
Happy Reading...
Alisha meminta kepada Nevan untuk mengajaknya jalan-jalan di akhir pekan kali ini karena dia ingin jalan-jalan bersama dengan Nevan.
"Kamu yakin gak akan kenapa-napa kita jalan-jalan seperti ini Lis, aku takut kamu kayak waktu itu habis jalan-jalan langsung masuk rumah sakit," kata Nevan sambil menjalankan mobilnya.
"Tidak akan Mas, Alish akan baik-baik saja asal Alish tidak terlalu capek saja," kata Alisha tersenyum kepada Nevan.
"Baiklah semoga kamu tidak apa-apa nanti. tapi Lis kenapa kamu sampai bolak-balik ke rumah sakit saat kecapean bukankah kandungannya selalu baik-baik saja," kata Nevan heran.
"itu karena tubuh Alish agak lemah Mas jadi gak boleh terlalu kecapean," jawab Alisha meyakinkan Nevan.
"Oh berarti sekarang kamu juga seharusnya diam di rumah," kata Nevan membuat Alisha langsung protes.
"Alish 'kan jarang jalan-jalan seperti ini jadi biarkan Alish jalan-jalan untuk beberapa saat ya Mas," kata Alisha melihat Nevan dengan tatapan memohon.
"Baiklah kita mau kemana?" tanya Nevan.
"Kemana saja Mas," kata Alisha.
"Baiklah Mas akan membawamu ke suatu tempat," Nevan fokus pada jalanan di depannya.
Alisha hanya menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Nevan.
Nevan menyetir dengan satu tangannya sedangkan tangan yang satunya menggenggam tangan Alisha dan sesekali mencium punggung tangannya.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di tempat yang sepi hingga membuat Alisha mengerutkan keningnya karena bingung mereka ada dimana.
"Ini tempat apa Mas sepi banget," kata Alisha heran.
"Sudah ayo turun ini adalah tempat yang pas untuk kita kencan," kata Nevan dengan menaik turunkan alisnya.
"Kenapa di tempat sepi seperti ini Mas kencannya?" tanya Alisha heran.
"Biar tenang, ayo," Nevan turun dari mobilnya dan mengulurkan tangannya kepada Alisha.
Alisha pun tersenyum dan menerima uluran tangan Nevan dia turun dari mobil dengan sangat hati-hati.
"Ayo, kamu pasti akan suka?" kata Nevan berjalan menuntun Alisha.
Alisha mengikuti langka Nevan mereka berjalan di rerumputan hijau dan pohon yang besar yang ada di sekitar sana semakin lama Alisha merasakan hawa sejuk menerpa kulitnya.
Saat melihat apa yang ada di depannya Alisha tersenyum dan berjalan lebih dekat.
Di Sana ada danau yang luas dan jernih air di danau itu terlihat sejuk dan segar saking jernihnya.
"Mas tau darimana tempat seperti ini?" tanya Alisha sambil berjalan semakin mendekati danau itu.
"Aku sering ke sini dulu saat masih kuliah di sini sebelum ke luar negeri, dulu aku berdiam di sini saat ingin belajar dengan tenang," kata Nevan mengikuti langkah Alisha.
__ADS_1
Alisha mendudukkan dirinya di rerumputan hijau tanpa mengenakan alas apapun di ikuti oleh Nevan yang mendudukkan dirinya di samping Alisha.
"Karena aku takut kamu akan kelelahan kalau jalan-jalan ke tempat ramai jadi aku berpikiran untuk mengajakmu ke sini di sini kamu bisa merasakan ketenangan," kata Nevan menarik Alisha untuk menyadarkan kepalanya di dadanya.
"Iya ini tempat yang sejuk dan tenang bisa membuat pikiran kita tenang juga," kata Alisha melingkarkan tangannya di pinggang Nevan dengan mata terpejam menikmati suasana tenang di sana dan menikmati kehangatan yang dirasakannya dari pelukan Nevan.
Saat sedang menikmati suasana di sana tiba-tiba saja Alisha membuka matanya karena teringat sesuatu dia kemudian melepaskan pelukannya dari Nevan dan menjauhkan tubuh mereka dia kemudian melihat Nevan dengan serius dan menyelidik.
"Apa Mas juga sering ke sini bersama mbak Mesha?" tanya Alisha menyelidik.
"Kalau pernah memangnya kenapa?" tanya Nevan heran.
Mendengar hal itu Alisha mengubah raut wajahnya menjadi kecut dia kemudian berdiri dan akan melangkah meninggalkan Nevan tapi Nevan langsung menarik tangannya dengan lumayan kencang hingga Alisha langsung duduk di pangkuan Nevan dengan posisi menyamping.
Alisha membuang mukanya tidak mau melihat kearah Nevan Alisha memasang wajah cemberutnya.
"Aku hanya bercanda aku 'kan kenal dengan Mesha saat kita sudah kuliah di luar negeri jadi kapan aku membawanya ke sini," kata Nevan memeluk Alisha dan mengusap perut Alisha.
"Sudah jangan marah lagi ya, nanti dia sedih melihatmu marah seperti ini, aku tidak pernah ke sini bersama siapapun aku ke sini selalu sendiri," jelas Nevan lagi.
Nevan menyandarkan kepalanya di pundak Alisha yang masih membuang muka darinya.
Karena geregetan dengan sikap Alisha itu Nevan pun menggigit pundak Alisha hingga membuat Alisha membalikkan wajahnya kearahnya dengan mata melotot.
"Mas Nevan kenapa gigit pundak Alish sakit tau," kata Alisha memanyunkan bibirnya.
"Habisnya Mas tadi ngomongnya gitu," kata Alisha.
"Iya maaf Mas hanya menggodamu saja," kata Nevan mengambil tangan Alisha dan menciumnya beberapa kali.
"Sudah Mas, Alish mau bangun," kata Alisha akan bangun tapi ditahan oleh Nevan.
"Sudah seperti ini saja," kata Nevan mengeratkan pelukannya.
"Tapi Alish berat Mas," kata Alisha berusaha melepaskan diri Nevan.
"Tidak sama sekali," jawab Nevan dengan pandangan lurus ke danau yang terlihat tenang dan menyimpan dagunya di pundak Alisha.
"Tapi nanti ada orang Mas kalau kita di sangka berbuat mesum di sini gimana?" pertanyaan konyol yang keluar dari mulut Alisha.
"Mereka juga pasti bisa melihat ini bagaimana bisa mereka menyangka seperti itu," kata Nevan dengan mengusap perut Alisha.
"lagian jarang ada orang yang ke sini, kecuali orang yang memang mau berbuat hal yang seperti kamu sebutkan tadi karena di sini sepi," kata Nevan memejamkan matanya menikmati suasana yang ada di sana dengan posisi yang masih tidak berubah.
Akhirnya Alisha pun menyerah dia juga menatap ke depannya melihat air danau yang tenang di depannya itu.
"Berapa lama lagi dia akan keluar?" tanya Nevan kepada Alisha.
"kurang lebih empat bulanan lagi," jawab Alisha kepada Nevan.
__ADS_1
"Aku sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba."
"Ya Alish juga tidak sabar menunggu hari itu tiba," jawab Alisha lirih tersirat sebuah kesedihan dari dari perkataannya yang tidak Nevan sadari.
Saat mereka sedang membicarakan anak mereka Nevan yang tangannya masih berada di perut Alisha merasakan tendangan dari calon anaknya.
"Apa kamu juga sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Mama dan Papa jagoan?" tanya Nevan kepada calon anaknya.
"Sepertinya begitu," jawab Alisha yang ikut mengusap perutnya juga.
Setelah menghabiskan waktu beberapa jam dengan berdiam diri di sana Alisha dan Nevan pun memutuskan untuk pulang karena sudah mulai sore.
Saat di tengah jalan Alisha melihat toko kue yang biasa ayahnya belikan untuknya Alisha pun meminta Nevan untuk menghentikan mobilnya karena ingin membeli kue yang biasa ayahnya belikan.
"kamu tunggulah di sini biar Mas saja yang membelikannya," kata Nevan saat mobilnya sudah berhenti.
"Baiklah Mas, yang cheesecake ya atau kalau gak ada yang cheesecake yang banana sponge saja," kata Alisha di jawab anggukkan kepala oleh Nevan.
Saat sedang menunggu Nevan, Alisha merasakan pinggangnya sakit dia segera mengambil air minum dan mengambil obat yang ada di tasnya obat yang tidak boleh ketinggalan saat dia keluar rumah.
Alisha meringis dan memijat sedikit pinggangnya dia kemudian meminum obat itu dengan cepat agar sakit di pinggangnya segera berkurang, setelah obat itu melewati kerongkongannya Alisha memejamkan matanya dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil.
"Lis, kamu tidur?" tanya Nevan saat membuka pintu mobilnya dan melihat Alisha memejamkan matanya.
"Iya Mas, Alish ngantuk," jawab Alisha tersenyum.
"Tidurlah nanti aku bangunkan saat sudah sampai di rumah," kata Nevan memasangkan sabuk pengamannya.
"Apa kamu kegerahan kenapa berkeringat seperti itu?" tanya Nevan menatap Alisha kemudian mengambil tisu dan mengelap keringat di kening Alisha.
"Mungkin karena habis jalan-jalan Mas jadi berkeringat, bisakah kita pulang sekarang Mas Alish mau istirahat," kata Alisha terlihat seperti baik-baik saja padahal dia sedang menahan sakit di pinggangnya.
Nevan menganggukkan kepalanya dan mulai menjalankan mobilnya menuju ke rumahnya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1