Ingin Cinta SUAMIKU

Ingin Cinta SUAMIKU
Kegundahan Nevan.


__ADS_3

Happy Reading...


Nevan bingung dengan apa yang harus dilakukannya sekarang, niat yang awalnya sudah bulat akan berpisah dengan Alisha menjadi sebuah keraguan dalam hatinya.


Tapi dia juga tidak mungkin mempertahankan pernikahannya itu karena dia tidak memiliki perasaan apapun terhadap Alisha dan dia masih mencintai Mesha meskipun Mamanya bicara seolah Mesha sudah mengkhianatinya tapi dia masih membantah semua itu.


Tapi Alisha telah menolongnya, menyelamatkan nyawanya dan dia juga telah mengambil kesucian Alisha yang seharusnya di dapatkan oleh suaminya kelak.


"Kamu kenapa sih sayang, aku perhatikan akhir-akhir ini kamu sering melamun apa ada masalah," kata Mesha melingkarkan tangannya di lengan Nevan dan menyandarkan kepalanya di pundak Nevan.


Saat ini mereka sedang duduk di sofa apartemen Nevan, Nevan baru saja pulang dari kantor.


"Aku baik-baik saja Sha, hanya sedang memikirkan masalah pekerjaan saja yang semakin banyak akhir-akhir ini," kata Nevan tersenyum kepada Mesha.


"Terus kapan kamu akan meresmikan hubungan kita, kita tunangan dulu apa langsung nikah?" tanya Mesha.


"Nanti aku pikirkan lagi, sekarang aku masih sibuk jadi belum sempat mengurus perceraianku dengan Alisha," jawab Nevan.


"Lama banget sih, bukannya wanita itu sudah menandatangani surat gugatan cerainya beberapa hari yang lalu ya, kenapa belum kamu urus juga," kata Mesha tidak sabar.


"Aku 'kan sudah bilang aku sibuk jadi belum sempat," kata Nevan bohong dia sebenarnya masih bingung dengan jalan yang harus di ambilnya.


"Kalau gitu kita percepat saja pertunangan kita," kata Mesha,


"Aku masih berstatus suami Alisha Sha, jadi gak mungkin tunangan kita di percepat."


"Tapi aku sudah tidak bisa nunggu lagi, lagian yang tau kamu masih berstatus suami Alisha hanyalah aku dan keluarga kamu jadi orang lain masih menganggapmu belum menikah," kata Mesha memaksa.


"Tapi Sha...."


"Apa kamu berubah pikiran untuk bersamaku, apa kamu akan membatalkan rencana yang sudah kita persiapkan sebelumya hah? apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi karena tidak ada yang spesial lagi dalam diri aku," kata Mesha memotong perkataan Nevan dan menangis.


"Kalau kamu memang sudah bosan denganku bilang saja biar aku akan pergi dari hidupmu selamanya," kata Mesha berdiri dan akan oergi dari apartemen Nevan.


"Tunggu Sha, baiklah kita akan bertunangan dulu oke, aku akan mempersiapkan semuanya dalam beberapa hari lagi," kata Nevan menahan tangan Mesha.


"Benar, kamu tidak bohongin aku 'kan," kata Mesha meyakinkan Nevan.


"Iya aku beneran dan tidak bohongin kamu."


Mendengar perkataan Nevan Mesha menghapus air matanya dan langsung memeluk Nevan.


Nevan membalas pelukan Mesha dengan hati yang berkecamuk.


"Aku mencintaimu," kata Mesha yang langsung menyambar bibir Nevan dengan rakus dan saat Mesha akan melakukan hal yang lebih jauh lagi Nevan menghentikannya.


"Sebentar lagi kita makan malam, mau makan malam dimana?" tanya Nevan menghentikan aksi Mesha dan menjauhkan dirinya dari Mesha.


Entah kenapa setelah melakukan hal itu dengan Alisha, Nevan selalu menolak Mesha karena dia selalu teringat Alisha saat dia akan menyentuh Mesha, hingga membuatnya tidak melanjutkan untuk menyentuh Mesha.

__ADS_1


"Di luar saja," jawab Mesha singkat.


"Baiklah aku mau ganti baju dulu ya," kata Nevan dijawab anggukkan oleh Mesha.


Mesha menatap punggung Nevan yang mulai menghilang secara perlahan dari balik pintu kamarnya dengan kecewa, akhir-akhir ini Nevan selalu menghindarinya.


Tidak seperti sebelumnya meskipun dia tidak menggoda Nevan tapi Nevan dengan sendirinya menjamahnya.


Dan sekarang Nevan seolah enggan untuk berhubungan dengannya, entah apa yang terjadi dengan Nevan sehingga dia seperti itu.


Setelah beberapa saat kemudian Nevan pun keluar dari kamarnya dengan sudah mengenakan pakain casual.


...****************...


Sementara itu di tempat lain Alisha dan teman-temannya baru sampai di rumah Fino untuk acara BBQ perayaan ulang tahun Fino.


Fino mengajak teman-temannya masuk ke rumahnya terlebih dahulu untuk berkenalan dengan orang tuanya.


Saat memasuki rumah Fino tiba-tiba ada yang memanggil Alisha.


"Kak Alish," suara yang sangat Alisha kenali memanggil namanya hingga membuat Alisha mengalihkan perhatiannya ke asal suara.


"Seryl kamu sedang apa di sini?" Tanya Alisha heran karena melihat Seryl anaknya Bara sedang berjalan menuju ke arahnya.


"Kamu kenal sama keponakanku?" tanya Fino heran Karena Alisha mengenal Seryl begitupun sebaliknya.


"Keponakan kamu?" tanya Alisha kepada Fino.


"Ayo aku kenalkan dulu kalian ke keluargaku," ajak Fino. Alisha, Angga dan Dilla pun mengikuti langkah Fino menuju ke ruang keluarga dengan Seryl yang menggandeng tangan Alisha.


"Ma, Pa, Kak, kenalin ini teman-teman Fino," kata Fino memperkenalkan Alisha dan teman-temannya ke orang tuanya dan Kakaknya yang ternyata adalah Bara.


Alisha dan teman-temannya mengalami orang tua Fino.


"Alish, kamu sama Fino berteman?" tanya Bara.


"Iya Kak, Kak Bara Kakaknya Fino ternyata," kata Alisha yang memang baru tahu tentang keluarga Bara.


"Iya dia adik yang selalu Kakak ceritakan padamu," kata Bara menunjuk Fino.


"Adik yang Kakak bilang bandelnya gak ketulungan itu," kata Alisha terkekeh. di balas anggukan oleh Bara.


"Aku gak bandel Kak, aku hanya mencari perhatian kalian saja yang selalu cuekin aku terus," bela Fino.


"Kalau kamu masih SD itu wajar kalau masih nyari perhatian kita, lah sudah SMA kelakuannya gak karuan, untung saja Mama dan Papa punya stok kesabaran yang banyak kalau tidak sudah disuntik mati kali kamu itu, karena setiap minggu Papa atau Mama harus ke sekolah kamu karena dipanggil sama guru kamu," kata Bara sambil menjitak kepala Fino sampai Fino meringis.


Fino adalah anak yang lumayan bandel saat SMA ada saja tingkahnya yang membuat orang tuanya dipanggil ke sekolah karena ulahnya, untung saja orang tua Fino adalah sosok yang sabar sehingga mereka hanya menasehati Fino tidak sampai menghukumnya hingga akhirnya saat akan Ujian Nasional, barulah Fino serius sekolahnya karena dia tidak mau sampai tidak lulus.


"Sudah jangan ribut Fin, kamu bawalah teman-teman kamu ke halaman samping, bahan-bahannya sudah tersedia di sana," kata Mama Fino menghentikan percekcokan antara Fino dan Bara.

__ADS_1


"Baiklah ayo Kakak juga ikutan ya," kata Bara bangun dari duduknya bersama dengan Irene.


Irene dan Alisha saling bertanya kabar mereka dan berbincang sambil berjalan menuju halaman yang ada disamping rumah orang tua Fino.


Para wanita duduk lesehan dengan beralaskan tikar menyiapkan bumbu dibantu Art orang tua Fino, sedangkan para pria membakar daging-dagingnya.


Sedangkan Seryl dari tadi dia selalu menempel pada Alisha tidak mau jauh bahkan duduk pun harus berdekatan sampai Bara memanggilnya barulah dia pergi dari Alisha.


"Gimana proses perceraian kamu Lis?" tanya Irene saat Seryl sudah menjauh dari Alisha.


"Alish sudah menerima surat gugatan cerai dari Mas Nevan dan sudah menandatanganinya tapi belum dapat kabar lagi, Kak," jawab Alisha.


"Apa mungkin suami kamu berubah pikiran Lis, hingga dia membatalkan perceraian kalian," kata Dilla berpendapat.


"Tidak mungkin Mas Nevan berubah pikiran, mungkin belum di proses saja dari pengadilannya," kata Alisha menyanggah pendapat Dilla.


"Siapa tau saja Lis tiba-tiba dia merasa kehilangan saat tidak ada kamu dan dia sadar ternyata dia mencintaimu," kata Dilla.


"Itu tidak mungkin banget Dil," sanggah Alisha.


"Tapi kalau itu terjadi gimana? apa yang akan kamu lakukan?" tanya Irene.


Alisha tidak menjawabnya dia hanya mengangkat bahunya karena dia yakin itu semua tidak akan mungkin terjadi mengingat Nevan sangat mencintai Mesha.


Setelah beberapa saat kemudian daging-dagingnya sudah matang, mereka membawanya ke meja makan, dimana Papa, Mama Fino dan Bara sudah menunggu di sana dengan menu makanan yang teramat banyak hingga memenuhi meja makan yang berukuran besar itu.


"Waaah ... makan banyak nih," kata Angga dengan mata berbinar saat sudah di dekat meja makan.


"Jangan malu-maluin deh Ga, lihat makanan banyak gini sampai kayak mau keluar aja tuh mata, kayak yang gak makan beberapa hari saja," kata Dilla ketus.


Sedangkan Angga tidak menggubrisnya dia dengan santainya duduk di salah satu kursi yang ada di sana.


"Ayo kalian juga duduklah jangan sungkan," kata Papa Fino.


Alisha dan Dilla pun menganggukkan kepalanya dan duduk menyusul Angga setelah itu mereka semua makan malam dengan suasana yang hangat karena orang tua Fino dan Bara adalah orang yang humbel sehingga gampang mengakrabkan diri dengan mereka.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2