Ingin Cinta SUAMIKU

Ingin Cinta SUAMIKU
Maafkan aku.


__ADS_3

Happy Reading...


Keheningan terjadi di ruangan dimana Alisha dirawat, baik Nevan maupun Alisha tidak ada yang memulai pembicaraan.


Alisha melihat ke arah lain sedangkan Nevan tidak mengalihkan pandangannya dari Alisha sama sekali, dia terus menatap Alisha tanpa mengeluarkan suaranya.


Nevan menghela napas panjang dia kemudian mulai melangkahkan kakinya mendekati Alisha yang masih juga menghindarinya.


Saat jaraknya hanya tinggal selangkah lagi dari ranjang Alisha, Nevan baru mulai membuka suaranya meskipun Alisha masih memalingkan wajahnya melihat kearah lain.


"Kenapa kamu tidak mengatakan semuanya Lis, kenapa kamu menutupi kehamilannya dariku? apa kamu begitu membenciku hingga aku tidak berhak tau tentangnya," kata Nevan dengan suara lembut.


"Apa penting aku mengatakan semuanya Mas, disaat antara kita sudah berakhir bahkan sebelum dimulai," kata Alisha tanpa melihat Nevan.


"Maafkan aku atas perlakuanku selama ini terhadapmu Lis, aku benar-benar sudah melakukan kesalahan besar dalam hidupku," kata Nevan dengan suara lirih.


"Untuk apa Mas minta maaf, Mas tidak salah sama sekali, di sini yang salah adalah Alish karena harus hadir diantara kalian berdua dan dengan lancangnya memiliki perasaan terhadapmu," jawab Alisha dengan masih kearah lain dia sesekali mengusap pipinya yang basah.


Mendengar perkataan Alisha Nevan menggelengkan kepalanya.


"Tidak, Lis kamu tidak pernah salah, akulah yang salah karena tidak tau mana yang baik dan mana yang tidak, maafkan aku Lis karena telah menyakitimu begitu dalam," kata Nevan lagi.


"Alish sudah memaafkan Mas dari dulu, Alish juga tidak pernah membenci Mas Nevan, Alish tidak memberitahukan masalah kehamilan Alish hanya karena Alish tidak mau lagi mengganggu kehidupan Mas Nevan dan Mbak Mesha, Alish juga tidak mau Mas Nevan membenci anak Alish karena menganggapnya penghalang antara Mas Nevan dan Mbak Mesha lagi," Alisha berbicara dengan air mata yang berjatuhan di pipinya.


Nevan yang mendengar perkataan Alisha membuat hatinya berdenyut nyeri apa seburuk itu perlakuannya terhadap Alisha dulu hingga Alisha berpikiran bahwa dia akan membenci anaknya sendiri, darah dagingnya sendiri.


"Apa aku seburuk itu Lis, hingga kamu berpikir aku akan membenci anakku sendiri," Nevan menatap Alisha yang masih enggan melihatnya.


Alisha tidak bicara lagi dia hanya beberapa kali mengusap pipinya, Alisha menggigit bibir bawahnya agar tangisnya tidak mengeluarkan suara.


"Maafkan aku Lis, aku tau meskipun aku mengucapkan kata itu ribuan kali tidak akan bisa mengobati setiap rasa sakit yang kamu rasakan dulu karena aku tapi hanya itu yang bisa aku katakan sekarang Lis, maaf, maaf dan maaf," kata Nevan.


"Alish sudah memaafkan Mas Nevan sekarang Mas Nevan pergilah, Alish tidak mau Mbak Mesha marah karena Mas Nevan berada di sini bersama Alish," usir Alisha kepada Nevan.


"Aku dan Mesha sudah tidak ada hubungan apapun Lis," kata Nevan.


"Jadi Mas Nevan berniat menjadikan Alish sebagai pelampiasan Mas Nevan sekarang," kata Alisha membalikkan kepalanya menatap Nevan.


"Tidak seperti itu Lis, aku benar-benar ingin minta maaf padamu," kata Nevan.


"Bukankah tadi Alish sudah katakan kalau Alish sudah memaafkan Mas Nevan, sekarang Mas Nevan mau apalagi di sini?" kata Alisha datar.

__ADS_1


"Aku ingin menemanimu di sini," kata Nevan.


"Tidak perlu Alish akan baik-baik saja sendirian, lagian sebentar lagi Bu Mae akan datang jadi Mas Nevan tidak perlu repot-repot menunggu Alish di sini," kata Alisha mulai merebahkan tubuhnya dan menaikan selimutnya sampai ke leher.


"Tapi...."


"Pergilah Mas Alish mau istirahat," kata Alisha memotong perkataan Nevan.


Saat Nevan mau bicara lagi pintu ruangan itu terbuka dan masuklah Mae dengan wajah bingungnya karena melihat ada Nevan di sana.


"Tuan Nevan," sapa Mae tersenyum dan membungkukkan badannya.


"Bu," jawab Nevan tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Maaf apa saya mengganggu Tuan?" tanya Mae tidak enak hati.


"Tidak Bu saya baru akan keluar," kata Nevan melihat Alisha yang membelakanginya.


"Aku akan menunggumu di luar jika perlu sesuatu panggil saja," kata Nevan kepada Alisha.


"Tidak perlu menunggu, di sini ada Bu Mae sebaiknya Mas Nevan pulanglah," kata Alisha dengan nada yang datar.


Nevan tidak menghiraukan perkataan Alisha dia berjalan keluar dari ruangan itu dan berniat menunggu Alisha di sebelah kursi yang ada di depan ruangan rawat Alisha.


"Alish tidak mau membahasnya Bu, Alish mau istirahat dulu," jawab Alisha yang membelakangi Mae juga.


"Ya sudah kalau gitu Non istirahatlah, maaf kalau Ibu ikut campur urusan Non Alish," kata Mae.


"Bu Mae juga istirahatlah ini sudah malam, Bu Mae gak pa-pa 'kan kalau tidur di sofa," kata Alisha.


"Tidak apa-apa Non," jawab Mae yang mulai merebahkan tubuhnya di sofa.


Beberapa saat kemudian setelah Mae sudah tertidur, terdengar isakan tangis dari Alisha dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar suara isakan tangisnya itu tidak sampai terdengar ke luar.


"Maafkan Alish Mas, Alish bersikap seperti ini karena Alish tidak mau memberikan harapan palsu untuk Mas Nevan tapi Alish senang Mas karena Mas Nevan mau menerima anak kita jadi Alish bisa pergi dengan tenang nanti," gumam Alisha pelan.


Alisha menghapus air mata di pipinya kemudian tersenyum dan mengusap perutnya dan berbicara dengan calon anaknya.


"Kamu tenang saja Nak, papamu akan menerimamu dan menyayangimu kelak, maaf mungkin Mama tidak akan bisa merawatmu dan melihatmu tumbuh dengan baik, jadilah anak yang baik ya Nak, jadilah anak yang penurut sama papa, nenek dan kakek, Mama sangat menyayangimu sayang," kata Alisha kembali menangis tanpa suara.


Setelah merasa cukup tenang Alisha pun mencoba memejamkan matanya untuk tertidur dan akhirnya Alisha pun mampu tertidur.

__ADS_1


Sedangkan di luar ruangan itu, Nevan masih tidak bisa memejamkan matanya juga meskipun dia sudah berusaha.


Nevan mendudukkan dirinya, dia kemudian melihat pintu ruangan rawat Alisha yang tertutup rapat.


Nevan berdiri dan melihat kedalam ruangan itu melalui kaca kecil yang ada di pintu itu dia melihat Alisha sudah memejamkan matanya.


Nevan memutar handle pintu secara perlahan agar tidak mengganggu Alisha maupun Mae yang sudah terlelap.


Nevan masuk secara perlahan dia berjalan mendekati ranjang dimana Alisha sudah memejamkan matanya.


Nevan menatap wajah Alisha yang masih tersisa sedikit air mata di sudut matanya.


"Maafkan aku," kata Nevan dengan suara berbisik.


Nevan kemudian membungkukkan badannya dan mendekatkan wajannya ke perut Alisha yang tertutup selimut.


"Maafin Papa ya karena Papa sudah menyakiti Mama kamu, kamu baik-baik di sana ya jangan nakal jangan nyusahin Mama kamu oke anak baik," kata Nevan dengan suara berbisik juga di depan perut Alisha.


"Selamat istirahat anaknya Papa yang baik," kata Nevan memberikan ciuman jarak jauh kepada perut Alisha.


Karena takut mengganggu Alisha yang sudah terlelap Nevan pun Keluar lagi dari kamar itu dengan cara mengendap-endap berusaha untuk tidak mengeluarkan suara.


Setelah berhasil keluar dari ruangan itu Nevan menutup pintu secara perlahan lagi kemudian dia kembali merebahkan tubuhnya di kursi tunggu yang keras dan dingin itu.


Beberapa saat kemudian Nevan bisa memejamkan matanya dan tertidur di kursi tunggu yang dingin itu.


Meskipun hawa dingin menusuk sampai ke tulangnya tapi Nevan tidak menghiraukan semua itu.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2