
Happy Reading...
Nevan lagi-lagi pulang saat malam sudah larut. sudah hampir sebulan Nevan seperti itu dan Alisha juga selalu mendiamkannya dan hanya bicara seperlunya saja karena Nevan yang selalu pulang malam dan tidak terbuka kepada Alisha tentang apa yang selalu dilakukannya hingga dia selalu pulang malam.
Hal itu tentu saja membuat Alisha marah dan semakin berpikiran yang tidak baik tentang Nevan dan Mesha.
"Mas, kamu pulang malam lagi," kata Alisha yang ternyata belum tidur dan masih menunggu Nevan dengan duduk di ranjang.
"Maaf aku ada urusan jadi selalu pulang malam," kata Nevan menatap Alisha yang terlihat marah.
"Urusan apa? tadi sore Alish menghubungi sekertaris Mas dan dia bilang setiap hari Mas selalu pulang seperti hari-hari sebelumnya dari kantor. tapi kenapa Mas sampai ke rumah harus selarut ini Mas!" kata Alisha panjang lebar dengan nada yang marah.
Nevan tidak menjawab perkataan Alisha dia hanya diam mematung di tempatnya berdiri dia tidak tahu harus bicara apa.
"Kenapa diam Mas, jawab kemana saja kamu sampai selalu pulang malam bahkan di saat hari libur kamu jarang ada di rumah." Alisha turun dari ranjang dia berdirinya di depan Nevan menatap Nevan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Apa Mas Nevan selalu pergi menemui Mbak Mesha dan anaknya itu Mas?" tanya Alisha serius.
Melihat Nevan hanya diam Alisha sudah tahu jawabannya Alisha hanya tersenyum pahit dengan menatap mata Nevan.
"Kalau Mas Nevan mau kembali ke Mbak Mesha pergilah Mas," kata Alisha memalingkan wajahnya dari Nevan.
Mendengar perkataan Alisha, Nevan menatap Alisha dengan kaget, bukan maksudnya seperti itu.
"Apa maksud kamu Lis, kamu mau aku meninggalkan kamu dan Aaric, aku tidak akan meninggalkan kalian," kata Nevan berusaha memegang pundak Alisha tapi Alisha menghindar.
"Kalau Mas Nevan tidak mau meninggalkan aku dan Aaric kenapa Mas selalu menemui Mbak Mesha dan anaknya itu?" tanya Alisha dan Nevan hanya bungkam seperti ada yang dia sembunyikan.
"Kenapa diam Mas? apa anak Mbak Mesha adalah anakmu juga?" pertanyaan yang sebenarnya menyakiti hatinya sendiri itu Alisha layangkan pada Nevan.
Alisha bingung harus bersikap seperti apa dia tidak ingin selalu berpikiran buruk tentang suaminya itu dia hanya ingin semuanya jelas.
"Apa maksud kamu? anak aku hanya Aaric bukankah kamu tau itu?" tanya Nevan menatap Alisha dengan tatapan tegas.
__ADS_1
"Kalau begitu berhenti membantu Mbak Mesha dan menemuinya," kata Alisha tidak kalah tegas.
"Aku tidak bisa. bukan berarti dia anak aku, anak aku hanya Aaric," kata Nevan berusaha tenang.
"Kalau dia bukan anak kamu kenapa kamu memperhatikannya seperti kamu memperhatikan anak kamu sendiri atau kamu melakukan itu karena ibunya Mas masih memiliki perasaan kepada Mbak Mesha?"
"CUKUP!" bentak Nevan membuat hati Alisha yang semula terasa ngilu bertambah sakit seperti teriris sebuah pisau.
Alisha memundurkan dirinya beberapa langkah dari Nevan satu bentakan Nevan bisa membuat hatinya lebih sakit hingga dia tidak bisa menggambarkan seberapa sakitnya lagi.
"Bisakah kamu memberikan aku waktu Lis aku akan menceritakan semuanya tentang Mesha dan tentang anaknya tapi tidak sekarang, berhenti berpikiran buruk tentangku, aku menolong Mesha hanya karena iba bukan karena apapun lagi atau aku masih memiliki perasaan terhadapnya Lis," Nevan berusaha mendekati Alisha dan memberi pengertian kepada Alisha.
"Bagaimana aku tidak berpikiran buruk tentangmu Mas, kamu tidak mau menceritakan semuanya padaku, kamu menyembunyikan semuanya dariku apa salah jika aku berpikiran buruk tentangmu? kalau kamu membantu Mbak Mesha hanya sekali atau dua kali mungkin Alish masih bisa memakluminya tapi kamu membantunya terus-menerus Mas, sampai kamu lupa kalau kamu memiliki istri dan anak juga yang harus kamu perhatikan," kata Alisha menumpahkan semua keluh kesah dalam dirinya.
"Mungkin Alish masih bisa menerima jika Mas tidak memperdulikan Alish lagi tapi bisakah Mas tidak sampai melupakan Aaric demi anak yang jelas-jelas bukan anakmu itu Mas," cecar Alisha sambil mengusap pipinya yang basah oleh air mata.
"Aaric merindukanmu Mas dia merindukan main bersama Papanya." Setelah mengatakan hal itu Alisha melangkahkan kakinya akan pergi dari kamarnya.
"Lis aku minta maaf," kata Nevan lirih dia masih mematung di tempatnya melihat Alisha yang semakin menjauh.
Setelah sampai di dalam kamar Aaric, Alisha menumpahkan air matanya dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar tangisannya tidak bersuara dan tidak membangunkan anaknya.
Alisha duduk di lantai di depan pintu kamar anaknya dia ingin menumpahkan dulu setiap kesedihannya.
Mendapat bentakan seperti itu dari Nevan membuat hatinya sakit dia kembali mengingat masa lalu di saat Nevan belum mencintainya rasa sakit yang hampir sama dengan yang dulu dirasakannya.
Disaat Alisha masih menumpahkan air matanya di kamar Aaric. Nevan mendudukkan dirinya di ranjang dia mengacak-acak rambutnya frustasi dengan posisinya saat ini, di sisi lain dia tidak ingin hubungannya dan Alisha semakin renggang tapi dia juga tidak mungkin tidak memperdulikan Mesha begitu saja di saat kondisinya yang seperti itu.
"Semoga nanti kamu mengerti Lis, aku tau kamu orang baik aku akan menceritakan semuanya saat waktunya sudah tepat," gumam Nevan memejamkan matanya.
Nevan berdiri dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi dia membersihkan dirinya terlebih dahulu setelah itu merebahkan tubuhnya di ranjang.
Dia mengambil ponselnya dan melihat wallpaper di ponselnya yang terpasang foto mereka bertiga sedang tersenyum ke arah kamera.
__ADS_1
Nevan mengusap wajah Alisha dan Aaric di foto itu, wajah yang sedang tersenyum bahagia.
"Maaf membuatmu menangis lagi," gumam Nevan pada foto Alisha.
Sementara itu Alisha yang sudah puas menangis, mulai berdiri dan berjalan menuju ke ranjang anaknya yang cukup luas untuk dipakai tidur berdua.
Dia merebahkan tubuhnya di samping Aaric yang sedang terlelap, dia memeluk anaknya dan mencium kepala anaknya dengan lembut.
Alisha tidak bisa memejamkan matanya dia hanya melihat kearah dinding kamar itu dengan pikiran yang melayang tidak karuan.
Pertanyaan kenapa Nevan tidak mau menceritakan semuanya padanya terus menghampiri pikirannya.
"Apa Mbak Mesha sudah berpisah dengan suaminya sehingga dia mau mendekati Mas Nevan lagi seperti dulu? bagaimana jika Mas Nevan mau kembali lagi pada Mbak Mesha apa aku sanggup mengalah lagi seperti dulu, jujur meskipun aku mengatakan semua itu kepada Mas Nevan barusan tapi itu semua hanya di mulut saja aku sebenarnya tidak mau Mas Nevan pergi meninggalkan aku dan Aaric," gumam Alisha yang kembali lagi menangis.
Malam semakin larut tapi Nevan dan Alisha sama-sama tidak bisa memejamkan matanya mereka masih sama-sama larut dalam perasaan yang berkecamuk dalam diri mereka.
Apakah masalah antara mereka akan segera selesai dan mereka bisa kembali seperti sebelumnya.
Seperti saat Mesha tidak lagi hadir diantara mereka, akankah Nevan membiarkan Mesha dan tidak memperdulikannya lagi untuk membuat hubungan antara dirinya dan Alisha kembali membaik. Atau dia akan tetap membantu Mesha dan membiarkan Alisha semakin salah paham tentangnya dan berpikiran yang tidak-tidak tentangnya.
Puas dengan pikirannya masing-masing akhirnya mereka pun tertidur dengan terpisah untuk pertama kalinya setelah kelahiran Aaric mereka tidur terpisah seperti itu.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...