
Happy Reading...
POV NEVAN...
Aku menginjakkan kakiku di lantai rumah sakit dengan perasaan yang gamang antara nyata atau tidak.
Jujur saja aku lebih berharap kabar yang ku terima ini hanya sebuah mimpi atau sebuah candaan dari Alish karena dia menginginkanku untuk segera pulang.
Tapi aku yakin Alish bukan orang yang suka bercanda apalagi dengan candaan seperti ini.
Beberapa jam yang lalu aku baru saja pulang dari pertemuan dengan para klien yang ada di Malaysia dan berniat akan istirahat tapi ponselku berbunyi.
Antara percaya dan tidak saat Pak Rudi memberikan kabar tentang Alish padaku kabar yang membuat hatiku seakan hancur.
"Tuan Anda sudah datang?" tanya supir Papaku yang sedang duduk di kursi tunggu di lobby rumah sakit itu.
Aku tidak bisa membuka suara sedikitpun aku hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan supir itu.
"Non Alish sedang di ruang ICU Tuan," kata supir papaku itu.
Aku masih tidak mengeluarkan suara sepatah kata pun, aku berjalan melewati supir papa begitu saja.
Semakin lama langkah kakiku menuju ke ruangan yang di sebutkan oleh supir itu semakin berat rasanya kaki ini untuk melangkah.
Saat tiba di ujung lorong menuju ke ruang ICU itu berada aku hanya bisa mematung di lorong itu dengan pandangan lurus kepada orang-orang yang sedang menundukkan kepala mereka.
Aku melihat raut wajah sedih dari teman-teman Alish, aku memejamkan mata terlebih dahulu sebelum melangkah mendekati mereka
Samar-samar aku mendengar isak tangis yang keluar dari bibir Mamaku,
Papaku yang duduk di sampingnya berusaha untuk menenangkannya, dalam hati aku terus bertanya apakah ini nyata?
Jujur aku tidak mau mempercayai semua ini karena aku yakin Alish baik-baik saja. tapi reaksi orang-orang itu membuktikan bahwa memang terjadi sesuatu dengan Alish.
Aku menghela napas dengan hati yang terasa sesak dan memberanikan diri untuk mendekati mereka yang terlihat sedih dan khawatir.
"Ma, Pa," panggilku kepada orang tuaku membuat mereka memalingkan wajahnya kepadaku.
"Nevan, Alish ... Alish," kata Mamaku berbicara dengan terputus dan tidak melanjutkan lagi perkataannya.
"Apa semua baik-baik saja Ma?" tanyaku kepada Mama.
Mamaku tidak menjawab pertanyaanku dia hanya menangis.
__ADS_1
Aku mengalihkan pandangan kepada teman-teman Alish untuk meminta penjelasan tapi mereka hanya membisu dan memalingkan wajahnya dariku.
Melihat reaksi semua orang membuat aku semakin ketakutan, takut akan hal yang buruk menimpa Alish dan calon anakku.
"Ma?" panggilku lagi pada Mama.
"Tunggu dokter saja untuk menjelaskannya, kamu harus kuat dengan apapun yang akan terjadi nanti," bukan Mama yang menjawabnya tapi papa yang malah membuatku semakin semakin bingung dan takut.
Akhirnya aku pun berdiri dengan perasaan campur aduk, beberapa saat kemudian ada beberapa dokter keluar dari ruangan ICU itu.
Aku segera menghampiri Dokter kandungan Alish dengan Dokter Bara yang keluar dengan beriringan.
"Bagaimana keadaan Alish dan bayinya Dok, semuanya baik-baik saja 'kan Dok?" tanya kepada para Dokter itu.
"Sayangnya semuanya tidak terlalu baik dan kami membutuhkan persetujuan Anda untuk segera melakukan operasi sesar demi keselamatan bayinya," jawab salah satu Dokter itu.
Sedangkan Dokter Bara dan Dokter Desi hanya diam dan hanya terdengar helaan napas dari mereka.
"Terus istri saya bagaimana keadaannya? jika operasi itu diperlukan maka lakukanlah Dok asal istri dan anak saya baik-baik saja," kataku pada Dokter.
Sebelum menjawab perkataanku Dokter itu pun menghela napas beratnya membuat hati dan pikiranku semakin di penuhi dengan ketakutan akan kondisi Alish yang sebenarnya.
"Itulah yang jadi masalahnya sekarang karena kondisi ibunya yang menghawatirkan atau bisa di bilang kritis maka cara satu-satunya adalah dengan melakukan operasi sesar secepatnya agar anak dalam kandungnya bisa selamat," perkataan Dokter itu seperti petir yang menyambar tubuhku di siang bolong.
Aku memundurkan tubuh ini selangkah kebelakang, saat ini pasti aku hanya salah dengar. tidak mungkin Alish kritis bagaimana bisa tiba-tiba Alish kritis seperti itu, bukankah sebelumnya Alish baik-baik saja.
"Sebaiknya sekarang Anda menandatangani surat persetujuan untuk melakukan operasi secepatnya, Anda bisa menanyakan tentang kondisi Nona Alisha kepada Dokter Bara, Tuan karena Dokter Bara adalah Dokter yang menangani Nona Alisha," jelas Dokter itu memberikan isyarat kepada suster yang di belakangnya untuk memberikan surat persetujuan untuk operasi.
Aku hanya menatap kertas yang suster berikan padaku itu dengan tatapan bingung.
"Lakukanlah Nak, ini demi kebaikan anakmu," kata Papa mengusap bahuku.
"Tapi bagaimana dengan Alish Pa, apa dia akan baik-baik saja," kataku menatap Papa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Alish pasti akan baik-baik saja," kata Papa dengan menganggukkan kepalanya meyakinkanku.
Akhirnya aku membubuhkan tanda tangan di kertas itu sambil berdoa dalam hati semoga Alish dan anak kami baik-baik saja.
Suster mengambil berkas itu dari tanganku saat aku selesai menandatanganinya.
"Beberapa jam lagi kami akan melakukan operasinya," kata Dokter yang sudah berumur itu dan pergi dengan di ikuti Dokter Desi.
"Ikut aku," kata Dokter Bara padaku dengan suara datarnya.
__ADS_1
Masih dalam kebingungan aku mengikuti langkah Dokter pribadi Alish itu yang entah akan membawaku kemana.
"Duduklah," katanya singkat saat kami sudah memasuki ruangannya.
Aku hanya menuruti apa perkataannya dengan mendudukkan diriku di kursi yang berhadapan dengannya.
"Alish sudah lama mengalami masalah dengan ginjalnya dan sebelum Alish hamil dia sedang melakukan perawatan tapi karena kehamilannya itu kita menghentikan perawatan itu dan menggantinya dengan obat-obatan dan akhirnya seperti inilah," jelas Dokter Bara dengan menghela napasnya.
Sementara aku hanya diam mencerna setiap perkataan Dokter Bara itu dengan pikiran berkelana.
"Saat tau tentang kehamilannya aku sudah memberikan saran padanya untuk tidak mempertahankan kandungannya itu karena itu sangat berbahaya baik untuknya atau untuk bayinya. tapi dia tetap kukuh ingin mempertahankan anaknya itu dan sekarang kerusakan pada ginjalnya sudah sangat parah kecil kemungkinan untuk dia bisa bertahan makanya kita memutuskan untuk menyelamatkan anaknya terlebih dahulu seperti permintaan Alish padaku selama ini dia ingin anaknya hidup dan baik-baik saja," jelas Dokter Bara lagi.
Aku hanya mendengarkan perkataan Dokter Bara tanpa menjawabnya dengan pikiran kosong.
Ternyata selama ini Alish selalu terlihat baik-baik saja, itu semua hanya di luarnya saja bagaimana aku bisa sama sekali tidak menyadari semuanya.
Aku memang bukan suami yang baik, aku memaki diriku sendiri yang menjadi laki-laki yang tidak berguna untuk istriku sendiri.
Setelah selesai mendengarkan perkataan Dokter Bara aku pun memutuskan untuk keluar dari ruangannya dan kembali ke ruang ICU dengan langkah kaki yang terasa melayang.
Pandanganku hanya fokus ke pintu ruangan ICU itu. dimana Alish berada di sana, berada diambang antara hidup dan matinya.
Jujur saat ini ingin rasanya aku menangis dan berteriak sekencang-kencangnya tapi semuanya tidak akan ada gunanya.
Aku hanya bisa menghela napas beberapa kali untuk menekan rasa sesak yang seakan menghimpitku.
"Suster bisakah saya melihat ke dalam?" tanyaku pada suster yang baru keluar dari ruangan ICU.
"Baiklah tapi jangan lama-lama Tuan," kata Suster itu menganggukkan kepalanya.
Aku masuk tanpa memperdulikan sekitarku lagi, suster memintaku untuk memakai baju khusus terlebih dahulu sebelum masuk ke ruangan tempat Alish di rawat.
Saat selesai memakai baju khusus itu aku melangkahkan kakiku akan memasuki ruangan khusus itu yang tidak bisa sembarangan orang masuk ke sana.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...