
Happy Reading...
Nevan mengusap kepala Alisha yang sudah terlelap di sampingnya dia tidur dengan dengan memiringkan badannya menghadap ke Alisha.
Hari ini mereka resmi rujuk karena Nevan hanya menjatuhkan talak dua kepada Alisha dan itu pun hanya melalui lisannya saja belum sampai ke pengadilan jadi Nevan masih bisa merujuk Alisha di tambah saat ini Alisha sedang dalam keadaan hamil dan masa iddahnya belum selesai rujuk itu sah meski hanya melalui lisan dan tidak perlu melakukan pernikahan ulang.
Nevan menatap wajah Alisha yang sedang terlelap dia menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah Alisha dengan hati-hati agar tidak mengganggu tidur Alisha.
"Terima kasih sudah memberikan aku kesempatan kedua untuk bisa bersamamu," kata Nevan mencium kening Alisha dengan sangat lembut.
Nevan membenarkan selimut yang mereka pakai setelah itu dia memeluk tubuh Alisha dan ikut terlelap menyusul Alisha.
Pagi hari...
Alisha beberapa kali mengerjapkan matanya dan saat matanya terbuka dia melihat Nevan yang sedang memperhatikannya dan tersenyum padanya.
"Mas sejak kapan bangun?" tanya Alisha dengan suara khas bangun tidur.
"Sudah dari tadi," jawab Nevan dengan bibir yang masih tersenyum.
"Kenapa gak bangunin Alish Mas?" tanya Alisha menatap Nevan.
"Aku senang melihatmu sedang tertidur kamu jadi lebih cantik berkali-kali lipat.jadi aku ingin menikmatinya lebih lama," kata Nevan membuat Alisha kembali tersipu.
"Mas jangan bercanda seperti itu," kata Alisha menutupi wajahnya dengan selimut karena merasa malu.
"Aku tidak bercanda aku benar-benar serius, aku jadi nyesal tidak menyadari hal itu sejak dulu," Nevan menyingkirkan selimut yang menutupi wajah Alisha.
"Jangan ditutupi aku sangat suka saat melihat wajahmu memerah seperti ini terlihat lebih manis dan menggemaskan," Nevan mengusap pipi Alisha yang terlihat merona.
Nevan memajukan wajahnya mendekati wajah Alisha dengan mata yang terus menatap ke dalam mata Alisha.
Alisha seperti terhipnotis oleh tatapan Nevan sehingga tidak menyadari sesuatu yang basah dan lembut menyentuh bibirnya Alisha memejamkan matanya menikmati kelembutan yang Nevan berikan padanya itu.
Setelah beberapa saat terhanyut dengan permainan mereka Nevan mengakhiri permainannya dan mengusap bibir Alisha Alisha yang basah dengan ibu jarinya.
"Bangunlah sudah siang kamu harus shalat 'kan," kata Nevan mendudukkan dirinya diikuti oleh Alisha.
Alisha menganggukkan kepalanya dan turun dari ranjang untuk berwudhu dan melaksanakan shalat subuh karena hampir kesiangan.
"Hati-hati jalannya," kata Nevan yang sedang merapikan tempat tidurnya.
"Iya Mas," jawab Alisha menganggukkan kepalanya canggung karena apa yang telah terjadi barusan antara dia dan Nevan.
Alisha melihat bayangan wajahnya di cermin wastafel dia tersenyum dan mengusap bibirnya, Alisha kemudian menggelengkan kepalanya agar berhenti memikirkan apa yang baru saja terjadi itu, bukankah itu bukan yang pertama untuknya dan Nevan tapi entah kenapa hatinya terasa sangat bahagia dengan itu.
Alisha menggosok giginya dan berwudhu setelah itu dia keluar lagi dari kamar mandi dan sudah tidak melihat Nevan di kamar itu Alisha langsung melaksanakan shalat subuh sebelum kesiangan.
Setelah selesai shalat Alisha membereskan peralatan shalatnya dan keluar dari kamarnya menuju ke dapur untuk minum air putih yang sudah menjadi kebiasaan paginya.
__ADS_1
"Mas," panggil Alisha saat melihat Nevan sedang memasak sesuatu di kompor.
"Sudah selesai shalatnya?" tanya Nevan menengokan kepalanya untuk melihat Alisha.
"Sudah, Mas sedang membuat sarapan?" tanya Alisha.
"Iya kamu tunggulah di meja makan sebentar lagi selesai," jawab Nevan tersenyum kepada Alisha.
Alisha membalas senyuman Nevan dan menganggukkan kepalanya kemudian menuruti perkataan Nevan duduk di meja makan.
Alisha menopang dagunya sambil memperhatikan punggung Nevan yang sedang serius dengan masakannya.
Beberapa saat kemudian Nevan menuju ke meja makan membawa makanan untuk sarapan mereka berdua.
"Ini makanlah selagi masih hangat," kata Nevan menyimpan makanan untuk Alisha di depan Alisha.
"Terima kasih Mas," kata Alisha tersenyum.
Nevan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, "Apa mau aku suapi?" tanya Nevan.
"Tidak perlu Mas, Alish bisa makan sendiri," jawab Alisha memakan makanannya.
Di tengah-tengah sarapannya Nevan berdiri dari kursinya hingga membuat Alisha heran.
"Kenapa Mas?" tanya Alisha.
"Biar Bu Mae saja yang membuatkannya tuan," kata Mae yang sedang membuat sarapan untuknya dan Rudi.
"Tidak usah Bu biar Nevan saja yang membuatnya," Nevan berjalan menuju ke lemari tempat penyimpanan susu untuk Alisha.
Setelah susunya selesai Nevan membawa susu itu kepada Alisha yang sudah selesai sarapannya.
"Terima kasih Mas," kata Alisha saat menerima susu itu dari tangan Nevan.
"Apa kita akan tinggal di sini dulu atau kembali ke apartemen?" tanya Nevan kepada Alisha.
"Bisakah kita tinggal di sini dulu Mas," kata Alisha sebenarnya dia enggan untuk kembali tinggal di apartemen itu karena apartemen itu memberikan kenangan yang tidak baik untuknya.
Di apartemen itu juga dia sering melihat kemesraan antara Nevan dan Mesha, bohong kalau dia bisa menutup mata tentang hal itu meskipun dia tidak bisa marah pada Nevan tapi kenangan itu memberikan perasaan tidak nyaman untuknya.
"Baiklah kita tinggal di sini saja sebelum kita memiliki rumah sendiri, apartemen itu juga sepertinya akan aku jual untuk menambah tabunganku agar kita bisa segera membuat rumah kita sendiri," kata Nevan.
"Iya Mas," jawab Alisha menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada Nevan.
Setelah sarapan mereka selesai Nevan berpamitan untuk pergi ke apartemennya sebelum ke kantornya karena di tidak membawa baju gantinya.
"Jangan melakukan apapun yang membuatmu lelah," kata Nevan saat mereka sedang di depan pintu rumah.
"Iya Mas,Mas hati-hati ya," kata Alisha mengambil tangan Nevan dan menciumnya.
__ADS_1
"Iya," Nevan mencium kening Alisha kemudian bersimpuh mensejajarkan wajahnya dengan perut buncit Alisha.
"Papa berangkat kerja dulu ya jagoan, kamu baik-baik di dalam sini nanti sore kita bertemu lagi," kata Nevan kepada anaknya.
Dia mengusap perut Alisha dan beberapa kali mendaratkan ciuman di sana, hingga dia bisa merasakan gerakan anaknya itu.
"Sepertinya dia meresponku," kata Nevan senang sambil mendongakkan kepalanya melihat Alisha.
"Iya Mas," jawab Alisha menganggukkan kepalanya dan ikut tersenyum.
"Anak pintar," kata Nevan mendaratkan beberapa ciuman lagi di perut Alisha.
"Mas ini sudah siang sudah waktunya Mas berangkat," Kata Alisha mengingatkan Nevan yang masih asik berbicara dengan calon anak mereka.
"Aahhh rasanya aku malas untuk pergi ke kantor," keluh Nevan.
"Jangan malas-malasan kalau kamu malas-malasan mau di kasih makan apa anak dan istrimu hah," kata Ratih yang baru saja turun dari mobil.
Nevan dan Alisha tidak menyadari kedatangan Ratih dan Harry karena sibuk satu sama lainnya.
"Mama pagi-pagi sudah ke sini," kata Nevan.
"Iya memangnya kenapa kalau Mama pagi-pagi sudah ke sini masalah buatmu hah," kata Ratih menatap Nevan galak.
"Tidak Ma, tidak masalah sama sekali," kata Nevan tersenyum menampilkan sederet giginya.
"Papa gak masuk dulu Pa?" tanya Alisha kepada Harry yang hanya diam di mobilnya.
"Tidak Lis, Papa harus segera ke kantor karena ada rapat pagi di kantor," jawab Harry.
"Oh baiklah Pa," Alisha menganggukkan kepalanya.
Setelah Harry pergi lagi dari sana Ratih pun mengusir Nevan untuk segera berangkat ke kantornya hingga nevan pun berangkat ke apartemennya terlebih dulu sebelum ke kantornya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1