
Happy Reading...
Mendengar perkataan Nevan, Alisha menjadi tidak nyaman dan salah tingkah dia harus segera pergi dari sana sebelum Nevan semakin banyak bertanya.
"Maksud Mas Nevan apa, Alish tidak mengerti, maaf Alish harus segera pergi Mas karena teman Alish sudah menunggu," kata Alisha mulai melangkahkan kakinya menjauh dari Nevan.
"Aku mau bicara dulu sebentar Lis," kata Nevan mengikuti Alisha.
"Maaf Alish tidak bisa Mas, Alish buru-buru, Alish harus segera pulang karena sebentar lagi malam," kata Alisha terus melangkah tanpa memperdulikan Nevan.
Saat Alisha sedang berjalan dia merasakan perutnya sakit dan kepalanya pun terasa pusing tapi dia tidak menghiraukannya dia berjalan dengan cepat untuk menghindari Nevan.
Hingga beberapa langkah kemudian tiba-tiba saja Alisha pingsan didepan Nevan, untung saja Nevan segera menangkap tubuhnya.
"Lis," Nevan menepuk pipi Alisha tapi tidak ada respon dari Alisha.
Keringat bercucuran dari kening Alisha hingga membuat Nevan khawatir tanpa menunggu lagi dia langsung mengangkat tubuh Alisha dan membawanya pergi dari sana untuk ke rumah sakit.
Fino yang melihat Nevan menggendong Alisha dari arah toilet merasa heran dia pun mendekati Nevan menanyakan apa yang terjadi.
"Apa yang terjadi kenapa Alish bisa bersamamu?" tanya Fino.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan itu sekarang yang jelas Alish pingsan aku akan membawanya ke rumah sakit," kata Nevan sambil terus berjalan.
"Biar aku saja yang membawanya," kata Fino akan mengambil alih tubuh lemah Alisha dari gendong Nevan.
"Tidak perlu, kamu tolong bayarkan saja makananku sekalian," kata Nevan melanjutkan langkahnya.
"Bawa ke rumah sakit xxx dan beritahu dokter Bara dokter pribadi Alish!" teriak Fino saat Nevan sudah agak jauh.
Nevan hanya menganggukkan kepalanya dan terus melangkah untuk keluar dari Mall itu, saat sampai di parkiran Nevan segera memasukkan Alisha ke dalam mobilnya.
Dia menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan kencang karena ingin segera sampai di rumah sakit yang Fino beritahukan tadi padanya.
Beruntung jalannya lancar tidak macet sehingga Nevan bisa lebih cepat sampai ke rumah sakit.
Nevan keluar dari mobil dan memutari mobilnya setelah itu membuka pintu mobil yang satunya lalu menggendong Alisha keluar dari mobil.
"Suster tolong," kata Nevan saat memasuki lobby rumah sakit.
Para suster datang dengan mendorong brankar.
"Non Alish," kata salah satu suster saat tubuh Alisha direbahkan ke brankar.
"Kamu tau istriku?" tanya Nevan heran.
"Iya tuan Non Alish sering ke rumah sakit ini," kata suster itu membuat Nevan mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Sering? kenapa Alish sering datang ke rumah sakit," gumam Nevan dalam hatinya.
Nevan kemudian ingat kalau Alisha sering ijin untuk cek-up ke rumah sakit mungkin karena itu Alisha sering ke sini.
"Mungkin karena Alish sudah mendonorkan salah satu ginjalnya jadi dia harus rajin cek-up," kata Nevan lagi dalam hatinya dia melihat wajah Alisha sambil mendorong brankarnya.
"Semoga kamu baik-baik saja Lis," gumam Nevan mengusap pucuk kepala Alisha.
"Kamu sudah beritahu Dokter Bara?" tanya salah satu suster yang mengenali Alisha.
"Sudah, Dokter Bara akan segera ke sini," jawab suster yang tadi ditanya.
Mereka membawa Alisha ke ruang UGD sesuai perintah Bara.
"Tuan anda bisa tunggu diluar kami akan segera menangani pasien," kata suster menghentikan Nevan saat sampai di depan pintu UGD.
Nevan menganggukkan kepalanya mengerti, dia kemudian duduk di kursi yang ada di depan ruangan itu. beberapa saat kemudian Nevan melihat seorang laki-laki yang di perkiraan umurnya sedikit lebih tua darinya berjalan dengan tergesa-gesa ke ruang UGD Dokter muda itu terlihat khawatir.
"Apa itu yang namanya Dokter Bara, masih muda ternyata jadi Alisha sering bertemu dengan Dokter itu," kata Nevan melihat Bara yang sudah memasuki ruang UGD.
"Kenapa mereka membawa Alisha ke UGD apa Alish baik-baik saja," gumam Nevan kembali tidak tenang.
Beberapa saat kemudian pintu ruangan itu terbuka dan suster keluar dari sana dengan tergesa-gesa.
"Apa semuanya baik-baik saja sus?" tanya Nevan menahan langkah suster itu.
Nevan kembali mendudukkan dirinya di kursi tunggu dia berharap Alisha baik-baik saja.
"Kenapa lama ya, apa terjadi hal yang serius dengan Alish," gumam Nevan berdiri dan mondar-mandir kemudian duduk lagi.
Tak lama kemudian datang lagi suster yang tadi bersama dengan seorang dokter wanita paruh baya dengan wajah yang nampak khawatir juga.
Dokter wanita itu berbicara dengan suster sehingga tidak menyadari keberadaan Nevan di sana.
"Apa kandungannya baik-baik saja?" tanya Dokter itu yang tak lain adalah Desi.
"Saya belum tau pasti Dok, karena tadi saya disuruh memanggil Dokter oleh Dokter Bara," jawab suster yang berjalan mengikuti Desi.
"Semoga saja Alish dan bayinya baik-baik saja," kata Desi sebelum masuk ke ruangan dimana Alisha sedang mendapatkan penanganan.
Sementara itu Nevan yang barusan mendengar pembicaraan antara Dokter wanita itu dan suster menatap pintu ruangan UGD.
"Alish dan bayinya ... hamil," gumam Nevan dengan pandangan kosong ke pintu.
Nevan meyakinkan bahwa pendengaran tidak sedang bermasalah, ingatannya kemudian ketarik ke beberapa waktu lalu dimana Alisha membeli susu untuk wanita hamil dan tadi saat di Mall Alisha melihat-lihat perlengkapan bayi.
Pikiran Nevan terus berkelana memikirkan perkataan Dokter dan suster tadi apa benar Alisha hamil kalau itu benar Alisha hamil anak siapa apa. apa Alisha hamil anakku. Pikir Nevan.
__ADS_1
Saat Nevan tengah sibuk dengan pemikirannya, pintu ruangan itu terbuka lagi dan salah satu suster keluar lagi.
Nevan berdiri dan bertanya kepada suster itu tentang kondisi Alisha dan tentang apa yang tadi didengarnya.
"Sus bagaimana keadaan Alish?" tanya Nevan menahan suster itu.
Sebelum menjawab suster itu tersenyum kepada Nevan untuk menenangkan Nevan yang terlihat khawatir.
"Non Alish sudah baik-baik saja tuan, Dokter Bara dan Dokter Desi sudah menanganinya," perkataan suster itu membuat Nevan sedikit tenang.
"Syukurlah kalau dia baik-baik saja ... oh iya sus apa benar Alish sedang hamil?" tanya Nevan dengan hati yang berdebar menunggu jawaban suster itu.
"Iya tuan, Non Alish sedang hamil itulah kenapa Dokter Bara dan Dokter Desi melarangnya untuk melakukan hal yang membuatnya kelelahan karena akan seperti ini kejadiannya," jelas suster itu.
"Kalau boleh tau berapa usia kandungan Alish, sus?" tanya Nevan lagi menatap suster itu dengan serius.
"Usia kandungannya di perkiraan 15 atau 16 minggu kalau tidak salah tuan," jelas suster itu tentu saja membuat Nevan mematung di tempatnya.
"Itu artinya Alish hamil anakku dan aku sama sekali tidak tau masalah ini," gumam Nevan dengan sangat pelan.
"Tuan anda harus segera mengurus administrasinya dulu karena Non Alish harus segera di pindahkan ke ruang perawatan, Non Alish harus dirawat untuk beberapa saat di sini," kata suster itu.
"Iya baiklah," jawab Nevan singkat.
"Mari ikut saya tuan," ajak suster itu kepada Nevan.
Nevan mengikuti langkah suster itu menuju ke meja resepsionis untuk mengurus administrasi untuk Alish.
Setelah selesai melakukan administrasi Nevan diberitahukan oleh suster kalau Alisha sudah dipindahkan ke ruang perawatan.
Nevan berjalan dengan gontai menuju ke ruangan yang diberitahukan oleh suster tadi entah apa yang akan Nevan lakukan saat di dalam sana nanti saat berhadapan dengan Alisha.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1