Ingin Cinta SUAMIKU

Ingin Cinta SUAMIKU
TAMAT.


__ADS_3

Happy Reading....


Dua puluh tahun kemudian....


Aaric dan Fariz kini telah menjadi pria yang beranjak dewasa. mereka hidup layaknya dua saudara yang saling menyayangi satu sama lain karena kekurangan yang Fariz miliki Aaric selalu berada di dekat Fariz untuk melindunginya. bahkan saat mereka masih sekolah Aaric sering berantem dengan orang yang membully Fariz karena Fariz yang tidak bisa bicara dan tidak pernah melawan saat ada orang yang mem-bullynya.


Ya ... Fariz sampai saat ini masih belum bisa bicara juga. entah karena memang dia tidak bisa atau karena dia tidak memiliki keinginan yang kuat untuk kembali berbicara.


Saat Alisha dan Nevan memeriksa keadaannya saat Fariz duduk di sekolah menengah pertama. Dokter mengatakan tidak ada masalah dengan pita suara Fariz, semuanya normal dan baik-baik saja dan menurut psikiater, itu semua terjadi karena Fariz lebih nyaman dengan dirinya yang seperti itu sehingga dia tetap seperti itu. psikiater juga menjelaskan jika Fariz bisa berbicara lagi jika dia sendiri yang memang menginginkan hal itu.


Akhirnya Alisha dan Nevan hanya bisa berharap jika Fariz mau berbicara lagi seperti biasanya. tapi, hingga saat ini usianya sudah 26 tahun Fariz tetap tidak berbicara juga.


"Fariz ke ruangan Papa sekarang bawa apa yang Papa suruh kamu kerjakan tadi," kata Nevan melalui telpon yang ada di meja kerjanya.


Saat ini Fariz mulai bekerja di kantor Nevan karena dia sudah selesai dengan kuliahnya. jadi dia meminta Fariz untuk membantunya mengurus perusahaannya karena Aaric harus membantu Kakeknya mengurus perusahaan Kakeknya itu dan juga mengurus Restoran peninggalan ayah Alisha.


Akhirnya Nevan meminta Fariz membantunya untuk mengurus perusahaannya sambil mengajarkan dia masalah perusahaan juga.


Pintu ruangan Nevan diketuk Nevan yang sudah tahu jika itu adalah Fariz pun menyuruhnya masuk.


Fariz membuka pintu dan masuk ke ruangan itu dengan santai dia langsung menyerahkan sebuah berkas kepada ayah angkatnya itu.


Nevan menerima berkas itu dan memeriksanya setelah merasa puas dengan hasil pekerjaan Fariz dia pun menutup berkas itu dan menatap Fariz.


"Kamu makan siang 'lah di kantin kantor atau di Restoran yang kamu suka. Papa harus Meeting di luar kantor, nanti pulang bawa mobil sendiri saja Papa nanti pulangnya akan telat," kata Nevan menatap Fariz dengan serius.


Fariz menganggukkan kepalanya setelah itu dia membungkukkan badannya sebentar sebagai tanda dia pamit.


Nevan menganggukkan kepalanya Fariz pun keluar dari ruangan itu dia kembali masuk ke ruangannya. Sedangkan Nevan melihat Fariz yang sudah menghilang dari ruangannya itu.


"Sampai kapan dia akan menutup dirinya seperti itu," gumam Nevan.


Nevan pun bangun dari duduknya dan merapikan jasnya kemudian dia keluar dari ruangannya itu meminta Sekertarisnya untuk ikut dengannya karena dia harus meeting di luar kantornya.


Saat sudah waktunya makan siang datang Fariz menuju ke kantin kantor itu untuk makan siang. saat sampai di kantin Fariz langsung menuju ke meja yang kosong untuk duduk, dia tidak memedulikan tatapan beragam dari para karyawan dan karyawati di sana.


Ada yang menatapnya dengan tatapan kasihan, ada yang menatapnya dengan tatapan menghina, mencibir. Baginya tatapan seperti itu sudah menjadi hal yang biasa apalagi saat ini dia hanya berjalan sendiri tanpa Aaric atau Nevan.


Pelayan datang menghampirinya dan menanyakan apa pesanannya. Fariz hanya menunjuk gambar minuman dan makanan yang dia inginkan yang ada di daftar buku menu.

__ADS_1


Setelah itu pelayan itu pergi dan Fariz mengambil ponselnya karena ada sebuah pesan dia tahu itu pasti pesan dari mama angkatnya atau Aaric. Benar saja saat dia melihat ponselnya itu adalah pesan dari Aaric yang menyuruhnya untuk makan siang.


Aaric yang tidak percaya dengan balasan dari Fariz yang mengatakan jika dia sedang di kantin pun meminta Fariz untuk memfoto kantin dan Fariz pun menurutinya, dia memfoto suasana kantin yang sedang ramai itu agar Aaric percaya.


Setelah selesai berbalas pesan dengan Aaric dia kemudian menyimpan ponselnya lagi ke dalam saku celana bahannya.


'Kenapa harus dia sih yang membantu Tuan Nevan di sini kenapa gak Tuan Aaric saja kalau seandainya Tuan Aaric 'kan siapa tau aku bisa mendekatinya," kata salah satu karyawati yang duduk di belakang Fariz dia berbicara dengan pelan. tapi, tetap saja Fariz bisa mendengarnya.


"Hus nanti dia dengar lagi apa yang kamu omongin itu," kata salah satu temannya.


"Iya kalau dia denger bagaimana? lagian kenapa gak kamu dekati saja dia sama aja 'kan sama-sama anaknya Tuan Nevan ini," sahut salah satu temannya.


"Iya kali aku harus deketin orang bisu kayak gitu. meskipun dia juga tampan sih, Tapi kalian 'kan tau sendiri dia hanya anak angkat," kata karyawati yang pertama bicara tadi.


Mendengar perkataan para karyawati di belakangnya itu, Fariz tidak merasakan sedih atau sakit hati sedikit pun karena hal itu sudah biasa baginya.


"Ini makanan anda Tuan," kata pelayan itu sambil menyimpan makanan pesanan Fariz ke meja.


Fariz menganggukkan kepalanya. Pelayan itu pun pergi dari sana dan Fariz memulai makan siangnya dia ingin segera pergi dari sana dan kembali ke ruangannya. Dia tidak terlalu suka lama-lama di tempat keramaian.


Setelah makan siangnya selesai, dia membayar makanannya terlebih dahulu, setelah itu dia langsung pergi dari sana kembali ke ruangannya dan melanjutkan kembali pekerjaannya.


Fariz mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang sedang. saat sampai di depan gerbang dia heran karena biasanya Pak Rudi selalu membukakan gerbang saat mendengar suara mobil. tapi, sekarang tidak ada.


Fariz turun dari mobilnya dia memeriksa gerbangnya tidak terkunci dia kemudian membuka gerbangnya sendiri dan kembali memasuki mobilnya kemudian memasukkan mobilnya.


Fariz mengira mungkin Pak Rudi sedang ada kepentingan makanya tidak ada di rumah. Dia turun dari mobil saat mobilnya sudah diparkirkan di samping mobil Aaric.


Setelah menutup gerbang dia pun berjalan memasuki rumahnya dan saat dia membuka pintu utama rumah itu dia kembali di buat heran karena keadaan rumah sangat gelap.


Dia bertanya-tanya dalam hatinya apakah semua orang rumah sedang pergi sehingga rumah tampak kosong.


Saat sedang dilanda kebingungan tiba-tiba saja semua lampu menyala disertai suara seluruh orang rumah.


"SELAMAT ULANG TAHUN!" kata semua orang dengan serempak.


Semua sedang tersenyum padanya ada Papa dan Mama angkatnya, ada Harry dan Ratih, tidak lupa juga Lastri, Mae, Rudi dan Aaric yang sedang membawa kue di tangannya dengan lilin angka 26.


Melihat hal itu Fariz tersenyum dengan mata berkaca-kaca melihat seluruh keluarga yang telah merawatnya, menyayanginya yang bukan siapa-siapa mereka.

__ADS_1


"Selamat ulang tahun Brother," kata Aaric mendekatinya dengan tersenyum lebar.


"Cepat tiup 'lah lilinnya aku gak sabar mau memakannya kamu tau, ini kue buatan Mama jadi aku mau segera mencobanya apa rasanya sama dengan tampilannya yang menggiurkan," cerocos Aaric berdiri di depannya.


Dia memang tidak berubah dia tetaplah orang yang banyak bicara atau cerewet seperti perempuan.


Fariz menganggukkan kepalanya dia kemudian menuruti keinginan Aaric dengan meniup lilinnya itu hingga padam.


"Selamat ulang tahun, semoga kamu panjang umur dan selalu bahagia," kata Alisha mengusap kepalanya Fariz dan menatapnya dengan sayang.


Fariz tersenyum kepada Alisha, wanita yang menjadi ibu pengganti untuknya dia menganggukkan kepalanya dan mengucapkan terima kasih lewat isyarat.


"Selamat ulang tahun, semoga dengan bertambahnya usiamu sekarang kamu bisa semakin dewasa," kata Nevan menepuk pundak Fariz.


Fariz menganggukkan kepalanya seperti kepada Alisha tadi. setelah Nevan kini giliran Aaric yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada Fariz pria yang menghabiskan waktu setiap saat dengannya pria yang sudah dianggapnya teman dan saudara satu-satunya.


"Selamat ulang tahun. kamu tau kehadiranmu adalah yang paling membuatku bahagia, kehadiranmu membuatku tau rasanya memiliki saudara," Aaric memeluk Fariz dan menepuk punggungnya.


Fariz hanya menganggukkan kepalanya sambil membalas pelukan Aaric, orang yang yang paling penting baginya setelah Alisha dan Nevan.


Fariz tidak menginginkan hal yang lain lagi dalam hidupnya karena dengan bersama keluarga ini dia seperti memiliki semua yang ada di dunia ini.


Karena keluarga ini dia bisa tahu lagi rasanya sebuah kebahagiaan, karena keluarga ini dia bisa merasakan lagi bagaimana rasanya memiliki keluarga, karena keluarga ini pula dia tidak pernah lagi merasakan kesepian, karena keluarga ini juga dia bisa merasakan rasanya disayangi, dilindungi dan dicintai dengan tulus.


.


.


.


.


.


.


.


...TAMAT...

__ADS_1


__ADS_2