
Happy Reading....
Hari sudah semakin sore dan pemakaman jenazah Mesha sudah selesai dilaksanakan tidak banyak orang yang melayad karena Mesha tidak punya sanak-saudara yang lainnya.
Sekarang di makam itu hanya tersisa Alisha, Nevan, Lastri dan pengurus panti asuhan yang Mesha suruh untuk merawat Fariz sekarang.
Alisha masih berdiri di belakang Fariz yang sedang berjongkok di samping kuburan Mesha yang tanahnya masih berwarna merah disertai kelopak bunga yang masih segar dan masih tercium jelas di indra penciumannya bau tanah bercampur bunga itu.
"Fariz sekarang kita pergi dari sini ya, ini sudah sore nak, kita harus segera ke panti teman-teman di panti pasti sudah menunggu kedatanganmu," bujuk pengurus panti itu kepada Fariz yang masih menatap nisan yang bertuliskan nama almarhumah Mamanya itu.
Fariz mengangkat kepalanya dan melihat ke arah pengurus panti yang sedang berdiri di depannya.
Setelah beberapa saat melihat pengurus panti itu akhirnya Fariz pun menganggukkan kepalanya pertanda dia setuju dengan ajakan pengurus panti itu.
Fariz mulai berdiri dia menyambut tangan pengurus panti itu yang sudah terulur padanya.
Alisha yang melihat itu merasa sedih entah kenapa dia merasa ingin sekali merawat Fariz dan membawanya untuk ikut bersamanya dan tinggal bersamanya, dia mereka tidak tega jika harus membiarkan Fariz yang sudah seperti itu harus tinggal di panti asuhan.
"Bu, bolehkah Fariz ikut bersama kami untuk pulang ke rumah kami?" tanya Alisha kepada pengurus panti itu.
Nevan yang mendengar perkataan Alisha itu langsung melihat kearah Alisha dengan tatapan bertanya dan Alisha membalas tatapan suaminya itu dan tersenyum.
"Bolehkan Mas, jika kita membawanya untuk tinggal bersama kita, aku yakin Aaric akan menerimanya dan mudah-mudahan saja dengan adanya Aaric di sisinya dia bisa segera sembuh," kata Alisha meminta ijin kepada Nevan.
"Kalau kamu maunya seperti itu Mas ikut saja, asal Fariznya mau," jawab Nevan dengan menganggukkan kepalanya.
Alisha kemudian menganggukkan kepalanya dan berjongkok di depan Fariz yang berdiri, dia menatap Fariz dengan serius dan Fariz pun menatapnya dengan tatapan polos dan tatapan tidak berdayanya. sehingga membuat siapa saja yang melihatnya ingin merangkul tubuh kecilnya itu kedalam pelukan hangatnya.
"Fariz kamu mau 'kan ikut sama om dan tante di sana juga ada Aaric anak tante sama om dia pasti akan nemenin Fariz," kata Alisha menatap Fariz dengan lembut.
Fariz menatap Alisha dengan mata coklat beningnya, dia seolah sedang menimbang tawaran Alisha itu. apa dia harus tinggal bersama Alisha dan Nevan atau tinggal di panti asuhan.
Nevan yang mengerti kebingungan Fariz pun mendekati Fariz dia ikut berjongkok di samping Fariz dan mengusap punggung kecil Fariz dengan lembut.
"Fariz kamu tidak perlu khawatir kita pasti akan merawat kamu dengan baik. jadi apa kamu mau ikut dengan Om dan tante Alish untuk tinggal bersama dengan kami," kata Nevan.
Masih terlihat jelas keraguan di mata Fariz dia berkali-kali melihat Alisha, Nevan dan pengurus panti itu berulang kali sedangkan Alisha dan Nevan masih menunggu jawabannya dengan sabar.
__ADS_1
Setelah berpikir beberapa saat akhirnya Fariz menganggukkan kepalanya dengan menatap Alisha dan Nevan.
"Apa kamu akan tinggal bersama dengan Om dan tante?" tanya Alisha memastikan lagi.
Fariz kembali menganggukkan kepalanya. Alisha dan Nevan pun tersenyum mereka kemudian kembali berdiri dan dan langsung melihat pengurus panti asuhan itu.
"Bu, gak pa-pa 'kan kalau Fariz tinggal bersama dengan kami di rumah kami?" tanya Alisha kepada pengurus panti asuhan itu.
"Iya Nyonya, saya justru senang jika kalian mau merawat Fariz dengan sukarela," jawab pengurus panti itu tersenyum kepada Alisha.
Setelah itu pun Nevan dan Alisha sepakat untuk merawat Fariz di rumah mereka dia tidak mungkin tega membiarkan Fariz yang tidak sepenuhnya baik-baik saja untuk tinggal di panti asuhan.
"Baiklah kalau gitu sekarang sebaiknya kita langsung pulang karena sebentar lagi akan malam," kata Nevan disetujui semuanya.
Setelah itu mereka pergi dari area makam Fariz di gandeng oleh Alisha berjalan ke mobilnya.
"Bu Las, sebaiknya mulai besok bekerja di rumah kami saja tapi sekarang Bu Las bisa pulang dulu ke rumah Bu Las untuk menemui anak-anak Ibu besok bisa langsung ke rumah kami tapi tolong beresin dulu apartemen ya," kata Nevan pada Lastri saat dia sudah di samping mobilnya.
"Apa saya tidak di pecat Tuan?" tanya Lastri kaget karena dia pikir Nevan dan Alisha akan memecatnya.
"Tidak Bu kita pasti membutuhkan Ibu di rumah apalagi Fariz sudah dekat sama Ibu. jadi kita mau Bu Las membantu kita menjaga Fariz nantinya karena di rumah hanya satu Art kasihan Art di sana kalau dia harus mengerjakan semuanya sendiri," jelas Alisha.
"Iya sama-sama Bu, sekarang Bu Las bisa menemui dulu anak-anak Bu Las dulu," kata Alisha.
"Iya Nyonya," jawab Lastri membungkukkan badannya setelah itu mereka berpisah Alisha, Nevan dan Fariz masuk ke dalam mobil.
Fariz duduk di kursi belakang dia hanya melihat ke luar jendela melihat lalu lalang aktivitas di jalanan yang hampir gelap tertutup oleh gelapnya malam yang akan datang.
"Mas apa Aaric akan bisa menerima Fariz dengan baik?" tanya Alisha melihat Nevan yang sedang fokus pada setir mobilnya.
"Mas yakin dia akan menerima Fariz dengan baik, kamu tau 'kan Aaric adalah anak yang gampang dekat dengan orang lain dan dia selalu terbuka terhadap orang yang baru dikenalnya," jawab Nevan dengan yakin.
"Mudah-mudahan saja Fariz bisa sembuh dari traumanya dan dia bisa berkomunikasi dengan baik lagi seperti sebelumnya," kata Alisha melihat ke kursi belakang dimana Fariz sedang melihat ke arah luar jendela mobilnya.
"Iya aamiin, semoga saja dia segera sembuh karena dia tidak mungkin selamanya seperti itu karena itu pasti akan menggangu tumbuh kembangnya," kata Nevan.
"Apa Mbak Mesha menceritakan semua yang terjadi kepada Fariz sampai Fariz bisa seperti itu?" tanya Alisha kepada Nevan.
__ADS_1
"Iya dia menceritakan semuanya...."
Nevan menceritakan semua penyebab Fariz jadi seperti itu kepada Alisha dan Alisha hanya menyimak saja apa yang Nevan ceritakan kepadanya.
"Apa suami Mbak Mesha berubah dengan cepat seperti itu karena pengaruh obat-obatan terlarang itu Mas?" tanya Alisha saat Nevan menjelaskan semua tentang Mesha dan keluarganya.
"Sepertinya begitu," jawab Nevan sambil fokus pada setianya.
Alisha menganggukkan kepalanya setelah itu dia tidak berbicara lagi begitupun dengan Nevan. dia fokus menjalankan mobilnya agar lebih cepat sampai di rumahnya sebelum terlalu malam.
"Fariz kamu ngantuk?" tanya Alisha membalikkan badannya ke belakang untuk melihat Fariz.
Fariz hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Alisha itu.
"Kalau ngantuk tidurlah nanti tante bangunkan saat sudah sampai di rumah," kata Alisha.
Fariz hanya diam melihat jalanan lagi tidak merespon perkataan Alisha itu. dia seolah sibuk dengan dunianya sendiri dan pemikirannya sendiri.
Alisha kembali membenarkan duduknya dan melihat ke arah depan tidak mengajak Fariz bicara lagi.
Jarak dari tempat pemakaman ke rumah Alisha lumayan jauh karena Mesha di kuburkan di tempat pemakaman umum yang dekat dengan rumah sakit tempatnya dirawat sebelumnya.
Beberapa saat kemudian mobil mereka sampai di komplek rumah Alisha Nevan menjalankan mobilnya dengan santai hingga akhirnya dia sampai di depan gerbang rumah mereka.
Nevan memencet beberapa kali klakson mobilnya agar Rudi membukakan pintu gerbang untuknya setelah pintu gerbang terbuka dia memasukkan mobilnya ke dalam. saat memasukkan mobilnya dia melihat mobil orang tuanya sudah terparkir di garasi mobilnya, itu artinya orang tuanya sudah membawa Aaric pulang.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....