
Happy Reading...
Saat pagi menjelang suasana dingin menyelimuti keluarga kecil Nevan. Alisha dan Nevan sama-sama diam saat berada di meja makan tidak saling menyapa atau berbicara satu sama lainnya.
Mereka hanya mengeluarkan suara saat Aaric bertanya dan setelah itu mereka kembali diam hanya hati mereka saja yang berbicara tanpa mereka sadari.
"Papa berangkat dulu ya, kamu baik-baik di rumah jangan nakal oke," kata Nevan kepada Aaric sambil bangun dari kursinya.
"Iya Pa Aaric gak bakal nakal kok, Papa tenang saja," kata Aaric menganggukkan kepalanya.
"Pintar." Nevan mengusap dan mencium kepala Aaric.
Aaric kembali melanjutkan sarapannya lagi sementara Nevan melihat ke arah Alisha yang masih enggan untuk melihat ke arahnya Alisha hanya fokus pada makanan di depannya.
Nevan hanya menarik nafasnya berat melihat dinginnya sikap Alisha sekarang, "Aku berangkat dulu ya."
Alisha hanya menjawab Nevan dengan sebuah dehaman saja tanpa mengalihkan perhatiannya dari makanannya.
Tidak mau membuat mood Alisha makin buruk di pagi hari Nevan pun langsung pergi dari sana untuk berangkat ke kantornya.
Alisha hanya menghela nafas panjang saat melihat punggung Nevan yang semakin menghilang dari balik pintu dapur.
Resah, gelisah, marah, sedih, kecewa seolah bercampur menjadi satu dalam benaknya dia tidak ingin hubungannya dan suaminya seperti ini tapi dia bingung harus bagaimana untuk membuat hubungan dia dan Nevan kembali seperti sediakala.
Sementara itu di sisi lain Nevan yang sudah sampai di kantornya langsung mengerjakan pekerjaannya dengan teliti dan mengesampingkan terlebih dahulu urusan pribadi yang juga membelenggu jiwanya itu hingga rasanya dia ingin menghilang untuk sebentar saja dan melupakan masalah yang tengah dihadapinya itu.
Waktu terus berlalu dan Nevan hanya memfokuskan dirinya kepada pekerjaannya, sekarang dia lagi dalam masa sibuk dalam mengurus perusahaannya itu karena semakin banyak orang yang ingin bekerja sama dengannya dalam bisnisnya itu.
Nevan bahkan makan siang di ruangannya dia memerintahkan sekertarisnya untuk membelikannya makan siang untuknya karena.
Saat sore hari dan sudah waktunya untuk pulang Nevan berencana akan langsung pulang ke rumahnya Tapi saat dia baru memasuki mobilnya ponselnya berbunyi.
Nevan melihat nomor yang menelponnya adalah nomor telpon Apartemennya, dia pun mengangkat telponnya sambil memanaskan mobilnya.
"Ya halo," kata Nevan mengapit ponselnya dengan pundaknya karena tangannya dia gunakan untuk memutar setir mobilnya.
"Tuan maaf mengganggu, saya mau memberitahukan kalau Non Mesha kembali muntah darah dan Non Mesha juga tidak sadarkan diri," kata Lastri yang bekerja di Apartemen Nevan dan menemani Mesha di sana terdengar nada panik dari suaranya.
__ADS_1
"Apa Bu Las sudah menelpon Ambulance Bu?" tanya Nevan.
"Sudah Tuan sepertinya sebentar lagi Ambulance-nya sampai," jawab Lastri.
"Baiklah Bu, tolong jaga Fariz dulu ya saya akan langsung ke rumah sakit," kata Nevan kepada Lastri.
"Baik Tuan kalau begitu saya tutup dulu telponnya Tuan orang dari rumah sakit sudah sampai," kata Lastri.
"Iya Bu," jawab Nevan setelah itu sambungan telpon itu terputus.
Nevan yang awalnya berniat akan langsung pulang kembali mengurungkan niatnya dia menjalankan mobilnya menuju ke rumah sakit tempat biasa Mesha mendapatkan perawatan saat penyakitnya kambuh.
Nevan memang menyuruh Mesha dan anaknya untuk tinggal di Apartemennya karena Mesha tidak memiliki tempat tinggal lain.
...Flashback......
Setelah kembali dari kantor polisi beberapa waktu lalu Mesha memutuskan untuk menemui kedua orang tua Bima terlebih dahulu, dia ingin meminta ijin untuk tinggal di rumah orang tua Bima untuk beberapa saat dan meminta orang tua Bima agar mau merawat Fariz, tapi saat Nevan mengantar Mesha pergi ke rumah orang tua Bima rumah itu sudah kosong tidak berpenghuni.
Dengan wajah sayunya Mesha kembali ke dalam mobil dimana Nevan menunggunya di dalam mobil dan Fariz sedang tertidur di kursi belakang mobil itu.
"Apa mereka tidak ada?" tanya Nevan di jawab gelengan kepala oleh Nevan.
"Kamu tinggallah dulu di Apartemenku," tawar Nevan akhirnya.
"Tapi aku tidak enak dengan Alisha," kata Mesha dengan ragu.
"Nanti aku akan berbicara padanya, sekarang yang terpenting kamu dan anakmu ada tempat untuk tinggal, kamu mau tinggal di mana sekarang, rumah Bima sudah di sita jalan satu-satunya adalah kamu tinggal di Apartemenku untuk beberapa saat," kata Nevan mulai menjalankan mobilnya.
"Kenapa sekarang hidupku seperti ini? sekarang aku sedang sekarat, anakku tidak baik-baik saja. keluarga, suami, semuanya tidak ada. aku sendiri Nevan apa ini hukuman atas dosa-dosa yang ku lakukan dulu?" kata Mesha melihat keluar jendela mobil sambil mengusap pipinya.
"Jangan bicara seperti itu, kamu masih punya Pariz, kamu harus bisa bertahan untuk Pariz dia masih sangat membutuhkanmu," kata Nevan.
"Kamu pasti tau 'kan apa kata Dokter. aku hanya bisa bertahan beberapa waktu lagi, waktuku tidak akan lama lagi bagaimana aku bisa membuat anakku sembuh terlebih dahulu sedangkan umurku saja tidak akan lama lagi," kata Mesha lagi dengan putus asa.
"Kamu harus percaya dan yakin kalau kamu pasti bisa bertahan sampai Fariz sembuh," kata Nevan berusaha menenangkan Mesha.
Mesha tidak menjawab lagi perkataan Nevan dia hanya melihat ke jendela mobil melihat jalanan yang mulai gelap karena hari mulai malam.
__ADS_1
Mesha hanya bisa merenungi jalan hidupnya saat ini, kemewahan, kegelamoran dan kasih sayang sekarang itu tidak ada lagi dalam hidupnya, orang tua yang selalu memberikan apapun yang diinginkannya dulu, memanjakan dengan kemewahan kini semua itu sudah hilang dan tinggal kenangan saja.
Sekarang yang tersisa dalam hidupnya hanyalah anak semata wayangnya dia ingin lebih lama bersamanya, seandainya dia bisa meminta kepada Tuhan dia ingin diberikan waktu kepada Tuhan agar dia bisa membuat anaknya kembali seperti anak lain pada umumnya. dia ingin menyembuhkan anaknya dari trauma yang dialaminya terlebih dahulu. Tapi itu semua hanya angannya saja karena Dokter jelas-jelas sudah mengatakan bahwa dia tidak akan bisa hidup lebih lama lagi.
Mengingat hal itu lagi-lagi air mata jatuh di pipi Mesha dan Mesha kembali mengusapnya dengan tangannya.
"Turunlah kita sudah sampai." Suara Nevan menghentikan lamunan Mesha itu, Nevan menghentikan mobilnya di parkiran Apartemennya dulu.
Mesha hanya menganggukkan kepalanya dan membuka pintu mobil Nevan mengikuti Nevan. dia kemudian turun dan membuka pintu belakang mobil itu dan mengambil tubuh anaknya yang sedang tidur itu.
Nevan berjalan di depan Mesha menuju ke Apartemennya tempat yang sebenarnya menyimpan kenangan antara dirinya dan Mesha. tapi itu hanyalah kenangan yang sudah Nevan tutup rapat dan hanya akan menjadi kenangan.
Nevan membuka Apartemennya itu dan mempersilahkan Mesha untuk masuk dan Mesha hanya menurut.
"Besok aku akan meminta Bu Las untuk menginap di sini agar bisa menjagamu, jika ada apa-apa hubungi aku dengan telpon Apartemen itu," kata Nevan yang hanya di jawab Anggukan kepala oleh Mesha.
"Kamu bisa tidur di kamar yang Alisha tempati dulu," kata Nevan.
"Terima kasih," kata Mesha menatap Nevan.
"Ya istirahatlah, aku akan memesankan makan malam untuk kalian, sekarang aku harus pulang," kata Nevan lagi.
Mesha hanya menganggukkan kepalanya dan Nevan pun pergi dari sana untuk pulang ke rumahnya karena hari sudah larut.
...Flashback End......
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...