Ingin Cinta SUAMIKU

Ingin Cinta SUAMIKU
Menceritakan kepada Alisha.


__ADS_3

Happy Reading...


Saat hari sudah mulai pagi Alisha masuk ke kamarnya dan Nevan. Dia berniat untuk mandi saat masuk dia melihat Nevan masih tenang dengan mimpinya, Alisha berjalan tanpa suara dan langsung masuk ke kamar mandi sebelum Nevan bangun. Dia masih enggan untuk berhadapan dengan suaminya itu secara langsung.


Alisha keluar dari kamar mandi dengan sudah mengenakan baju yang lengkap dan dia sedikit kaget saat melihat Nevan sudah berada di depan pintu kamar mandi tapi dia segera menetralkan kembali ekspresinya dengan ekspresi yang datar dan berjalan tanpa menghiraukan Nevan dan melewatinya begitu saja.


"Lis aku mau bicara," kata Nevan dengan mengikuti Alisha di belakangnya.


"Segeralah mandi sudah siang," sahut Alisha tidak menggubris perkataan Nevan.


"Aku mau kita bicara dulu Lis," kata Nevan dengan nada memohon.


"Aaric pasti sebentar lagi bangun," kata Alisha masih tidak menghiraukan apa yang Nevan katakan dan terus berjalan akan keluar dari kamar mereka.


Saat Alisha hampir sampai di depan pintu kamar mereka Nevan segera memeluk Alisha dari belakang dia melingkarkan tangannya di perut Alisha dengan erat.


"Maafkan aku Lis, aku mohon jangan diamkan aku seperti ini terus aku gak tahan jika kamu terus mendiamkan aku seperti ini terus. aku merindukanmu Lis, jangan diamkan aku terus maaf karena sudah membuatmu kecewa dan mengabaikan Aaric," kata Nevan memeluk Alisha dengan erat.


Alisha hanya diam mematung tidak memberontak, ataupun tidak merespon pelukan Nevan sebenarnya dia juga merindukan suaminya itu tapi dia menahan diri karena ingin memberikan suaminya sedikit pelajaran agar tidak berbuat semaunya sendiri dan lebih terbuka padanya.


Alisha hanya diam dia masih menunggu apa yang akan Nevan lakukan selanjutnya.


"Aku membantu Mesha bukan karena aku masih memiliki perasaan padanya tapi itu benar-benar karena masalah iba saja tidak lebih."


"Perasaan iba bisa saja berubah jadi perasaan sayang dan sebagainya Mas, apalagi kamu dan Mbak Mesha dulu adalah sepasang..."


"Itu hanya masa lalu, antara aku dan dia sudah berakhir dari dulu di hatiku tidak ada tempat untuknya lagi. setiap sudut di hati aku sudah di penuhi oleh kamu sepenuhnya percayalah," kata Nevan semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku ingin percaya Mas, tapi kamu seolah tidak memberiku jalan untuk percaya dengan caramu yang seperti itu, memang mudah untuk berkata Mas tapi yang terlihat sangatlah berbeda," kata Alisha masih mempertahankan suara datarnya dan mengontrol emosinya agar tidak menangis.


"Maafkan Mas," kata Nevan menyembunyikan wajahnya di pundak Alisha.


"Bukan hanya maaf yang Alish butuhkan Mas, Alish butuh sebuah penjelasan yang benar-benar jelas tanpa ada yang di sembunyikan sedikitpun. Alish butuh sebuah kejujuran dari Mas Nevan sebagai suami Alish," kata Alisha dengan nada yang tegas.


"Mas akan ceritakan semuanya tapi bisakah kita duduk dulu." Nevan mulai melepaskan pelukannya dan menarik lembut tangan Alisha dan menuntunnya untuk duduk di ranjang.


Alisha menurut mengikuti kemana Nevan membawanya dia duduk di ranjang dengan berhadapan dengan Nevan dia menatap datar Nevan.

__ADS_1


Setelah mereka duduk barulah Nevan mulai berbicara lagi dan menjelaskan semuanya tanpa ada yang ditutupinya lagi.


"Saat ini keadaan Mesha sangatlah memperihatinkan itulah alasannya kenapa aku menolongnya di tambah keadaan anaknya yang tidak baik-baik saja membuat Mas mau tidak mau harus membantunya," jelas Nevan menatap Alisha dengan serius tanpa melepaskan tangan Alisha dari genggamannya.


"Memperihatinkan bagaimana?" tanya Alisha dengan alis mengkerut.


"Mesha mengidap penyakit kanker darah stadium lanjut dan keadaanya semakin lama semakin parah bahkan tadi sore Mesha kembali dilarikan ke rumah sakit karena kembali drop dan semalam keadaannya masih kritis, Mas tidak memberitahumu semuanya karena dia yang memintanya untuk tidak menceritakannya padamu. dia mengaku sangat malu padamu karena perlakuannya dulu padamu dan Mas menolongnya karena Mas tau dia tidak punya tempat lain dan orang yang bisa membantunya selain Mas karena dari dulu Mesha selalu hidup sendiri dia tidak punya teman ataupun saudara lainnya."


"Kemana suaminya dan orang tuanya bukankah mereka masih ada?" tanya Alisha heran.


Nevan menghela napas dan menggelengkan kepalanya sebelum kembali melanjutkan perkataannya.


"Bima, suaminya saat ini masih belum diketahui keberadaannya, dia saat ini masih jadi buronan polisi karena kasus penggelapan uang perusahaan-perusahaan yang sempat bekerjasama dengannya dan juga kasus penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan orang tuanya bukankah orang tua kandungnya, mereka hanya orang tua angkat dan sekarang orang tuanya itu tidak ada kabarnya karena mereka sudah pergi dengan anak kandungnya, awalnya Mas mengantarkannya ke rumah mertuanya, rumah orang tua Bima tapi ternyata orang tua Bima juga tidak ada," jelas Nevan panjang lebar tanpa ada yang dikurangi.


"Apa benar seperti itu," kata Alisha ragu seolah tidak percaya dengan penjelasan Nevan itu.


"Kalau kamu tidak percaya nanti kita bisa ke rumah sakit untuk melihat keadaannya secara langsung," kata Nevan dengan serius.


"Terus selama ini Mbak Mesha tinggal di mana?" tanya Alisha penasaran.


Alisha membelalakkan matanya dan langsung menatap Nevan dengan menyipitkan matanya curiga.


"Berarti selama ini Mas Nevan sering menemuinya di Apartemen! kalian selalu bersama di Apartemen itu!" kata Alisha membuang wajahnya ke samping tidak mau melihat Nevan.


"Mas menemuinya untuk memantau keadaannya dan anaknya saja tidak lebih. lagian di sana juga ada Bu Lastri bukan hanya Mas dan Mesha saja," jelas Nevan apa adanya.


"Kalau kamu gak percaya kamu bisa tanyain sama Bu Lastri, aku tidak pernah ngapa-ngapain sama Mesha," kata Nevan lagi karena Alisha tidak berbicara hanya terus menatapnya dengan tatapan menyelidik.


"Kamu percaya 'kan sama Mas," kata Nevan menatap Alisha dengan tatapan memohon.


"Entahlah Mas," jawab Alisha mengangkat bahunya acuh.


Alisha sebenarnya percaya dengan apa yang suaminya itu katakan tapi dia hanya pura-pura tidak langsung mempercayainya dan pura-pura acuh.


"Percayalah Lis, Mas benar-benar mengatakan yang sebenarnya Mas tidak mungkin berkata bohong," kata Nevan memasang wajah memelas karena melihat Alisha masih acuh padanya dan seperti tidak mempercayainya.


"Mandilah Mas, sudah siang kamu harus ke kanto. Alish mau ke kamar Aaric dia pasti sudah bangun," kata Alisha tanpa menggubris perkataan Nevan dan bangun dari ranjangnya itu.

__ADS_1


"Kamu sudah maafin Mas 'kan?" tanya Nevan ikut bangun.


Alisha langsung berjalan tanpa menjawab Nevan dia keluar begitu saja dari kamarnya sedangkan Nevan hanya melihatnya pergi dengan menghela napas beratnya.


"Mungkin dia masih butuh waktu sebaiknya nanti siang aku bawa dia melihat Mesha biar dia percaya dengan perkataanku tadi," gumam Nevan kemudian masuk ke kamar mandi untuk mandi.


Beberapa saat kemudian Nevan keluar dari kamarnya dan langsung menuju ke meja makan dimana Alisha dan Aaric sudah menunggunya untuk sarapan.


"Selamat pagi jagoan," kata Nevan kepada anaknya sambil mengusap dan mencium kepala anaknya lalu mendudukkan dirinya di samping Aaric.


"Selamat pagi Pa," jawab Aaric tersenyum.


"Cepatlah sarapan ini sudah siang," kata Alisha menyiapkan makanan untuk Nevan dan Aaric.


"Terima kasih Ma," kata Nevan dan Aaric secara bersamaan dan hanya di jawab senyuman tipis oleh Alisha.


Setelah itu mereka pun memulai sarapannya dengan tenang hingga sarapannya selesai dan Nevan berangkat ke kantornya sedangkan Alisha dan Aaric menghabiskan waktunya di rumah.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Selamat malam kakak-kakak semuanya semoga semuanya lagi dalam keadaan sehat dan baik-baik saja ya😘


Maaf ya baru bisa Up lagi kemarin akunya lagi sakit jadi gak bisa Up dan alhamdulillah sekarang sudah mendingan jadi bisa mulai up lagi🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2