Ingin Cinta SUAMIKU

Ingin Cinta SUAMIKU
Melihat Mesha.


__ADS_3

Happy Reading...


Siang harinya setelah jam makan siang, sesuai dengan perkataannya tadi pagi pada Alisha, Nevan berencana akan membawa Alisha untuk ke rumah sakit agar Alisha bisa melihat Mesha secara langsung.


Saat ini Nevan sedang menjalankan mobilnya menuju ke rumahnya untuk menjemput Alisha. Nevan sebelumnya sudah meminta Alisha untuk bersiap terlebih dahulu agar mereka bisa langsung berangkat.


Mobil Nevan berhenti tepat di depan pintu rumahnya dan dia melihat Alisha sudah menunggunya di depan pintu rumahnya itu.


"Kemana Aaric apa dia tidak merajuk karena kita akan pergi tanpanya?" tanya Nevan yang tidak melihat keberadaan anaknya itu.


"Aaric tadi diajak pergi sama Mama dan Papa katanya mau dibawa jalan-jalan," jawab Alisha sambil memasangkan sabuk pengaman.


"Oh ya udah kita berangkat sekarang," kata Nevan mulai menjalankan mobilnya.


Selama di perjalanan tidak ada yang mengeluarkan suaranya baik Nevan maupun Alisha sama-sama diam dengan pikirannya masing-masing. hingga akhirnya mobil Nevan sampai di area rumah sakit.


Nevan memarkirkan mobilnya terlebih dahulu di area parkiran khusus untuk mobil.


"Turunlah," kata Nevan saat mobilnya telah berhenti.


Alisha menganggukkan kepalanya dan mengikuti Nevan turun dari mobilnya dan mulai berjalan memasuki rumah sakit.


Nevan menarik tangan Alisha karena dia berjalan di belakangnya dia menggenggam tangan Alisha dan mereka pun berjalan dengan beriringan.


"Tuan Nevan saya baru saja akan menghubungi Anda," kata suster yang berpapasan dengan Nevan dan Alisha.


"Ada apa sus?" tanya Nevan.


"Nyonya Mesha sudah sadar dan dia ingin bertemu dengan Anda dan juga istri Anda," kata Suster itu.


"Baiklah ayo kita ke sana," kata Nevan berjalan kembali menuju ke tempat Mesha dirawat tanpa melepaskan tangan Alisha dari genggamannya.


Alisha hanya mengikuti kemana Nevan membawanya saat sampai di sebuah lorong Alisha melihat Lastri dan seorang wanita paru baya yang terlihat sedih.


Saat jarak mereka semakin dekat Alisha melihat Lastri sedang memeluk seorang anak laki-laki yang seumuran dengan anaknya yang dia perkiraan adalah anaknya Mesha.


"Tuan, Non Alish," kata Lastri kepada Nevan dan Alisha.


Nevan dan Alisha hanya tersenyum sebagai jawaban kemudian segera memasuki ruangan ICU karena suster meminta mereka untuk segera masuk ke dalam.


Saat memasuki ruangan itu. dari kejauhan Alisha dapat melihat Mesha yang saat ini terbaring lemah di ranjang rumah sakit itu dengan berbagai alat medis yang terpasang di tubuhnya.


Badannya yang dulu terlihat seksi dan glamor dengan pakaian mewahnya kini sangat kurus bahkan mungkin hanya tersisa tulang dan kulit. wajah yang dulu selalu cantik dengan riasan wajah kini terlihat begitu tirus dan pucat pasi seolah tidak ada tanda-tanda sebuah pancaran kehidupan di wajah itu.

__ADS_1


Alisha mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Nevan dia menatap Mesha yang memejamkan matanya napasnya terdengar sangat berat.


Dia tidak menyangka kondisi Mesha akan separah ini dan tidak ada satupun keluarganya yang menemaninya di sampingnya memberikan semangat padanya.


"Sha," panggil Nevan saat mereka sudah sampai di samping ranjang Mesha.


Mata Mesha perlahan mulai terbuka dia melihat ke arah Nevan dan Alisha. bibir pucatnya tersenyum kepada Alisha dan Nevan.


"Maafkan aku." Dua kata yang keluar dengan suara yang teramat pelan itu seperti sebuah bisikan.


"Maaf karena telah mengganggu kehidupan tenang kalian lagi, maaf atas semua kesalahan yang telah aku lakukan dulu terutama kepadamu Lis," kata Mesha dengan suara yang tersendat-sendat karena napas yang terasa berat dirasakannya.


"Maafkan aku untuk semua yang aku lakukan dulu Lis, apakah kamu sudi memaafkan semua kesalahan yang telah aku lakukan dulu." Bibir pucat itu bergetar dan setetes demi setetes air turun dari kelopak mata yang cekung itu pertanda Mesha benar-benar sudah menyesali semua perbuatan di masa lalunya itu.


Melihat hal itu Alisha tidak bisa menahan air matanya dia kemudian menganggukkan kepalanya dan mengusap pipinya yang mulai basah.


"Aku tau, aku tidak pantas mendapatkan maaf darimu karena kelakuanku dulu sangatlah buruk. bahkan untuk mengucapkan kata maaf pun aku sangat tidak pantas," kata Mesha lagi dengan air mata yang kian deras mengalir di pipinya.


Untuk beberapa saat terjadi keheningan di ruangan itu. Mesha menatap Alisha dengan tatapan penuh penyesalan dan Alisha menatap Mesha dengan tatapan iba tidak beda jauh dengan Nevan yang saat ini masih menggenggam tangan Alisha dengan erat tanpa melepaskannya. dia melihat Mesha dengan tatapan iba juga.


"Alish sudah memaafkan Mbak Mesha. semua itu hanyalah masa lalu," jawab Alisha. dia hanya bisa memaafkan Mesha karena dia tidak berhak membenci Mesha selamanya apalagi melihat Mesha sekarang dia tidak mungkin menyimpan kekesalan yang sempat singgah di hatinya karena apa yang Mesha lakukan padanya dulu.


"Terima kasih, kamu memang orang yang baik, Nevan beruntung memiliki pendamping sepertimu. maaf jika beberapa minggu ini aku pasti telah membuatmu salah paham," kata Mesha.


"Nyonya Mesha sebaiknya Anda istirahat kembali," kata suster yang mendekati ranjang itu.


Mesha menganggukkan kepalanya dan kembali melihat ke arah Nevan dan Alisha seperti ada sesuatu yang ingin disampaikannya kepada mereka.


"Bisakah aku meminta tolong pada kalian," kata Mesha menatap Alisha dan Nevan secara bergantian.


Alisha menatap ke arah Nevan begitupun sebaliknya mereka saling menatap satu sama lain untuk beberapa saat kemudian menatap Mesha lagi dan menganggukkan kepalanya.


"Apa?" tanya Nevan dan Alisha.


"Wanita yang bersama dengan Bu Lastri di depan adalah pengurus panti. bisakah nanti kalian sesekali melihat Fariz di panti sebelum Papanya atau keluarganya datang membawanya," kata Mesha memohon kepada Nevan dan Alisha.


"Maksud kamu, kamu mau menitipkan Fariz ke panti asuhan," kata Nevan kaget begitupun dengan Alisha.


Mesha hanya menganggukkan kepalanya lemah dan mengeluarkan kembali air matanya.


"Aku tidak punya pilihan lain. jadi aku mohon maukah kalian mengabulkan permintaanku itu," kata Mesha yang sudah pasrah dengan hidupnya.


"Kamu pasti baik-baik saja Sha."

__ADS_1


"Iya Mbak Mesha pasti baik-baik saja dan bisa mengurus anak Mbak dengan baik."


Nevan dan Alisha berusaha memberikan dukungan kepada Mesha meskipun mereka tahu itu semua hal yang mustahil di mata manusia tapi tidak di mata Allah.


"Terima kasih untuk dukungan kalian semuanya. aku tidak menyangka di saat-saat terakhirku seperti ini aku tidak sendirian," kata Mesha pelan dan tersenyum tipis.


"Kamu pasti baik-baik Sha. bukankah kamu ingin melihat Fariz sembuh dan kembali seperti sebelumnya," kata Nevan.


Mesha hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas perkataan Nevan itu.


"Sekarang istirahatlah," kata Nevan.


"Bisakah kalian berjanji dulu kalau kalian akan melakukan permintaanku tadi agar aku bisa beristirahat dengan tenang," kata Mesha lagi.


"Baiklah kami akan sering-sering melihat keadaan Fariz nanti sekarang istirahatlah," kata Nevan akhirnya menyetujui permintaan Mesha.


Mesha mengucapkan terima kasih lagi dan tersenyum tipis. setelah itu Alisha dan Nevan pergi keluar dari ruangan itu menemui Fariz.


Alisha melihat anak itu dengan seksama anak itu sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun sehingga membuatnya bingung. mungkin jika Aaric yang ada di posisi anak itu pasti saat ini Aaric sedang menangis dan sebagainya tapi anak itu hanya dia dengan tatapan yang terus terarah ke pintu ruangan tempat Mesha.


Nevan yang mengerti kebingungan Alisha membisikkan tentang kondisi Fariz kepada Alisha hingga membuat Alisha kaget.


"Dia memiliki trauma hingga membuatnya tidak mengeluarkan ekspresi apapun," Bisik Nevan di telinga Alisha.


Alisha menatap Nevan dengan serius dan Nevan menganggukkan kepalanya membenarkan perkataannya itu.


"Fariz ini kenalkan istri Om Nevan," kata Nevan mendudukkan dirinya di kursi tepat di samping Fariz.


Alisha mengikuti Nevan dengan duduk di samping Nevan dan Fariz yang tidak menggubris perkataan Nevan yang memperkenalkan Alisha padanya.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2