
Happy Reading...
Nevan menjalankan mobilnya dengan santai menuju ke rumah Alisha sama seperti hari-hari sebelumnya dia akan mengirimkan sarapan untuk Alisha terlebih dahulu sebelum berangkat ke kantornya.
Meskipun kadang Alisha tidak mau menemuinya saat dia mengirimkan sarapan untuknya tapi kali ini Nevan berharap setelah kejadian semalam Alisha mau menemuinya.
Nevan memarkirkan mobilnya saat sudah sampai di depan rumah Alisha dan turun dari mobilnya.
"Tuan," sapa Rudi sambil membukakan pintu gerbang untuk Nevan.
"Iya Pak," jawab Nevan memasuki gerbang.
"Alish sudah terlihat keluar dari kamarnya?" tanya Nevan.
"Sepertinya sudah Tuan," jawab Rudi.
Nevan pun menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju pintu setelah di depan pintu dia mengetuk pintu rumah Alisha hingga beberapa kali.
Dan pintu pun terbuka kebetulan yang membukakan pintu itu adalah Alisha yang sudah rapi.
"Mas Nevan," kata Alisha.
"Lis, ini aku membawakan sarapan untukmu," kata Nevan memberikan wadah makanan seperti hari-hari sebelumnya.
"Terima kasih Mas, seharusnya Mas tidak perlu repot-repot membuatkan sarapan terus untuk Alish seperti ini," kata Alisha sambil menerima makanan itu.
"Itu tidak repot sama sekali," kata Nevan tersenyum kepada Alisha.
Sedangkan Alisha hanya tersenyum tipis dan singkat saja.
"Ini sudah siang bukankah Mas harus ke kantor," kata Alisha yang seperti sebuah pengusiran untuk Nevan.
"Iya Mas berangkat sekarang, oh iya kamu mau ke mana?" tanya Nevan memberanikan diri bertanya.
"Alish mau ke rumah Kak Bara?" jawab Alisha apa adanya.
"Untuk apa ke sana dan sama siapa ke sananya?" tanya Nevan.
"Kak Bara meminta Alish untuk ke rumahnya dan ke sananya sendiri diantar Pak Rudi," jawab Alisha.
"Oh baiklah kalau gitu Mas pergi dulu ya, kamu nanti hati-hati ya," kata Nevan dengan menghela napas berat.
"Iya Mas," jawab Alisha singkat.
Nevan pun berjalan menuju ke mobilnya untuk pergi dari rumah Alisha dia merasa tidak tenang karena Alisha akan pergi ke rumah Bara.
"Untuk apa dokter itu meminta Alish untuk datang ke rumahnya? apa dia bener-bener memiliki perasaan lebih terhadap Alish?" tanya Nevan pada dirinya sendiri.
Nevan menjalankan mobilnya menuju kantornya dengan pikiran yang berkeliaran kemana-mana dia memikirkan apa yang akan terjadi antara Alisha dan Bara di rumah Bara.
Nevan berpikir hubungan antara Bara dan Alisha ternyata sudah terlalu jauh, buktinya Alisha bahkan tahu rumah Bara dan entah berapa kali Alisha ke rumah Bara.
__ADS_1
Pikiran-pikiran seperti itu terus bermunculan dalam pikirannya hingga hampir saja membuat Nevan kehilangan konsentrasinya saat sedang mengadakan pertemuan dengan klien dari Malaysia.
Dan hampir saja dia tidak jadi menjalin kerjasama dengan perusahaan dari Malaysia itu.
"Semoga kerja sama perusahaan kita berjalan dengan baik Tuan, sampaikan salam saya kepada Tuan Hamid," kata Nevan sambil berdiri dari kursi dan mengulurkan tangannya.
"Iya Tuan Nevan, nanti akan saya sampaikan begitu saya sampai di Malaysia," jawab Klien Nevan dengan berbicara melayu dan menerima uluran tangan Nevan.
"Saya tidak bisa lama-lama Tuan karena masih ada keperluan lain sebelum kembali ke Malaysia," kata Klien Nevan.
"Oh iya Tuan semoga semua urusan Anda berjalan dengan lancar," kata Nevan mengantarkan Kliennya sampai ke lobby kantornya.
"Iya Aamiin Tuan, Saya permisi dulu Tuan," pamit Klien Nevan.
"Iya Tuan," Negara membungkukkan badannya.
Klien Nevan pun masuk ke dalam mobilnya dan mulai menjauhi pelataran kantor Nevan setelah melihat mobil kliennya sudah jauh Nevan kembali ke ruangannya.
Nevan mendudukkan dirinya di kursi kerjanya dia menghela napas panjang untuk memenangkan perasaannya yang berkecamuk.
Nevan mengambil ponselnya dia membuka kunci di ponselnya dan melihat kontak Alisha sebenarnya dia ingin sekali menelpon Alisha tapi takut mengganggu Alisha.
"Kamu sedang apa Lis," gumam Nevan tidak tenang.
"Berhenti berpikir yang tidak-tidak Nevan mungkin saja Alish ke rumah Dokter itu karena di suruh oleh ibunya dokter itu," gumam Nevan mengacak-acak rambutnya karena tidak bisa berhenti memikirkan Alisha.
Karena merasa tidak tenang juga Nevan pun mencoba menelpon Alisha karena sudah waktunya makan siang jadi dia bisa beralasan menanyakan apakah Alisha sudah makan siang atau belum.
"Halo," jawab Alisha dari seberang sana.
"Baru mau Mas kenapa gitu?" tanya Alisha.
"Tidak kenapa-napa Lis aku hanya ingin menanyakan itu saja," jawab Nevan.
"Oh ya udah kalau gitu Alish tutup dulu ya telponnya Mas, gak enak sama Kak Bara dan keluarganya, Alish telponan saat akan makan siang seperti ini," kata Alisha.
"Oh baiklah," kata Nevan setelah itu sambungan telponnya terputus.
Nevan berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran dalam kepalanya dan mencoba memfokuskan pikirannya dengan masalah pekerjaan.
Sementara itu di tempat Alisha sekarang dia kembali ke meja makan setelah barusan menjauh untuk mengangkat telpon dari Nevan.
"Maaf ya Kak, Om, Tante, barusan Alish angkat dulu telpon," kata Alisha kepada Bara, Irene dan kedua orang tua Irene yang sedang berkunjung ke rumah Irene.
"Tidak apa-apa Lis, barusan suami kamu ya, gak nyangka ya kamu sudah nikah aja bahkan sudah mau punya anak padahal serasa baru kemarin Tante ngasuh kamu saat Ayah kamu sedang pergi," kata Mamanya Irene yang memang sudah dekat Alisha dan Ayah Alisha dari lama.
"Iya Tante, Alish juga gak nyangka waktu terasa begitu cepat," kata Alisha sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Rumah kamu masih di rumah yang dulu?" tanya Mama Irene.
"Iya Tante Alish ingin selalu berada di rumah itu karena rumah itu banyak kenangan ayah dan ibu," kata Alisha.
__ADS_1
Mama Irene menganggukkan kepalanya kemudian melanjutkan lagi makannya dan tidak ada lagi pembicaraan antara mereka.
Tadi pagi Irene memang menelpon Alisha dan meminta Alisha untuk ke rumahnya karena orang tuanya sedang berkunjung dan ingin bertemu dengannya.
Alisha pun mengiyakannya dan di sinilah dia sekarang di rumah Bara dan Irene untuk bertemu dengan orang tua Irene yang dulu adalah tetangganya.
Setelah selesai makan siang mereka pun berkumpul di ruang keluarga sedangkan Bara harus kembali ke rumah sakit karena dia hanya pulang untuk makan siang saja.
"Kak Alish, dia laki-laki atau perempuan?" tanya Seryl yang duduk di samping Alisha dan mengusap perut Alisha.
"Belum tau karena Kak Alish baru akan memeriksanya tiga mingguan lagi," jawab Alisha
"Oh gitu ya," kata Seryl menganggukkan kepalanya.
"Apa dia masih lama keluarnya Kak?" tanya Seryl lagi dengan mendongak melihat Alisha.
"Sekitar lima bulanan lagi," jawab Alisha.
"Masih lama ternyata," kata Seryl.
"Seryl kamu tidur siang dulu gih," kata Irene kepada Seryl.
"Iya Ma," jawab Seryl menganggukkan kepalanya dan pergi dari sana menuju ke kamarnya.
"Kamu mau pulang sekarang Lish?" tanya Irene kepada Alisha.
"Iya Kak," jawab Alisha menganggukkan kepalanya.
"Mau di anterin sama supir Kakak atau mau di jemput?" tanya Irene.
"Di jemput Kak, sekarang supir Alishnya sudah di jalan," kata Alisha.
"Baiklah," kata Irene setelah itu mereka mengobrol untuk beberapa saat sampai Rudi yang menjemput Alisha sampai di sana.
Saat Rudi sampai di rumah Irene, Alisha langsung berpamitan untuk pulang kepada Irene dan kedua orang tuanya.
Selama di perjalanan Alisha tidak bicara dia hanya melihat aktivitas di jalan melalui jendela mobilnya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...