Ingin Cinta SUAMIKU

Ingin Cinta SUAMIKU
Menemani Fariz.


__ADS_3

Happy Reading...


Alisha menunggu teman-temannya di depan rumahnya kebetulan saat menelpon Dilla tadi Dilla mengatakan kalau dia juga berencana akan jalan-jalan dengan Angga dan Fino.


Alisha beberapa kali menghela napas panjangnya untuk mengurangi perasaan kesal dalam hatinya terhadap suaminya itu.


Alisha berusaha bersikap baik-baik saja di depan anaknya karena tidak ingin anaknya melihatnya dalam keadaan tidak baik.


"Tuh mobil om Angga Ma," kata Aaric menunjuk mobil Angga yang berhenti di depan gerbang rumah Alisha.


"Iya ayo kita langsung berangkat," kata Alisha menggandeng tangan anaknya berjalan menuju ke mobil Angga.


"Nyonya mau berangkat sekarang?" tanya Mae yang sedang berada di halaman.


"Iya Bu Mae, kalau Mas Nevan pulang bilang Alish pergi sama teman-teman ya dan gak tau pulangnya jam berapa," kata Alisha.


"Baiklah nanti Bu Mae sampaikan," kata Mae.


"Dadah Bu Mae, Aaric mau jalan-jalan, tolong nanti kasih makan lagi si bitbit dan si bubu sama baby-babynya juga jangan lupa," kata Aaric yang tidak pernah lupa sama para kelincinya.


"Beres Den, selamat jalan-jalan Den Aaric," jawab Mae mengangkat jempolnya.


Alisha dan Aaric pun melanjutkan langkahnya menuju ke mobil Angga dan langsung duduk di kursi belakang bersama Dilla dengan Aaric berada di tengah-tengah.


"Halo ganteng, makin ganteng aja sih," kata Dilla mencubit pipi bulat Aaric dengan gemas.


"Tante jangan cubit pipi Aaric terus nanti pipi Aaric jadi kempes," kata Aaric menutupi pipinya dengan kedua tangannya.


"Mana ada pipi kempes karena di cubit Aaric," kata Dilla terkekeh.


"Tumben hubungi kita buat ngajak jalan-jalan biasanya juga sama si suami perginya," kata Angga dengan sedikit sindiran karena memang semenjak ada Aaric Alisha benar-benar jarang jalan-jalan lagi bareng teman-temannya itu.


"Dia lagi pergi ada keperluan karena udah terlanjur bilang ke Aaric kalau kita mau jalan-jalan jadi aku hubungi Dilla deh biar ada teman jalan-jalannya," kata Alisha tersenyum menampilkan sederet giginya.


"Ya, beginilah nasib kita dihubungi saat ada maunya aja kalau lagi happy-happy aja lupa giliran susah baru inget," kata Dilla memutar matanya malas.


"Bukankah itu gunanya teman," Kata Alisha terkekeh.


"Ya-ya-ya," Sahut Angga mulai menjalankan mobilnya.


"Kamu masih aja suka ngintilin mereka jalan Fin," kata Alisha pada Fino yang duduk di samping Angga.


"Daripada jalan sendiri gak asik mending ganggu mereka berdua biar gak terlalu nempel," jawab Fino santai.


"Ya begitulah Jopuk alias jomblo lapuk kerjaannya ngintilin orang pacaran terus. awas saja nanti kalau aku sama Dilla sudah nikah masih ngintilin," kata Angga dengan pandangan fokus ke jalanan.


"Kalau kalian sudah nikah 'kan lain lagi ceritanya kalian sudah sah," jawab Fino.

__ADS_1


"Emang kamu belum punya calon juga Fin?" tanya Alisha penasaran karena Fino sama sekali belum pernah membicarakan jika Fino mempunyai pacar atau wanita yang sedang di dekatinya dari saat masih kuliah sampai sekarang sudah bekerja.


"Sudah ada tapi masih tahap pendekatan," jawab Fino tersenyum kepada Alisha.


"Serius? siapa dan kenal di mana?" tanya Alisha antusias.


"Dia bekerja di tempat yang sama denganku hanya beda divisinya saja dia mantan aku waktu masih SMA dulu," jelas Fino.


"Oh cinta lama bersemi kembali," kata Alisha terkekeh.


"Bukan cinta lama bersemi kembali tapi cinta lama belum kelar," samber Angga memotong perkataan Fino yang akan menjawab perkataan Alisha.


"Maksudnya?" tanya Alisha tidak mengerti.


"Mereka belum sempat ngucapin putus tapi sudah berpisah," jelas Angga.


"Dasar ember bolong," ketus Fino karena Angga terus memotong ucapannya.


"Aku hanya membantumu menjelaskannya saja pada Alish yang belum tau cerita selengkapnya," jawab Angga santai.


"Nyesel aku cerita sama orang yang bermulut ember," gerutu Fino sedangkan Angga hanya mengangkat bahunya acuh.


"Om Fino mulut ember itu apa?" tanya Aaric pada Fino.


"Mulut ember itu artinya orang yang tidak bisa menyimpan rahasia atau orang yang banyak bicara," jelas Fino.


"Oh," jawab Aaric menganggukkan kepalanya seperti orang yang sudah mengerti.


"Ngerti dong Aaric 'kan udah besar Aaric juga pintar," jawab Aaric dengan bangga.


Dilla kembali mencubit pipinya yang bulat dengan gemas karena mendengar perkataan Aaric itu dan Aaric langsung cemberut dengan apa yang Dilla lakukan padanya.


Di saat Alisha dan Aaric sedang menikmati jalan-jalan mereka bersama dengan ketiga teman Alisha.


Sementara di lain tempat, di rumah sakit tepatnya Nevan yang baru sampai di rumah sakit itu dan langsung menuju ke ruang perawatan Fariz.


Saat memasuki ruangan itu Nevan melihat Fariz sedang dibujuk oleh suster untuk makan sedangkan Fariz hanya menatap kosong ke arah pintu dengan memainkan jari-jari kedua tangannya.


Nevan meyakini jika anak yang umurnya hanya beda beberapa bulan dengan anaknya itu sedang merasa cemas karena kepergian ibunya.


"Fariz, kamu makan dulu ya, Mama kamu pasti akan cepat kembali dia hanya pergi sebentar, sebaiknya kamu makan dulu biar kamu cepat sembuh," bujuk Nevan dengan suara lembut sama seperti ketika dia sedang membujuk Aaric yang sedang ngambek dan tidak mau makan.


Saat Nevan melangkah mendekati Fariz, Fariz semakin cepat memainkan jari-jari kedua tangannya dan bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari sesuatu.


"Tuan sebaiknya Anda jangan terlalu dekat dengannya," kata Suster itu membuat Nevan menghentikan langkahnya dan menatap suster itu dengan heran.


"Kenapa," tanya Nevan heran.

__ADS_1


"Sepertinya anak ini semakin tidak nyaman saat Anda mendekatinya, lihatlah caranya memainkan jari-jari kedua tangannya dan juga bola matanya yang bergerak tidak karuan, itu menunjukkan dia tidak nyaman atau merasa ketakutan," jelas suster itu.


Nevan menatap Fariz dengan seksama bagaimana bisa anak sekecil itu mengalami hal semacam ini anak yang seharusnya sedang banyak bicara dan bercerita tentang hal baru, anak yang seharusnya sedang dalam masa bisa meluapkan segala emosi yang dirasakannya tapi fariz hanya bisa diam menutup mulutnya rapat.


"Apa dia bisa di sembuhkan sus? apa dia bisa berbicara dan bersikap seperti anak-anak pada umumnya?" tanya Nevan kepada suster.


"Bisa, karena apa yang dialaminya adalah sebuah kondisi yang biasa dinamakan dengan kebisuan selektif. kebisuan yang terjadi karena trauma yang dialaminya karena perlakuan tidak menyenangkan di sekitarnya sehingga membuatnya seperti itu jadi kemungkinan untuk sembuh sangat banyak dengan melakukan beberapa terapi dengan psikolog," jelas suster.


Nevan hanya menganggukkan kepalanya dan menjauh dari ranjang dia mendudukkan dirinya di sofa sambil terus melihat ke arah ranjang, Fariz masih terus menatap ke arah pintu ruangan itu.


"Fariz makan dulu ya nanti Mama kamu sedih jika saat dia kembali Fariz masih belum makan," bujuk suster itu lagi dengan menyodorkan sendok yang berisi makanan ke depan mulut Fariz.


Fariz pun mau membuka mulutnya dan memakan makanan itu tanpa mengalihkan perhatiannya dari pintu ruangan itu.


"Pinter, kamu harus banyak makan agar Mama kamu senang dan kamu cepat besar," kata suster itu tersenyum.


"Sudah berapa lama Mesha pergi?" tanya Nevan.


"Sudah lumayan lama Tuan," jawab suster itu.


Mesha pergi di jemput oleh polisi untuk memberikan kesaksian kepada polisi tentang kasus Bima.


Nevan terus memperhatikan Fariz yang sedang disuapi oleh suster itu, Nevan kemudian ingat anaknya yang sedih tadi karena dia tidak jadi membawanya untuk jalan-jalan.


Nevan mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Alisha untuk menanyakan apa mereka jadi jalan-jalan atau tidak. saat menelpon nomor Alisha, nomornya ternyata tidak aktif.


"Mereka sepertinya sedang jalan-jalan," kata Nevan dengan suara yang pelan.


"Tuan saya harus permisi dulu untuk mengerjakan pekerjaan yang lainnya," pamit suster saat sudah selesai menyuapi Fariz dan sudah meminta Fariz untuk merebahkan kembali tubuhnya.


"Iya sus Fariz biar saya saja yang menjaganya," jawab Nevan.


"Iya Tuan permisi," Suster itu pun pergi dari ruangan itu menyisakan Nevan dan Fariz.


"Fariz, kamu belum tau 'kan nama Om, nama Om adalah Om Nevan, Om Nevan teman Mama kamu. Kamu tau Fariz Om juga punya anak laki-laki yang umurnya sedikit di bawah kamu, anak Om itu bawel dan banyak bertanya sampai-sampai Om dan mamanya suka males menjawab setiap pertanyaannya," cerita Nevan kepada Fariz yang sedang menatap langit-langit ruangan itu.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2