
Happy Reading...
Alisha menunggu dengan gelisah di apartemennya, dia menunggu Nevan untuk bicara masalah perceraian antara mereka.
"Apa Mas Nevan masih di tempat Mbak Mesha, ini sudah malam tapi dia belum juga pulang," gumam Alisha saat melihat jam yang tergantung di dinding sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam.
Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu terbuka dan Alisha yang sedang duduk di sofa ruang tengah mengalihkan perhatiannya ke pintu.
Dia berdiri saat melihat Nevan masuk ke apartemennya dia berniat berbicara dengan Nevan.
"Mas Alish mau bicara," kata Alisha mengikuti langkah Nevan.
"Aku sedang tidak mood untuk ribut jadi jangan ganggu aku," kata Nevan meneruskan langkah menaiki tangga.
"Tapi ini penting Mas," kata Alisha masih mengekori Nevan.
"Bagiku semua tentang mu tidak ada yang penting sama sekali," kata Nevan datar dan melanjutkan langkahnya.
Alisha yang melihat akan memasuki kamarnya segera berbicara lagi hingga membuat langkah Nevan terhenti.
"Alish sudah setuju untuk bercerai dengan Mas Nevan," kata Alisha membuat Nevan melihatnya dengan sebelah alis yang terangkat.
"Apa aku tidak salah dengar, kamu ingin pergi dari hidupku?" tanya Nevan meyakinkan.
"Iya Mas, Alish juga sudah membicarakan masalah ini dengan Mama dan Papa," kata Alisha menatap Nevan dengan dalam.
"Baguslah kalau kamu sudah berbicara dengan Mama dan Papa juga," kata Nevan.
"Tapi Alish mempunyai satu syarat," kata Alisha.
"Syarat apa?" tanya Nevan.
"Alish ingin Mas memberikan satu kali saja hak yang seharusnya Alish dapatkan saat kita menikah dan makan malam romantis," kata Alisha dengan tatapan mengiba kepada Nevan.
"Maksudmu kita harus berhubungan suami istri," kata Nevan menatap Alisha.
"Iya Mas, anggap saja itu sebagai hadiah perpisahan kita," kata Alisha menatap Nevan.
"Baiklah aku akan melakukannya besok malam aku akan menyiapkan apa yang kamu minta," kata Nevan tanpa pikir panjang.
Yang penting dia dan Alisha segera berpisah dan dia bisa segera meresmikan hubungannya dengan Mesha, sekali berhubungan suami istri dengan Alisha tidak masalah baginya, pikir Nevan.
"Baiklah terima kasih Mas," kata Alisha tersenyum.
Setelah itu Alisha menjauh dari hadapan Nevan menuruni tangga menuju ke kamarnya begitu pun dengan Nevan dia pun masuk ke kamarnya.
Alisha merebahkan tubuhnya di kasur dia mulai memejamkan matanya dan terlelap.
Saat pagi hari Alisha dan Nevan sarapan bersama dengan sama-sama diam hingga sarapan mereka selesai.
"Nanti siap-siap lah aku akan menjemputmu saat pulang kerja," kata Nevan saat dia sudah diambang pintu apartemennya.
__ADS_1
"Iya Mas," jawab Alisha tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Setelah melihat Nevan pergi dari sana Alisha masuk ke kamarnya dia melihat sekeliling kamar yang telah ditempatinya selama beberapa bulan itu.
Alisha membereskan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam koper agar dia bisa langsung pergi setelah Nevan memenuhi syarat darinya.
"Non kenapa Non memasukkan barang-barang Non ke koper?" tanya Lastri saat melihat Alisha yang sedang membereskan barang-barangnya.
"Alish mau pergi dari sini Bu," kata Alisha menatap Lastri sudah tidak ada lagi senyuman di wajahnya.
"Pergi kemana Non?" tanya Lastri masuk ke kamar Alisha dan mendekati Alisha yang sedang memasukkan barang-barangnya ke dalam kopernya.
"Alish akan kembali ke rumah almarhum orang tua Alish Bu, Alish sudah membuat keputusan untuk berpisah dengan Mas Nevan," jelas Alisha.
"Apa Non tidak bisa menunggu sampai tuan Nevan menerima Non Alish siapa tau nanti tuan Nevan mau menerima Non Alish," kata Lastri.
"Alish tidak mau terus-menerus menahan Mas Nevan dengan pernikahan ini Bu, Alish percaya kalau kita memang berjodoh suatu saat nanti kita pasti akan bersama lagi dan saling mencintai tidak hanya cinta sebelah pihak," jelas Alisha menyimpan kedua koper yang sudah terisi barang-barangnya di sudut kamarnya.
"Kapan Non Alish akan pergi?" tanya Lastri.
"Sepertinya besok Bu karena nanti malam Alish mau makan malam dengan Mas Nevan sebagai hadiah perpisahan kami," Alisha berusaha tersenyum.
"Semoga Non mendapatkan seseorang yang baik suatu saat nanti, Non Alish adalah orang yang baik suatu saat nanti pasti akan mendapatkan yang terbaik," doa Lastri.
"Alish tidak tau apa Alish bisa membuka hati Alish untuk orang lain lagi apa tidak nantinya Bu," kata Alisha memandang kosong di depannya.
"Non Alish harus berusaha membuka hati untuk pria yang mencintai Non Alish kelak karena Non Alish pasti membutuhkan seorang pendamping," kata Lastri.
Lastri tidak bicara lagi dia mengerti bagaimana perasaan Alisha, pasti tidak mudah menjalani biduk rumah tangga yang hanya dia saja yang ingin mempertahankannya.
...****************...
Sore harinya saat pulang kuliah Alisha pergi ke toko baju terlebih dahulu dia ingin membeli baju untuk makan malamnya dengan Nevan.
Setelah mendapatkan baju yang pas dengannya Alisha pun pulang ke apartemennya.
"Bu Las sudah mau pulang," kata Alisha saat melihat Lastri sedang bersiap-siap untuk pulang.
"Iya Non," jawab Lastri.
"Ya sudah hati-hati ya Bu, Terima kasih untuk kebaikan Bu Las selama ini sudah menjadi teman Alish selama Alish tinggal di sini, maafkan Alish ya Bu kalau Alish ada salah-salah kata selama ini, semoga nanti kita bisa bertemu lagi ya Bu," kata Alisha memeluk Lastri.
"Iya Non semoga Non bisa menemukan kebahagiaan Non Alish di luar sana," kata Lastri membalas pelukan Alisha dan mengusap punggung Alisha.
Setelah berpamitan Lastri pun pergi dari apartemen Nevan itu, sedangkan Alisha masuk kekamarnya dan bersiap.
Alisha memakai long dress yang di belinya tadi saat di toko baju, long dress berwarna hitam dan berlengan sesikut itu tampak sangat pas di tubuh Alisha.
Alisha merias wajahnya dengan make-up yang tidak terlalu berlebihan masih terkesan natural dan membuatnya sangat cantik dan manis dengan rambut panjangnya yang lurus di biarkan tergerai.
Saat sudah selesai dengan dandanannya Alisha duduk manis di ranjang sambil menunggu Nevan datang.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Nevan datang dan langsung meminta Alisha untuk pergi sebelum malam.
Saat di lobby Alisha dan Nevan berpapasan dengan Fino yang baru saja masuk ke pintu lobby.
"Hai Al," sapa Fino kepada Alisha tanpa melihat Nevan dia hanya fokus melihat Alisha yang tampak lebih cantik dari biasanya.
"Hai Fin," jawab Alisha tersenyum.
"Mau kemana tumben dandan cantik banget," kata Fino dengan sedikit menggoda Alisha.
Fino sama sekali tidak memperdulikan Nevan yang masih berdiri di samping Alisha.
"Aku mau makan malam sama suami aku," jawab Alisha membuat Fino melongo.
"Makan malam, bareng suami kamu," kata Fino memastikan perkataan Alisha tidak salah.
"Iya kenalkan ini suami aku," kata Alisha memperkenalkan Nevan kepada Alisha.
"Mantan suami," ralat Nevan kepada Fino membuat Alisha mendudukkan kepalanya sedih.
"Aku tunggu di mobil cepatlah ini sudah malam," kata Nevan sambil berlalu dari sana menuju mobilnya meninggalkan Alisha dan Fino.
"Apa itu suami kamu Al? apa maksudnya tadi dia bilang bahwa dia mantan suami kamu," kata Fino bingung.
"Aku pergi dulu ya Fin," Alisha pergi dari sana begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Fino.
"Ada apa dengan pernikahan Alisha, kenapa aku merasa tidak asing dengan suami Alisha itu," gumam Fino bingung.
Tidak mau terlalu memikirkan masalah hubungan Alisha dan suaminya Fino pun melanjutkan langkahnya menuju ke unitnya.
Sementara itu Alisha memasuki mobil Nevan dan Nevan mulai menjalankan mobilnya. selama di perjalanan baik Nevan maupun Alisha tidak ada yang membuka suaranya.
Hanya suara deru mesin mobil saja yang terdengar di mobil itu hingga mobil pun sampai di restoran yang cukup mewah dan Nevan membawa Alisha ke sebuah ruangan.
Saat masuk kedalam ruangan itu Alisha terpaku di ambang pintu karena ruangan itu sudah dihias sedemikian rupa sehingga terasa seperti sedang dinner romantis beneran.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1