Ingin Cinta SUAMIKU

Ingin Cinta SUAMIKU
Melihat dari jauh


__ADS_3

Happy Reading...


Nevan baru saja pulang dari luar kota, akhir-akhir ini dia benar-benar sibuk bolak-balik keluar kota karena mencari kolega yang mau bekerjasama dengan perusahaannya yang sudah tidak lagi mendapatkan bantuan suntikan dana dari perusahaan Papanya, hingga membuatnya harus berjuang mati-matian agar perusahaan yang baru di bangunnya itu tidak bangkrut dan membuatnya harus mengulang semuanya dari awal lagi.


Papa dan Mamanya masih belum menghubunginya dan belum bisa dihubungi Nevan sudah bertanya beberapa kali kepada orang-orang yang menjadi kepercayaan Papanya di kantor Papanya itu tapi mereka tidak ada yang mau memberitahunya.


Nevan benar-benar merasa seperti orang yang tidak memiliki siapapun lagi sekarang, tidak ada lagi orang tuanya yang mendengarkan keluh kesahnya dan menasehatinya, tidak ada orang yang menemani harinya dan menghiburnya sekarang dia benar-benar merasa sendiri sekarang.


Nevan mampir ke sebuah Restoran terlebih dahulu untuk makan malam sebelum pulang ke Apartemennya karena dia belum memakan apapun dari tadi siang.


Nevan memarkirkan mobilnya dan turun dari mobilnya, dia memasuki Restoran itu dan duduk di meja yang ada di dekat jendela.


Nevan terus memainkan ponselnya sambil menunggu pesanan makanannya datang dan tiba-tiba saja telinganya mendengar suara wanita yang tertawa dengan lepas hingga membuatnya mencari asal suara itu.


Suara yang sangat Nevan kenal dan ternyata benar, Nevan melihat Alisha yang sedang tertawa bersama ketiga temannya di meja yang lumayan jauh dari Nevan tapi entah kenapa telinga Nevan jadi sensitif hingga suara tawa Alisha terdengar sangat jelas oleh indra pendengarnya.


"Apa kamu selalu bahagia seperti ini setelah jauh dariku Lis," gumam Nevan dengan pandangan lurus ke Alisha.


Saat makanannya datang Nevan memakan makanannya tanpa mengalihkan pandangannya dari Alisha sedetikpun.


Beberapa saat kemudian Alisha juga melihatnya dan saat mata mereka saling bertabrakan Nevan yang sedang meminum minuman menjadi tersedak karena kaget dan salah tingkah saat mata mereka saling bertabrakan.


Untuk beberapa saat Alisha juga menatap Nevan yang berjarak lumayan jauh darinya, dia merindukan Nevan.


Alisha yang melihat Nevan tersedak minuman mengerutkan keningnya heran kenapa Nevan bisa tersedak hingga batuk-batuk seperti itu.


Alisha segera mengalihkan lagi pandangannya dari Nevan karena Alisha tidak mau goyah lagi hanya karena melihat Nevan lagi.


Alisha beranggapan kalau Nevan dan Mesha sudah bertunangan bahkan mungkin akan segera menikah, meskipun dia ingin bertanya bagaimana proses perceraian mereka karena dia masih belum mendapat kabar apapun sampai sekarang.


Tapi dia enggan untuk saling bertegur sapa lagi dengan Nevan karena dia takut akan lemah lagi karena itu.


Alisha kembali mengobrol lagi dengan teman-temannya dan sesekali dia tertawa karena Angga dan Fino saling melemparkan candaan.


Sebenernya teman-teman Alisha selalu menyempatkan diri untuk mengajak Alisha pergi atau hanya menemani Alisha mengobrol dan bercanda agar Alisha tidak terlalu memikirkan masalahnya dan akan berimbas pada kesehatannya.


Bukan hanya teman-temannya saja Irene juga terkadang sengaja membawa anak-anaknya ke rumah Alisha untuk mengurangi kejenuhan Alisha yang sudah mengambil cuti kuliahnya.

__ADS_1


"Kita pulang yuk, sudah malam nih kasihan si Bytrong sudah waktunya istirahat," kata Dilla kepada teman-temannya.


"Iya, bentar aku mau bayar dulu," kata Fino bangun dari kursinya.


"Gak usah Fin, kayak kita makan dimana saja," kata Alisha melarang Fino yang mau ke kasir.


"Gak pa-pa Lis, gak enak tau kita tiap makan di sini gratis mulu," kata Angga diangguki oleh Dilla dan Fino.


Mereka saat ini sedang makan di Restoran milik almarhum ayahnya Alisha, Alisha seminggu sekali memang selalu datang ke Restoran itu untuk memantau Restoran itu dan bertemu Manajer Restoran itu yang tak lain adalah orang kepercayaan ayahnya dari ayahnya masih hidup.


"Iya Lis, biarin kita bayar deh kali-kali," kata Dilla.


"Ya udah kalau kalian mau bayar, aku juga gak akan minta tolong kalian lagi kalau lagi pengen sesuatu aku akan cari sendiri," ancam Alisha kepada teman-temannya.


"Iya deh bumil mah selalu menang, nyerah kita," kata Fino memasukkan kembali dompet yang sudah dikeluarkannya ke dalam saku celananya.


Alisha hanya tersenyum menampilkan sederet giginya, setelah itu mereka mengantarkan Alisha ke rumahnya sekalian ngambil mobil mereka yang disimpan di rumah Alisha karena tadi mereka pulang dari kampus mereka dan langsung ke rumah Alisha.


Saat Alisha berdiri Nevan melihat Alisha dengan seksama dia merasa tubuh Alisha lebih berisi dari sebelumnya.


Tadi dia tidak melihatnya karena posisi Alisha terhalang oleh Fino. Nevan mengalihkan pandangannya saat Alisha melihat ke arahnya.


"Aku ikut senang melihatmu bisa tertawa lepas seperti itu," gumam Nevan yang masih mengikuti Alisha dan teman-temannya.


Saat sampai di depan rumahnya Alisha, Nevan menghentikan mobilnya tidak jauh dari rumah Alisha, dia melihat Alisha turun dari mobil, diikuti Angga dan Dilla.


Angga dan Dilla masuk ke dalam mobil mereka masing-masing dan setelah itu langsung pergi dari sana.


Alisha mengusap perutnya dan berbicara dengan calon anaknya yang sudah menginjak usia tiga bulan.


"Sekarang waktunya kita istirahat sayang" kata Alisha tersenyum dan mengusap perutnya.


Apa yang Alisha lakukan itu tidak lepas dari perhatian Nevan yang masih berada di sana, Nevan mengira Alisha mengusap perutnya karena merasa kenyang setelah makan malam.


Nevan sama sekali tidak mengira kalau saat ini Alisha sedang berjuang untuk mempertahankan darah dagingnya dengan mempertaruhkan nyawanya.


"Aku harap kamu akan selalu baik-baik saja Lis," gumam Nevan.

__ADS_1


Setelah puas melihat Alisha Nevan menjalankan mobilnya untuk pulang ke apartemennya untuk istirahat beberapa saat karena besok pagi dia harus pergi ke kantornya.


Saat sampai di apartemennya, seperti biasanya Nevan akan berdiam diri beberapa saat di kamar yang Alisha tempati beberapa bulan yang lalu.


Tanpa mandi terlebih dahulu dia langsung merebahkan tubuhnya di ranjang dan membuka laci nakas di samping tempat tidur.


Dia mengambil cincin kawin yang dulu terpaksa dia pakaikan dihari pernikahannya dengan Alisha, Nevan menatap cincin kawin itu dan diangkatnya ke atas.


"Apakah ada kesempatan kedua untuk orang sepertiku ini."


"Apakah aku pantas kalau aku memintamu untuk jadi jodohku sekarang Lis, bahkan surat gugatan cerai kita pun masih aku simpan tidak aku kirimkan ke pengadilan, entah kenapa rasanya berat banget untuk melanjutkan perceraian kita itu Lis."


"Aku berharap kamu mau kembali padaku suatu saat nanti Alish tapi sekarang aku tidak punya keberanian untuk menemuimu secara langsung, baru bertatapan saja entah kenapa aku menjadi salah tingkah. tapi jika nanti kamu menemukan orang yang mencintaimu mungkin aku harus siap melanjutkan rencana perceraian kita itu," Nevan berbicara sendiri dengan menatap cincin ditangannya itu.


Nevan menghela napas berat apa dia bisa punya kesempatan untuk memulai semuanya dari awal mengingat Alisha yang sekarang sepertinya lebih bahagia.


Setelah puas berada di kamar Alisha Nevan keluar dari kamar itu dan menutup pintunya kembali dia menaiki tangga menuju ke kamarnya.


Kamarnya yang dulu dipenuhi dengan foto kebersamaan dirinya dan Mesha disetiap sudut dindingnya kini telah hilang, dindingnya telah polos kembali tidak ada gambar yang terpajang lagi di sana.


Setelah kejadian itu selama beberapa hari Mesha terus menerornya dengan menelponnya setiap saat hingga membuatnya jengah dan akhirnya mengganti nomornya agar tidak diteror lagi oleh Mesha.


Semua rasa yang dulu menggebu untuk Mesha kini telah menguap tak tersisa lagi, dia sudah benar-benar menganggap Mesha hanya bagian dari masa lalu yang harus dia singkirkan dari hidupnya dan hatinya.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2