Ingin Cinta SUAMIKU

Ingin Cinta SUAMIKU
Kebenaran.


__ADS_3

Happy Reading...


Satu bulan kemudian...


Alisha menatap nanar kertas yang saat ini dipegangnya, itu adalah kertas untuk pengajuan gugatan cerai yang telah terisi tanda tangan Nevan di sana.


"Kalau kamu masih ragu Mama dan Papa bisa membujuk Nevan lagi untuk membatalkan perceraian kalian," kata Ratih mengusap punggung Alisha.


"Tidak Ma, ini adalah jalan terbaik untuk Alish dan Mas Nevan," kata Alisha menatap mertuanya dengan berusaha tersenyum.


Alisha mengambil pulpen dan mulai membubuhkan tanda tangannya di kertas itu, meskipun berat tapi Alisha harus melakukan itu.


"Ini Ma, Pa, kalian sudah bisa memprosesnya ke pengadilan tapi maaf kalau Alisha tidak bisa menghadiri setiap sidang nantinya," kata Alisha dengan setitik air mata jatuh di pipinya.


"Iya kalau kamu gak bisa hadir kamu jangan memaksakan diri," kata Ratih memeluk Alisha.


Harry yang duduk tidak jauh dari Ratih dan Alisha menatap Alisha dengan iba, padahal Alisha sudah banyak berkorban untuk anaknya tapi anaknya sama sekali tidak mengetahui hal itu.


"Kalau gitu Papa dan Mama pergi dulu ya," pamit Ratih melepaskan pelukan antara mereka.


Ratih berdiri dari sofa diikuti oleh Harry, Alisha pun ikut berdiri untuk mengantarkan mertuanya ke depan pintu rumahnya.


"Iya Ma, Pa, hati-hati ya," kata Alisha.


"Iya, kamu juga jangan lupa selalu jaga kesehatan," kata Ratih.


"Iya Ma, Pa," Alisha menyalami kedua mertuanya saat sudah sampai di depan pintu rumahnya.


Orang tua Nevan memasuki mobilnya dan Alisha melambaikan tangannya saat mobil orang tua Nevan mulai berjalan meninggalkan pelataran rumahnya.


Sementara itu orang tua Nevan setelah dari rumah Alisha mereka langsung menuju ke apartemen Nevan karena ini sudah waktunya pulang kantor Nevan pasti sudah pulang.


Tapi saat sampai di apartemennya ternyata Nevan belum pulang dari kantornya dan di apartemennya hanya ada Lastri.

__ADS_1


"Biar Papa hubungi dia agar segera pulang," kata Harry di jawab anggukkan kepala oleh Ratih.


Saat Harry menelpon Nevan di ruang tengah, Ratih pergi ke dapur mengusul Lastri yang mau membuatkan minum untuk Ratih dan Harry.


Ratih bertanya tentang bagaimana perlakuan Nevan kepada Alisha selama ini meskipun Lastri awalnya ragu untuk bercerita tapi Ratih terus memaksanya untuk bercerita hingga akhirnya Lastri pun bercerita dari A sampai Z


Mendengar penjelasan Lastri, Ratih merasa kecewa terhadap anak satu-satunya itu yang ternyata masih berhubungan dengan wanita yang sama sekali tidak dia sukai dan dia kecewa karena Nevan tidak pernah sekalipun memperlakukan Alisha dengan baik.


"Menantuku yang malang," gumam Ratih pelan.


"Iya Nyonya, saya sering merasa kasihan dengan Non Alish dia selalu berusaha menjadi istri yang baik untuk tuan Nevan tapi tuan Nevan tidak pernah menggubrisnya sama sekali, bahkan tuan Nevan selalu dengan sengaja bermesraan dengan pacarnya di depan Non Alish tapi Non Alish selalu tersenyum seolah dia tidak tersakiti dengan hal itu, hingga beberapa saat lalu mungkin Non Alish sudah tidak bisa membendung lagi rasa sakit hatinya hingga akhirnya dia pun menangis."


"Tapi Non Alish mau mengakhiri hubungannya dengan tuan Nevan bukan karena Non Alish sudah tidak mencintai tuan Nevan ataupun membenci tuan Nevan, Non Alish memutuskan untuk pergi dari tuan Nevan karena Non Alish sadar kebahagiaan tuan Nevan ada di pacarnya dan dia tidak mau lagi mempertahankan pernikahannya dan menjadi penghalang dari hubungan tuan Nevan dan pacarnya," jelas Lastri membuat hati Ratih ikut sedih mendengar bagaimana besarnya cinta Alisha untuk anaknya tapi anaknya tidak bisa merasakan itu karena cinta buta nya kepada Mesha.


Setelah selesai berbicara dengan Lastri, Ratih kembali ke ruang tengah dimana suaminya sedang duduk di sofa menunggu kedatangan anaknya.


Ratih tidak mengeluarkan suara sedikitpun hingga membuat Harry heran dan akhirnya bertanya.


"Apa ada masalah?" tanya Harry di jawab gelengan kepala oleh Ratih. Harry pun tidak bertanya lagi.


"Ini, Alish sudah menandatangani surat gugatan perceraian kalian, sekarang kamu bisa mengajukannya sendiri ke pengadilan," kata Harry menyimpan surat itu di meja.


Nevan mengambil surat itu dan melihat tanda tangan Alisha sudah tertera di samping tanda tangannya.


"Baiklah Nevan akan segera mengurusnya."


"Baiklah kalau gitu kita pulang Ma," ajak Harry kepada Ratih.


"Iya Papa tunggu saja di bawah Mama mau membicarakan sesuatu dulu dengan Nevan," kata Ratih dengan menatap Nevan, tanpa melihat kearah Harry.


"Baiklah," jawab Harry menganggukkan kepalanya kemudian dia pergi keluar dari apartemen Nevan membiarkan Ratih berbicara empat mata dengan Nevan.


Setelah Harry sudah tidak terlihat Ratih menatap Nevan dengan serius.

__ADS_1


"Apa Mama mau membujuk Nevan untuk membatalkan gugatan cerai ini," kata Nevan menatap Mamanya.


"Tidak Mama tidak akan membujuk mu untuk membatalkan gugatan cerai itu, karena kali ini Mama setuju dengan keputusan Alisha untuk pergi darimu, dia sama sekali tidak pantas dengan pria seperti mu, dia pantas bahagia dan mendapatkan pria yang jauh lebih baik darimu, dia pantas mendapatkan pria yang mencintainya dan menyayanginya."


Nevan melihat Mamanya yang menatapnya dengan tatapan penuh kekecewaan yang belum pernah Nevan lihat sebelumnya.


"Tapi Mama hanya mau bilang kalau Mama tidak pernah merasa benar-benar kecewa seperti ini sebelumnya dan kamu mau tau apa yang membuat Mama kecewa NEVAN GAJENDRA! Mama kecewa karena anak yang selalu Mama banggakan tidak bisa menghargai yang namanya sebuah hubungan, asal kamu tau Nevan dalam diri kamu ada bagian Alisha yang dia berikan untukmu demi menyelamatkan nyawamu," kata Ratih dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Wanita malang yang tidak pernah kamu harapkan kehadirannya itu adalah orang yang menyelamatkan hidupmu dua tahun lalu tanpa meminta imbalan apapun dulu wanita itu menolong mu dan sekarang demi melihat mu bahagia dia memilih mengalah dengan pergi dari kehidupanmu agar kamu bisa mencapai kebahagiaanmu, dia rela dirinya hancur asal kamu selalu bahagia," Ratih menatap tajam Nevan yang menatapnya dengan tatapan syok.


"Dan sekarang Mama akan berdoa semoga dia menemukan pria yang mencintainya dengan seluruh hidupnya dan membuatnya bahagia selamanya wanita itu seharusnya mendapatkan seluruh kebahagiaan yang ada di dunia ini bukan hidup sia-sia dengan pria yang bahkan tidak mengharapkannya," Setelah berkata seperti itu Ratih bangun dari sofa dan melangkah akan pergi dari sana tapi baru beberapa langkah dia membalikkan badannya melihat Nevan yang hanya diam setelah mendengar perkataan Ratih.


"Kalau kamu mau meresmikan hubunganmu dengan Mesha, resmikan saja Mama harap dia sudah berubah dan hanya ada kamu pria yang dicintainya dan jangan pernah mengharapkan kehadiran Mama di acara kalian," Setelah mengatakan itu Ratih keluar dari apartemen Nevan menyusul Harry yang sudah menunggunya di lobby.


Sementara Nevan masih duduk di sofa dengan pikiran yang linglung dia berusaha memahami perkataan Mamanya tentang Alisha dan Mesha.


"Apa benar Alisha yang mendonorkan ginjalnya untukku dulu tapi kenapa Mama dan Papa tidak memberitahu aku dari dulu dan apa maksud perkataan Mama tadi apa maksud Mama, Mesha mengkhianati ku," gumam Nevan semakin dipikirkan kepalanya semakin pusing.


Nevan menatap lagi surat gugatan cerainya di genggamannya dia kemudian bangun dari sofa dan berjalan menuju kamarnya dia menyimpan surat-surat itu ke laci nakas yang ada di kamarnya.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2