
Happy Reading...
Waktu terus berlalu tanpa terasa kini usia pernikahan Alisha dan Nevan sudah berjalan selama enam bulan.
Alisha masih dengan prinsipnya yaitu bertahan dengan pernikahannya meskipun sikap dan perlakuan Nevan yang selalu menyakitinya tidak membuat dia ingin pergi dari hidup Nevan.
Saat ini Alisha sedang duduk berhadapan dengan Bara di ruang kerja Bara di rumah sakit dia baru saja selesai melakukan cuci darah beberapa jam yang lalu.
"Apa tidak ada jalan lain lagi Kak, jujur saja Alisha sudah lelah bolak-balik ke rumah sakit untuk cuci darah," kata Alisha yang mulai mengeluh kepada Bara.
"Ada tapi harus dengan operasi itupun kalau ada pendonor yang cocok untukmu," kata Bara menatap Alisha dengan serius.
Bara tahu harus selalu melakukan sesi cuci darah bukanlah hal yang mudah mengingat efek samping yang akan di rasakan setelah melakukan cuci darah tapi itu adalah cara satu-satunya untuk membuang racun yang menumpuk dalam darah karena kinerja ginjal yang tidak normal.
Mendengar perkataan Bara Alisha hanya menghela napas panjang, mencari pendonor adalah hal yang sulit di tambah lagi biaya operasi pasti tidak sedikit sementara uang tabungannya sudah habis dan sekarang dia pun sudah memakai tabungan milik ayahnya untuk berobatnya dan biaya kuliahnya.
Sementara Nevan belum pernah sekalipun memberikannya uang selama mereka menikah, untuk masalah keperluan bulanan mereka pun Nevan mempercayakan semuanya kepada Lastri.
"Kalau masalah uang yang kamu pikirkan, kamu jangan khawatir Kakak ada tabungan dan itu akan cukup buat biaya operasi kamu yang penting sekarang kamu sembuh dulu, Kakak sudah meminta tolong kepada teman-teman Kakak yang bekerja di rumah sakit luar negeri juga untuk membantu mencari pendonor yang cocok untuk mu," kata Bara menenangkan Alisha.
"Tidak perlu Kak, Kak Bara juga punya keluarga yang harus Kak Bara tanggung," kata Alisha dia tidak mau terlalu banyak menyusahkan Bara.
"Kamu bisa menggantinya saat kamu sudah sembuh dan bisa bekerja," kata Bara menyandarkan punggungnya di kursinya.
"Kalau operasinya tidak berhasil dan Alish tidak bisa mengganti uang Kak Bara gimana?" tanya Alisha pesimis.
"Kenapa kamu jadi pesimis seperti ini, mana Alisha yang selalu optimis dalam setiap keadaan," kata Bara berusaha membuat Alisha optimis lagi seperti biasanya.
"Apa kamu tidak mau meminta bantuan kepada mertuamu atau suamimu bukankah kamu sudah menjadi tanggung jawabnya," kata Bara menatap Alisha dengan intens dia bisa melihat perubahan raut wajah Alisha saat dia menanyakan tentang suaminya itu.
"Alish tidak mau merepotkan Papa dan Mama karena mereka sudah terlalu baik kepada Alish dan Alish juga tidak mau menambah beban Mas Nevan dengan memberitahunya tentang masalah ini, Mas Nevan saat ini sedang berusaha membangun usahanya sendiri dan Alish tidak mau membebaninya dengan bercerita tentang masalah ini," jelas Alisha menatap Bara.
Sebuah senyuman terbit di bibirnya tapi matanya menunjukkan kesedihan yang mendalam dan hal itu membuat Bara menghela napas panjang.
__ADS_1
"Apa kamu akan tetap bertahan dengan situasi seperti ini terus? sudah cukup lama kalian menikah dan kalian masih hidup bagaikan dua orang asing," kata Bara meskipun Alisha tidak pernah bercerita tentang rumah tangganya tapi melihat dari perilaku Alisha selama ini dia tahu kalau suami Alisha masih belum bisa menerima pernikahannya itu.
"Alish harus kemana Kak? Alish tidak punya siapapun sekarang selain Mas Nevan sebagai suami Alish?" tanya Alisha lirih air mata mulai merembes dari sudut matanya.
"Ada Kakak yang akan menjagamu Alish kalau dia tidak bisa menerimamu juga pergilah darinya Alish," kata Bara dengan nada yang tegas.
Dia benar-benar sudah berjanji untuk menjaga Alisha seperti dia menjaga adiknya sendiri kepada almarhum Ayahnya Alisha saat Ayah Alisha masih hidup.
"Alish tidak bisa Kak, Alish tidak bisa jauh dari Mas Nevan meskipun terkadang Alish ingin pergi tapi hati Alish tidak bisa jauh darinya, Alish ingin selalu dapat bertatapan dengannya meskipun hanya tatapan dingin dan tajam yang selalu dia tunjukkan pada Alish, Alish ingin selalu melihat wajahnya meskipun Alish hanya bisa melihatnya dari jarak yang jauh dan wajah datarnya saja, Alish ingin selalu melihat senyumnya yang membuat Alish ingin tersenyum juga saat melihatnya meskipun senyuman itu bukan untuk Alish dan bukan karena Alish," kata Alisha tanpa sadar dia menumpahkan kesedihannya di depan Bara.
"Entah cinta atau kebodohan yang saat ini terjadi padamu itu, bagaimana bisa kamu masih mau bertahan di situasi seperti ini," kata Bara menghela napas panjang dia gemas sendiri dengan yang terjadi kepada Alisha itu.
Alisha tidak bicara lagi dia mengusap pipinya yang basah oleh air mata dengan tisu yang ada di meja.
"Menangis lah sepuasnya hingga kamu merasa tenang, setelah itu kembalilah menjadi Alisha yang selalu tersenyum dan selalu optimis," kata Bara sambil mengusap pundak Alisha.
Alisha kembali menganggukkan kepalanya dia beberapa kali mengusap pipinya karena air mata yang terus berjatuhan begitu saja.
Bara hanya diam dan membiarkan Alisha menumpahkan kesedihannya itu untuk membuat perasaannya lebih baik.
"Sudah puas?" tanya Bara saat sudah melihat senyuman Alisha lagi.
"Sudah Kak," jawab Alisha menganggukkan kepalanya.
"Sekarang sebaiknya kamu pulang sudah hampir malam," kata Bara.
"Iya Kak, makasih sudah mau dengerin keluhan Alish," kata Alisha berdiri dan merapihkan penampilannya
"Lain kali jangan sungkan kalau ada hal yang ingin kamu ceritakan lagi, Kakak akan siap jadi pendengar yang baik," kata Bara.
"Iya Kak kalau gitu Alish pulang dulu ya," pamit Alisha.
"Ayo kita pergi bersama ke parkirannya Kakak juga mau pulang karena pekerjaan Kak Bara sudah selesai," kata Bara bangun dari kursinya dan membereskan barang-barangnya.
__ADS_1
Mereka pun pergi bersama menuju parkiran rumah sakit dan saat sampai di parkiran rumah sakit mereka masuk ke mobil mereka masing-masing dan pulang ke rumah mereka masing-masing.
Saat sampai di apartemen satu hal yang dia rasakan saat memasuki apartemennya itu, Sepi ... seperti itulah kondisi apartemennya sekarang karena Lastri sudah pulang dan Nevan sudah seminggu belum pulang karena ada pekerjaan keluar kota.
Alisha berjalan dengan lunglai menuju ke kamarnya dia membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum makan malam.
Saat sudah selesai dengan urusannya dia pun keluar dari kamarnya langsung ke meja makan dan memakan makanannya dengan cepat sebelum efek samping dari cuci darah muncul lagi.
Dan benar saja saat dia baru selesai makan dan minum dia merasa mual hingga akhirnya dia pun bangun dari kursi dan berjalan dengan cepat menuju wastafel dan memuntahkan kembali makanan yang baru saja masuk itu, saat sudah selesai muntah-muntahnya tubuh Alisha merosot ke lantai karena merasa lemas.
Alisha memegang perutnya yang terasa keram, hal itu sudah dia rasakan sejak beberapa bulan ini karena dia harus melakukan cuci darah tiga kali dalam seminggu. dan itu adalah efek samping dari cuci darah yang dilakukannya.
Di lantai dapur yang dingin Alisha duduk dan memeluk tubuhnya sendiri menunggu badannya lebih baik.
"Ayah Alish rindu Ayah, Alish rindu pelukan Ayah yang selalu menenangkan Alish itu," gumam Alisha lirih dengan mata yang terpejam.
Tangannya memegang erat perutnya untuk mengurangi keram di perutnya, hingga beberapa saat kemudian akhirnya dia merasa sudah lebih baik dia pun mencoba berdiri dan berjalan dengan perlahan menuju meja makan untuk membersihkan meja makan dan mencuci piring kotor bekasnya makan.
Setelah semuanya selesai Alisha berjalan dengan perlahan menuju ke kamarnya, saat sampai di kamarnya dia langsung merebahkan tubuhnya dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Dan beberapa saat kemudian dia mulai tenang dalam lelapnya dan bisa melupakan sejenak rasa sakit dalam dirinya itu.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...