
Happy Reading...
Alisha saat ini sedang melihat perkembangan calon anaknya melalui layar USG dia tersenyum senang melihat anaknya berkembang dengan sangat baik dan normal.
Alisha berharap semoga anaknya selalu baik-baik saja dan selalu sehat sampai waktunya dia untuk lahir tiba.
"Lihatlah sepertinya dia benar-benar ingin melihat dunia ini hingga dia berkembang dengan sangat baik meskipun sebenarnya itu tidak mudah," jelas Dokter Desi atau Mamanya Bara dengan pandangan fokus ke layar dan tangannya menggerakkan alatnya di perut Alisha.
"Iya Tante syukurlah kalau dia baik-baik saja," Kata Alisha tersenyum tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar USG.
Alisha juga dapat mendengar detak jantung anaknya itu, detak jantungnya seperti sebuah melodi yang sangat indah menurut Alisha melodi yang mampu menenangkan hati Alisha.
"Kapan kita bisa melihat dia laki-laki atau perempuan Tan?" tanya Alisha menatap Desi.
"Sepertinya bulan depan kalau kita beruntung kita bisa melihat jenis kelaminnya karena bulan depan sudah menginjak usia lima bulan," jawab Desi.
Alisha pun menganggukkan kepalanya dengan antusias dan tersenyum.
Dokter Desi pun selesai melakukan USG nya dia meminta suster untuk membersihkan perut Alisha yang telah diolesi jel untuk mempermudah USG.
Alisha dibantu turun dari kasur oleh suster dan mengikuti Dokter Desi untuk duduk di meja kerjanya.
"Apa kamu selalu meminum vitamin yang Tante berikan?" Tanya Desi menatap Alisha serius.
"Iya Tante vitamin atau obat yang Tante dan Kak Bara berikan selalu Alish minum dengan teratur," jawab Alisha menganggukkan kepalanya.
"Baguslah kalau begitu...."
Desi tidak melanjutkan perkataannya dia hanya menghela napas panjang dengan menatap Alisha intens.
"Apa ada masalah Tan?" tanya Alisha karena melihat Desi seperti itu.
"Bayi kamu memang berkembang dengan sangat baik tapi tidak dengan diri kamu sendiri Lis, semakin bayi kamu membesar semakin terganggu juga kinerja ginjal kamu dan itu menyebabkan komplikasi di bagian organ-organ dalam kamu yang lainnya," kata Desi.
"Kamu tau 'kan Bara sudah menjelaskannya bahwa kehamilan yang terjadi pada penderita gagal ginjal seperti kamu merupakan kehamilan yang beresiko tinggi karena kehamilan pada orang yang tidak memiliki riwayat gangguan ginjal saja dapat menyebabkan kelainan pada ginjal seperti infeksi saluran kemih, hipertensi dan lainnya."
"Apalagi kamu yang hanya memiliki satu ginjal dan ginjal kamu pun sudah bermasalah dari awal," jelas Desi kepada Alisha.
"Alish tau hal itu pasti terjadi Tante dan Alish sudah mempersiapkan diri Alish untuk hal terburuk yang akan terjadi pada diri Alish sendiri, asal Alish bisa bertahan sampai melahirkan anak ini semuanya sudah cukup untuk Alish," kata tetap tersenyum tidak terlihat sedikitpun bahwa dia merasa ketakutan meski tahu perkiraan hidupnya mungkin tidak akan lama lagi.
"Bukankah semua itu percuma Lis," kata Desi.
"Percuma? maksud Tante?" tanya Alisha tidak mengerti.
__ADS_1
"Bukankah semua itu percuma, kamu mempertahankan anak itu sedangkan kamu tidak akan bisa merawatnya dan menjaganya, kamu akan meninggalkannya untuk selamanya Lis, siapa yang akan menjaganya kalau kamu pergi nanti?" Kata Desi.
Mendengar perkataan Desi Alisha hanya tersenyum dan mengusap perutnya yang sudah sedikit membuncit itu.
"Dia masih memiliki Kakek dan Nenek yang Alish yakini akan menyayanginya dan merawatnya dengan sangat baik, meskipun nanti Papanya tidak mau merawatnya tapi Kakek dan Neneknya pasti akan sangat bahagia dengan kehadirannya," kata Alisha tersenyum kepada Desi.
Desi hanya bisa menghela napas panjang melihat tekad Alisha yang begitu kuat untuk mempertahankan anaknya itu meskipun nyawanya lah yang akan menjadi taruhannya.
"Apa kamu sudah memberitahu tentang anak ini kepada mereka?" tanya Desi.
"Belum Tan, Alish nunggu waktu yang pas untuk memberitahu tentang ini kepada orang tua Mas Nevan," jawab Alisha.
"Hemm baiklah, kamu harus jaga kesehatan kamu jangan makan makanan sembarangan, makan makanan yang bergizi baik untukmu dan anakmu dan jangan kelelahan," Kata Desi.
"Iya Tante terima kasih untuk semuanya kalau gitu Alish pulang dulu ya Tante," pamit Alisha bangun dari kursi.
"Iya hati-hatilah," kata Desi menganggukkan kepalanya.
Alisha pun keluar dari ruangan praktek Desi dia berjalan keluar dari rumah sakit menuju ke lobby.
Alisha mencari keberadaan sopir sekaligus Security-nya yang tadi mengantarkannya ke rumah sakit tapi dia tidak melihatnya maupun mobilnya.
"Kemana Pak Rudi," gumam Alisha celingukan.
Alisha mencari asal suara karena merasa ada yang memanggilnya dan ternyata Fino sedang berjalan kearahnya.
"Fino, kamu ngapain di sini?" tanya Alisha heran.
"Aku sengaja menjemputmu karena tau hari ini kamu habis cek kandungan dan barusan aku menyuruh sopirmu untuk pulang duluan," jawab Fino saat sudah berada didekatnya.
"Kamu sudah pulang kuliah emang?" tanya Alisha dijawab anggukkan oleh Fino.
"Tunggu di sini ya aku ambil mobil dulu di sana," kata Fino dan berjalan dengan cepat ke arah mobilnya yang di parkiran.
"Kenapa gak sekalian saja tadi bawa mobilnya ke sini dasar aneh," gumam Alisha menggelengkan kepalanya.
Fino mendekatkan mobilnya ke depan Alisha dan meminta Alisha untuk segera masuk ke mobilnya.
Alisha pun masuk kedalam mobilnya dan duduk di samping Fino yang duduk di depan kemudi.
"Tumben Angga gak ikut, kemana dia," kata Alisha.
"Dia di suruh pulang oleh Mamanya karena hari ini katanya ada pertemuan keluarga gitu, biasalah dia itu kalau Mamanya yang nyuruh pulang tidak akan memperdulikan apapun lagi, dasar anak Mama," kata Fino dengan terkekeh.
__ADS_1
"Dia bukan anak Mama tapi dia anak yang berbakti sama orang tuanya dan dia lebih mengutamakan orang tuanya daripada orang lain, itu adalah hal yang bagus seharusnya kamu contoh dia bukannya cuek banget ke orang tua, barusan juga kenapa gak sekalian masuk dulu ketemu sama tante Desi malah nungguin aku di luar anak macam apa itu," omel Alisha kepada Fino.
"Iya, iya, bumil jangan ngomel terus, nanti si Bytrong stres dengar omelan kamu itu," kata Fino terkekeh sambil fokus pada setirnya dia tidak mau berdebat dengan wanita hamil di sampingnya itu karena tidak akan menang.
"Dilla belum pulang juga ya, tumben gak ikut juga," kata Alisha melihat kearah Fino.
"Sudah, malahan duluan dia pulangnya daripada aku dan Angga tapi dia bilang dia harus langsung pulang karena mau berburu oleh-oleh dari orang tuanya yang baru saja pulang dari luar negeri," kata Fino.
Alisha pun menganggukkan kepalanya setelah itu mereka sama-sama diam, hingga beberapa saat kemudian Alisha berbicara lagi.
"Fin, jalan-jalan dulu yuk udah lama gak jalan-jalan nih," ajak Alisha.
"Baiklah tapi gak lama-lama ya dan gak jauh-jauh juga," Kata Fino, dijawab anggukkan oleh Alisha.
"Kamu mau jalan-jalan kemana?" tanya Fino.
Alisha nampak berpikir beberapa saat memikirkan kemana dia harus pergi, jarang-jarang di bisa keluar.
"Kayaknya jalan-jalan ke Mall dan nonton bakal seru deh," kata Alisha dengan antusias.
"Baiklah kita akan langsung ke sana tapi jangan terlalu lama di sananya aku gak mau kamu kecapean dan sampai kenapa-kenapa nanti aku juga yang akan disalahkan oleh Kak Bara dan Mamaku," kata Fino
"Baiklah aku hanya ingin melihat-lihat perlengkapan bayi saja," kata Alisha antusias.
"Bukannya gak boleh ya, kalau kandungan masih kecil beli perlengkapan bayi seperti itu?" tanya Fino.
"Entahlah, gak tau mitos atau fakta tentang hal itu tapi aku gak akan beli apa-apa aku hanya ingin lihat-lihat saja," jawab Alisha.
"Baiklah," jawab Fino dia pun melajukan mobilnya menuju ke tempat yang Alisha inginkan.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...