
Happy Reading...
"Aku kasihan dengan mu yang mempunyai mimpi terlalu tinggi, apa kamu tidak lihat bagaimana penampilan mu itu hah? bagaimana bisa Nevan berpaling dariku kepada wanita yang sama sekali tidak mempunyai daya tarik sepertimu," kata wanita itu mencemooh Alisha.
"Apakah Mbak yakin kalau Mas Nevan tidak akan tertarik pada wanita yang tidak mempunyai daya tarik seperti ku," kata Alisha dengan nada menantang.
"Jadi kamu menantang ku, kita lihat saja nanti aku yakin Nevan akan selalu membuat mu menderita saat berada di dekatnya dan akhirnya kamu sendiri yang akan pergi dari hidupnya," kata wanita menunjuk wajah Alisha.
"Sayangnya aku tidak akan pergi kalau bukan Mas Nevan yang menceraikan ku dan aku yakin Mas Nevan tidak akan melakukan itu karena orang tua Mas Nevan pasti akan melarang Mas Nevan melakukan itu," jawab Alisha berusaha tenang.
"Kamu berani menantang ku hah," kata wanita menatap tajam Alisha.
Wanita itu akan membuka mulutnya lagi tapi tidak jadi karena Nevan sudah turun dari kamarnya.
"Ayo kita langsung berangkat sebelum terlalu malam," ajak Nevan melingkar tangannya di pinggang wanita itu.
"Sayang apa kamu tidak akan mengenalkan aku padanya," kata wanita itu dengan suara manja.
"Apakah penting aku memperkenalkan mu padanya?" tanya Nevan menaikkan satu alisnya.
"Iya penting lah sayang agar dia tau apa kedudukannya di hatimu," kata wanita itu dengan menyeringai.
"Wanita di samping ku ini adalah Mesha dia adalah pacarku," kata Nevan tanpa ekspresi sama sekali saat melihat Alisha.
"Salam kenal Mbak Mesha," sapa Alisha tersenyum manis kepada Mesha.
"Jangan panggil aku Mbak," kata Mesha.
"Sudahkan? ayo kita berangkat sekarang," kata Nevan, Mesha menganggukkan kepalanya dan berjalan akan pergi dari apartemennya.
"Mas Nevan, apa Mas Nevan akan makan malam di sini?" tanya Alisha.
"Tidak aku akan makan malam dengan Mesha," jawab Nevan terus berjalan keluar dari apartemennya.
Saat melihat mereka sudah keluar dari pintu apartemennya Alisha menjatuhkan dirinya di sofa dia menekan dadanya yang terasa sesak.
"Kenapa harus sesakit ini melihat Mas Nevan bersikap lembut kepada wanita lain sementara kepada ku? bahkan untuk melihat ku saja dia tidak mau," gumam Alisha lirih tanpa terasa pipinya basah oleh air mata.
"Apa aku salah telah hadir di hidupnya? apa aku sama sekali tidak berhak mencintainya?" gumam Alisha memejamkan matanya.
Dia beberapa kali menarik napas dan mengeluarkannya mengurangi rasa sesak yang terasa menghimpit hatinya itu.
Karena merasa ingin mengeluarkan unek-unek nya dia pun mengambil sebuah diary di laci nakas samping tempat tidurnya dan mulai menulis apa saja yang sedang dirasakannya itu.
Karena tidak ada orang untuk berbagi dan menceritakan keluh kesahnya dia pun hanya bisa mengeluarkan semuanya lewat sebuah coretan di diary nya.
Setelah merasa tenang Alisha menyibukkan dirinya dengan memeriksa beberapa materi untuk kuliahnya karena beberapa hari lagi dia akan mulai kembali berkuliah lagi.
...****************...
__ADS_1
Saat pagi Alisha melakukan hal yang sama dengan hari sebelumnya yaitu memasak untuk sarapan.
"Semalam mas Nevan pulang jam berapa ya aku tidak ingat saat dia pulang," gumam Alisha yang sedang memasak.
Saat sedang menata makanan di meja makan dia mendengar bel apartemennya berbunyi dia kemudian membuka pintu dan melihat Lastri sudah berdiri di depan pintu itu.
"Bu Las sudah datang," kata Alisha tersenyum kepada Lastri.
"Iya Nona," jawab Lastri.
Mereka masuk kedalam dengan beriringan Alisha tersenyum saat melihat Nevan sedang berjalan menuruni tangga Nevan sudah terlihat tampan dengan setelan kerja.
Bukkk... Nevan melemparkan pakaian yang di bawanya tepat di depan kaki Alisha.
"Apa Ibu mencuci baju ku secara bersamaan dengan bajunya?" tanya Nevan menatap Lastri.
"Iya tuan," jawab Lastri menundukkan kepalanya.
"Mulai sekarang jangan mencampurkan baju ku dengan baju orang lain aku tidak suka barang-barang ku tercampur dengan barang orang lain," kata Nevan dengan pandangan lurus ke Lastri tanpa melirik Alisha sama sekali.
"Baik tuan maaf kemarin saya lupa memisahkan baju anda dan baju non Alish," jawab Lastri menundukkan kepalanya.
Nevan tidak berbicara lagi dia langsung naik lagi ke tangga dan memasuki kamarnya.
"Anda tidak apa-apa nona?" tanya Lastri kepada Alisha yang sedang memungut baju-bajunya dari lantai.
"Tidak apa-apa Bu, Alish mau menyimpan bajunya dulu ke kamar ya setelah itu sarapan bersama sebelum membereskan rumah ini," kata Alisha tersenyum kepada Lastri.
Alisha pun berjalan menuju kamarnya dia menyimpan baju-bajunya kedalam lemari dia mengusap pipinya yang terasa basah.
Jangan tanya bagaimana perasaannya sekarang sakit, sedih, kecewa itulah yang dirasakannya saat ini, dia sedih karena Nevan tidak hanya enggan melihatnya bahkan dia tidak mau bajunya dan baju Alisha saling bersentuhan.
Alisha merasa saat ini dia bagaikan virus yang harus Nevan jauhi sejauh-jauhnya.
Alisha mengatur napasnya lagi dan keluar lagi dari kamarnya dia menuju meja makan Alisha melihat Lastri yang sedang mencuci bekasnya memasak yang dia simpan di wastafel.
"Bu kita sarapan dulu yuk biar lanjutkan nanti saja mencuci piringnya," ajak Alisha.
"Anda makan duluan saja nona saya sarapannya nanti saja," kata Lastri sambil terus mencuci piring-piring itu.
"Alisha tidak enak makan sendiri Bu jadi ibu temani Alish dong Bu," kata Alish.
Karena merasa kasihan dengan Alisha Lastri pun menghentikan kegiatan mencuci piringnya dan duduk di meja makan bersama Alisha.
"Bi apa Mas Nevan sudah berangkat?" tanya Alisha kepada Lastri.
"Sudah non tadi saat non masuk ke kamar tuan Nevan berangkat ke kantornya," kata Lastri.
"Oh ya sudah kita sarapan sekarang yuk Bu, " Alisha pun mengambil makanannya ke dalam piringnya.
__ADS_1
Lastri pun mengambil makanan ke piringnya dan mulai memakannya. Dia melihat Alisha yang sedang serius memakan makanannya.
Melihat perlakuan Nevan tadi Lastri merasa kasihan dengan Alisha, padahal Alisha adalah orang yang baik dan cantik tapi kenapa Nevan memperlakukannya seperti itu.
"Bu mulai lusa Alish sudah mulai kuliah lagi jadi Alish pasti bakal jarang di rumah Ibu tidak apa-apa disini sendirian?" tanya Alish
"Tidak apa-apa nona sendirian juga," kata Lastri.
"Oh iya nona kuliahnya ngambil jurusan apa?" tanya Lastri.
"Dokter Bu sesuai dengan cita-cita Alish dari dulu dan keinginan almarhum ayah saat masih hidup," kata Alisha.
"Jadi ayah non Alish sudah tidak ada?" tanya Bu Lastri.
"Iya Bu, ayah dan ibu Alish sudah meninggal," kata Alisha sendih.
"Maaf non saya tidak tau hal itu," kata Lastri.
"Tidak apa-apa Bu," kata Alisha lagi-lagi memasang senyumnya.
Setelah selesai sarapan mereka melanjutkan dengan membereskan apartemen itu, Alisha membereskan ruang tamu dan lantai bawah sedangkan Lastri membereskan lantai atas dan kamar Nevan.
Alisha selesai lebih dulu membereskan lantai bawah, dia kemudian mengambil baju-bajunya yang kotor dan mencucinya dengan menggunakan tangannya karena takut Nevan akan marah lagi kalau dia memakai mesin cuci.
"Nona kenapa anda mencuci pakai tangan kenapa tidak memakai mesin cuci saja," kata Lastri yang heran karena melihat Alisha mencuci baju-bajunya sendiri dengan tangan di samping mesin cuci.
"Alisha takut Mas Nevan marah lagi Bu kalau tau Alish mencuci pakaian Alish dengan mesin cuci," kata Alish tersenyum.
"Biar nanti Bu Las pisah saja saat nyucinya non atau Bu Las saja yang mencucinya non Alish istirahat lah," tawar Lastri.
"Tidak perlu Bu, Ibu urus saja baju Mas Nevan dan kebutuhan Mas Nevan yang lainnya, Alish bisa mengerjakan keperluan Alisha sendiri," jawab Alisha fokus ke cuciannya.
Setelah itu Lastri tidak menjawab lagi dia memasukkan pakaian Kean ke mesin cuci untuk mencucinya.
Alisha mengerjakan semuanya dengan hati yang tenang tidak sedikitpun dia mengeluh dengan keadaan ini dia hanya berharap Allah akan bisa membalikkan hati suaminya supaya bisa menerima pernikahan ini dan mencintainya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...