
Happy Reading...
Alisha masih terisak di pelukan Lastri dan Lastri pun membiarkannya dia terus mengusap punggung Alisha dengan lembut.
Lastri ikut sedih dengan kehidupan yang Alisha jalani ini dia sudah tidak mempunyai orang tua dan suaminya sama sekali tidak memperdulikan dirinya.
Saat ini seharusnya orang yang berada di sisi Alisha menenangkan Alisha saat dia rapuh adalah Nevan sebagai suaminya tapi Nevan malah tidak memperdulikannya dan membuat Alisha selalu terluka.
"Menangis lah Non sampai semua rasa sesak di hati Non Alish berkurang," kata Lastri dengan suara lembut seperti seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya sendiri.
"Apa Alish bodoh Bu?" tanya Alisha dengan lirih dia mengangkat kepalanya menatap Lastri.
"Kenapa Non Alish bertanya seperti itu?" tanya Lastri memegang tangan Alisha dengan lembut.
"Karena Alish masih tetap berdiri sok kuat di sini padahal hati Alish setiap saat tergores dan membuat luka yang belum terobati terluka lagi dan lagi Bu," kata Alisha dengan air mata yang terus mengalir di pipinya membasahi pipi putih Alisha yang tirus itu.
"Di sisi lain Alish ingin pergi tapi di sisi lain Alish juga tidak bisa pergi Bu Alish tidak mau pergi menjauh dari Mas Nevan apa Alish memang bodoh Bu," kata Alisha menatap Lastri dengan mata merahnya.
Lastri ikut meneteskan air matanya melihat sebuah kesedihan yang teramat dalam itu, Lastri melihat ketidakberdayaan dari tatapan Alisha.
"Tidak Non, Non tidak bodoh justru mereka yang sudah terus menyakiti Non lah yang bodoh karena mereka tidak tau tentang sebuah ketulusan yang sesungguhnya yang ada dalam diri Non Alish," jawab Lastri menggelengkan kepalanya dia kembali memeluk Alisha untuk menenangkannya.
"Bu Las yakin suatu saat tuan Nevan akan sangat menyesal karena telah menyia-nyiakan istri sebaik Non Alish seperti ini," kata Lastri mengusap belakang kepala Alisha.
"Alish tidak tau sampai kapan Alish bertahan dengan semua ini Bu, Alish juga tidak tau berapa lama lagi waktu Alish berada di dunia ini tapi apakah salah jika Alish berharap sebentar saja, hanya sebentar Alish berharap bisa merasakan cinta Mas Nevan untuk Alish meski itu seperti tidak mungkin Bu," kata Alisha dengan suara yang terputus-putus karena tangisnya.
Lastri melepaskan pelukan antara mereka dia menatap Alisha dengan seksama.
"Tidak ada yang tidak mungkin selagi kita mempercayakan semua kepada Allah Non, yakinlah suatu saat nanti bukan hanya sebentar tapi selamanya tuan Nevan akan mencintai Non Alish," kata Lastri memberikan Alisha kekuatan.
"Non harus yakin sekeras apapun hati manusia kalau kita memintanya pada Allah, Allah akan dengan sangat mudah meluluhkan hati itu Non jangan menyerah dan jangan pernah putus asa," Lastri memegang lengan Alisha dengan lembut.
Alisha menganggukkan kepalanya dan mengusap air mata di pipinya dengan punggung tangannya.
Alisha menenangkan dirinya dengan beberapa kali menarik napas dan mengeluarkannya lagi secara perlahan dengan sisa-sisa tangisnya.
"Bu Las ambilkan dulu air minum ya," kata Lastri sambil berdiri.
"Iya Bu, makasih ya," kata Alisha.
"Iya, Non tunggu dulu lah di sini jangan keluar kalau Non tidak kuat melihat mereka," kata Lastri sambil keluar dari kamar Alisha.
Alisha menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada Lastri yang semakin menghilang dari pandangannya.
Lastri masuk ke dapur dia melihat Nevan dan Mesha sedang masak sambil sesekali bercanda dan tertawa dengan lepas seolah di sini hanya ada mereka saja.
__ADS_1
"Maaf mengganggu tuan, saya mau mengambil minum," kata Lastri membungkukkan badannya saat akan mengambil gelas.
"Iya silakan Bu," jawab Nevan ramah.
"Kemana Alisha?" tanya Mesha.
"Non Alish tidak enak badan jadi sekarang lagi istirahat di kamarnya," jawab Lastri sambil tersenyum, meskipun dia merasa kesal sama wanita yang menjadi pacar tuannya itu tapi dia tidak mungkin menunjukkannya.
"Perasaan tadi dia baik-baik saja! apa itu alibinya saja untuk bermalas-malasan," kata Mesha dengan nada menyindir.
"Bu Las mau ngambil minum buat siapa? buat Bu Las?" tanya Nevan menuangkan masakannya yang sudah matang dari kuali ke wadah yang lebih kecil.
"Ini untuk Nona Alish tuan," jawab Lastri tersenyum dan membungkukkan badannya.
Nevan pun menganggukkan kepalanya dan menyuruh Lastri untuk pergi dari sana.
"Non, ini minum lah dulu," kata Lastri menyerahkan segelas air kepada Alisha.
"Terima kasih Bu," kata Alisha saat menerima gelas itu dan langsung meminumnya hingga tandas.
"Bu kalau Bu Las masih ada pekerjaan lain Bu Las lanjutkan lagi saja pekerjaannya, Alish juga mau tidur siang dulu," kata Alisha kepada Lastri.
"Baiklah Non kalau begitu Bu Las mau menyetrika baju tuan dulu sambil nunggu tuan dan pacarnya selesai memakai dapur, setelah mereka selesai baru Bu Las akan masak untuk makan siang Non Alish," jawab Lastri.
"Iya Bu nanti bangunin Alish ya kalau makan siangnya sudah siap,"
Sementara Alisha merebahkan tubuhnya di ranjang dia memiringkan tubuhnya dan memeluk tubuhnya sendiri menahan sakit di perutnya yang belum hilang.
Alisha mencoba memejamkan matanya hingga beberapa saat kemudian setelah merasa tenang dan sakit di perutnya berangsur menghilangkan dia pun mulai tenang dengan tidurnya.
Sementara itu di meja makan, Nevan dan Mesha sedang menyantap makanan hasil masakan Nevan.
Nevan memang bisa memasak karena dia beberapa tahun tinggal di luar negeri sendiri sehingga dia selalu mencoba memasak makanannya sendiri.
"Enak? aku baru pertama kali memasak menu ini," kata Nevan kepada Mesha.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya kalau masakan kamu selalu enak, kamu lebih pantas jadi koki daripada pebisnis," kata Mesha tersenyum manis kepada Nevan sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Memasak hanyalah hobi ku dan aku memasak hanya untuk kamu dan anak kita kelak," jawab Nevan dengan mengedipkan matanya menggoda Mesha.
Inilah yang Mesha sukai dari Nevan, Nevan adalah orang yang cuek terhadap orang lain tapi dia akan sangat perduli kepada orang yang disayanginya dan Mesha sudah merasakan setiap kepedulian Nevan padanya selama ini bahkan saat orang tua Nevan tidak merestui hubungan mereka Nevan tetap mempertahankan hubungan itu hingga sekarang.
"Jangan terus menggodaku seperti itu karena bisa-bisa aku tidak akan melepaskan mu selamanya," kata Mesha dengan terkekeh.
"Maka jangan lepaskan aku," jawab Nevan santai sambil memakan makanannya.
__ADS_1
"Ya, aku tidak akan pernah melepaskan mu ingat itu," kata Mesha serius.
Nevan hanya membalas perkataan Mesha dengan sebuah senyuman dan melanjutkan makannya begitupun dengan Mesha
Setelah mereka selesai makan, Nevan memanggil Lastri untuk membereskan semuanya dan Lastri pun mengerjakan apa yang Nevan perintahkan.
Setelah selesai membereskan meja makan dan mencuci piring kotor bekas makan Nevan dan Mesha, Lastri mulai memasak untuk makan siang Alisha.
Setelah masakannya matang Lastri pergi untuk memanggil Alisha saat di ruang tengah Lastri berpapasan dengan Nevan dan Mesha yang akan pergi.
"Bu saya pergi dulu, nanti kalau pekerjaan Bu Las sudah selesai Bu Las langsung pulang saja ya," kata Nevan saat berhadapan dengan Lastri.
"Baik tuan," jawab Lastri singkat dengan kepala tertunduk.
Setelah itu Nevan pergi dengan Mesha yang terus bergelayut di lengannya.
"Saya yakin suatu saat nanti anda pasti akan menyesali perbuatan anda ini tuan, anda telah menyia-nyiakan orang yang begitu tulus kepada anda seperti non Alish," gumam Lastri menatap pintu apartemen yang sudah tertutup rapat lagi.
Lastri melanjutkan langkahnya menuju kamar Alisha, dia kemudian mengetuk pintu kamar Alisha beberapa kali.
"Non, makan siangnya sudah siap Non Alish sebaiknya makan terlebih dahulu setelah itu lanjutkan lagi tidurnya," kata Lastri sambil mengetuk pintu kamar Alisha.
Beberapa saat kemudian pintu kamar Alisha pun terbuka, terlihat Alisha dengan muka bantalnya dan mata yang merah dan bengkak akibat menangis tadi.
"Iya Bu, kita makan siang bareng ya," kata Alisha keluar dari kamarnya dan berjalan menuju meja makan.
"Mas Nevan sama Mbak Mesha kemana Bu? apa mereka pergi?" tanya Alisha karena apartemen terasa sepi.
"Iya mereka baru saja pergi Non," jawab Lastri.
"Oh pantesan sepi," kata Alisha menganggukkan kepalanya kemudian dia mulai makan siangnya bersama dengan Lastri.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...