Ingin Cinta SUAMIKU

Ingin Cinta SUAMIKU
Datang malam-malam.


__ADS_3

Happy Reading...


Nevan membolak-balikan badannya berusaha untuk tertidur tapi dia tidak bisa tertidur juga.


Nevan mendudukkan dirinya kemudian turun dari ranjang, dia keluar dari kamarnya menuju ke kamar Alisha berharap bisa tertidur.


Saat di kamar Alisha, Nevan merebahkan tubuhnya di ranjang dan memejamkan matanya tapi lagi-lagi dia masih tidak bisa tertidur.


Setelah beberapa saat mencoba ternyata masih belum bisa tidur juga


"Kenapa gak bisa tidur juga," kata Nevan kembali duduk.


Nevan melihat jam yang ada di nakas sudah hampir jam dua belas malam tiba-tiba saja dia teringat Alisha.


Nevan turun dari ranjang dan kembali lagi ke kamarnya dia mengambil ponselnya dan kunci mobilnya kemudian memakai jaket.


Setelah itu Nevan keluar dari apartemennya dia berniat untuk melihat keadaan Alisha, sekarang sudah malam Alisha pasti sudah tertidur.


Nevan menjalankan mobilnya menuju ke rumah Alisha, jalanan terasa sepi karena sudah tengah malam dan sudah waktunya untuk tidur.


Saat sampai di depan gerbang rumah Alisha Nevan turun dari mobil dan memanggil Rudi yang sedang menonton di posnya.


"Pak Rudi," panggil Nevan dengan suara yang tidak terlalu keras karena takut mengganggu orang lain.


Rudi yang merasa ada yang memanggil namanya pun mengalihkan perhatiannya mencari asal suara itu.


"Tuan Nevan kenapa datang ke sini malam-malam seperti ini?" tanya Rudi heran sambil membuka kunci gerbang.


"Saya mau lihat Alish Pak, saya khawatir padanya," jawab Nevan.


"Khawatir atau kangen nih Tuan," goda Rudi kepada Nevan.


Nevan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendengar perkataan Rudi dia juga bingung kenapa dia tidak bisa tidur dan malah ingin melihat Alisha.


"Apa Pak Rudi punya kunci cadangan pintu utama Pak, saya takut mengganggu tidur Alish kalau menekan bel atau mengetuk pintu," kata Nevan.


"Ada Tuan," kata Rudi.


"Baiklah ayo kalau gitu Pak bukain pintu rumahnya," kata Nevan.


Rudi pun menganggukkan kepalanya dan mengajak Nevan untuk masuk ke dalam.


Nevan memarkirkan mobilnya di depan gerbang karena takut berisik dan mengganggu Alisha kalau dia membawa mobilnya masuk.


"Jangan di kunci ya Pak saya gak akan lama kok?" kata Nevan saat memasuki rumah Alisha.


"Iya Tuan saya akan kembali lagi ke pos ya," kata Rudi.


"Iya Pak," kata Nevan setelah itu Nevan menutup pintu itu secara perlahan dia kemudian berjalan menaiki tangga dengan mengendap-endap seperti seorang pencuri.

__ADS_1


Saat sampai di depan pintu kamar Alisha, Nevan beberapa kali menghela napas terlebih dahulu.


"Semoga pintunya tidak dikunci," gumam Nevan pelan sambil memegang handle pintu.


Nevan memutar handle pintu itu dengan hati-hati karena takut berisik dan membangunkan Alisha bisa kacau kalau Alisha sampai bangun.


"Untunglah tidak di kunci," gumam Nevan dengan berbisik saat pintu terbuka sedikit.


Nevan membuka sedikit demi sedikit pintu kamar Alisha, setelah pintunya sudah terbuka cukup untuk tubuhnya dia pun memasukkan tubuhnya ke dalam kamar dan menutup lagi pintunya dengan perlahan.


Nevan berjalan ke arah ranjang dimana Alisha tengah terlelap tanpa memakai selimut dengan posisi terlentang sehingga tercetak jelas perutnya yang sudah sedikit membuncit itu.


Kamar Alisha begitu terang karena Alisha tidak biasa tidur dengan lampu yang padam jadi dia selalu membiarkan lampunya menyala.


"Hai anaknya Papa yang baik," kata Nevan berbisik di depan perut Alisha menyapa calon anaknya dengan membungkukkan badannya.


"Kamu hari ini tidak nakal 'kan?"


"Jangan nakal oke, jangan bikin Mamamu susah tenang-tenang lah dalam sana."


"Kalau bisa, kamu bantu Papa ya buat bujuk Mama kamu biar Mama kamu bisa biarin Papa sering-sering bertemu denganmu dan Mama kamu oke anak baik," Nevan terus berbicara dengan anaknya dengan suara yang sangat pelan.


Nevan kemudian menegakkan badannya dia dengan hati-hati membenarkan selimut Alisha yang tertindih oleh Alisha kemudian memakaikannya kepada Alisha.


"Jangan bangun Lis, aku cuma mau cium kening kamu aja," kata Nevan berbisik dia kemudian mendaratkan satu ciuman di kening Alisha.


"Papa pulang dulu ya, anak baik," kata Nevan dengan menatap perut Alisha setelah itu dia keluar dari kamar Alisha karena takut Alisha akan bangun kalau dia terlalu lama di sana.


Setelah pintu tertutup sempurna Nevan berjalan menuruni tangga saat sampai di anak tangga terkahir Nevan dikagetkan oleh Mae yang datang secara tiba-tiba.


"Bu Mae," kata Nevan sambil mengusap dadanya karena kaget.


"Tuan Nevan, saya kira yang turun itu Non Alish, sedang apa Tuan di sini malam-malam?" kata Mae heran.


"Saya mau melihat keadaan Alish Bu, Bu Mae tau sendiri 'kan kalau Alish lagi tidak mau bertemu saya jadi saya hanya bisa menemuinya seperti ini," kata Nevan.


"Yang sabar saja ya Tuan saya yakin Non Alish juga sangat ingin bersama Tuan Nevan cuma saat ini Non Alish masih butuh waktu untuk menata hatinya lagi dan meyakinkan hatinya kalau Tuan Nevan benar-benar serius dengan semua omongan Tuan Nevan," kata Mae.


"Iya Bu semoga saja Alish segera menerima Nevan lagi," kata Nevan penuh harap.


"Oh iya Bu Nevan mau minum nih haus," kata Nevan.


"Ya sudah Bu Mae ambilkan ya minumnya," kata Mae.


"Nevan ikut juga ke dapurnya Bu," kata Nevan mengikuti langkah Mae.


"Baiklah Tuan," kata Mae.


Saat sampai di dapurnya Nevan duduk di meja makan sambil meminum air yang Mae ambilkan untuknya.

__ADS_1


"Alisha sering bangun malam seperti ini Bu?" tanya Nevan kepada bMae saat sudah selesai minum.


"Iya hampir tiap malam biasanya Non Alish bangun tengah malam untuk ngemil kadang juga makan," jelas Mae.


"Emang gak pa-pa gitu Bu kalau Alish makan di malam hari atau ngemil?" tanya Nevan.


"Tidak apa-apa Tuan kata Dokter Bara dan Dokter Desi Non Alish boleh makan kapanpun dia mau justru itu bagus kalau Non Alish sering makan asal jangan makan makanan yang sembarangan saja," jelas Mae.


"Bu apa Alish dekat dengan Dokter Bara itu apa Dokter Bara itu begitu perhatian kepada Alish?" tanya Nevan menatap Mae serius.


"Iya Dokter Bara itu sangat perhatian kepada Non Alish apalagi kalau berhubungan dengan masalah kesehatannya Non Alish Dokter Bara sangat memperhatikan itu, dia bahkan suka marah pada orang yang menyebabkan Non Alish sampai masuk rumah sakit, saya juga pernah di marahi Dokter Bara dan Dokter Desi karena membiarkan Non Alish jalan-jalan sendiri dan terlalu lama sampai Non Alish pingsan," jelas Mae panjang Lebar.


"Sebegitu perhatiannya 'kah Dokter itu terhadap Alish," gumam Nevan.


"Iya mungkin karena Dokter Bara dan Dokter Desi adalah Dokter pribadi Non Alish atau mungkin juga mereka sangat menyayangi Non Alish," kata Mae santai.


Dia tidak tahu orang di depannya tengah kesal karena mendengar perkataan Mae kalau Bara menyayangi Alisha.


"Mana ada hanya Dokter pribadi begitu menyayangi pasiennya sampai segitunya ini pasti ada maksud terselubung di dalamnya," gumam Nevan dengan suara yang sangat pelan.


"Apa Tuan?" tanya Mae karena mendengar gumam tidak jelas Nevan.


"Tidak ada Bu," kata Nevan.


Saat Nevan dan Mae sedang mengobrol di meja makan Alisha bangun dari tidurnya, Alisha mengerutkan keningnya saat menyadari dia memakai selimut karena seingatnya tadi dia tidak memakai selimut saat akan tertidur.


"Mungkin aku tanpa sadar memakai selimutnya saat sedang tidur," gumam Alisha kemudian turun dari ranjangnya.


Alisha berjalan keluar dari kamarnya berniat untuk ke dapur karena seperti yang Mae katakan dia ingin makan atau ngemil.


Alisha menuruni tangga dengan sangat hati-hati dia mengusap matanya karena mengantuk tapi perutnya lapar.


"Bu," panggil Alisha saat diambang pintu dapur.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2