
Happy Reading...
Semenjak saat itu kondisi tubuh Mesha semakin menurun drastis, mungkin juga karena efek banyak pikiran sehingga kondisi tubuhnya, semakin tidak kuat dan selama beberapa minggu ini Mesha harus bolak-balik ke rumah sakit karena sering drop.
Mobil Nevan telah sampai di rumah sakit dia menanyakan kepada Resepsionis apakah Mesha sudah sampai atau belum dan Resepsionis mengatakan jika Mesha sudah sampai dan sudah mendapatkan penanganan dari Dokter yang biasa menanganinya. Resepsionis itu mengatakan jika Mesha langsung dilarikan ke ruang ICU.
Nevan berjalan menuju ke tempat Mesha mendapatkan penanganan. saat sampai di lorong ICU tempat Mesha sedang dirawat dia melihat Lastri dan Fariz yang sedang duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan itu.
Fariz seperti biasanya dalam keadaan apapun anak itu selalu tenang saking tenangnya dia bahkan seperti robot yang tidak memiliki emosi sama sekali. Nevan yakin jika anak itu tetap seperti itu sampai besar nanti pasti akan sulit mengetahui apa yang sedang dirasakannya dan akan sulit menebaknya. Fariz hanya diam menatap kosong pintu ruangan ICU itu.
"Tuan," sapa Lastri yang menyadari kehadiran Nevan di sana.
"Apa Dokter sudah keluar? bagaimana keadaan Mesha?" tanya Nevan berjalan mendekati tempat Fariz dan Lastri.
"Belum Tuan Dokter masih memeriksa keadaan Non Mesha," jawab Lastri.
Nevan menganggukkan kepalanya dan mendudukkan dirinya di samping Fariz dia mengusap kepala anak itu dengan lembut.
Reaksi Fariz sekarang tidak seperti saat pertama kali mereka bertemu Fariz sudah tenang saat berada di dekat Nevan mungkin karena Nevan sering mengajaknya berkomunikasi jadi dia tidak terlalu merasa waspada terhadap Nevan hanya saja Fariz selalu menganggap Nevan tidak pernah ada dia selalu mengabaikan kehadiran Nevan di sisinya.
"Kamu berdoalah agar Mama kamu baik-baik saja, doa anak soleh itu cepat di kabulkan oleh Allah," kata Nevan kepada Fariz.
Fariz hanya diam seperti tidak mendengarkan perkataan Nevan, Nevan tidak bicara lagi dia kemudian mengambil ponselnya yang ada di saku celananya dan mengirimkan pesan kepada Alisha memberi kabar jika dia akan pulang telat lagi.
"Fariz kamu pulanglah dengan Bu Lastri biar Om yang jagain Mama kamu di sini, kamu juga harus istirahat," kata Nevan kepada Fariz.
Fariz menggelengkan kepalanya dengan cepat pertanda dia tidak mau pulang dan ingin tetap berada di sana.
"Tapi kamu harus istirahat sebentar lagi malam, kamu pulang ya sama Bu Lastri besok ke sini lagi sama Bu Lastri," bujuk Nevan. tapi Fariz tetap menggelengkan kepalanya tanpa melihat Nevan.
"Besok kamu bisa ke sini lagi. kalau kamu menunggu di sini semalaman kamu pasti sakit dan kalau kamu sampai sakit kamu tidak akan bisa menjaga Mama kamu lagi," kata Nevan berusaha membujuk Fariz.
"Iya Den Fariz, besok Bu Lastri pasti anterin Den Fariz ke sini sekarang kita pulang dulu yuk untuk mandi, makan dan istirahat biar tubuh Den Fariz kuat dan bisa jagain Mamanya lagi." Lastri juga membujuk Fariz agar mau pulang.
__ADS_1
Akhirnya Fariz pun menganggukkan kepalanya dan mulai turun dari kursinya pertanda dia setuju dengan perkataan Nevan dan Lastri.
"Tolong jaga dia ya Bu," kata Nevan kepada Lastri.
"Iya Tuan saya permisi dulu Tuan," pamit Lastri dijawab anggukan kepala oleh Nevan.
Lastri memang masih bekerja dengan Nevan dan membersihkan Apartemen Nevan meski hanya dua hari sekali karena Apartemen itu tidak di tempati lagi dan semenjak ada Mesha dan Fariz Nevan meminta Lastri untuk tinggal di sana dan hanya pulang ke rumahnya sesekali saja.
Suami Lastri sudah meninggal dan anak-anaknya sudah bisa mandiri jadi saat Nevan memintanya untuk menemani Mesha Lastri langsung menyetujuinya.
Nevan masih menunggu di depan pintu ruangan itu dengan memainkan ponselnya berharap Alisha membalas pesan darinya tapi lagi-lagi Nevan hanya menghela nafas gusar karena Alisha sama sekali tidak membalas pesan darinya dia hanya membacanya saja.
Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu ruangan itu terbuka membuat Nevan mengalihkan perhatiannya ke arah pintu itu dan Dokter pun keluar dari sana.
"Bagaimana keadaan Mesha Dok?" tanya Nevan bangun dari kursinya mendekati Nevan.
Dokter tidak langsung menjawabnya Dokter itu hanya menghela nafas terlebih dahulu sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Nevan.
"Apa tidak bisa mengambil tindakan operasi atau perawatan lainnya Dok?" tanya Nevan menatap Dokter itu dengan serius.
"Sayangnya tidak bisa Tuan. mungkin jika kankernya masih di stadium awal masih bisa melakukan operasi atau kemoterapi dan sebagainya tapi saat ini kanker itu sudah menyebar ke hampir setiap organ tubuh pasien," jelas Dokter.
Nevan hanya menganggukkan kepalanya mengerti dia kemudian mengucapkan terima kasih kepada Dokter itu dan meminta ijin untuk melihat Mesha dan setelah mendapatkan ijin dan Dokter itu pun pamit kepada Nevan dan pergi dari sana.
Nevan pun memasuki ruangan itu, ruangan yang pernah dimasuki olehnya saat Alisha sempat kritis beberapa tahun yang lalu saat akan melahirkan anaknya.
Nevan menatap tubuh kaku Mesha yang berada di ranjang dengan alat-alat rumah sakit yang menempel di tubuhnya.
Nevan tidak bicara dia hanya berdiri di samping ranjang Mesha tanpa mengeluarkan suara.
Setelah beberapa saat kemudian Nevan pun memutuskan untuk pulang karena hari sudah malam dia juga ingin menceritakan semuanya kepada istrinya agar Alisha tidak salah paham lagi terhadapnya.
Sebelum pergi Nevan menitipkan Mesha kepada suster yang berjaga di sana dan menyuruh Suster untuk menelponnya jika terjadi sesuatu terhadap Mesha.
__ADS_1
Nevan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang dia sudah bertekad akan menceritakan masalah Mesha pada Alisha agar Alisha tidak berpikiran buruk tentangnya lagi.
Saat sampai di rumahnya Nevan segera turun dari mobil dan memasuki rumahnya yang sudah sepi.
Nevan segera masuk ke kamarnya tapi dia tidak melihat kehadiran Alisha di kamarnya itu, dia yakin jika Alisha tidur dengan Aaric lagi.
"Alish pasti masih marah, sebaiknya aku bicarakan semuanya besok saja," gumam Nevan setelah itu dia masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Setelah selesai mandi dan berpakaian Nevan keluar dari kamarnya dia berjalan menuju ke kamar Aaric dan benar saja Alisha tidur di sana bersama anaknya.
Nevan berjalan mendekati ranjang dan berdiri di sisi ranjang dia menatap wajah tenang anak dan istrinya itu dengan seksama dan penuh kerinduan, Nevan sudah sangat merindukan istrinya dia merindukan istrinya yang selalu tersenyum itu.
Hampir sebulan Alisha mendiamkannya dan hanya berbicara seperlunya saja atau hanya berbicara saat mereka sedang bersama dengan Aaric.
"Aku merindukanmu Lis," kata Nevan mencium kening Alisha dan anaknya dengan hati-hati karena takut mengganggu tidur mereka.
Setelah itu Nevan merapikan selimut yang Alisha dan Aaric kenakan kemudian dia berjalan keluar dari kamar Aaric untuk kembali ke kamarnya dan beristirahat.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1