Ingin Cinta SUAMIKU

Ingin Cinta SUAMIKU
Kepergian Mesha.


__ADS_3

Happy Reading....


"Hay Fariz," kata Alisha tersenyum ramah kepada Fariz.


Alisha memindahkan dirinya menjadi duduk di samping Fariz karena Lastri sudah memindahkan dirinya dengan duduk kursi lain.


Fariz hanya melihatnya sebentar kemudian memalingkan lagi wajahnya ke arah lain.


"Apa kamu sudah makan siang?" tanya Nevan mengusap kepala belakang Fariz.


Fariz masih diam seperti biasanya dia menatap pintu ruangan ICU.


"Apa Fariz sudah menemui mamanya?" tanya Alisha kepada Bu Lastri dan wanita paru baya yang Mesha bilang pengurus panti asuhan.


"Sudah tadi Non, begitu tau Nona Mesha sadar Den Fariz langsung ingin masuk," jawab Lastri.


Alisha menganggukkan kepalanya dia menatap Fariz dengan iba anak sekecil itu sudah mengalami hal yang seperti ini dan berada di situasi seperti ini hingga membuatnya trauma yang mendalam.


Saat Alisha dan Nevan sedang berusaha berbicara dengan Fariz suster yang tadi di ruangan Mesha membuka pintu ruangan itu dengan terburu-buru dan pergi dari sana dengan sedikit berlari.


Nevan dan Alisha saling bertatapan mereka tahu pasti terjadi sesuatu yang lebih serius dengan Mesha di dalam sana.


Alisha lagi-lagi menatap Fariz yang terlihat gelisah seolah dia juga sudah tahu jika ada yang tidak beres dengan Mamanya itu.


"Mama kamu pasti baik-baik saja," kata Alisha mengusap punggung kecil Fariz.


Terdengar suara beberapa derap kaki terburu-buru mendekati mereka itu adalah Dokter yang menangani Mesha dan beberapa Suster.


"Apa ada masalah Dok?" tanya Nevan kepada Dokter yang akan memasuki ruangan.


"Saya akan memeriksa pasien terlebih dahulu," jawab Dokter itu.


Nevan pun menganggukkan kepalanya dan Dokter itu pun masuk ke ruangan itu untuk memeriksa keadaan Mesha di dalam sana.


Nevan kembali mendudukkan dirinya di samping Fariz, anak itu terlihat cemas dia memainkan jari-jari tangannya dengan pandangan fokus pada pintu ruangan itu tanpa berkedip.


Suasana di depan ruangan itu menjadi tegang mereka berharap Mesha baik-baik saja dan masih bisa kembali ke putra kecilnya yang masih sangat membutuhkannya.


Karena tidak tega melihat Fariz. Alisha menggeserkan tubuhnya semakin mendekati Fariz dia menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukannya untuk memberikan kekuatan padanya yang teramat rapuh itu.

__ADS_1


Fariz tidak melawan ataupun memberontak dia malah memejamkan matanya menikmati usapan lembut yang Alisha berikan di kepala dan punggungnya.


Setetes demi setetes air mata jatuh di pipinya, dia menangis tanpa suara dalam pelukan Alisha wanita yang baru ditemuinya beberapa menit yang lalu.


"Menangislah jika kamu merasa sedih jangan takut, tidak akan ada yang melarangmu untuk itu di sini," kata Alisha dengan suara yang lembut.


Beberapa saat kemudian suasana di sana menjadi hening hanya terdengar suara dentingan jarum jam yang ada di dinding yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.


Alisha masih memeluk tubuh Fariz dan mengusap punggungnya begitupun dengan Nevan dia mengusap lembut punggung Fariz.


Di tengah keheningan yang terjadi di depan ruangan itu. pintu ruangan itu akhirnya terbuka dan muncullah Dokter, dia memasang wajah sedih dan membenarkan kacamatanya yang bertengger di hidungnya.


"Bagaimana Dok, apa Mesha baik-baik saja?" tanya Nevan berdiri dari duduknya mendekati Dokter itu.


"Kami tidak bisa menyelamatkannya Tuan Nyonya Mesha meninggal pada pukul 2:20," kata Dokter itu.


Mendengar perkataan itu Nevan kaget dia tidak menyangka Mesha akan pergi secepat itu meninggalkan anaknya yang masih sangat membutuhkannya.


"Innalillahi wainnailaihi rojiun," gumam semua orang yang ada di sana secara bersamaan.


Alisha mengeratkan pelukannya pada Fariz dia bisa merasakan bagaimana kesedihan saat orang yang paling berarti dalam hidupnya harus meninggalkannya begitu pun yang terjadi padanya dulu saat ibunya harus pergi untuk selamanya dia merasa sangat sedih tapi beruntung dulu masih ada ayahnya yang memeluknya erat, menenangkannya dan menghiburnya sehingga dia tidak terlalu larut dalam kesedihan itu.


Berbeda dengan anak malang yang sedang terisak dengan suara pelan di dekapannya itu. Alisha tahu meskipun anak kecil ini masih sangat kecil tapi dia sudah mengerti jika dia baru saja kehilangan orang yang berarti dalam hidupnya. dia tidak punya siapapun yang bisa menghiburnya bahkan sekarang kehidupannya pun tidak tentu akan seperti apa.


Fariz menjauhkan dirinya dari Alisha dia menatap ranjang yang terus bergerak itu dengan tatapan sayunya.


"Kamu mau memeluk Mama kamu untuk yang terakhir kalinya?" tanya Alisha yang langsung dijawab anggukkan oleh Fariz.


"Bisakah kalian membiarkan anaknya untuk memeluknya untuk yang terakhir kalinya," kata Nevan kepada suster itu.


Para suster itu pun menganggukkan kepalanya dan menghentikan ranjangnya membiarkan Fariz untuk menaiki ranjangnya.


Alisha membantu Fariz menaiki ranjang itu dan Fariz langsung memeluk tubuh kaku nan dingin itu dengan erat dia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher ibunya itu.


Semua yang ada di sana terenyuh melihat Fariz yang seperti itu anak yang belum genap empat tahun itu seperti anak yang sudah berusia beberapa tahun dari usianya dia bisa mengerti apa yang terjadi di sekitarnya.


"Sebaiknya anda segera mengurus jenazahnya Tuan," kata Dokter itu kepada Nevan.


"Baiklah Dok," jawab Nevan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Fariz, Mama kamu harus segera dibersihkan agar dia bisa segera diistirahatkan sebelum terlalu sore," kata Alisha kepada Fariz dengan mengusap rambut hitam Fariz.


Fariz mengangkat wajahnya melihat Alisha dan menganggukkan kepalanya dia mengusap pipinya yang sudah basah oleh air mata itu dan mencium seluruh wajah Mesha dengan bibir kecilnya.


"Kasihan sekali Den Fariz anak sekecil itu sudah kehilangan ibunya dan tidak bisa lagi merasakan kasih sayang seorang ibu. ditambah Papanya sampai sekarang tidak tau di mana," gumam Lastri sambil menyeka air mata di pipinya.


Begitu pun dengan pengurus panti asuhan dia menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan Lastri dan mengusap pipinya.


"Kasihan banget Fariz Mas," gumam Alisha menatap Nevan.


Nevan hanya menganggukkan kepalanya dan merangkul pundak Alisha sambil mengusapnya.


Setelah itu dia meminta kepada orang yang biasa bertugas untuk membersihkan jenazah di rumah sakit itu untuk mengurusnya saat ranjang Mesha di bawa oleh para suster Fariz turun dari ranjang itu dengan dibantu oleh suster.


Dia menatap ranjang yang semakin bergerak menjauhinya dia kemudian menundukkan kepalanya sebentar setelah itu berjalan lagi menuju kursi dan langsung duduk di sana.


Sekarang sudah tidak ada air mata lagi yang mengaliri pipinya yang kecil itu. dia kembali seperti sebelumnya memasang wajah datar lagi.


"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan," pamit Dokter.


"Iya terima kasih untuk semuanya Dok," kata Nevan. Dokter itu pun pergi dari sana untuk kembali ke ruangannya.


"Mas mau mengurus kepulangan Mesha dan segala sesuatunya," kata Nevan kepada Alisha.


"Pergilah Mas, aku tunggu di sini sambil menunggu Fariz," kata Alisha.


Nevan menganggukkan kepalanya dan setelah itu pergi dari sana untuk mengurus jenazah Mesha.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2