
Happy Reading...
"Mas Nevan mau sarapan dulu?" tanya Alisha saat melihat Nevan sedang menuruni tangga.
"Bisakah kamu tidak usah sok perhatian padaku," kata Nevan dengan menatap tajam Alisha seolah Alisha adalah musuhnya.
"Alish hanya berusaha untuk menjalankan tugas Alish sebagai istri Mas Nevan," kata Alisha menatap Nevan dengan tatapan teduhnya.
Untuk beberapa saat Nevan terpaku saat melihat tatapan mata Alisha dan senyuman Alisha yang seolah tidak pernah luntur dari bibirnya.
"Aku tidak butuh itu," kata Nevan saat sudah kembali menyadarkan dirinya.
Nevan pun melewati Alisha begitu saja, saat Nevan sudah di ambang pintu Alisha memanggilnya sehingga membuat dia berhenti sejenak.
"Mas hari ini Alish ada kelas, dan setelah selesai Alish akan ke rumah ayah dulu untuk mengambil mobil," kata Alisha.
"Terserah," jawab Nevan kemudian keluar dari apartemen itu.
Alisha melihat bayangan suaminya yang semakin menghilang di balik pintu apartemennya.
"Non Alish baik-baik saja?" tanya Lastri yang tiba-tiba sudah berada di belakang Alisha.
"Astaghfirullahalazim Bu Las selalu saja ngagetin," kata Alisha mengusap dadanya karena kaget.
"Habis non Alish dari tadi Bu Las perhatikan terus lihatin pintu padahal tuan Nevan sudah pergi dari tadi," kata Lastri terkekeh.
"Bu Las apa Alish tidak pantas ya untuk Mas Nevan?" tanya Alisha secara tiba-tiba kepada Lastri.
"Non Alish sangat pas untuk tuan Nevan, karena selain cantik non Alish juga sangat baik hanya saja saat ini tuan Nevan belum menyadari hal itu," kata Lastri memegang tangan Alisha.
"Non Alish hanya perlu membuat tuan Nevan sadar kalau non Alish adalah istri terbaik untuknya, non Alish bersabarlah dan berdoalah kepada Allah agar membukakan pintu hati tuan Nevan untuk non Alish," Lastri mengusap tangan Alisha
"Terima kasih ya Bu Alish merasa saat ini Alish mempunyai ibu lagi," kata Alisha memeluk tubuh Lastri.
"Non Alish bisa menganggap Bu Las sebagai ibu non Alish kalau non Alish mau," kata Lastri mengusap punggung Alisha yang sedang memeluknya.
"Iya Bu," Alisha menganggukkan kepalanya.
"Bukankah non Alish mau ke kampus ini sudah siang loh non," kata Lastri.
"Oh iya hampir lupa kalau gitu Alish mau siap-siap dulu ya Bu," Alisha menepuk keningnya dan pergi ke kamarnya.
Sementara Lastri kembali mengerjakan pekerjaannya lagi.
Alisha sudah selesai dia keluar dari kamarnya dengan memakai baju model sabrina lengan panjang dan celana jeans panjang.
Alisha pergi ke meja untuk sarapan terlebih dahulu dan seperti biasa dia mengajak Lastri untuk sarapan bersama.
Setelah selesai sarapannya Alisha buru-buru keluar dari apartemennya karena dia takut telat saat sampai di lobby apartemennya dia mau mengambil ponsel di tasnya dan dia tidak sengaja menabrak seseorang di depannya hingga membuat barang bawaan orang itu berjatuhan.
"Aduh maaf Mas saya buru-buru jadi tidak berjalan dengan benar," kata Alisha yang membantu orang itu mengambil beberapa buku yang di lantai.
"Sekali lagi saya mohon maaf Mas," kata Alisha menyerahkan buku-buku itu kepada pria yang ditabrak nya.
"Iya tidak apa-apa," kata pria itu tersenyum kepada Alisha dan menerima bukunya dari Alisha.
"Kalau begitu saya permisi Mas," pamit Alisha setelah itu pergi karena taksi online yang dipesannya sudah datang.
Sementara pria yang di tabrak Alisha terus melihat Alisha yang semakin menjauh dari sana.
__ADS_1
"Cantik," gumam pria itu kemudian pergi dari sana.
Saat sampai di kampusnya Alisha langsung ke gedung fakultas kedokteran tempatnya untuk belajar. Alisha bernapas lega karena dosennya belum ada dia kemudian duduk di bangkunya.
Beberapa saat kemudian dosennya masuk kedalam kelas dan materi pelajarannya pun di mulai.
...****************...
Kelas pun berakhir Alisha membereskan buku-bukunya dia berniat akan makan siang dulu ke kantin setelah itu ke perpustakaan.
Alisha bergegas ke kantin dan memesan makanan dia duduk sendiri di kantin itu. Alisha makan dengan tenang tanpa menghiraukan sekitarnya.
"Hai Lis," sapa seorang pria yang tiba-tiba duduk di depan Alish.
"Jawab kali Lis sapaan ku," kata pria itu.
"Hai Angga," jawab Alisha singkat.
Angga adalah teman satu SMA dengan Alisha dia kuliah di jurusan fakultas ekonomi bisnis di kampus itu hanya Angga satu-satunya yang Alisha kenal.
"Lis aku dengar ayah kamu sudah meninggal ya? kamu yang sabar ya," kata Angga tumben berbicara benar.
"Tumben bicara kamu benar ga," kata Alisha sambil makan makanannya.
"Aku 'kan biasanya juga benar Lis," kata Angga berdecak.
"Kamu sudah selesai kelasnya?" tanya Angga di jawab anggukan oleh Alisha.
"Aku juga sudah selesai," kata Angga.
"Kamu habis ini mau kemana?" tanya Angga.
"Aku ikut lah aku juga bosan nih bingung mau ngapain udah gak ada kelas mau pulang males," kata Angga.
"Tumben biasanya juga kamu suka nongkrong sambil godain mahasiswi di sini," Ledek Alisha.
"Bosen aku godain mereka mau godain kamu aja boleh gak?" canda Angga menaik turunkan alisnya.
"Tidak bisa karena ini lihat," kata Alisha memperlihatkan cincin di tangannya.
"Yaampun Alisha kamu sudah tunangan gak undang-undang aku jahat kamu," Angga heboh sendiri.
"Diam Angga ih jangan berisik," kata Alisha.
"Habisnya kamu tunangan tidak ngundang aku sama sekali padahal kita teman loh," kata Angga.
"Ini bukan cincin tunangan tapi cincin nikah," kata Alisha membuat mata Angga melotot.
"Apa nikah," kata Angga lagi dengan suara yang keras sehingga orang yang ada di sana menatap mereka aneh.
"Diam," kata Alisha kesal dia kemudian bangun dan menuju kasir untuk membayar makanannya.
"Ehh tunggu Lis," kata Angga mengejar Alisha yang sudah lebih dulu keluar kantin.
"Jadi kamu benar-benar sudah nikah Lis kapan?" tanya Angga mengikuti langkah Alisha.
"Tepat di hari ayahku meninggal," jawab Alish dengan terus berjalan menuju perpustakaan.
"Kok bisa Lis kamu nikah secara mendadak begini bukankah kamu tidak punya pacar ya," kata Angga heran.
__ADS_1
"Aku dan suami aku di jodohkan oleh orang tua kami," kata Alisha dia memilih buku yang akan di bacanya.
"Jadi kalian dijodohkan?" tanya Angga.
"Iya karena ayah ku ingin aku menikah saat dia masih hidup jadi aku mengikuti keinginannya," kata Alisha, dia mendudukkan dirinya di kursi.
"Terus perasaan kamu kepada suami kamu bagaimana?" tanya Angga
"Yang jelas aku menyukainya lah," kata Alisha dia kemudian mulai membuka buku yang dipinjamnya.
"Kalau suami kamu?" tanya Angga.
"Ga bisa diam tidak aku mau baca nih," kata Alisha mulai membuka bukunya.
"Iya maafin aku, aku diam deh," kata Angga dia kemudian mengambil salah satu buku yang Alisha ambil dia kemudian membuka bukunya dan pusing sendiri.
"Apa kamu tidak pusing menghafal ini Lis," kata Angga yang tidak di hiraukan oleh Alisha karena dia sedang serius.
Angga menunggu dengan sabar di sana hingga saat Alisha selesai membacanya. Alisha selesai membacanya dan menyimpan kembali buku-buku yang tadi di bacanya ke rak.
"Aku anterin pulang yuk," ajak Angga.
"Boleh deh aku mau ngambil mobil di rumah ayah," kata Alisha.
Mereka berjalan menuju parkiran tempat mobil Angga parkir.
"Kamu tinggal di mana sekarang Lis?" tanya Angga saat dia mulai melajukan mobilnya.
"Aku tinggal di apartemen Mas Nevan," jawab Alisha.
"Oh," kata Angga singkat setelah itu mereka tidak berbicara lagi hingga mobil Angga tiba di depan rumah Alisha.
"Terima kasih ya Ga tumpangannya maaf gak bisa nawarin masuk soalnya di dalam gak ada orang takut jadi fitnah kalau bawa masuk laki-laki lain ke dalam rumah yang tidak ada orang lainnya lagi," kata Alisha.
"Iya gak pa-pa aku juga mau langsung pulang," kata Angga.
"Hati-hati di jalannya ya," kata Alisha turun dari mobil.
Angga menjalankan mobilnya pergi dari sana sedangkan Alisha masuk ke rumahnya untuk melihat sebentar.
Rumahnya terlihat rapi dan bersih karena mertuanya selalu menyuruh pelayannya untuk membersihkan rumah itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Hai kakak-kakak jangan lupa dukungannya ya terima kasih 🙏