
Happy Reading...
Saat sudah waktunya untuk pulang Alisha membereskan buku-bukunya dan memasukkannya kedalam tasnya.
Dia kemudian keluar dari kelasnya dan menuju parkiran mobilnya.
Saat akan memasuki mobilnya ada yang memanggilnya di belakangnya hingga membuat Alisha menolehkan badannya.
"Alish apa kamu tinggal di apartemen juga?" tanya Fino sambil ngos-ngosan seperti habis lari.
"Iya kenapa gitu?" tanya Alisha.
"Aku nebeng ya, mobil ku rusak dan masih di bengkel," kata Fino dengan tampang memelas.
Alisha berpikir sejenak dia takut akan jadi masalah kalau Nevan melihatnya pulang bareng laki-laki lain.
"Ayolah Al aku nebeng ya, masa sama temen sendiri pelit sih," kata Fino dia memanggil Alisha dengan panggilan Al.
"Sejak kapan kita berteman?" kata Alisha mengerutkan keningnya.
"Sejak sekarang," jawab Fino tersenyum menampilkan sederet giginya yang rata dan putih.
"Memangnya kamu tidak bisa minta Angga saja yang anterin kamu pulang?" tanya Alisha.
"Tadinya juga aku minta tuh anak buat nganterin aku tapi barusan dia suruh cepat-cepat pulang sama mamanya," jawab Fino.
"Baiklah ayo masuk kita pulang sekarang sudah sore nih," kata Alisha membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam mobilnya di susul oleh Fino dengan tersenyum senang.
"Makasih ya Al kamu sudah mau memberikan aku tumpangan," kata Fino saat duduk di dalam mobil.
Alisha menganggukkan kepalanya dan mulai menjalankan mobilnya menuju apartemen.
"Kata Angga kamu sudah menikah ya Al," kata Fino memulai percakapan.
"Iya," jawab Alisha singkat sambil fokus menjalankan mobilnya.
"Sudah lama?" tanya Fino.
"Sudah satu bulan lebih," jawab Alisha.
"Oh berarti masih anget-angetnya ya," gumam Fino pelan.
"Apa?" tanya Alisha melirik sekilas kepada Fino karena mendengar gumaman Fino.
"Tidak ada, pantesan aku baru lihat kamu ada di sana ternyata kamu baru ya tinggal di sana," kata Fino tersenyum.
"Iya aku baru ke sana karena ikut suamiku yang tinggal di sana," kata Alisha.
Fino mangut-mangut mengerti setelah itu mereka sama-sama diam hingga mobil Alisha sampai di gedung apartemen mereka.
Mereka turun dari mobil dan berjalan beriringan menuju lift dan masuk ke lift, tapi saat lift akan tertutup ada seseorang yang langsung masuk kedalam lift itu.
Orang itu adalah Nevan, dia hanya melihat Alisha sekilas, kemudian menghadap ke depan membelakangi Alisha dan Fino yang di belakangnya.
"Oh iya Al kamu di lantai berapa?" tanya Fino kepada Alisha.
"Aku di lantai delapan," jawab Alisha singkat, dia merasa tidak enak berbicara dengan laki-laki lain sementara ada suaminya di depannya.
__ADS_1
"Oh, kalau aku di lantai tujuh, jadi kalau nanti kamu ada perlu apa-apa kamu bisa menghubungiku nanti," kata Fino tersenyum dia kemudian menekan angka tujuh, sesuai dengan lantai unit-nya.
Sedangkan Alisha hanya menganggukkan kepalanya singkat.
Lift pun sudah sampai di lantai tujuh dan Fino langsung keluar dari lift saat lift sudah terbuka.
"Sekali lagi makasih ya tumpangannya," kata Fino sambil tersenyum pada Alisha, saat dia sudah berada di depan lift.
"Iya," jawab Alisha sambil menganggukkan kepalanya.
Setelah Fino keluar Alisha memajukan tubuhnya hingga berdiri di samping Nevan.
"Mas Nevan jangan salah paham dia hanya teman Alish di kampus dan tadi dia ikut pulang bareng Alish karena mobilnya lagi di bengkel," jelas Alisha meskipun Nevan sama sekali tidak perduli tapi Alisha tetap menjelaskannya karena takut Nevan salah paham.
Nevan tidak bicara dia hanya beredehem dan menganggukkan kepalanya.
Lift pun sampai di lantai tempat unit kamar mereka, mereka keluar dari lift dan masuk ke apartemennya.
Nevan langsung menaiki tangga dan masuk ke kamarnya.
"Bu, belum pulang?" tanya Alisha yang melihat Lastri masih ada di sana.
"Baru mau Non, saya sudah masak untuk makan malam Non dan tuan," kata Lastri.
"Oh iya makasih ya Bu, kalau Bu Las mau pulang hati-hati ya pulangnya," kata Alisha.
"Iya Non," jawab Lastri setelah itu dia keluar dari apartemen Alisha.
Setelah itu Lastri keluar dari apartemen Nevan, Alisha masuk ke kamarnya dan mandi setelah itu shalat.
Setelah waktunya untuk makan malam Alisha keluar dari kamarnya dan menuju dapur dia melihat Nevan sudah duduk manis di meja makan dengan pakaian santainya.
"Iya," jawab Nevan.
"Biar Alish siapkan makanannya Mas," tawar Alisha dengan mengambil piring kosong yang ada di depan Nevan kemudian menuangkan nasi dan lauknya ke piring Nevan.
"Ini Mas," kata Alisha menyimpan piring itu ke depan Nevan lagi dan tidak lupa juga dia menyiapkan air minumnya untuk Nevan.
Setelah itu baru dia duduk di samping Nevan dan memulai makan malamnya dengan hati yang senang karena Nevan makan malam dengannya.
Alisha dan Nevan makan dengan tenang dan tidak mengeluarkan suara kecuali suara sendok dan garpu.
Setelah selesai makannya Nevan bangun dari kursinya dan pergi menuju kamarnya sedangkan Alisha dia membereskan meja makan dan mencuci piring kotor bekasnya dan Nevan.
Alisha kembali ke kamarnya untuk beristirahat dia kemudian merebahkan tubuhnya di kasur dan melihat langit-langit kamarnya dengan pikiran berkelana kemana-mana.
Saat sedang menerawang ponsel Alisha berbunyi pertanda ada panggilan masuk dia bangun dan melihat yang menelponnya adalah Bara.
"Halo kak," kata Alisha saat mengangkat telponnya.
"Kamu lagi ngapain Alish," tanya Bara.
"Alish lagi tiduran kak, ada apa kak Bara telpon Alish?" tanya Alisha.
"Ada apa, ada apa, apa kamu lupa sudah waktunya cek-up lagi," kata Bara mengingatkan.
"Oh iya Alisha lupa kak," kata Alisha menepuk keningnya.
__ADS_1
"Besok jangan lupa datang ke rumah sakit," kata Bara.
"Tapi besok Alish ada kelas kak dan pasti pulangnya sore," kata Alisha.
"Mau kamu datang tengah malam pun kakak akan nungguin kamu pokoknya," kata Bara memaksa.
"Ya udah deh Alisha ke rumah sakit setelah pulang kuliah," kata Alisha pasrah.
"Baiklah kakak tunggu, apa vitamin yang kemarin sudah habis?" tanya Bara membuat Alisha menepuk keningnya lagi karena dia hanya meminum Vitamin itu beberapa biji saja dan masih banyak.
"Alisha lupa kak," kata Alisha dengan terkekeh.
"Kebiasaan," cebik Bara.
"Ya udah besok jangan lupa lagi datang ke rumah sakit, sekarang istirahat lah sudah malam," kata Bara.
"Iya kak besok Alish akan datang selamat malam kak Bara," kata Alisha setelah itu sambungan teleponnya terputus.
Saat Alish menyimpan ponselnya dan akan merebahkan kembali tubuhnya dia kaget karena Nevan sudah berada di kamarnya.
Nevan berdiri di samping ranjangnya dengan tangan yang dilipat di dadanya.
"Mas Nevan kenapa Mas ke kamar Alish apa ada yang Mas butuhkan lagi?" tanya Alisha turun dari ranjangnya.
"Buatkan aku kopi," perintah Nevan setelah itu dia pergi keluar dari kamar Alisha.
Alisha mengekor keluar dari kamarnya dan menuju dapur sedangkan Nevan duduk di ruang tengah sambil menonton televisi.
Alisha kembali dari dapur dengan nampan yang berisi secangkir kopi dan cemilan untuk menemani kopinya.
"Ini Mas kopinya," kata Alisha menyimpan kopi dan cemilannya tepat di depan Nevan.
"Tadi kamu teleponan dengan siapa?" tanya Nevan tanpa melihat Alisha dia meniup cangkir kopinya dan fokus pada televisi di depannya.
"Tadi Bara teman Alish Mas," jawab Alisha menundukkan kepalanya.
"Kamu banyak teman laki-laki juga ternyata," kata Nevan dengan nada merendahkan.
"Iya Mas, tapi hanya teman tidak lebih," jelas Alisha.
"Bodo amat mau ada hubungan lebih atau tidaknya aku tidak perduli, sepertinya lebih baik kamu punya hubungan lebih dengan laki-laki lain agar aku bisa lebih mudah menendang mu dari kehidupan ku ini," kata Nevan dalam hatinya.
Dia merasa kesal karena harus menikah dengan Alisha dia menganggap Alisha adalah penyebab orang tuanya tidak menyetujui hubungannya dengan Mesha.
Padahal kalau dipikir-pikir apa kekurangan Mesha itu dia cantik dan dari keluarga yang sudah jelas babat, bibit, bebet, bobotnya tapi orang tuanya malah memaksanya menikah dengan perempuan seperti Alisha, begitulah pikiran Nevan.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...