Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
MALU


__ADS_3

"Dasar pria tua tidak tahu malu!"


Umpatan-umpatan seperti itu sudah biasa di dengar oleh Nino dari mulut kakak iparnya yang dingin, tapi rasanya kali ini sedikit berbeda karena ada rona merah yang samar-samar dapat Nino lihat di kedua pipi Dito.


"Kakak ipar, jika aku memiliki rasa malu sudah bisa di pastikan aku tidak akan mendapatkan adikmu ini." Nino mengedipkan sebelah matanya pada Dania.


Dito mendesis kesal dengan tatapan yang entah mengarah kemana. "Terserah kau sajalah! Yang muda mengalah."


Nino semakin melebarkan senyumnya karena jawaban Dito. Kakinya melangkah mendekati Dito yang duduk berseberangan dengannya.


"Kakak ipar," bisik Nino begitu duduk di samping Dito. "Karena aku lebih tua, sebaiknya Kakak ipar mengetuk pintu dulu sebelum masuk ke kamarku."


Bisikkan Nino yang di akhiri kekehan itu membuat Dito geram hingga langsung melayangkan tinjunya mengarah ke wajah tampan Nino. Sayang, Nino sepertinya sudah hafal dengan gerakan Dito dan seketika memundurkan tubuhnya untuk menghindari serangan Dito.


"Serangan seperti itu sudah basi, Kakak ipar!" celetuk Nino sombong, memasang wajah angkuhnya.


Terdengar dengusan dari mulut Dito saat pria dingin itu beranjak dari sofa. "Dania, bawa suamimu yang tidak tahu malu itu pergi sebelum aku menggilingnya!"


Nino meringis ngeri, tapi juga di bumbui dengan senyum mengejek ketika tatapan matanya bertemu dengan Dito yang terlihat kesal bukan main. Sementara, Dania tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi.


"Ayo, Moony, kita pulang!" ajak Nino seraya mengulurkan tangannya pada Dania yang masih terpaku di tempatnya.


"Kak Dito marah." Dania menatap punggung lebar Dito yang menjauh.


Nino meraih tangan Dania dan menggenggamnya. "Tidak, Moony. Kakak ipar hanya sedang merasa malu pada kita."


Bola mata Dania bergerak dan menatap Nino dengan mendongak. "Malu?"


"Hemm ...," Nino menganggukkan kepalanya dengan bibir mencebik. "Karena kejadian tadi pagi, saat kakak ipar melihat kita ehmm -"


Tangan kecil Dania berusaha menutup mulut Nino yang dengan lancarnya ingin membeberkan tentang kejadian memalukan pagi ini.

__ADS_1


Shanum yang sedari tadi hanya menyimak pun, akhirnya mengeluarkan suara. "Ehem! Sepertinya kalian sudah berbaikan sekarang."


"I- Iya, Kak Shan." Dania sungguh malu dengan kelakuan suaminya kali ini.


"Dania, aku tidak bermaksud untuk mengusirmu, tapi aku rasa lebih baik kau ikut pulang bersama tuan Ferdinan." Shanum menyentuh bahu Dania dengan lembut.


Sudut bibir Dania memaksakan senyumnya karena bagaimanapun, rasanya berat bagi Dania meninggalkan rumah yang berisi begitu banyak kenangan dirinya dan keluarganya.


"Kau bisa datang kesini kapanpun kau mau. Bukankah begitu, Tuan Ferdinan?" Shanum mencoba menenangkan hati Dania yang gelisah.


Nino tersenyum tulus. "Tentu saja! Sampai kapanpun aku tidak memiliki hak untuk membatasi istriku untuk datang ke rumah keluarganya, tapi aku berjanji tidak akan membiarkan istriku pulang kepada keluarganya karena kesalahanku. Biarlah ini menjadi yang terakhir bagi kami berdua! Cukup sudah pelajaran dan pengajaran yang aku dapatkan. Sekarang aku sudah memahami bagaimana istriku dan aku akan berusaha untuk selalu membuatnya nyaman berada di sisiku yang jauh dari kata sempurna ini."


Mata Dania terasa panas. Segera ia bangkit dan memeluk suaminya yang menatapnya dengan penuh cinta. Hati Dania jatuh. Jatuh pada pria yang telah mengikatnya dalam pernikahan. Pria yang telah memiliki dirinya secara utuh meski dengan cara terpaksa. Namun, kini Dania bersyukur karena takdir telah mendorongnya masuk ke dalam pelukan hangat seorang Nino Ferdinan.


***


"Ini bukan rumah kita." Dania mengamati sekeliling melalui jendela mobil yang sengaja ia buka lebar-lebar.


Nino mematikan mesin mobilnya. Menyandarkan kepalanya pada sandaran jok mobil dan mulai memejamkan matanya. Tak peduli pada Dania yang tengah mengingat-ingat dimana mereka berada saat ini.


Wajah Dania yang awalnya kebingungan, berubah menjadi kesal ketika melihat Nino sedang tertidur dengan wajah tampannya yang menggoda.


"Dasar om pedofil menyebalkan!" geram Dania, berusaha untuk membangunkan Nino dengan cara mencoba untuk mencubit kedua pipinya.


Belum sempat Dania melakukan niatnya, pergelangan tangannya sudah berada dalam cekalan tangan besar Nino.


"Oh, jadi kau hanya pura-pura tertidur?" tanya Dania kesal.


Kedua mata Nino masih terpejam. "Aku tidur, tapi aku bisa merasakan kau berusaha untuk mendekatiku."


"Cih! Aku ingin meremas wajahmu yang tanpa dosa itu." Tangan Dania sudah memberontak agar terlepas dari Nino.

__ADS_1


Tidak ada jawaban lagi dari bibir Nino. Melainkan hanya sebuah tarikan yang memaksa Dania berakhir di atas dada bidang Nino. Posisi Nino yang setengah berbaring karena jok mobil yang sengaja ia turunkan, membuat Dania seperti sedang bermanja-manja dengan dirinya.


"Uluh ... Uluh ... My sweet baby wife." Nino mengusap lembut rambut Dania yang berada di dadanya.


Dania mendongak dan melihat Nino yang masih terpejam dengan seringai di wajahnya.


'Panggilan apa lagi itu? Apa dia sedang bermimpi?' Batin Dania menerka. "Om, apa kau bermimpi buruk?" tanya Dania, dengan tangan yang dikibaskan di depan mata Nino yang terpejam.


"Tidak!" Sepasang mata dengan tatapan hangat itu terbuka. Menatap wajah cantik Dania yang berada di atas tubuhnya. "Justru aku sedang menikmati mimpiku yang jadi kenyataan."


Dania seperti tersihir oleh tatapan dan juga ucapan Nino hingga dirinya merasakan kehangatan yang hinggap di bibirnya yang mulai terasa basah.


"Kau selalu manis, Moony." Nino merapihkan anak rambut Dania yang sedikit berantakan karena ulahnya.


Wajah Dania terasa panas. Aneh rasanya karena hatinya masih saja berdebar-debar setiap kali Nino menciumnya seperti ini. Walaupun hal itu bukan pertama kali mereka lakukan.


"Jika kau terus seperti ini, aku tidak bisa menjamin jika kita tidak melakukan apapun." Kali ini Nino mulai merubah posisi duduknya sedikit lebih tegak hingga Dania bisa merasakan desiran di seluruh tubuhnya.


Dengan cepat Dania bangun dan kembali ke tempatnya semula untuk merapihkan rambutnya, juga polesan bibirnya yang berantakan akibat ulah Nino.


"Kenapa kau membawaku kesini?" tanya Dania, setelah degup jantungnya kembali normal.


Jemari Nino mengetuk-ngetuk kemudi mobil. Menimbang apakah akan melanjutkan apa yang telah ia rencanakan. "Aku ingin memberi tahu sesuatu padamu tentang masa laluku."


"Masa lalu?" Ulang Dania dan mendapat anggukan kepala dari Nino. "Apakah itu penting?"


Nino menghela nafasnya yang terasa berat. "Sangat penting! Aku tidak ingin kau salah paham lagi dan tiba-tiba meninggalkan aku. Membayangkannya saja sudah membuat aku kesulitan untuk bernafas. Aku tidak sanggup jika harus kehilangan dirimu hanya karena aku tidak ingin mengingat apa yang telah aku tinggalkan."


Dania menatap manik mata Nino yang di penuhi cinta dan kehangatan untuknya. Tatapannya sedikit berbeda, meski tidak mengurangi cintanya pada Dania. Dengan hati yang lapang, Dania akan berusaha untuk menerima semua kenyataan yang akan Nino katakan.


"Baiklah!" Dania menghembuskan nafasnya. "Aku siap!"

__ADS_1


Hallo semuanya 🤗


Stay healthy and happy 😘


__ADS_2