
Happy Reading...
Beberapa hari kemudian Nevan harus pergi ke luar kota untuk masalah pekerjaannya dan hari ini rencana kepulangannya karena pekerjaannya selesai hari ini.
Nevan menginap di sebuah hotel yang tidak jauh dari kantor yang akan bekerja sama dengannya.
Nevan sudah siap dengan pakaian formalnya dan langsung berangkat ke kantor kliennya untuk pertemuan terakhir sebelum pulang.
Pertemuan itu berlangsung dari jam sepuluh pagi dan baru selesai jam dua siang mereka akhirnya memutuskan untuk makan terlebih dahulu di sebuah Restoran yang tidak jauh dari kantor itu.
"Apa Pak Nevan akan pulang hari ini juga Pak?" tanya rekan kerja Nevan sambil menyantap makanannya.
"Iya Pak, saya sudah tidak bisa menunggu sampai besok sepertinya," jawab Nevan dengan terkekeh.
"Ya, saya mengerti dulu waktu saya masih muda saya juga seperti itu, berpisah dengan anak dan istri selama beberapa hari serasa beberapa tahun," jawab rekan kerja Nevan yang seumuran dengan papanya Nevan.
"Iya begitulah Pak," jawab Nevan setelah itu mereka melanjutkan makan siangnya.
Setelah selesai mereka keluar dari Restoran itu Nevan sekalian berpamitan pada rekan kerjanya untuk pulang hari ini juga.
Rekan kerja Nevan mengambil sesuatu dari mobilnya dan memberikan beberapa bingkisan kepada Nevan.
"Ini oleh-oleh untuk anak dan istrimu semoga kalian menyukainya," kata Rekan kerja Nevan menyerahkan beberapa bingkisan kepada Nevan.
"Kenapa repot-repot seperti ini Pak," kata Nevan tidak enak.
"Tidak repot sama sekali, ini bukan apa-apa terimalah," kata rekan kerja Nevan itu.
"Terima kasih Pak, maaf merepotkan," kata Nevan.
"Tidak sama sekali, lain kali jika ke sini lagi bawalah anak dan istrimu ke sini juga biar kalian sekalian liburan," kata rekan kerja Nevan.
"Iya nanti saya akan membawa mereka ke sini," kata Nevan.
"Baiklah saya harus kembali lagi ke kantor, kamu hati-hati ya di jalannya," kata rekan kerja Nevan.
"Iya terima kasih untuk oleh-olehnya Pak," kata Nevan.
"Iya sama-sama," kata rekan kerja Nevan.
Setelah itu mereka pun berpisah menuju ke tujuan mereka masing-masing. Nevan kembali ke hotel tempatnya menginap dia akan beristirahat sejenak sebelum pulang karena perjalanan pasti akan lumayan jauh jadi dia ingin mengistirahatkan sejenak dirinya agar tidak terlalu kelelahan saat di perjalanan.
Saat hari sudah sore Nevan merapikan barang-barangnya dan pergi dari kamar hotel itu dia memberikan kunci kamarnya kepada resepsionis di sana.
__ADS_1
Setelah itu dia pergi menuju ke mobilnya sebelum menjalankan mobilnya Nevan membalas pesan dari Alisha terlebih dahulu yang menanyakan keberangkatannya.
Nevan menjalankan mobilnya dengan santai meskipun akan kemalaman tidak masalah buatnya. Nevan melihat suasana langit yang terlihat sudah gelap sepertinya akan turun hujan.
Hujan turun dengan lumayan lebat sehingga membuat Nevan harus lebih hati-hati lagi menjalankan mobilnya agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Mobil Nevan sudah sampai di kotanya dan suasana sudah malam Nevan melihat jam sudah jam delapan malam perjalanannya lebih lama karena Nevan menjalankan mobilnya dengan pelan.
Saat sedang fokus pada jalanan dari kejauhan Nevan melihat seperti seluit Mesha sedang berlari di tengah hujan deras.
"Apa aku salah lihat?" tanya Nevan pada dirinya sendiri.
Nevan menajamkan penglihatannya dan semakin lama dia semakin jelas melihat Mesha yang tersorot oleh lampu mobil pengendara lain dia melihat Mesha sedang berlari dengan sesekali melihat ke arah belakang.
Mesha menggendong anaknya, di tengah hujan lebat seperti itu membuat Nevan menghentikan mobilnya tepat di depan Mesha.
"Apa yang kamu lakukan Sha, kamu membawa anakmu di tengah hujan seperti ini, itu sangat bahaya," kata Nevan dengan berteriak karena suasana bising oleh suara hujan dan kendaraan lain.
Mesha yang tahu jika itu mobil Nevan dia langsung masuk ke mobil itu meskipun tidak Nevan persilahkan untuk masuk.
"Tolong anterin aku ke rumah sakit, anak–anakku dari kemarin demam tapi Bima tidak mau membawanya ke rumah sakit sekarang anakku pingsan," kata Mesha dengan suara terputus karena napasnya terengah-engah disertai tangisan.
Penampilan Mesha sekarang benar-benar jauh berbeda dengan Mesha dulu yang selalu terawat dan glamor.
Selama di perjalanan Nevan dan Mesha tidak mengeluarkan suaranya di mobil itu hanya terdengar deru mesin mobil dam sisa tangisan Mesha entah berapa lama Mesha menangis, pasti sangat lama karena isakkan tangisnya masih terdengar sampai sekarang.
Saat sampai di rumah sakit Nevan mengantar Mesha menuju ke ruangan khusus untuk anak.
Mesha menunggu dengan gelisah saat dokter memeriksa anaknya dia tidak memperdulikan keadaannya yang menggigil karena kedinginan.
Mesha mendudukkan dirinya di kursi tunggu dengan memeluk dirinya yang menggigil.
"Ini pakailah jangan sampai kamu juga sakit," kata Nevan memberikan jaket yang di pakainya.
"Terima kasih," kata Mesha menerima jaket itu.
"Kenapa Bima melakukan semua itu bukankkah kalian baik-baik saja sebelumnya?" tanya Nevan.
Mesha melihat ke arah Nevan sekilas kemudian menatap kedepannya dengan menerawang.
"Kami memang baik-baik saja saat beberapa bulan pernikahan kami tapi saat pernikahan kami berjalan satu tahun, lebih tepatnya saat Fariz berusia setengah tahun dia mulai berubah dia mudah marah-marah tidak jelas, awalnya aku mengira dia hanya sedang pusing karena masalah pekerjaan. tapi semakin lama dia semakin menjadi, bahkan tidak hanya aku yang jadi sasaran kemarahannya tapi juga anak kami, dia berlaku kasar pada Fariz yang belum tau apa-apa sehingga Fariz seperti ini, Fariz tidak mau berbicara lagi karena dia bahkan sering sampai dipukul saat dia menangis atau pun berbicara di depan Bima," jelas Mesha.
"Apa kamu sudah membawanya ke psikolog?" tanya Nevan.
__ADS_1
"Sudah dan dokter yang menanganinya bilang dia seperti itu karena dia trauma atas perlakuan Bima padanya hingga pikirannya mendoktrinnya untuk tidak mengeluarkan suara lagi saat dalam keadaan seperti apapun," jelas Mesha dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
"Aku ingin anakku kembali seperti sebelumnya tertawa dengan kencang saat dia senang, marah saat dia kesal, dan menangis saat dia sedih," kata Mesha.
"Sudah berapa lama dia seperti itu?" tanya Nevan dia merasa iba dengan keadaan anak Mesha.
"Sejak dia berusia dua tahun setengah, dia seperti itu sudah hampir tiga tahun," jawab Mesha.
"Apa orang tuamu tidak mau membantumu sama sekali," tanya Nevan.
"Mereka bukan orang tua kandungku," jawab Mesha lirih.
"Apa?"
"Iya aku hanya anak yang mereka angkat karena saat itu mereka baru saja kehilangan anak mereka dan sekarang anak mereka yang sempat hilang itu telah mereka temukan dan mereka memutuskan untuk berada di dekat anak mereka," jawab Mesha tersenyum pahit.
Nevan hanya menatap tak percaya dengan apa yang Mesha katakan karena dulu orang tua Mesha terlihat sangat menyayangi Mesha.
"Kamu pasti gak percaya dengan apa yang aku katakan ini 'kan wajar jika kamu berpikiran seperti itu, aku juga tidak percaya saat mereka mengatakan semua itu tapi itu adalah kenyataannya" kata Mesha bangun dari duduknya.
"Kamu pergilah Alisha pasti sedang menunggumu di rumah," kata Mesha melihat ke dalam ruangan melihat dokter yang sedang meriksa anaknya.
"Baiklah aku akan pulang, aku akan membayarkan biaya rumah sakitnya," kata Nevan.
"Iya terima kasih sudah mau menolongku," kata Mesha tersenyum samar.
Nevan hanya menganggukkan kepalanya setelah itu dia pergi dari sana sebelum pulang dia membayar biaya rumah sakit Fariz terlebih dahulu.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1