Ingin Cinta SUAMIKU

Ingin Cinta SUAMIKU
Bercerita kepada Alisha.


__ADS_3

Happy Reading...


Saat Nevan dan Aaric sedang berbicara terlihat Alisha berjalan menuju ke arah sofa dengan pandangan fokus kepada anaknya.


Mendapatkan pandangan seperti itu dari Mamanya membuat Aaric menciut dia langsung menundukkan kepalanya tidak berani menatap mamanya lagi.


Alisha menyalami Nevan terlebih dahulu setelah itu kembali menatap anaknya yang terlihat takut dan menundukkan kepalanya.


"Bakal di ulangi lagi gak kamu berbohong seperti hah!" kata Alisha dengan nada yang di buat-buat sedang marah.


Alisha berdiri di depan suami dan anaknya dengan tangan yang disilangkan di dadanya bergaya seolah dia sedang marah.


Aaric menggelengkan kepalanya dengan masih tertunduk, Nevan hanya diam saja karena dia tahu Alisha tidak benar-benar marah kepada putranya itu, dia juga tidak mau terlalu membela Aaric saat dia melakukan kesalahan karena jika dia selalu membela Aaric nanti anaknya akan terbiasa berbuat kesalahan karena selalu merasa ada yang membelanya.


"Mau buang-buang makanan seperti itu lagi gak?" tanya Alisha lagi.


"Tidak," jawab Aaric dengan suara yang pelan dan serak pertanda dia sedang menahan tangisnya.


"Siapa yang ajarin kamu berbohong seperti itu."


"Minta maaflah dan berjanjilah untuk tidak mengulanginya lagi," kata Nevan mengusap kepala anaknya.


Aaric menatap Nevan dengan mata yang sudah berkaca-kaca dan Nevan menganggukkan kepalanya meyakinkan Aaric.


Dengan ragu Aaric turun dari pangkuan papanya di berdiri di depan mamanya yang masih menatapnya dan tangan di dada.


"Maafin Aaric Ma, Aaric janji tidak akan berbohong lagi dan tidak akan membuang-buang makanan lagi," kata Aaric menatap Alisha dengan tatapan memohonnya.


"Mama tidak percaya, janji kamu itu janji palsu," kata Alisha menggoda anaknya.


"Tidak Ma, Aaric benar-benar berjanji Papa yang jadi saksinya, iya 'kan Pa," Aaric melihat Nevan meminta dukungan dari papanya.


"Iya, Papa saksinya jika Aaric berbohong lagi kita potong saja si bitbit-nya Ma," kata Nevan ikut menggoda anaknya.


"Jangan kalau bitbit-nya di potong siapa yang jagain bubu dan anak-anaknya," kata Aaric.


"Makanya jangan bohong lagi kalau kamu tidak mau si bitbit Mama potong, padahal dagingnya enak loh," goda Alisha yang senang melihat wajah panik anaknya.


"Tidak daging bitbit gak enak, dagingnya pasti pahit," kata Aaric beralibi agar kelinci kesayangannya tidak dipotong.


Aaric memang memiliki sepasang kelinci dan kelincinya baru saja beranak. Aaric sangat menyukai kelinci-kelincinya itu.


Kelinci itu pemberian Angga dan Dilla karena Aaric sendiri yang memintanya saat mereka jalan-jalan ke kebun binatang.


"Baiklah kali ini Mama ampuni tapi kalau sampai berani berbohong lagi siap-siap saja makan sate daging si bitbit," ancam Alisha menatap anaknya dengan serius.


Aaric menganggukkan kepalanya cepat, "Iya Aaric tidak akan berbohong lagi," kata Aaric mengacungkan jari kelingkingnya.


"Baiklah sekarang sebaiknya kita mandi dulu sebelum makan malam," ajak Alisha.

__ADS_1


"Baiklah Ma," jawab Aaric patuh.


"Mas juga mandilah dulu setelah itu kita makan malam," kata Alisha tersenyum kepada Nevan.


"Iya," jawab Nevan menganggukkan kepalanya dan membalas senyuman Alisha.


Alisha membawa anaknya ke kamarnya untuk dimandikan terlebih dahulu. sementara Nevan berjalan menuju ke kamarnya untuk mandi juga sebelum makan malam.


Beberapa saat kemudian mereka sudah berkumpul di meja makan. mereka makan dengan tenang begitupun dengan Aaric dia memakan makanannya dengan malas karena ada sayuran di piringnya.


Tapi dia tetap memakannya karena takut kelincinya benar-benar di potong dan di jadikan sate oleh mamanya.


Setelah makan malamnya selesai Alisha pergi ke kamar Aaric untuk menidurkan Aaric terlebih dahulu.


Nevan merebahkan tubuhnya di ranjang dia berencana akan menceritakan tentang kedatangan Mesha ke kantornya tadi kepada Alisha.


Dia tidak ingin ada salah paham antara dirinya dan Alisha di kemudian hari.


"Mas belum tidur?" tanya Alisha saat memasuki kamarnya dan mendudukkan dirinya di ranjang.


"Belum aku menunggumu ada yang mau aku bicarakan padamu," kata Nevan mendudukkan kembali dirinya di ranjang sehingga berhadapan dengan Alisha.


"Ada apa Mas, apa ada hal yang serius," kata Alisha.


"Tadi saat aku masih di kantor ada yang datang ke kantor," kata Nevan menatap Alisha dengan serius.


"Mesha," kata Nevan singkat dan masih menatap reaksi Alisha.


Alisha merasa tidak nyaman saat mendengar tentang Mesha lagi setelah beberapa tahun tidak pernah mendengar tentangnya lagi.


"Kamu jangan salah paham dulu, dia hanya sebentar saja ke kantornya karena aku memintanya untuk segera pergi," kata Nevan memegang tangan Alisha saat melihat reaksi Alisha yang berubah saat dia mengatakan tentang Mesha.


"Apa yang dia bicarakan?" tanya Alisha yang penasaran dengan apa yang Mesha bicarakan kepada suaminya.


"Dia meminta tolong agar aku mau membantunya...." Nevan menceritakan semua yang Mesha bicarakan padanya tadi siang dan Alisha mendengar setiap perkataan Nevan dengan seksama.


"Terus apa keputusan Mas?" tanya Alisha.


"Aku jelas tidak mau membantunya karena aku takut itu hanyalah sebuah siasatnya saja untuk membuat kita berpisah lagi," kata Nevan.


"Bagaimana jika dia memang benar-benar membutuhkan bantuanmu Mas," kata Alisha menatap Nevan dengan serius.


"Aku tidak mau termakan omongannya untuk kesekian Kalinya, lagian sekarang ada kamu aku tidak mau membuatmu sedih dan berpikiran yang tidak-tidak jika aku membantunya," kata Nevan.


Alisha tersenyum dan memeluk Nevan dengan erat saat mendengar perkataan Nevan.


"Terima kasih karena Mas sudah menjaga perasaan Alish," kata Alisha di pelukan Nevan.


"Itu sudah seharusnya," kata Nevan membalas ucap Alisha.

__ADS_1


"Sekarang sebaiknya kita tidur," kata Nevan.


Alisha menganggukkan kepalanya dan mereka pun merebahkan tubuh mereka dengan saling berpelukan.


"Lis," panggil Nevan.


"Iya Mas," jawab Alisha dengan mata terpejam.


"Aku udah beberapa hari gak dapet jatah," kata Nevan membuat Alisha yang semula menutup matanya kembali membuka matanya.


Alisha mendongakkan kepalanya melihat wajah Nevan yang berada lebih tinggi darinya.


"Katanya tadi minta Alish untuk segera tidur," kata Alisha menatap Nevan.


"Tadinya begitu tapi aku ingat kalau aku udah beberapa hari belum dapet jatah Loh Lis," kata Nevan menatap Alisha juga.


"Bolehkan?" tanya Nevan.


Alisha menganggukkan kepalanya pasrah karena dia tidak mungkin menolak keinginan suaminya, apalagi itu adalah kewajibannya untuk melayani suaminya.


Mendapatkan persetujuan dari Alisha Nevan tidak berlama-lama lagi dia melakukan hal sudah beberapa hari tidak dilakukannya dengan Alisha karena dia tidak tega kepada Alisha yang seharian mengurus anak mereka yang sempat sakit beberapa hari lalu.


Nevan melakukan kewajibannya sebagai suami dengan penuh kelembutan, mereka saling menghangatkan satu sama lainnya hingga permainan antara mereka selesai.


Setelah selesai dengan kegiatannya Nevan dan Alisha segera memakai kembali pakaiannya, mereka tidak bisa semalaman tanpa memakai baju karena terkadang tengah malam Aaric selalu masuk ke kamar mereka yang memang tidak dikunci untuk tidur bersama mereka.


"Sekarang tidurlah," kata Nevan menarik Alisha lagi ke dalam pelukannya.


"Mas juga tidurlah," kata Alisha memeluk tubuh Nevan.


"Iya Mas juga akan tidur memangnya mau ngapain lagi," kata Nevan.


Akhirnya mereka pun tertidur dengan saling memeluk satu sama lain mereka tertidur dengan tenang dan tidak memperpanjang masalah Mesha lagi.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2