
Happy Reading...
Suara riuh terdengar di rumah Alisha karena saat ini sedang ada teman-teman Alisha siapa lagi kalau bukan Dilla, Angga dan Fino.
Mereka hari ini datang setelah beberapa lama tidak pernah ke rumah Alisha karena sibuk dengan kuliah mereka dimana saat ini mereka sedang menyiapkan skripsi mereka.
Angga dan Fino sedang bermain game di ponsel mereka sehingga mereka saling ledek dan saling memaki sambil fokus pada ponselnya.
Sedangkan Alisha dan Dilla sedang berbicara ala perempuan sedangkan Ratih tadi pamit untuk membantu Mae memasak buat makan malam dan membiarkan Alisha dan teman-temannya mengobrol dengan santai.
"Sebentar lagi dia lahir ya 'kan?" kata Dilla sambil mengusap perut Alisha.
"Ya tinggal menghitung minggu," jawab Alisha tersenyum.
Angga dan Fino selesai dengan game-nya dan ikut bergabung dengan pembicaraan Alisha dan Dilla.
"Suami kamu sekarang gimana Lis?" tanya Fino yang langsung mendapat jitakan dari Angga.
"Kenapa kamu menjitakku hah," kata Fino kesal dan mengusap kepalanya.
"Kamu ngapain nanya-nanya tentang hubungan Alisha dan suaminya," kata Angga.
"Apanya yang salah aku hanya bertanya baik-baik saja atau tidaknya," jawab Fino kesal.
"Sudah kalian jangan ribut, kamu tenang saja suamiku baik-baik saja dan sekarang hubungan kami sangat baik," jelas Alisha kepada teman-temannya.
"Berapa lama suami kamu di Malaysia-nya?" tanya Dilla.
"Lima hari jadi tinggal dua hari lagi Mas Nevan pasti akan pulang," jawab Alisha.
"Oh syukurlah, sebaiknya kamu minta dia jangan terlalu sering keluar kota atau keluar negeri karena kamu sebentar lagi akan lahiran," kata Dilla diangguki oleh Angga dan Fino.
"Benar Lis bagaimana kalau kamu lahiran dia gak ada," kata Angga.
"Kayaknya ini yang terakhir kalinya Mas Nevan pergi jauh deh, soalnya dia juga gak mau pergi jauh-jauh lagi dia juga khawatir dengan keadaanku," kata Alisha.
"Baguslah kalau seperti itu," kata Fino.
Alisha dan teman-temannya terus mengobrol hingga waktu tidak terasa sudah sore dan Herry pulang dari kantor.
"Om," sapa Angga, Dilla dan Fino saat melihat Harry menghampiri mereka di ruang keluarga dengan diikuti oleh Ratih.
"Kalian sedang berkumpul ternyata," kata Harry tersenyum ramah kepada teman-teman Alisha.
"Iya Om kita sudah lama tidak main ke sini jadi sekarang main ke sini mumpung lagi gak ada kegiatan kampus," jawab Fino tersenyum.
"Baguslah kalian bisa menemani Alish, Om mau membersihkan diri dulu ya, kalian jangan pada pulang dulu ya, nanti kita makan malam bersama," kata Harry.
"Siap Om," jawab Angga dan Fino barengan.
Setelah itu Harry pun pergi dari sana menuju kamar yang tidak jauh dari kamar Alisha diikuti oleh Ratih.
"Sebaiknya kita tunggu Mama dan Papa di meja makan yuk," ajak Alisha kepada teman-temannya.
"Oke," sahut mereka serentak.
__ADS_1
Mereka pun mengikuti langkah Alisha yang berjalan dengan pelan dan hati-hati karena perutnya yang besar.
"Lis perut kamu berat gak sih?" tanya Dilla saat melihat jalan Alisha yang sangat pelan.
"Lumayan," jawab Alisha singkat.
"Nanti dia bakal mirip siapa ya? mirip kamu atau Bapaknya?" tanya Angga.
"Yang jelas gak akan mirip kamu Ga," jawab Fino.
"Ya iyalah gak bakalan mirip aku, orang bukan aku yang buatnya," jawab Angga memutar matanya malas.
Alisha dan Dilla hanya menggelengkan kepalanya melihat Angga dan Fino yang hanya bisa diam beberapa saat saja tidak ada waktu tanpa perdebatan antara Angga dan Fino itu.
Setelah beberapa saat kemudian Harry dan Ratih pun datang ke meja makan untuk makan malam dan mereka pun langsung memulai makan malamnya.
Ditengah-tengah makan malamnya Alisha merasakan sakit lagi di pinggangnya dia juga merasa kepalanya terasa berdenyut.
Karena tidak mau membuat orang-orang di sana khawatir Alisha pun berusaha menahan rasa sakitnya dan berusaha bersikap biasa saja dia makan dengan cepat karena ingin segera meminum obatnya yang ada di kamarnya.
"Lis, kamu baik-baik saja?" tanya Fino yang melihat Alisha terlihat sedang gelisah.
"Aku baik-baik saja kok, aku hanya merasa sedikit gerah dan ingin segera mandi," jawab Alisha tersenyum.
"Itu hal biasa bagi wanita yang hamil tua sering gerah tapi kamu jangan mandi pakai air dingin meskipun gerah mandilah dengan air hangat," kata Ratih tersenyum kepada Alisha.
"Iya Ma," Alisha menganggukkan kepalanyadan tersenyum sambil berusaha menghabiskan makanannya.
Setelah itu mereka semua melanjutkan makan malamnya sementara Alisha sekuat tenaga menahan rasa sakit yang menerpa pinggangnya dan kepalanya ditambah anaknya yang bergerak dengan aktif membuat perasaan Alisha tidak menentu.
"Ma, Pa, teman-teman aku ke kamar dulu ya," Alisha berdiri dari kursinya.
"Nanti Alish sambung lagi Ma," jawab Alisha berusaha tersenyum sedangkan keringat dingin sudah mulai bercucuran di keningnya.
"Baiklah," Kata Ratih menganggukkan kepalanya.
Alisha berusaha berjalan dengan normal meskipun kakinya terasa lemas pandangannya berkunang-kunang, semakin lama penglihatannya semakin tidak jelas Alisha mencoba menggapai pintu kamarnya.
Saat sudah sampai di pintu kamarnya Alisha membuka pintu kamarnya dan masuk ke kamarnya dengan berpegangan kepada dinding.
Alisha mengerjapkan matanya beberapa kali agar penglihatannya kembali jelas tapi tidak penglihatannya semakin buram di tambah sakit di kepalanya semakin menjadi.
Alisha meraba-raba di sekitarnya sambil berjalan secara perlahan karena takut terjatuh dan membahayakan anaknya.
Setelah menemukan laci tempatnya menyimpan obatnya dia berjalan lagi dengan hati-hati menuju ranjang karena dia menyimpan air putih di laci samping tempat tidur.
"Tenanglah sayang jangan buat Mama panik kita pasti akan baik-baik saja," gumam Alisha pelan dengan mengusap perutnya menenangkan anaknya.
Alisha hanya bisa meringis saat sakit di sekujur tubuhnya semakin terasa dia mengusap pipinya yang terasa basah.
Saat sampai di ranjang Alisha merasa tidak kuat untuk menggerakkan kakinya yang semakin lemas tapi tinggal sedikit lagi dia bisa menggapai gelas itu.
Alisha duduk di ranjangnya dia menggelengkan kepalanya berusaha menghilangkan rasa sakit di kepalanya dia memegang perutnya dan sebelah tangannya berusaha mengambil gelas itu.
Saat sedang berusaha mengambil gelasnya Alisha merasa sesuatu yang hangat mengalir di hidungnya tapi dia tidak menghiraukannya dia masih berusaha mengambil gelasnya.
__ADS_1
Saat tangannya bisa menggapai gelasnya, gelasnya malah terjatuh kelantai karena merasa tidak kuat Alisha memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
"Aakhh sakit," kata Alisha memegang kepalanya dengan kedua tangannya dia menundukkan kepalanya dan tiba-tiba saja ada darah yang menetes ke bajunya.
"Non Alish," panggil Mae dari ambang pintu.
"Ada apa Non. kenapa Bu Mae tadi mendengar benda jatuh?" tanya Mae khawatir Mae berjalan mendekati Alisha yang sedang menundukkan kepalanya.
Alisha mengangkat kepalanya dan menatap Mae dengan wajah yang sudah pucat dan darah yang keluar dari hidungnya.
Melihat hal itu Mae semakin khawatir dia semakin mendekatkan dirinya kepada Alisha.
"Sakit Bu," kata Alisha lirih setelah itu Alisha tidak sadarkan diri di ranjangnya.
"Non, Non Alish kenapa?" kata Mae panik mengguncang tubuh Alisha.
"Tuan, Nyonya, tolong Non Alish!" teriak Mae panik melihat kondisi Alisha yang sudah tidak sadarkan diri.
"Kenapa Bu Mae teriak-teriak," kata Ratih bangun dari kursinya menuju ke asal suara Mae berteriak diikuti oleh Harry dan teman-teman Alisha.
Saat sampai di depan pintu mereka semua kaget campur panik melihat Alisha yang tidak sadarkan diri dengan darah yang keluar dari hidungnya.
"Alish kenapa Bu," tanya Ratih panik.
"Tidak tau Nyonya tadi saya mendengar benda jatuh akhirnya saya ke sini dan saat ke sini kondisi Non Alish sudah seperti ini," jawab Mae sambil menangis.
"Ayo kita bawa ke rumah sakit," kata Harry.
"Iya Om biar kita saja yang gendong Alish ke mobil," kata Angga.
Harry pun menganggukkan kepalanya. Angga dan Fino mengangkat tubuh Alisha dan membawanya ke mobil.
Di dalam mobil Ratih memangku kepala Alisha, dia sangat khawatir melihat kondisi Alisha saat ini, dia takut terjadi sesuatu dengan Alisha dan cucunya.
"Pa, bagaimana ini bagaimana dengan Alish dan cucu kita," kata Ratih sambil menangis dia mengusap kepala Alisha yang tidak sadarkan diri.
"Mereka pasti akan baik-baik saja Ma, Mama tenang saja," Harry berusaha menenangkan Ratih meskipun dia sendiri juga sangat khawatir dengan kondisi Alisha dan cucunya.
Mobil Harry di sopiri oleh sopirnya sedangkan Angga, Dilla dan Fino mengikutinya di belakangnya.
Fino menghubungi Mamanya dan Kakaknya memberitahukan tentang keadaan Alisha agar mereka bisa menunggu di rumah sakit dan langsung memeriksa keadaan Alisha.
"Semoga Alish baik-baik saja," kata Dilla khawatir karena dia masih mengingat perkataan Bara tentang resiko jika Alisha mempertahankan anaknya itu.
Angga mengamini perkataan Dilla sambil fokus ke mobilnya sedangkan Fino hanya memejamkan matanya dia juga berdoa agar Alisha bisa selamat.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...