak ku dengan keras sehingga badanku bergeser.
"Aku kangen," ucapnya manja sambil memeluk tubuh Mas Nevan dan mencium kedua pipi Mas Nevan karena Mbak Mesha memiliki tubuh yang tinggi di tambah dengan High heels yang dikenakannya membuat nya lebih mudah mencium kedua pipi Mas Nevan.
Jangan tanya bagaimana perasaan ku sekarang saat melihat wanita lain melakukan hal itu pada suamiku. sementara aku jangankan memeluk ataupun menciumnya bahkan menyentuhnya saja aku hanya pernah beberapa kali, itupun hanya saat aku mencium tangannya.
Tiba-tiba saja aku berkhayal seandainya yang ada di posisi Mbak Mesha adalah aku, aku pasti akan sangat senang akan hal itu.
"Belum juga sehari kita tidak bertemu seperti sudah berminggu-minggu saja tidak bertemu," kata Mas Nevan dengan suara yang lembut dan senyuman yang selalu aku dambakan.
Melihat senyaman itu lagi-lagi seperti menghipnotis ku sehingga tanpa sadar aku pun ikut tersenyum dengan pandangan yang fokus kepada Mas Nevan yang sedang tersenyum dan berbicara dengan lembut kepada Mbak Mesha.
"Kenapa kamu hanya mematung dan tersenyum sendiri seperti orang gila di sana," kata Mas Nevan menyadarkan aku dari khayalan indah tentangnya dan aku.
Bahkan hanya berkhayal saja Mas Nevan tidak membiarkannya. dia mengacaukan khayalan indahku saat dia memperlakukan aku dengan begitu baik.
"Maaf Mas apa ada yang perlu Alish bantu?" tanyaku dengan tersenyum.
"Tutup pintunya apa kamu akan membiarkan pintu itu terus terbuka seperti itu," katanya dengan nada yang berbanding terbalik saat dia berbicara dengan Mbak Mesha.
Aku pun menganggukkan kepalaku dan menutup pintu apartemen. setelah itu melihat mereka yang melangkah menuju ke arah dapur.
__ADS_1
Aku pun mencoba mencari tahu apa yang akan mereka lakukan dengan mengikuti mereka menuju dapur.
Aku berdiri di ambang pintu dapur melihat Mas Nevan yang sedang mengambil bahan masakan.
"Jadi mau aku buatkan apa nih untuk makan siangnya?" tanya Mas Nevan melihat kearah Mbak Mesha yang sedang duduk manis di meja makan dengan bertopang dagu.
"Apa saja, semua masakan yang kamu masak selalu enak menurut ku," jawab Mbak Mesha dengan tersenyum.
"Baiklah kamu duduk manis saja di sana jangan menggangguku agar cepat selesai aku memasaknya," kata Nevan kepada Mbak Mesha.
"Aku tidak janji untuk hal itu karena kamu terlihat semakin tampan dan seksi saat sedang memasak jadi aku tidak bisa kalau hanya melihatnya saja," kata Mbak Mesha membuat Mas Nevan terkekeh dengan perkataannya.
"Dasar penggoda," kata Mas Nevan kepada Mbak Mesha.
Setelah itu banyak lagi pembicaraan mereka dengan saling merayu tanpa memperdulikan aku yang berada di sana.
Aku ingin pergi tapi kakiku seolah enggan untuk pergi aku hanya bisa mematung di ambang pintu dengan dada yang terasa semakin terhimpit benda yang begitu besar dan tajam.
Aku ingin menangis dengan keras dan memaki mereka yang tidak mempunyai perasaan sama sekali bercanda dan saling merayu di depanku tapi aku sadar akulah yang bodoh di sini karena masih saja bertahan di sini untuk menyaksikan semua itu.
"Non," usapan lembut di pundak ku membuat aku membalikkan tubuhku.
Kulihat Bu Las menatapku dengan tatapan iba secara reflek aku memeluk tubuh Bu Las dan menumpahkan air mata yang dari tadi ingin keluar.
Bu Las berjalan perlahan membawaku yang masih dalam pelukannya menuju kamarku saat sampai di dalam kamarku tangisanku semakin pecah di pelukannya.
Dia mendudukkan dirinya dan diriku di pinggir ranjang ku dia mengusap lembut punggungku untuk menenangkan aku yang masih terisak.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Boleh minta dukungannya kakak-kakak semuanya dengan meninggalkan jejak Like dan Komentarnya😁🥰
__ADS_1
Mohon maaf sebelumnya🙏 bagi yang tidak suka dengan cerita ini langsung berhenti saja ya bacanya jangan berkomentar yang pedas-pedas nanti authornya kepanasan😂😉