Ingin Cinta SUAMIKU

Ingin Cinta SUAMIKU
Memiliki Pacar.


__ADS_3

Happy Reading...


Alisha memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di sebuah taman karena masih siang dan waktunya Nevan untuk pulang masih lama.


Alisha duduk di kursi taman dia melihat sekeliling taman itu tidak begitu banyak orang hanya ada beberapa orang karena ini adalah waktunya kerja dan sekolah jadi tidak banyak orang yang ada di sana.


Alisha termenung memikirkan apa yang akan terjadi di kehidupannya setelah ini apa dia akan bisa merasakan lagi sebuah kebahagiaan seperti saat Almarhum ayahnya masih ada.


Apa dia bisa tersenyum dan tertawa lepas lagi seperti saat dia bersenda gurau dengan ayahnya.


Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di benaknya dia berharap semua itu bisa terjadi suatu saat nanti dia berharap dia bisa tersenyum dan tertawa lepas lagi saat bersenda gurau dengan suaminya kelak.


Membayangkan hal yang indah bersama dengan suaminya membuat sebuah senyuman terbit di bibir berwarna merah ceri itu.


"Aku harap suatu saat nanti aku benar-benar bisa merasakan hal itu," gumam Alisha dengan tersenyum manis.


"Sebaiknya aku pulang sekarang aku harus menyambut Mas Nevan pulang nanti," Alisha pun berdiri dan berjalan menuju jalan raya mencari taksi.


Saat sudah ada taksi yang berhenti di depannya diapun segera masuk kedalam taksi itu dan menyebutkan tujuannya.


"Terima kasih Pak," kata Alisha saat taksi yang ditumpanginya sudah sampai di depan lobby apartemennya.


"Iya sama-sama Mbak," Kata supir taksi itu.


Alisha turun dan kemudian berjalan menuju lift untuk sampai ke unit apartemennya.


Saat sampai di depan pintu apartemennya Alisha memencet pin pintu itu meski ragu-ragu benar atau tidak nya karena kemarin dia hanya melihat sekilas saat Nevan memencet beberapa angka sebagai pin pintu.


"Eh benar ternyata," kata Alisha tersenyum saat pintu itu terbuka.


"Tapi yang di pakai pin-nya tanggal apa ya? perasaan itu bukan tanggal lahir mas Nevan deh," gumam Alisha sambil berjalan memasuki apartemen.


"Sudah pulang Non?" tanya Lastri yang tiba-tiba ada di belakang Alisha hingga membuat Alisha yang sedang melamun menjadi kaget.


"Ya Allah Bu ngagetin saja," kata Alisha mengusap dadanya.


"Maaf Non, habis Non Alish melamun," kata Lastri tersenyum.


"Iya bu sampai lupa ngucapin salam ya," kata Alisha terkekeh.


"Iya Non, non alish sudah makan siang belum non bibi sudah masak," kata Lastri.


"Belum Bu kita makan siang bareng yuk," ajak Alisha.


Mereka pun makan siang bersama, Lastri merasa senang karena dia memliki majikan seperti Alisha yang tidak membedakan antara dia dan dirinya.


"Ibu mau pulang jam berapa?" tanya Alisha kepada Lastri.


"Setelah menyetrika pakaian saya akan pulang non," jawab Lastri.


"Oh gitu, nanti kalau pulang bawa saja makanan yang Bu Las masak ini ya," kata Alisha.

__ADS_1


"Kenapa non? masakan saya tidak enak ya atau ada yang kurang dengan masakan saya?" tanya Lastri khawatir masakannya tidak enak menurut Alisha.


"Makanannya enak Bu cuma nanti 'kan ibu pasti capek kalau habis dari sini harus memasak lagi di rumah, belum lagi ngurusin suami Ibu jadi Bu Las bawa saja makanan ini semuanya buat keluarga ibu di rumah," kata Alisha sambil mengunyah makanannya.


"Tapi itu terlalu banyak non, terus Non Alish sama tuan Nevan gimana makan malamnya," kata Lastri.


"Alish akan memasak lagi untuk makan malam Bu Las tenang saja," kata Alisha.


"Terima kasih non, non Alish sangat baik beruntung sekali tuan Nevan mempunyai istri seperti non Alish," kata Lastri.


"Ibu bisa aja," kata Alisha tersenyum kemudian mereka melanjutkan makan siangnya.


Setelah mereka selesai makan Lastri akan merapikan mejanya tapi di larang oleh Alisha.


"Ini biar Alish saja yang beresin Bu, Ibu kerjakan yang lain saja," kata Alisha.


"Saya jadi merasa tidak enak nona, padahal'kan saya di sini untuk bekerja tapi pekerjaan saya malah di bantuin terus sama non Alish," kata Lastri tidak enak hati.


"Ibu tidak perlu merasa tidak enak seperti itu, Alish bisa bantuin Ibu karena Alish saat ini tidak ada kegiatan yang lain saja," kata Alisha.


" Baiklah non, kalau begitu bibi mau menyetrika pakaian dulu ya," kata Lastri.


"Iya Bu," setelah itu baik Lastri maupun Alisha mengerjakan pekerjaannya masing-masing hingga sore hari pun tiba dan sudah waktunya Lastri untuk pulang.


"Non saya pamit pulang dulu ya," pamit Lastri kepada Alisha.


"Iya Bu jangan lupa makanan untuk di bawa ya," kata Alisha.


"Sudah nih non sekali lagi terima kasih ya nona," kata Lastri menunjukkan beberapa tempat makan yang di bungkus plastik.


"Sebentar lagi Mas Nevan pulang sebaiknya aku mandi dan siap-siap untuk menyambut Mas Nevan pulang," kata Alisha dia pun masuk ke kamarnya dan mandi.


Beberapa saat kemudian Alisha sudah keluar dari kamarnya dengan penampilan yang sudah rapi dan cantik meskipun tidak memakai make-up.


Beberapa saat menunggu di ruang tamu dia mendengar pintu apartemen terbuka dengan semangat dia berjalan ke depan pintu untuk menyambut Nevan.


CEKLEK... Pintu apartemen terbuka Alisha sudah memasang senyum manisnya tapi saat Nevan masuk senyum manisnya berubah jadi kaku.


Nevan memasuki apartemen itu tidak sendiri dia masuk dengan seorang wanita cantik yang bergelayut manja ditangannya.


Mereka melewati Alisha yang masih mematung di depan pintu begitu saja seolah Alisha tidak ada di sana.


"Tunggulah di sini aku mau mandi dan ganti baju dulu," kata Nevan pada wanita itu dengan suara yang lembut.


"Cepatlah jangan lama," kata wanita itu dengan suara yang manja.


"Iya tidak akan sampai satu jam tunggulah," kata Nevan dengan sabar.


"Cepat," kata wanita itu dengan manja.


Nevan menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju Alisha berdiri.

__ADS_1


"Buatkan pacarku minuman," kata Nevan santai setelah itu berjalan menaiki tangga.


Alisha hanya bisa menghela napasnya meneken rasa sakit di hatinya bagaimana bisa suaminya bersikap biasa saja seperti itu dengan membawa wanita lain ke tempat tinggal mereka.


"Mbak mau minum apa?" tanya Alisha dengan tersenyum dia tidak boleh menunjukkan kalau dia sedih.


"Air putih saja," jawab wanita santai sambil memainkan ponselnya.


Alisha akui wanita itu terlihat elegan dan cantik wajar saja kalau suaminya sampai tergila-gila padanya.


"Baiklah akan saya ambilkan," kata Alisha dengan tersenyum dan pergi menuju dapur untuk mengambil air minum.


"Ini Mbak silakan," kata Alisha menyimpan air itu di meja.


Wanita itu langsung meminum airnya dan kembali memainkannya ponselnya.


Alisha berniat akan pergi dari sana tapi suara wanita itu menghentikan langkahnya dan Alisha pun membalikkan badannya melihat wanita itu.


"Sampai kapan kamu akan tetap di sisi pacarku," kata wanita itu dengan suara yang angkuh.


"Maksud Mbak?" Alisha mengerutkan keningnya.


"Apa kamu berpikir kamu bisa membuat Nevan jatuh cinta padamu? aku harap kamu segera menghilangkan mimpi itu karena itu tidak akan mungkin terjadi, kamu tau sendiri bukan dia menikahi mu karena permintaan orang tuanya dan aku harap kamu mempunyai rasa malu dan segera pergi dari hidup Nevan," kata wanita itu dengan menatap tajam Alisha.


Alisha menghela napas dengan keadaannya sekarang, bukankah keadaan ini terbalik bukankah seharusnya dia yang meminta wanita di depannya ini untuk pergi dari kehidupan suaminya.


Meskipun dia menjadi orang ketiga diantara Nevan dan wanita itu tapi itu terjadi tanpa diketahuinya dan bagaimana pun juga saat ini dia adalah istri Nevan bukankah dia lebih berhak berada disisi Nevan.


"Kenapa kamu diam apa kamu berharap Nevan akan mencintaimu," nada ledekan di katakan oleh wanita itu.


"Siapa yang tau apa yang akan terjadi besok Mbak," kata Alisha berusaha santai.


"Apa maksud kamu," kata wanita melingkarkan tangannya di dada dan menatap Alisha sinis.


"Bukankah bisa saja nanti Mas Nevan mencintaiku dan menerima pernikahan ini," kata Alisha santai.


Sementara wanita itu tertawa kecil saat mendengar perkataan Alisha seolah perkataan Alisha adalah sebuah lelucon yang menurutnya lucu.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2