
Kehidupan yang indah selalu menjadi impian semua orang, tanpa terkecuali. Meski terkadang hidup yang indah tidak selalu berisi keindahan. Masalah dan kesedihan akan sesekali datang untuk membuat hidup menjadi lebih indah lagi.
Dania baru membuka matanya ketika mendengar bisikan yang sama setiap paginya.
"Ayo, kembali cintaku!" Terdengar kekehan Nino saat Dania mengerang kesal karena tidurnya terganggu. "Bangun atau aku akan membuatmu tidur sepanjang hari?"
Godaan! Jelas Nino sebenarnya ingin sepanjang hari bersama Dania tanpa perlu pergi ke kantor. Namun, Dania pasti akan memarahinya.
"Aku sudah bangun!" Dania berusaha membuka matanya lebar-lebar, kemudian menatap sinis ke arah Nino yang berada di sampingnya dengan tangan yang menahan sebelah pipinya. "Jangan berpikir untuk bermalas-malasan!"
Nino tertawa seraya menggelengkan kepalanya dan mengecup kening Dania. "Tidak bisakah aku cuti sehari saja?"
Melihat Nino memohon dengan sangat manis seperti itu membuat Dania mengulum senyuman. "Tidak bisa, Tuan Ferdinan!" Tangannya menangkup kedua pipi Nino. "Anakmu sebentar lagi akan lahir. Dia butuh banyak hal yang harus di beli dengan uang, seperti susu, diapers, pakaian, sepatu, ma -"
"Aku bisa membelikan semua, Moony! Aku janji! Kau tidak perlu khawatir!" Nino mulai bosan mendengar ocehan yang sama setiap paginya.
Bukannya Nino ingin bermalas-malasan, tapi entah mengapa beberapa waktu terakhir ini ia selalu ingin bersama Dania. Berada di samping sang istri membuatnya nyaman. Sedangkan, jika sedang di kantor tubuh Nino terasa lemas dan tidak bersemangat.
"Aku tahu! Tapi ...," Dania memicingkan matanya, kemudian mendudukkan tubuhnya di samping Nino. "Coba kau hitung! Berapa banyak uang yang bisa kau dapatkan dalam satu hari? Sayang sekali jika uang itu harus terhempas ...," Dania menyatukan kedua telapak tangannya hingga berbunyi nyaring. "Hanya karena kau malas!"
Nino bergidik ngeri. Bagaimana mungkin istri kecilnya yang manis berubah menjadi materialistis seperti ini. Namun, apapun itu Nino tetap mencintai wanita yang kini tengah mengandung darah dagingnya.
"Kau sangat seksi," bisik Nino dengan tangan yang melingkari tubuh Dania.
Dania memiringkan tubuhnya sebelum mengecup singkat bibir nakal sang suami. Kalau sudah seperti ini, apalagi yang di butuhkan Nino untuk bahan bakarnya bekerja hari ini.
"Satu kali lagi ...."
***
Tak terasa, kehamilan Dania sudah menginjak usia hampir tujuh bulan. Sejauh ini tidak ada yang merepotkan dari kehamilannya bagi Dania, kecuali Nino.
Setiap pagi pria itu akan meminta pajaknya yang akan membuat Dania kelelahan dan hanya bisa berbaring sepanjang hari, tapi meskipun begitu Dania menikmati perannya sebagai seorang istri.
Nino adalah sosok pria yang hangat dan juga penuh pengertian, walaupun kadang sedikit manja. Mungkin begitulah cara pria itu menunjukkan cintanya pada Dania. Seperti hari ini, ia sedang membantu Dania berjalan menuju meja makan dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
"CK!" Dania berdecak kesal di iringi dengan lirikan tajam matanya. "Aku wanita hamil, Om, bukan wanita jompo!" geramnya.
Terdengar kekehan Nino yang sebenarnya sudah sangat hafal dengan sikap Dania. "Yang mengatakan kau wanita jompo siapa, Moony? Aku hanya sedang menikmati peranku sebagai suami siaga."
"Aku tahu! Tapi tidak perlu menuntunku seperti ini." Dania menghentikan langkahnya dan menatap sengit ke arah Nino. "Aku masih bisa berjalan sendiri, Om pedofil."
"Iya! Iya! Istri kecilku yang kuat." Nino mencuri satu kecupan dari bibir menggoda di hadapannya.
Dania merengut kesal. Namun, dalam hatinya ia bersyukur memiliki Nino sebagai suaminya.
Nino menarik kursi untuk di duduki Dania sebelum ia menduduki kursinya sendiri.
"Terima kasih, Om pedofilku yang tampan." Dania tersenyum dengan sangat manis.
"Hemm ...."
Jawaban Nino membuat Dania terperangah. Pasalnya, Nino bukanlah tipe pria dingin yang hanya akan menanggapi ucapan seseorang dengan geraman.
"Kau ... Sakit gigi?"
"Tidak!"
"Aku sedang bicara, Moony." Nino menaikkan pandangannya sesaat untuk menatap Dania. "Habiskan makananmu!"
Hening seketika. Dania tidak menyukai ini. Ia pun meletakkan sendoknya kembali dan menatap Nino kesal.
"Kau kenapa? Marah padaku?" Dania mulai menaikkan nada bicaranya tanpa sadar.
Nino terdengar menghela nafasnya. "Aku tidak marah, Moony. Sekarang duduk dan lanjutkan makanmu!"
Dania tidak bergeming. Ia tetap menatap Nino meski pria itu tidak membalas tatapannya.
"Moony ...," geram Nino seraya meletakkan sendoknya. "Kenapa kau tidak makan?"
Mata Dania menatap lekat wajah Nino. Bibirnya bergetar. Hatinya juga seperti tercubit. "Kau pasti marah padaku. Katakan! Apa salahku? Kau sudah berjanji tidak akan membuatku merasa buruk. Lalu, kenapa kau diam saja tanpa mengatakan kesalahanku?"
__ADS_1
Wajah tampan Nino mengulas senyuman ketika menatap wajah istrinya yang sudah memasang wajah kesalnya. Tangannya meraih tangan Dania. "Kau tidak memiliki kesalahan. Itu sebabnya aku tidak bisa mengatakan apapun, Moony. Lagipula, aku tidak marah padamu."
"Sungguh?" tanya Dania memastikan, matanya masih enggan berpindah dari sosok sang suami yang kini sudah menarik dirinya ke atas pangkuannya itu.
Tangan Nino membelai rambut Dania dan menyelipkannya ke belakang telinga, sebelum mengecup pipi yang semakin chubby itu. "Sungguh!"
"Lalu, kenapa kau tiba-tiba diam saja?" Dania masih penasaran dengan sikap Nino sebelumnya.
Kali ini Nino tidak tersenyum, tapi tidak terlihat kemarahan di wajahnya. Dari sorot matanya hanya terselip sedikit kekecewaan.
"Jawab aku!" pinta Dania, tangannya bahkan sudah melingkar di leher Nino dengan manjanya. "Bukankah kita sudah berjanji untuk saling terbuka? Kenapa kau ragu untuk berbagi denganku?"
"Aku tidak pernah ragu padamu. Hanya saja ...," Nino menggantung ucapannya. Melihat ke dalam mata Dania, seolah ingin menyelami hati yang selalu menjadi tempat persinggahan baginya. "Aku takut."
Dania mengerutkan keningnya. "Takut apa? Takut padaku?" Mata Dania terbelalak karena pertanyaannya sendiri.
Nino tertawa melihat ekspresi yang di tampilkan Dania, kemudian tangannya mencubit kedua pipi Dania dengan gemas. "Mana mungkin aku takut pada makhluk Tuhan paling seksi sepertimu."
Bibir Dania mencebik. "Aku sudah selebar ini dan kau mengatakan kalau aku seksi? Hah! Kau harus pergi ke dokter mata, Om."
Melihat bibir Dania yang mencebik, di susul dengan pipinya yang menggembung membuat Nino semakin gemas dan tanpa izin langsung mendaratkan bibirnya di atas bibir Dania.
Dania yang sudah terbiasa dengan sikap Nino pun, langsung memberikan respon yang baik. Mereka saling bertukar saliva tanpa memperdulikan pandangan para pelayan yang berlalu-lalang.
"Astaga! Apa kamar kalian sudah di sewakan pada orang lain hingga kalian harus beradegan mesum di ruang makan seperti ini?" seloroh seseorang yang baru saja menggebrak meja, untuk menghentikan aktivitas Dania dan Nino.
Nino melepaskan pagutan bibirnya. Sementara, tangannya masih menahan pinggang Dania. Matanya nyalang menatap sosok yang duduk di hadapannya tanpa rasa bersalah. "Lama tidak bertemu. Aku kira kau sudah mati!"
Kata-kata yang begitu menohok dan juga menyakitkan. Namun, seseorang yang seharusnya merasa tersinggung itu justru melemparkan senyum termanisnya pada Nino.
"Aku tidak akan mati, sebelum aku menebus semua kesalahanku ...."
Hallo semuanya π€
Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk Da Nino π
__ADS_1
Jangan lupa di tap jempolnya π dan tinggalkan jejak π£π£ kalian di kolom komentar πsertakan votenya juga 'ya π sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini π
I β€ U readers kesayangan kuhh