
Happy Reading...
"Ini obat yang harus kamu tebus minum secara teratur dan ingat pesan kak Bara jaga dirimu dengan baik," kata Bara menyerahkan selembar kertas bertuliskan resep obat untuknya.
"Iya kak Insya Allah Alish akan menjaga diri Alish mulai sekarang," kata Alisha tersenyum.
"Kalau gitu Alish pulang dulu ya kak, sudah hampir malam suami Alish pasti sudah pulang dan nungguin Alish untuk makan malam," pamit Alisha dibalas anggukan kepala oleh Bara.
Alisha pun bangun dari kursinya dan berjalan menuju pintu untuk keluar dari ruangan Bara.
Saat Alisha akan membuka pintu ruangan itu Bara memanggil Alisha lagi hingga Alisha pun membalikkan kembali badannya melihat Bara.
"Alish kamu harus ingat saat ini kamu hidup hanya dengan satu ginjal dan kalau sampai ginjal kamu tidak bisa diselamatkan maka kamu pasti tau apa yang akan terjadi selanjutnya," kata Bara penuh penekanan, tersirat sebuah kekhawatiran di wajahnya karena kondisi Alisha saat ini.
Mendengar perkataan Bara Alisha tersenyum dan menganggukkan kepalanya dia senang dan merasa bersyukur karena mempunyai dokter pribadi seperti Bara yang menyayanginya dan menganggapnya seperti adiknya sendiri.
"Terima kasih untuk semuanya kak, Alish akan berusaha untuk menjaga diri Alish setelah ini," kata Alisha kemudian dia membuka pintu dan keluar dari ruangan itu.
Alisha pergi ke tempat obat dan setelah mendapatkan obatnya dia langsung menjalankan mobilnya untuk ke apartemennya.
Alisha yakin Nevan sudah pulang sekarang, dia tersenyum kembali saat mengingat dia akan makan malam bersama dengan Nevan lagi malam ini.
Saat sampai di parkiran apartemennya Alisha turun dari mobilnya dan bergegas menuju unit apartemennya.
Alisha sampai di depan pintu apartemennya dia membuka pintu dan masuk kedalam apartemennya, saat sudah di dalam dia menutup pintu secara perlahan.
Alisha berjalan dengan sangat pelan saat melihat Nevan tengah terlelap di sofa dengan posisi duduk dan menyandar.
Alisha berdiri di depan Nevan, melihat wajah Nevan yang sedang terlelap dengan tenang secara jelas dan dekat.
"Aku tidak akan menyesal kalau seandainya umurku sudah tidak panjang lagi karena sebagian dari diriku akan selalu ada bersama orang yang aku cintai setelah Ayah dan ibuku yaitu kamu Mas," gumam Alisha dengan sangat pelan dan tersenyum.
Ingin rasanya dia menyentuh pipi Nevan yang sangat terlihat kokoh itu tapi dia tidak mau mencari masalah dan membuat Nevan marah, setelah puas melihat Nevan yang tengah terlelap Alisha pun berjalan ke kamarnya untuk membersihkan dirinya sebelum makan malam.
...Flashback...
Dua tahun yang lalu saat Alisha baru saja lulus dari SMA Nevan sempat kritis karena Nevan menderita gagal ginjal dan orang tua Nevan sudah berusaha untuk mencari pendonor ginjal tapi tidak kunjung menemukan pendonor yang cocok dengan Nevan.
__ADS_1
Hingga akhirnya Alisha menawarkan dirinya untuk di tes dan akan mendonorkan satu ginjalnya untuk Nevan kalau hasilnya cocok.
Awalnya ayahnya tidak menyetujui hal itu karena dia takut terjadi sesuatu kepada Alisha tapi karena Alisha membujuk ayahnya dan meyakinkannya bahwa dia pasti akan baik-baik saja ayahnya pun setuju.
Dan Alisha melakukan transplantasi ginjal untuk Nevan saat hasil tes menunjukkan bahwa dia cocok untuk menjadi pendonor.
Sayang Nevan tidak tahu akan hal itu dia tidak tahu kalau Alisha lah yang memberikan salah satu ginjalnya untuknya, dia tidak tahu bahwa karena Alisha juga lah dia masih bisa menikmati hidupnya sampai saat ini.
Dan seharusnya di juga lah yang saat ini menjaga Alisha dan mencintai Alisha seperti Alisha yang mencintainya.
Tapi sayang orang yang seharusnya mendapatkan balasan baik darinya malah dia perlakukan dengan sangat tidak baik dan suatu saat nanti saat semuanya sudah terlambat dia baru akan menyesali apa yang terjadi saat ini.
...Flashback end...
Kembali ke Alisha, setelah dia selesai mandi dan melaksanakan kewajibannya sebagai muslim dia keluar dari kamarnya membangunkan Nevan dengan lembut untuk mengajaknya makan malam.
"Mas bangun kita makan malam dulu," kata Alisha dengan suara yang pelan dan lembut.
Nevan mengerjapkan matanya dan menganggukkan kepalanya kemudian menegakkan tubuhnya.
Alisha menyiapkan nasi dan lauknya terlebih dahulu untuk Nevan setelah itu baru dia duduk dan mengambil makanannya ke piringnya.
"Darimana saja kamu, kenapa malam baru pulang?" tanya Nevan datar sambil menyuapkan makanannya kedalam mulutnya.
"Alish habis bertemu dengan kak Bara karena ada hal yang penting yang harus kita bicarakan," jawab Alisha dia tidak mengatakan semuanya secara jujur.
"Bertemu dengan laki-laki lain bahkan sampai malam, ternyata ini kelakuanmu yang sesungguhnya, ternyata orang tuaku salah menilaimu sebagai wanita yang baik," kata Nevan dengan nada yang merendahkan dan terus memakan makanannya.
Dia tidak tahu bagaimana perihnya hati Alisha, seperti teriris oleh sebuah silet tajam mendengar suaminya sendiri berpikiran dia wanita yang tidak baik tapi Alisha tidak menunjukkan kesedihannya.
Alisha melihat kearah Nevan dan tersenyum manis seperti biasanya, senyuman yang selalu dia tunjukkan dalam keadaan seperti apapun sehingga orang tidak akan bisa menebak bagaimana perasaannya yang sesungguhnya.
"Kak Bara adalah dokter pribadi Alish Mas, dia meminta Alish untuk ke rumah sakit karena Alish harus rajin cek-up untuk menjaga kesehatan Alish," jawab Alisha dengan suara lembutnya.
"Kenapa harus cek-up segala padahal kamu sangat sehat, dasar manja," cibir Nevan, Alisha tidak menjawab lagi dia hanya tersenyum kepada Nevan setelah itu dia melanjutkan lagi makannya.
"Apa kamu bisa sekali saja saat kita berhadapan jangan selalu tersenyum seperti itu hah, asal kamu tau melihat senyuman mu seperti itu setiap saat membuat aku muak," kata Nevan tajam dia kemudian bangun dari duduknya dan pergi dari meja makan meninggalkan Alisha seorang diri.
__ADS_1
"Jangan melarang aku untuk tersenyum Mas karena tersenyum adalah caraku satu-satunya untuk menguatkan hatiku yang kadang menjadi lemah," gumam Alisha pelan dia melihat pintu dapur dimana Nevan sudah menghilang dari sana.
Alisha mengusap setitik air yang dari sudut matanya dia kemudian melanjutkan kembali makannya, mendadak rasa makanannya menjadi terasa hambar tapi dia harus tetap memaksakannya karena dia harus minum obat dari rumah sakit.
Saat sudah selesai makan malam dan mencuci piring kotornya Alisha berniat akan ke kamarnya dia membawa segelas air putih untuk meminum obatnya.
Saat melintasi ruang tengah dia melihat Nevan sedang duduk di sofa dan tersenyum sambil memainkan ponselnya melihat senyuman Nevan membuat Alisha ikut tersenyum.
"Melihat mu tersenyum seperti itu sudah membuat ku senang, meskipun senyuman itu bukan untukku dan bukan karena aku," gumam Alisha dalam hatinya.
Senyuman Nevan seolah menjadi obat baginya yang tadi sempat merasa sedih karena perkataan Nevan.
Alisha masuk ke kamarnya dia meminum obatnya agar dia kembali sehat, dia tidak mungkin mengecewakan Bara yang sudah begitu baik padanya.
Setelah meminum obatnya Alisha menyimpan gelas yang sudah kosong ke nakas setelah itu dia merebahkan tubuhnya di kasur empuknya.
"Seandainya aku bisa menjadi alasanmu untuk tersenyum seperti itu aku pasti akan merasa sangat bahagia mas, beruntungnya menjadi mbak Mesha yang selalu bisa melihat senyuman tulus dari mas Nevan seperti itu," gumam Alisha dengan melihat langit-langit kamarnya dan pikiran yang menerawang jauh.
"Apakah kita akan selalu seperti ini mas? apa kamu tidak akan pernah menerima pernikahan ini sampai maut menghampiriku," gumam Alisha tanpa sadar setitik air merembes dari sudut matanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1