
Happy Reading...
"Kamu gak pulang?" tanya Mesha kepada Nevan yang saat ini masih merebahkan tubuhnya di ranjang tanpa memakai sehelai benang pun di tubuhnya hanya tertutup oleh selimut.
Saat ini mereka ada di apartemen Mesha dan mereka baru saja melakukan hal yang tidak seharusnya mereka lakukan tapi bagi mereka itu adalah hal yang sudah biasa.
"Ngapain pulang? aku malas di rumah juga bosan, mending di sini bareng kamu," kata Nevan mengedipkan matanya kepada Mesha dan menarik Mesha yang hanya memakai handuk saja hingga jatuh di atas Nevan.
Nevan memeluk pinggang Mesha dan menatap Mesha yang berada di atasnya itu, baginya Mesha tidak pernah berubah selalu membuatnya terpesona seperti saat pertama kali mengenalnya.
"Seandainya orang tuaku tidak menikahkan aku dengan wanita itu saat ini pasti kita sudah hidup bahagia bersama dan tidak perlu berhubungan sembunyi-sembunyi seperti ini," kata Nevan dengan menggulingkan tubuh Mesha ke sampingnya.
Mendengar perkataan Nevan, Mesha tersenyum manis dan mengusap pipi Nevan dengan lembut.
"Bukankah aku sudah bilang kamu tinggal pergi saja kita bisa berjuang bersama untuk memulai semuanya," kata Mesha dengan suara lembut.
Nevan berpikir dia tidak mungkin membawa Mesha yang biasa hidup dalam gelimangan harta orang tuanya harus hidup pas-pasan dengannya kalau dia sampai menentang orang tuanya.
"Aku tidak mau membawamu untuk hidup susah, memulai semuanya dari awal bukanlah hal yang mudah," kata Nevan sambil mencium kening Mesha.
Mesha masuk kedalam pelukan Nevan dan menyusupkan kepalanya di dada bidang Nevan yang putih dan juga kekar itu Mesha memeluk Nevan erat dia sangat mencintai Nevan meskipun beberapa kali dia sempat mengkhianati Nevan tapi dia harap itu hanya akan jadi rahasianya yang tidak akan pernah Nevan ketahui.
"Bagaimana kalau dia tidak menyerah juga," kata Mesha melihat Nevan intens.
"Maka aku akan berusaha lebih keras lagi agar usaha ku bisa berdiri sendiri tidak membutuhkan suntikan dana dari Papaku lagi setelah usaha ku sudah berhasil aku akan menceraikannya dan menikahi mu meskipun tanpa restu orang tuaku," kata Nevan bersungguh-sungguh dengan perkataannya.
"Aku semakin mencintaimu," kata Mesha mengecup singkat bibir Nevan.
"Aku lebih mencintaimu," jawab Nevan tersenyum dan menautkan bibir mereka.
Hingga akhirnya mereka mengulangi pergulatan mereka lagi tanpa kenal waktu dan tanpa lelah hingga di luar telah berganti dari terang menjadi gelap gulita.
Sementara itu di apartemennya wanita malang yang selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk dapat di lirik oleh suaminya sedang duduk di meja makan dengan makanan yang sudah tersedia di meja makan.
Alisha tetap menunggu Nevan meski waktu terus berputar dan makanan yang tadinya hangat menjadi dingin.
__ADS_1
Dia sama sekali tidak menyentuh makanan itu ataupun beranjak dari kursi tempatnya duduk dari tadi.
Alisha berkali-kali mengalihkan pandangannya melihat jam yang menempel di dinding, detik ke detik terasa begitu lama baginya tapi dia masih setia duduk menunggu di sana.
Menunggu hal yang tidak seharusnya dia tunggu karena saat ini orang yang ditunggunya sedang memadu kasih dengan pacarnya tanpa memperdulikannya sama sekali.
"Apa Mas Nevan tidak pulang ya," gumam Alisha saat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Aku sebaiknya makan duluan saja karena aku harus menjaga kesehatanku dengan baik, agar badanku tidak drop dan menyebabkan penyakitku lebih parah lagi," kata Alisha pada dirinya sendiri.
Alisha memakan makanan yang sudah dingin itu dengan malas meskipun dia tidak berselera makan tapi dia butuh asupan untuk tubuhnya agar penyakit tidak tambah parah.
Setelah selesai makan Alisha membereskan meja makan dan mencuci piring kotornya setelah itu berjalan menuju ke kamarnya.
Saat akan memasuki kamarnya, pintu apartemen terbuka dan Nevan masuk kedalam apartemen itu. seperti biasa dia hanya melihat Alisha sekilas setelah itu berjalan akan menaiki tangga menuju kamarnya.
"Mas kamu darimana saja Alish nungguin Mas dari tadi?" tanya Alisha berusaha bicara dengan Nevan.
"Apa perlu aku memberitahumu aku darimana dan habis ngapain," kata Nevan menghentikan langkahnya dan menatap Alisha dingin.
"Sangat perlu Mas karena Alish adalah istri Mas Nevan suka atau tidak suka itu adalah kebenarannya, Alish harus tau Mas pergi kemana dan ngapain saja di luar sana," kata Alisha yang entah darimana datangnya keberanian itu hingga Alisha berani bicara dengan terus menatap Nevan.
"Jadi kamu mau tau aku darimana," kata Nevan tersenyum miring.
"Aku dari tempat Mesha dan kamu mau tau juga aku habis ngapain dari sana! aku dan Mesha habis berc*nt* kamu tau apa itu?" kata Nevan penuh penekanan di setiap kalimatnya dan tatapan yang sangat tajam.
"Orang bodoh sepertimu mana mungkin tau hal itu, biar aku jelaskan lebih jelas agar kamu paham, aku dan Mesha baru saja melakukan hubungan suami istri melakukan pergulatan panas di atas ranjang! apa kamu puas sekarang karena aku sudah memberitahu semua itu padamu hah!" kata Nevan mendekatkan wajahnya kedepan wajah Alisha.
Mendengar perkataan Nevan, Alisha menatap Nevan dengan tatapan yang bergetar dan mata yang mulai memanas, air matanya sudah di pelupuk matanya dan siap meluncur.
"Apa Mas tau kalau apa yang Mas Nevan dan Mbak Mesha itu adalah sebuah kesalahan Mas dan itu adalah hal menjijikkan," kata Alisha menatap Nevan.
"Kenapa Mas melakukan hal yang jelas-jelas salah sedangkan di sini ada aku istrimu yang hanya meminta sedikit saja kasih sayang darimu, Alish ingin Mas menganggap Alish ada dan menganggap Alish istri Mas Nevan," kata Alisha dengan air mata yang mulai turun dari matanya.
Mendengar perkataan Alisha Nevan hanya terkekeh.
__ADS_1
"Terus kamu pikir aku perduli hal itu! tidak sama sekali, kamu dengar ini baik-baik di sini kamulah yang lebih salah karena kamu sudah hadir dihidupku karena kamu sudah merayu orang tuaku agar mereka memaksa aku untuk menikahi kamu, seharusnya kamu sadar kamu tidak pantas ada di posisi ini di posisi menjadi istriku karena yang pantas berada di posisi itu hanyalah Mesha bukan kamu wanita pembawa sial!" bentak Nevan tepat didepan wajah Alisha.
"Alish tidak pernah meminta Papa dan Mama untuk memaksa Mas Nevan agar menikahi Alish, semua itu keinginan mereka sendiri keinginan orang tua kita," jelas Alisha, membantah tuduhan Nevan.
"Bulshit kamu pikir aku percaya dengan omongan mu itu! ingat ini baik-baik sampai kapanpun aku tidak akan pernah menerimamu sebagai istriku jadi kamu jangan lagi berlaku sok manis dan sok baik di depan ku karena aku tidak akan pernah tertipu dengan tampang mu itu," kata Nevan dengan mata yang merah karena marah.
Setelah itu dia pergi dari sana menaiki tangga dan masuk ke kamarnya dengan membanting pintunya dengan sangat keras.
Alisha menjatuhkan tubuhnya di lantai dia menangis sejadi-jadinya dengan posisi duduk di lantai.
"Apa aku salah Mas kalau aku begitu mencintaimu hingga aku tidak bisa pergi darimu. apa aku salah karena telah mempertahankan perasaan ini untukmu meski berkali-kali tersakiti oleh mu," kata Alisha dengan suara yang lirih dan terus melihat pintu kamar Nevan yang sudah tertutup rapat.
"Apa aku salah Ya Allah karena tetap bertahan di sini dan membuat Mas Nevan terus melakukan hal salah, apa cinta ini salah Ya Allah kalau memang cinta ini salah kenapa engkau hadirkan cinta yang besar di hatiku untuknya kalau cinta ini memang benar-benar salah Ya Allah ... kenapa Ya Allah." Alisha terus menangis dia melihat langit-langit apartemennya dan memukul dadanya beberapa kali karena rasa sesak yang semakin menghimpit.
Meskipun Alisha sudah tau semua itu tapi ternyata mendengar Nevan yang bicara secara langsung benar-benar lebih sakit seperti tertikam benda yang sangat tajam berkali-kali.
Entah sudah berapa lama Alisha menangis dilantai itu hingga tangisan berangsur-angsur berhenti dan hanya tersisa isakan isakan kecil saja.
"Apa aku harus menyerah Ya Allah apa aku harus menghentikan pernikahan ku hanya sampai di sini? dan membiarkan Mas Nevan dan Mbak Mesha bahagia," kata Alisha lirih dia mengusap pipinya yang basah dan bangun menuju ke kamarnya dengan langkah yang gontai.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1