
Happy Reading...
Nevan bangun pagi-pagi sekali karena dia ingin membuatkan makanan untuk sarapan Alisha dan calon anaknya makanan yang sehat tentunya.
Dengan tangan terampilnya Nevan mengolah bahan-bahan masakan menjadi sebuah makanan yang enak dan menggiurkan bagi siapa saja yang melihatnya.
"Semoga Alisha suka dan mau menerima makanan ini," kata Nevan saat sudah selesai memasaknya dan memasukkan makanannya ke wadah.
Setelah makanannya siap Nevan kembali ke kamarnya dia mandi terlebih dahulu dan memakai baju untuk kerjanya.
Nevan berdiri di depan cermin merapikan penampilannya, dia mengancingkan lengan kemejanya dan memasang dasi setelah itu memakai jas lalu menyisir rambut hitamnya hingga rapi.
Setelah merasa sudah rapi Nevan memakai sepatu dan memasukkan barang-barangnya ke dalam tas kerjanya tak lupa juga memasukkan ponselnya ke saku celananya.
Nevan keluar dari kamarnya dengan senyuman yang mengembang dia berharap Alisha akan menerima makanan darinya dan menyukainya.
"Tuan Anda mau berangkat?" tanya Lastri saat baru masuk ke apartemen dan berpapasan dengan Nevan di depan pintu dapur.
"Iya Bu, tolong bersihkan dapur ya Bu, barusan saya pakai buat masak jadi berantakan," kata Nevan tersenyum lebar kepada Lastri.
"Iya Tuan, apa Anda membuat sarapan Tuan?" tanya Lastri.
"Iya Bu," jawab Nevan sambil berjalan menuju ke meja makan dan mengambil makanan untuk Alisha.
Lastri yang melihat itu heran karena tidak biasanya tuannya itu membawa bekal makanan ke kantornya.
"Tuan membawa bekal ke kantor?" tanya Lastri.
"Ini untuk Alisha Bu," jawab Nevan tersenyum lebar lagi sambil melihat Lastri.
"Non Alish," kata Lastri tidak percaya.
"Iya Bu, Saya membuatkan sarapan yang sehat untuknya karena dia sedang hamil jadi dia harus memakan makanan yang sehat dan bergizi baik untuknya dan kandungannya," jawab Nevan.
"Non Alish hamil Tuan?" tanya Lastri tidak percaya.
"Iya Bu, Alisha saat ini sedang hamil, dia hamil anakku Bu," kata Nevan terlihat sangat antusias dan senang saat menyebutkan anaknya.
"Benarkah Tuan? kalau begitu saya sangat senang mendengarnya Tuan semoga Non Alisha dan kandungannya selalu baik-baik saja," kata Lastri tersenyum.
"Iya Bu dan doakan juga ya semoga Alisha mau memaafkan Saya dan menerima saya lagi," kata Nevan penuh harap.
"Iya aamiin Tuan," kata Lastri.
"Baiklah kalau gitu Nevan pergi dulu ya Bu, takut keburu siang," pamit Nevan mulai berjalan meninggalkan Lastri.
__ADS_1
Sementara Lastri hanya menganggukkan kepalanya dan melihat Nevan yang berjalan dengan terlihat senang sambil membawa tas kerjanya dan tempat makan yang berisi makanan untuk Alisha.
Nevan menjalankan mobilnya dengan tenang dan senyuman yang tak pernah luntur dari dari bibirnya itu.
Nevan sesekali bernyanyi mengikuti alunan musik yang diputarnya di mobilnya itu.
Setelah beberapa saat kemudian mobilnya sampai di depan gerbang Alisha tapi Nevan tidak langsung turun dia berdiam diri di mobilnya karena melihat Alisha yang sedang melakukan gerakan-gerakan senam ringan di halaman rumahnya sambil menikmati sinar mentari yang menyoroti tubuhnya.
Nevan mengambil ponselnya dan memvideo Alisha dari dalam mobilnya dia membuka sedikit jendela mobilnya agar Alisha terlihat lebih jelas di video ponselnya.
Alisha dengan santainya melakukan gerakan-gerakan ringan khusus untuk ibu hamil tanpa menyadari kehadiran Nevan di sana.
Hingga beberapa saat kemudian Alisha selesai melakukan senamnya itu dan berniat masuk ke dalam rumahnya.
Nevan yang menyadari Alisha sudah selesai dan akan masuk ke dalam rumahnya menghentikan rekaman videonya dan bergegas turun dari mobilnya.
"Lis," panggil Nevan menghentikan langkah Alisha yang akan memasuki rumahnya.
Nevan berjalan masuk saat gerbang sudah di bukakan oleh Rudi, Nevan mendekati Alisha yang masih berdiri di depan rumahnya.
"Mau apa lagi sih Mas ke sini?" kata Alisha dengan nada datarnya.
"Aku mau memberikanmu ini," kata Nevan menyerahkan tempat makannya kepada Alisha.
"Ini adalah makanan untukmu sarapan aku sengaja membuatkannya untukmu dan calon anak kita ini makanan yang bagus untukmu dan untuk pertumbuhannya," kata Nevan tersenyum dengan menunjuk perut Alisha dengan matanya.
"Tidak perlu Mas, setiap hari juga Alish selalu makan makanan yang sehat dan baik untuk anakku jadi Mas bawa lagi saja makanan itu," kata Alisha tidak menerima makanan itu.
"Tapi Lis aku sudah membuatnya untukmu bisakah kamu menerimanya," kata Nevan menatap Alisha dengan tatapan memohon.
"Alish tidak menyuruh Mas untuk membuatkan makanan itu jadi Mas bawa pergi saja makanannya," kata Alisha.
Setelah mengatakan hal yang cukup menyakiti Nevan itu Alisha pun melanjutkan langkahnya untuk masuk ke rumahnya.
Sementara Nevan masih mematung di tempatnya, kini dia tau bagaimana rasanya tak dihargai seperti yang sering dia lakukan terhadap Alisha dulu.
Dia mengacuhkan Alisha selama berbulan-bulan tidak pernah menghargainya sedikitpun apa yah telah Alisha lakukan untuknya.
Nevan menghela napasnya dia kemudian melihat Mae di dalam rumah dan memanggilnya untuk mendekat.
"Ada apa Tuan?" tanya Mae saat sudah mendekati Nevan.
"Ini Bu Mae simpan ya siapa tau nanti Alish mau memakannya," kata Nevan dengan suara pelan menyerahkan makanan itu ke Mae.
"Iya baiklah Tuan," kata Mae menerima makanan itu.
__ADS_1
"Nanti kalau Alish benar-benar makan, makanan ini tolong videokan secara diam-diam dan kirimkan ke nomor Nevan ya Bu," kata Nevan lagi.
"Baiklah Tuan," jawab Mae menganggukkan kepalanya.
Setelah itu Nevan pergi dari sana dia berharap Alisha mau memakan makanan buatannya itu meskipun tadi dia menolaknya secara mentah-mentah.
Nevan menjalankan mobilnya untuk ke kantornya dan bekerja dengan baik agar dia bisa segera membeli rumah impiannya yang akan menjadi tempat tinggalnya dan Alisha juga anak-anaknya kelak.
Impian yang saat ini menjadi sebuah impian terbesar untuk Nevan, dia meyakini kalau Alisha akan bisa menerimanya lagi dia hanya perlu waktu untuk bersabar menunggu saat itu tiba.
Sementara itu Alisha yang sudah selesai membersihkan dirinya keluar dari kamarnya berniat untuk sarapan.
"Tadi tangan Mas Nevan kenapa ya? apa benar dia habis nonjok sesuatu atau jangan-jangan dia berantem tapi kalau dia berantem kenapa wajah biasa-biasa saja tidak terluka sedikitpun," gumam Alisha sambil berjalan menuruni tangga.
"Jangan terlalu di pikirkan Alish mau dia melakukan apapun terserah dia kenapa kamu yang repot mikirin sih."
"Tapi kalau Mas Nevan benar-benar berantem sama siapa dan karena masalah apa ya, ahh Alisha berhenti memikirkan hal yang tidak seharusnya kamu pikirkan," gumam Alisha hingga tanpa sadar kini dia telah sampai di dapur.
"Non Alish kenapa, apa ada masalah?" tanya Mae yang heran karena melihat Alisha terus bergumam saat memasuki dapur.
"Tidak apa-apa kok Bu," kata Alisha tersenyum dengan menunjukkan sederet giginya.
"Kirain ada apa Non," kata Mae tersenyum.
Alisha hanya tersenyum malu kemudian duduk di meja makan.
Alisha mengerutkan keningnya saat melihat tempat makan yang Nevan bawa tadi ada di meja makan.
"Bu kenapa itu ada di sini?" tanya Alisha kepada Mae.
"Oh ini tadi Tuan Nevan memberikannya kepada Bu Mae katanya daripada mubazir jadi di kasihkan kepada Bu Mae untuk di makan," kata Mae santai sambil membuka makanan itu dan memperlihatkan makanan yang terlihat menggiurkan untuk Alisha.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...