
Happy Reading...
Nevan saat ini sedang menuju ke rumah orang tuanya karena orang tuanya tidak bisa di hubungi juga dia ingin memberitahu tentang pertunangannya dengan Mesha yang akan dilakukannya dua hari lagi.
Saat ini adalah waktunya orang pulang bekerja sehingga di jalan sangat macet dan hanya bisa bergerak sedikit-sedikit saja.
Setelah beberapa saat kemudian Nevan berhasil melewati jalan yang macet itu hingga dia bisa mempercepat laju mobilnya untuk sampai di rumah orang tuanya.
Nevan membunyikan klakson mobilnya saat sudah sampai di depan gerbang agar security di rumah orang tuanya membuka gerbangnya.
Tapi setelah beberapa saat mencoba gerbang tidak terbuka juga, Nevan pun turun dan saat mendekati gerbang itu dia mengerutkan keningnya karena gerbangnya di kunci.
"Nak Nevan," panggil seseorang di belakang Nevan.
Nevan membalikkan badannya dan melihat seorang ibu-ibu paru baya yang memanggilnya dan tersenyum padanya.
"Nak, Nevan kenapa ke sini lagi apa ada yang ketinggalan?" tanya tetangganya itu.
Mendengar perkataan tetangganya Nevan mengerutkan keningnya.
"Saya ke sini mau bertemu Mama dan Papa saya Bu," kata Nevan tersenyum ramah.
"Loh bukannya pak Harry dan Bu Ratih sudah pindah ya, Nak Nevan tidak tau kalau mereka pindah?" tanya tetangganya itu heran.
"Saya tidak tau Bu saya sudah lama tidak menghubungi mereka karena saya selalu ke luar kota," bohong Nevan.
"Oh pantes saja, mungkin mereka belum sempat menghubungi Nak Nevan," kata tetangganya itu.
"Iya Bu, kalau gitu saya permisi ya Bu," kata Nevan kemudian pergi dari sana.
Selama di perjalanan Nevan memikirkan tentang orang tuanya yang pergi entah kemana tanpa memberitahunya dan tidak bisa dihubungi.
"Mereka sepertinya benar-benar marah," gumam Nevan sambil menjalankan mobilnya.
Nevan tau orang tuanya pasti kecewa dan marah padanya dia berharap orang tuanya segera memaafkannya dan kembali menghubunginya.
Saat sampai di Apartemennya, Nevan turun dari mobilnya dan berjalan dengan gontai ke unit Apartemennya saat sampai masuk ke dalam unitnya di sana terasa sepi dan sunyi.
Tidak ada lagi yang menyambutnya dengan senyuman ramah, entah kenapa Nevan merasa merindukan kehadiran Alisha di sana.
Tapi apakah dia pantas untuk merindukan kehadiran Alisha sekarang, di saat dia tidak pernah menggubris kehadiran Alisha saat masih berada di sana.
Apakah pantas dia merindukan Alisha di saat sebentar lagi dia akan bercerai dengan Alisha dan akan bertunangan dengan Mesha.
"Kenapa aku merasa ngambang sekarang, aku tidak tau kenapa, seperti ada yang hilang dari hatiku apa ini semua karena aku merasa bersalah terhadap Alisha atau karena kejadian ini membuat orang tuaku kecewa terhadapku," kata Nevan merebahkan tubuhnya di ranjang dan mengusap wajahnya kasar.
Dia seolah tidak punya arah sekarang, entah harus kemana atau harus apa bukankah ini yang dia inginkan kemarin tapi kenapa sekarang dia tidak merasa senang sedikitpun.
__ADS_1
Di saat Nevan sedang sibuk dengan pikirannya ponselnya berbunyi dan ternyata Mesha memintanya untuk makan malam bersama, di sebuah Restoran, Nevan pun mengiyakannya dan langsung bersiap-siap.
Nevan menjalankan mobilnya menuju ke alamat yang sudah Mesha beritahukan padanya saat sedang diperjalanan Nevan seperti melihat Alisha yang baru turun dari mobil.
Entah kenapa tiba-tiba saja Nevan menghentikan mobilnya dan melihat dengan seksama kedua wanita yang baru saja turun dari mobil yang terparkir di pinggir jalan.
Semakin lama semakin jelas bahwa wanita itu benar-benar Alisha dan temanya. Alisha duduk di bangku dekat gerobak mie ayam menunggu temanya yang mendekati sipenjual mie ayam itu.
Meskipun suasana di pinggir jalan itu lumayan banyak orang yang lewat tapi pandangan Nevan tidak teralihkan sedikitpun dari Alisha.
Nevan melihat jelas Alisha yang terlihat baik-baik saja dia berbicara dengan temanya itu dan sesekali tertawa.
"Sebenarnya apa yang terjadi padaku kenapa aku ingin berjalan ke sana dan menyapanya," gumam Nevan dengan pandangan masih fokus menatap Alisha yang sekarang sudah mulai memakan mie ayamnya.
Karena terlalu asik melihat Alisha dari kejauhan Nevan sampai lupa dengan tujuannya hingga suara ponselnya membuatnya langsung menepuk keningnya.
"Mesha 'kan sudah menungguku," kata Nevan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Sementara itu Alisha sedang memakan mie ayamnya dengan lahap, dia baru saja pulang dari rumah sakit habis periksa kandungannya dan tiba-tiba saja merindukan mie ayam itu.
"Pelan-pelan makannya Lis, setelah ini kita langsung pulang ya kamu harus segera istirahat," kata Dilla.
"Iya, ini benar-benar enak, entah karena aku lagi pengen kali ya sehingga rasanya lebih enak dari biasanya," kata Alisha dengan memejamkan matanya menikmati Mie ayam yang menurutnya sangat enak itu
"Mungkin karena kamu sedang ngidam makanya rasanya terasa lebih enak," kata Dilla.
Alisha hanya menganggukkan kepalanya dan kembali fokus memakan mie ayamnya.
"Maaf ya lama," kata Nevan duduk didepan Mesha.
"Aku nungguin kamu hampir satu jam di sini kamu darimana saja sih," kata Mesha kesal.
"Tadi ada beberapa tempat yang macet jadi telat datangnya," kata Nevan berbohong.
"Kenapa kamu belum memesan makanan?" tanya Nevan mengalihkan pembicaraan.
"Aku 'kan nungguin kamu," kata Mesha dengan nada yang masih agak ketus.
"Maaf ya aku telat, seharusnya kamu pesan duluan saja makanannya," kata Nevan mulai membuka buku menu.
Setelah menemukan menu yang pas Nevan memanggil pelayan Restoran untuk mencatatkan makanannya.
"Kamu masih marah," kata Nevan saat pelayan sudah pergi dari sana dia memegang tangan Mesha yang ada di atas meja.
"Gimana gak marah coba, emangnya kamu pikir tidak bosan apa nungguin di sini selama hampir sejam," kata Mesha memanyunkan bibirnya.
"Tadi benar-benar macet," kata Nevan meyakinkan Mesha.
__ADS_1
"Ya udah deh gak pa-pa," kata Mesha.
Nevan pun tersenyum untung Mesha tidak marah lama dan tidak banyak bertanya lagi.
"Gimana orang tua kamu sudah bisa dihubungi?" tanya Mesha.
"Orang tua ku pindah dan masih belum bisa dihubungi," Nevan menghela napas berat,
"Terus bagaimana rencana pertunangan kita, aku gak mau pertunangan kita ditunda lagi karena orang tua kamu tidak ada," kata Mesha.
"Apa kamu tidak bisa menunggu sampai aku tau dimana orang tuaku," kata Nevan penuh harap.
"Kamu memang tidak berniat meresmikan hubungan kita 'kan kalau gitu tidak perlu kita resmikan saja hubungan kita sekalian biar anak yang aku kandung ini lahir tanpa seorang ayah," kata Mesha berdiri dari kursinya dan pergi dari sana.
Mendengar perkataan Mesha barusan Nevan mematung untuk beberapa saat.
"Mesha hamil, anakku," gumam Nevan dengan kepala yang terasa semakin berputar.
Dia berdiri dan mengejar Mesha yang sedang memberhentikan taksi di pinggir jalan.
"Sha, tunggu dulu ayo kita bicara dengan tenang, oke," kata Nevan menarik Mesha dan membawanya ke samping mobilnya.
"Apa maksud perkataan mu tadi, kamu hamil," kata Nevan menatap Mesha serius.
"Iya aku hamil itulah alasan kenapa aku minta kamu buat segera meresmikan hubungan kita, aku tadinya mau memberitahu tentang ini setelah kita tunangan," jawab Mesha sambil menangis.
"Maafkan aku yang tidak tau tentang masalah ini kalau gitu lusa kita langsung saja menikah ya biar resepsinya menyusul," kata Nevan memeluk Mesha.
"Beneran kita langsung menikah?" tanya Mesha senang.
"Iya, aku tidak mau anak aku lahir dengan status kita yang tidak jelas," kata Nevan yakin.
Mendengar hal itu tentu saja Mesha senang karena itu yang dia inginkan, Mesha tersenyum dan memeluk erat Nevan.
Setelah itu Nevan membawa mereka masuk lagi ke dalam Restoran karena mereka belum makan.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...