Ingin Cinta SUAMIKU

Ingin Cinta SUAMIKU
Kembali tersenyum.


__ADS_3

Happy Reading...


Beberapa bulan berlalu kini Aaric dan Fariz sudah menginjak umur 6 tahun lebih mereka hidup dengan akur layaknya teman dan saudara. Aaric benar-benar menerima Fariz dengan baik karena dia juga, sekarang Fariz sudah bisa tersenyum saat dia melakukan hal yang lucu bahkan kepada orang-orang yang berada di sana Fariz selalu menunjukkan senyumnya tidak memasang wajah yang datar dan wajah waspada-nya lagi.


Hanya saja Fariz masih belum mau membuka suaranya dia sekarang berkomunikasi menggunakan isyarat tangannya.


Alisha dan Nevan selalu berharap Fariz mau berbicara lagi seperti sebelumnya agar dia bisa lebih mudah berkomunikasi dengan orang lain.


Terdengar suara tawa renyah Aaric dari halaman belakang karena saat ini dia sedang bermain dengan kelinci-kelincinya yang sengaja dia keluarkan semuanya dan dia mengejar kelinci-kelincinya itu sambil tertawa dengan kencang.


"Fariz ayo kamu jaga di sana kita harus mengepungnya agar aku mudah menangkapnya!" teriak Aaric melambaikan tangannya kepada Fariz yang sedang duduk di kursi dan hanya melihat Aaric yang mengejar kelinci-kelincinya itu.


Fariz menganggukkan kepalanya dengan sedikit tersenyum dan mulai melangkahkan kakinya menuju ke tempat yang Aaric tunjuk untuk mengepung kelinci-kelinci.


"Bitbit aku akan menangkapmu," kata Aaric berlari mengejar salah satu kelincinya yang sedang melompat ke sana ke mari menghindari Aaric.


Kelincinya sudah mendekati Fariz dan dia sudah bersiap untuk menangkapnya begitupun dengan Aaric dia berlari lebih cepat dan meloncat saat kelincinya itu sudah di depannya.


Dukkk ... Bukan kelinci yang mereka tangkap tapi kepala mereka beradu dengan lumayan keras hingga membuat kening mereka tampak merah.


"Aaawww." Ringis Aaric dan Fariz secara bersamaan karena meras sakit di keningnya.


Aaric dan Fariz terduduk di rerumputan dengan mengusap kening mereka yang terasa sakit itu.


Aaric dan Fariz akhirnya saling menatap satu sama lainnya.


"Sakit?" tanya Aaric menatap Fariz.


Mereka kemudian menggelengkan kepalanya dengan bersamaan beberapa saat kemudian Aaric kembali tertawa dan Fariz pun tersenyum.


"Ayo kita tangkap lagi bitbit dan bubu setelah itu anak-anak mereka," kata Aaric yang tidak kapok dia masih ingin menangkap kelinci-kelincinya itu dengan tangannya.


Aaric berdiri diikuti oleh Fariz mereka kemudian berusaha menangkap kelinci-kelincinya lagi hingga akhirnya usaha mereka pun tidak sia-sia kelinci-kelincinya itu berhasil mereka tangkap dan mereka memasukkan kembali kelinci-kelincinya ke kandangnya.


"Huh capeknya," kata Aaric menidurkan dirinya rerumputan.


Fariz menganggukkan kepalanya dan mengikuti apa yang Aaric lakukan dia menidurkan dirinya di samping Aaric kedua anak itu terlentang dan merentangkan tangan mereka melihat langit yang cerah di hari yang mulai sore.


Terdengar suara Alisha memanggil-manggil mereka dari dalam rumah. Aaric menjawab panggilan Mamanya itu dengan berteriak.


"Iya Ma," jawab Aaric dengan berteriak.


"Kalian gak tidur siang, tadi 'kan Mama meminta kalian untuk tidur siang kenapa malah tiduran di sana itu 'kan kotor," kata Alisha berjalan mendekati Aaric dan Fariz.


Alisha baru saja bangun dari tidur siangnya dia berencana menidurkan kedua anak itu tapi malah dia sendiri yang tertidur sedangkan kedua anak itu malah pergi bermain.

__ADS_1


"Kami tidak ngantuk Ma," jawab Aaric membangunkan badannya dan berdiri melihat ke arah Alisha.


Alisha membelalakkan matanya saat melihat kening kedua anak itu merah bahkan hampir keunguan.


"Kening kalian kenapa? kalian berantem?" tanya Alisha sambil menarik kedua anak itu untuk masuk ke dalam rumah.


"Kita tidak berantem kok Ma," kata Aaric.


Alisha meminta Aaric dan Fariz untuk duduk di sofa sedangkan dia mengambil air dingin untuk mengompres kening Fariz dan Aaric.


Alisha kemudian mengompres kening Fariz dan Aaric dengan air dingin itu secara bergantian. kedua anaknya itu hanya diam saat Alisha mengompres kening mereka.


"Beneran kalian tidak berantem?" tanya Alisha menyipitkan matanya kepada Aaric dan Fariz dia tidak mempercayai perkataan Aaric.


"Iya Ma, kita gak berantem kok," jawab Aaric apa adanya.


Alisha langsung mengalihkan pandangannya kepada Fariz karena dia yakin Fariz tidak akan berani membohonginya.


Fariz menjawab tatapan Alisha dengan menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan Aaric.


"Syukurlah kalau kalian tidak berantem Mama takut kalian berantem, terus ini kenapa kening kalian bisa sampai seperti ini?" tanya Alisha kepada Aaric dan Fariz.


"Kita gak berantem kok Ma, ini karena kita menangkap Bitbit, bubu dan anak-anaknya jadi kita beradu dan kening kita jadi seperti ini," jelas Aaric diikuti anggukkan kepala oleh Fariz.


"Kalian itu masih saja suka ngelepasin kelinci-kelinci itu Mama 'kan sudah bilang jangan sering di keluarin kelinci-kelincinya nanti kabur lagi," kata Alisha.


Fariz tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Baiklah sekarang kalian mandilah sudah sore sebentar lagi Papa pulang," kata Alisha kepada Aaric dan Fariz.


"Iya Ma, ayo Fariz kita mandi bareng," ajak Aaric menurunkan dirinya dari sofa.


Fariz seperti biasa dia mengaggukkan kepalanya dan ikut menurunkan dirinya dari sofa.


"Mama siapkan bajunya ya," kata Alisha mengikuti langkah kedua anak itu menuju ke kamar mereka.


"Iya Ma, setelah itu Mama kembali keluar ya," kata Aaric kepada Mamanya.


"Baiklah," jawab Alisha kepada anak-anaknya itu.


Setelah mereka masuk ke kamar mandi Alisha pun menyiapkan baju untuk kedua anak itu dan setelah semuanya siap dia kemudian keluar dari kamar itu membiarkan kedua anak itu memakai pakaiannya sendiri.


Fariz dan Aaric selesai mandi dan berpakaian dia kembali keluar dari kamarnya menuju ke ruang keluarga untuk menonton televisi sambil menunggu Nevan pulang dari kantornya.


"Mama mau mandi dulu ya," pamit Alisha kepada kedua anak itu.

__ADS_1


Aaric dan Fariz menganggukkan kepalanya dan kembali melihat acara yang sedang di siarkan di televisi hingga beberapa saat kemudian Nevan pulang.


Aaric seperti biasa menyambut kedatangan Papanya dengan antusias Aaric dan Fariz menyalami Nevan setelah itu Nevan membawa kedua anaknya itu untuk duduk di sofa dan saat dia dan anaknya sudah duduk dia mengerutkan keningnya karena melihat kening Aaric dan Fariz membiru.


"Kening kalian kenapa?" tanya Nevan.


"Kita beradu saat sedang menangkap kelinci-kelinci kita tadi Pa," jawab Aaric.


"Oh kirain kalian berantem," kata Nevan.


"Tidak Pa, kita tidak berantem," jawab Aaric cepat.


"Oh iya Pa, Papa udah janji mau membelikan kita mainan baru mana mainannya?" tanya Aaric.


"Oh iya Papa lupa mainannya ketinggalan di mobil. kalian mintalah pada Pa Rudi untuk mengambilkannya ya Papa mau mandi dulu, setelah Papa mandi kita makan malam," kata Nevan kepada Aaric dan Fariz.


"Baiklah ayo Fariz kita ambil mainannya," ajak Aaric menarik tangan Fariz.


Fariz pun mengikuti Aaric menuju keluar dari rumah menuju ke garasi dan meminta Pak Rudi yang baru selesai memarkirkan mobil Nevan untuk mengambilkan mainannya.


"Ini den mainannya," kata Pak Rudi menyerahkan dua mainan robot itu kepada Aaric dan Fariz.


"Terima kasih Pak," kata Aaric setelah itu kedua anak itu kembali memasuki rumahnya dan memainkan robot itu bersama sambil sesekali Aaric tertawa dan Fariz tersenyum.


Alisha dan Nevan datang lagi ke ruang keluarga dimana Aaric dan Fariz sedang memainkan robotnya itu.


"Alish senang melihat Fariz bisa tersenyum seperti itu Mas," kata Alisha yang berdiri tidak jauh dari kedua anak itu.


"Iya Mas juga senang, Aaric benar-benar bisa membuat Fariz perlahan-lahan bisa kembali, Mudah-mudahan dia bisa segera berbicara lagi," kata Nevan.


Alisha tersenyum dan menganggukkan kepalanya dia kemudian mengajak kedua anak itu untuk makan malam terlebih dahulu.


Keluarga kecil itu makan malam dengan hangat karena celotehan Aaric yang membuat suasana di meja makan tidak terlalu sepi.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2