Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
MOOD IBU HAMIL


__ADS_3

"Itu pasti hanya alasannya saja agar kau tidak mencakarnya saat melahirkan nanti, Kakak ipar ...."


Wajah tampan dengan senyuman konyol itu, mulai kembali mengusik keharmonisan keluarga kecil Deta dan Ricky. Bahkan, tanpa tersirat sedikitpun rasa bersalah di wajah orientalnya.


"Cih! Aku pikir, aku dan keluargaku sudah bebas dari gangguanmu. Ternyata ...," Sengaja Ricky menggantung kalimatnya dan menatap sinis ke arah Nino.


Benar! Hanya Nino yang bisa dan berani mengganggu saat-saat manis Deta dan Ricky. Jika yang lain hanya akan tersenyum melihat kehangatan mereka, lain halnya dengan Nino yang merasa gatal jika tidak membuyarkan suasana romantis sahabatnya itu.


"Hahaha ...," Tawa Nino membahana di seluruh ruangan hingga dengan geramnya Dania menginjak kaki suami konyolnya itu. "Aduh!!! Sakit, Moony!" Nino meringis ketika menatap mata Dania yang sedang memelototi dirinya.


"Rasakan!" Ricky mendengus dan tersenyum penuh kemenangan. "Sekarang aku tahu bagaimana caranya membuatmu diam!"


Deta hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kejadian yang sama berulang-ulang selama dirinya menjadi nyonya Sanjaya. Kesal? Itu pasti! Namun, Deta lebih banyak merasakan keharuan melihat bagaimana eratnya hubungan antara suami dan adik iparnya itu.


"Kak, ayo, kita minum teh!" Dania mengapit lengan Deta dan menuntunnya menuju halaman belakang. "Tinggalkan saja kedua pria bodoh itu!" desisnya kesal.


Suara Dania yang sengaja di buat penuh penekanan itu tentu saja dapat di tangkap oleh telinga Ricky dan Nino. Keduanya, lantas mengekor di belakang para istri.


"Sayang, perhatikan langkahmu!" Ricky berniat menggapai pinggang Deta, tapi dengan cepat Nino menepis tangannya. "Apalagi?"


Nino berdecak kesal. "Jangan berlebihan! Ibunya Tary bukan baru pertama kali mengandung. Dia pasti tahu apa saja yang boleh dan tidak boleh di lakukan oleh ibu hamil."


Entah mengapa, tiba-tiba saja wajah konyol Nino menguap dan berganti menjadi wajah datar yang terlihat lebih menyebalkan dari sebelumnya bagi Ricky.


"Kau akan merasakannya sendiri saat Dania hamil nanti!"


***


Suara riang yang sesekali di bumbui tawa juga canda, menjadi sebuah penghibur hati di tengah tandusnya pemikiran akan masa depan tanpa kepastian.


Nino terus menatap ke depan. Tak jauh dari tempatnya berdiri, sosok sempurna wanita idamannya sedang terlibat percakapan yang menyenangkan dengan sang kakak. Sesekali tatapan mata sipit nan indah itu tertuju padanya dan melemparkan sebuah senyuman. Hanya sekedar untuk melupakan sejenak masalah mereka yang belum selesai sepenuhnya.


"Ada apa?" Tepukan di bahunya membuat Nino memejamkan mata menahan kesal. "Hei, jangan marah! Aku hanya takut kau menjadi patung karena terlalu lama berdiam diri disini."


Sudut mata Nino melirik tajam ke arah si penepuk bahunya. Siapa lagi kalau bukan Ricky? Kedua manusia itu memang selalu balas membalas dan saling mengejek, tapi rasa sayang di antara keduanya sudah tidak perlu di ragukan lagi.


Nino menghela nafas yang terasa begitu berat. "Tinggalkan aku sendiri atau aku akan menelanmu hidup-hidup! Ah, tidak! Aku akan membumbuimu dengan lada hitam terlebih dulu. Sepertinya itu cukup menggugah selera."

__ADS_1


Ricky memundurkan wajahnya dengan sebelah alisnya yang terangkat. "Aku semakin yakin jika telah terjadi sesuatu. Katakan!"


Pandangan Nino kembali fokus ke depan. Ocehan Ricky tak ia pedulikan. Rasanya ada batu yang terselip di hatinya setiap kali melihat senyuman di wajah Dania dan juga rasa sakit yang telah ia berikan untuk wanitanya itu.


"Kalau kau diam, semuanya akan menjadi lebih buruk." Ricky mendaratkan bokongnya di kursi santai yang sedari tadi di acuhkan Nino.


Nino menoleh. Memastikan jika Ricky sedang berbicara padanya. Sekali lagi, Nino menghela nafas. Sekedar untuk melepaskan sedikit beban berat di hatinya.


"Aku menunggu ...," Ucap Ricky pelan bahkan nyaris tak terdengar, tapi penuh penekanan.


Lagi, Nino menghela nafasnya. Kakinya terasa berat saat melangkah mendekati Ricky yang menunggunya.


"Aku takut, Ky." Nino menatap kosong kursi di hadapannya.


Ricky berdecak, di susul tawa ringan untuk mencairkan suasana yang terasa asing dan juga menyesakkan. "Kursi itu tidak akan memakanmu! Duduk saja!"


Mata Nino nyaris melompat keluar saat menatap Ricky yang sedang mengejeknya. "Aku tidak takut pada kursinya, tapi aku takut akan masa depanku dengan Dania!"


"Oh ...," Ricky mengangguk paham. "Apa yang kau takutkan? Aku lihat kalian sudah berbaikan dan Dania juga sudah mulai bisa menerima dirimu sebagai suaminya."


"Masalahnya ...."


***


"Hah!"


Helaan nafas yang terdengar berat itu menarik perhatian Deta. Ia menoleh dan melihat Ricky tengah memijat pelipisnya.


"Mas, pusing?" Tangan lembut Deta menyentuh dahi Ricky. "Tidak demam."


Ricky tersenyum lemah. "Aku tidak apa-apa, Sayang. Hanya sedikit sakit kepala memikirkan hubungan Dania dan Nino."


Mata bulat Deta seketika membulat sempurna. "Apa maksudmu, Mas? Mereka bertengkar? Apa masalahnya serius? Tapi kenapa tadi Dania terlihat baik-baik saja? Dia bahkan tidak mengatakan apapun."


"Sayang!" Ricky menyentuh kedua bahu Deta. "Dengar! Mereka baik-baik saja."


Deta mengerutkan dahinya. "Jika mereka baik-baik saja, lalu kenapa Mas terlihat gelisah?"

__ADS_1


Kepala Ricky tertunduk, di barengi dengan helaan nafasnya yang lagi-lagi membuat Deta semakin khawatir.


"Aku hanya mengkhawatirkan hubungan mereka yang belum kuat. Aku merasa cinta mereka belum terikat sempurna. Bisa saja sewaktu-waktu ada badai yang menghantam rumah tangga mereka dan dengan mudahnya menghancurkan ikatan di antara mereka." Ricky menjelaskan tanpa menatap mata sang istri.


Sebuah senyuman terbit di sudut bibir Deta. "Mas, hubungan Dania dan Nino memang baru saja berjalan, tapi aku yakin dasar dari hubungan mereka tidak serapuh itu."


Melihat senyuman di wajah istrinya, sedikit mengurangi kegelisahan Ricky akan percakapannya dengan Nino sebelumnya.


"Mas ...," Deta melingkarkan tangannya di pinggang Ricky yang langsung menyambut dan mendekap tubuhnya. "Aku percaya padamu. Pada Dito. Dan juga pada kak Nino. Aku percaya kalian akan menjaga keluarga kita agar tetap utuh. Aku percaya kalian mampu mengatasi semua masalah yang akan menghampiri keluarga kita. Dan, aku juga percaya bahwa kalian bertiga adalah pelindung kami dan sangat menyayangi kami."


Hati Ricky mencelos. Ungkapan hati Deta terasa seperti tengah menarik paksa nyawanya. Ricky tertohok dengan semua kenyataan bahwa istrinya begitu mempercayai dirinya, sedangkan selama ini sudah terlalu banyak yang ia sembunyikan.


"Sayang?"


Deta mendongak dan menatap wajah Ricky yang sedang menciumi puncak kepalanya. "Iya, Mas."


"Apa aku terlihat baik di matamu?" tanya Ricky ragu.


"Tentu saja! Kau sempurna, Tuan Sanjaya." jawab Deta tanpa berpikir.


Ricky tersenyum simpul dan mengecup bibir Deta sekilas. "Seandainya aku melakukan sebuah kesalahan, apa kau dan anak-anak kita akan memaafkan aku?"


Hati Deta mulai berdebar dan tidak nyaman. Rasanya ada sesuatu yang membuatnya ingin menangis mendengar pertanyaan Ricky. Maka, tanpa perintah dari siapapun, matanya langsung meluncurkan butiran butiran bening hangat yang membasahi kedua pipinya.


"Hei, kenapa menangis?" Ricky menangkup kedua pipi Deta dengan cemas.


Deta menatap kedua bola mata Ricky lekat. Tangisnya semakin pecah, tapi ia berusaha tetap mengatakan apa yang ada di pikirannya. "A- Apa ... Mas, memiliki wanita lain di belakangku? Mas ... Mas, selingkuuhh huhuhu?"


Ricky menganga tak percaya. "Astaga! Mana mungkin, Sayang!"


"Bohong!!!" hardik Deta, yang langsung meninggalkan Ricky yang terpaku dengan kesalahpahaman istrinya.


"Inilah salah satu alasan yang membuatku tidak ingin dia hamil lagi!" gerutu Ricky, lalu setengah berlari menyusul Deta. "Sayaaaanngg! Kau salah paham."


Hallo semuanya 🤗


Mohon maaf karena ketidakjelasan jadwal up-nya 🙏

__ADS_1


Terima kasih untuk yang tetap setia menanti author muncul kembali 😍


Minal aidzin wal Faidzin, Readers Kuhh sayang 🙏😘


__ADS_2