Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
HUKUMAN


__ADS_3

"Hei, cepatlah pulang! Nyawaku ada di tangan kalian. Jika kalian terlalu lama berbulan madu, aku akan mati disini!"


"Apa?" Dania dan Nino saling berpandangan, mencoba mencerna ucapan Ricky di seberang panggilan.


"Bulan madu? Mati?" Bibir Dania mengeja apa yang di katakan kakak iparnya itu. Dahinya bahkan berkerut sangat dalam ketika berusaha mengerti apa maksud ucapan Ricky sebenarnya.


Nino yang sepertinya sudah memahami maksud Ricky, hanya bisa tertawa ketika melihat ekspresi wajah Dania yang penuh tanya. "Jangan di pikirkan, Moony! Dia hanya sedang bersandiwara."


"Aku tidak sedang bersandiwara, Nino! Hidupku benar-benar akan hancur jika kalian tidak segera kembali!!!" Ricky berteriak hingga Nino langsung menjauhkan ponselnya, khawatir jika gendang telinganya dan juga Dania akan rusak.


Dania kembali menatap Nino hingga pandangan keduanya bertemu. Tak ada suara. Hanya isyarat mata dan juga anggukkan kepala sebagai interaksi mereka. Dengan hati-hati Dania mencoba berbicara dengan Ricky.


"Kak Ricky, kau masih disana?" tanya Dania, karena tidak lagi terdengar suara apapun dari seberang panggilan.


Terdengar suara Ricky mendesah, seolah ada beban begitu berat di hatinya. "Iya, Tuan putri. Aku disini dan mendengarkan."


"Kak ...," Dania menarik nafas dalam. "Sebenarnya, ada masalah apa? Kakak sakit? Jika Kakak sakit, pergilah ke dokter atau setidaknya bicaralah dengan kak Shanum. Dia yang bisa membantumu. Bukan kami! Karena aku dan Om Nino bukan dokter." ucapnya panjang lebar.


Hening.


Tiba-tiba saja, di tengah keheningan yang hanya beberapa detik itu suara tawa Nino pecah dan membuat Dania mengernyit heran. "Hahahaha ...."


"Ada apa?" tanya Dania, tanpa suara. Hanya melalui tatapan mata dan gerakan bibirnya.


Nino masih sulit mengendalikan tawanya melihat keluguan Dania. Sudut matanya bahkan mulai mengeluarkan air karena terlalu banyak tertawa.


"Tunggu saja kami! Aku akan pastikan masa depanmu ... Aman!" tukas Nino, kemudian mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Ricky.


***


Malam hari yang sunyi menjadi teman perjalanan bagi Dania dan Nino. Mereka memutuskan untuk segera kembali karena mengkhawatirkan keadaan Ricky.


Sebenarnya, Nino sudah membujuk Dania agar tetap tenang dan mengatakan bahwa tidak akan terjadi apapun. Namun, Dania yang salah paham mulai berpikir macam-macam.


"Ponsel kakak masih belum bisa di hubungi juga." Dania sibuk memainkan ponselnya, sementara Nino hanya meliriknya sesekali.


"Mungkin dia lupa mengisi baterainya, Moony. Sudahlah! Jangan berpikiran macam-macam!" ucap Nino seraya mengusap rambut Dania.


Dania menoleh dan menghela nafasnya. "Aku tidak tahu apa yang terjadi antara kakak dan kak Ricky, tapi aku benar-benar takut jika mereka bertengkar karena aku."

__ADS_1


"Kenapa? Bukankah dalam sebuah hubungan hal-hal seperti pertengkaran itu biasa terjadi? Orang bilang itu adalah bumbu percintaan." tanya Nino, dengan tatapan yang masih fokus mengemudi.


"Benar! Apakah kau juga ingin jika kita selalu bertengkar?" sahut Dania. Matanya terpejam dengan tubuh bersandar dan tangan yang terlipat di dada. "Aku hanya tidak ingin ada lagi cinta yang terkoyak karena diriku. Kakak dan kak Ricky saling mencintai sudah sejak lama. Mereka sudah melewati banyak hal dalam kisah cinta mereka selama ini dan aku menyaksikan sendiri semuanya. Bagaimana kakak berjuang, bagaimana kakak berusaha dan berlari. Semua itu membuatku yakin jika kak Ricky adalah hidup kakak. Aku tidak ingin hanya karena terlalu menyayangiku, kakak jadi menjauh dari kak Ricky." sambungnya lirih.


Ada sebuah batu besar yang mengganjal di hati Nino. Hatinya tiba-tiba sesak melihat Dania yang ketakutan, tapi berusaha menyembunyikan semua itu dengan memejamkan matanya.


Nino menepikan mobilnya dan meraih tangan Dania. Mata sipit itu seketika terbuka. Menatap Nino penuh tanya.


"Semua yang terjadi dalam hidup ini. Baik itu hidup kita sendiri ataupun hidup orang lain. Tak peduli kita menyayangi atau bahkan tidak mengenal orang itu, semuanya telah menjadi takdir yang di tentukan Tuhan. Kita hanya manusia biasa yang lemah dan tidak bisa melakukan apapun tanpa izin dariNya. Jika kau terus menerus menyalahkan dirimu atas segala yang terjadi, bukankah itu artinya kau melawan takdir? Lupakan masa lalu, Moony! Tidak semua masalah di sebabkan olehmu." Nino menatap lekat bola mata Dania yang di penuhi genangan air.


Nino benar. Selama ini Dania hanya sudah terbiasa untuk menanggung semua kesalahan di pundaknya. Sejak kecil, Dania selalu di salahkan atas segala hal yang terjadi meski ia tidak melakukan apapun. Kehadiran dirinya yang tidak di harapkan membuat semua masalah seolah bersumber dari dirinya. Beruntung, Dania bisa melewati semua itu dan kenangan-kenangan buruk itu tidak merubah dirinya menjadi sosok yang buruk.


"Tapi ... Kak Ricky -" Dania belum sempat melanjutkan kalimatnya karena Nino terdengar gusar.


"Pahami satu hal, Moony! Kalau kau salah, kau harus meminta maaf. Tapi saat kau tidak melakukan kesalahan, kau tidak harus menanggung kesalahan orang lain. Pundakmu ini kecil ...," Nino menekan kedua bahu Dania dengan lembut. "Tidak akan sanggup menanggung beban lagi."


Cukup sudah. Air mata Dania tidak sanggup lagi bertahan. Dania tidak peduli apapun lagi. Kini tubuhnya sudah berhambur memeluk Nino. Tangannya erat mengunci tubuh sosok pria yang ternyata amat sangat mengenal dirinya, juga masa lalunya.


Tak ada kata maaf, apalagi terima kasih yang terucap dari bibir Dania. Hanya tangis dan haru yang melingkupi hati Dania saat ini. Untuk yang kesekian kalinya, Dania merasa benar-benar beruntung karena di cintai oleh pria seperti Nino.


'Aku akan menjagamu! Aku tidak akan membiarkan siapapun merenggutmu dari sisiku, Om pedofil ...'


***


"Selamat malam, Tuan dan Nyonya Ferdinan." Salah seorang pelayan menghampiri Dania dan Nino.


Nino mengangguk dengan seutas senyum ramah di wajahnya. "Dimana Ricky?"


"Tuan ada di kamar tamu, Tuan Ferdinan." Pelayan itu menunjuk ke arah kamar tamu berada.


Pandangan Nino dan Dania mengikuti tangan pelayan itu. "Baiklah, kau boleh pergi! Kami akan menemui Ricky." Nino melanjutkan langkahnya setelah pelayan tadi pergi.


Ketika Dania dan Nino sampai di depan kamar tamu, mereka langsung dikejutkan oleh pemandangan dimana Ricky bersandar di pintu kamar tamu dengan kaki yang di panjangkan ke lantai dan wajah yang terlihat sangat frustasi.


"Kak Ricky!" pekik Dania, tak bisa menutupi rasa terkejutnya.


Dania melepaskan pegangan tangan Nino dan langsung menghampiri Ricky. Meninggalkan Nino yang justru menertawakan penderitaan sahabatnya itu.


"Apa yang terjadi, Kak?" tanya Dania cemas, tapi hanya di jawab tatapan putus asa oleh Ricky.

__ADS_1


Tanpa di sadari Dania, ternyata Nino sudah berada di sisinya dan mencoba mengetuk pintu.


"Ibunya Tary? Kau sudah tidur?" panggil Nino, membuat suara sehalus mungkin agar tidak menimbulkan keributan.


Tidak ada jawaban.


Dania dan Ricky menatap Nino yang hanya mengangkat bahunya acuh. Rasanya Ricky ingin sekali melayangkan kepalan tangannya ketika melihat wajah konyol Nino di saat seperti ini.


"Biar aku saja," ucap Dania, kemudian berdiri di depan pintu. "Kakak ... Apa Kakak sudah tidur?" tanyanya.


Tetap tidak ada jawaban.


Ricky menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Sudahlah! Mungkin ini hukuman yang harus aku terima karena telah berbuat seperti itu pada kalian."


Sejujurnya, Dania sempat marah dan sedikit kesal dengan ulah Ricky. Namun, setelah di pikir-pikir apa yang di lakukan Ricky telah banyak membantu perkembangan hubungannya dengan Nino.


"Kak Ricky ...," lirih Dania, hatiku ikut hancur melihat ketidakberdayaan kakak iparnya.


Lagi, Dania mengetuk pintu dengan hati-hati. "Kakak, Dania tahu Kakak belum tidur. Bisakah kita bicara? Kakak?"


Masih tidak ada jawaban, tapi kali ini pintu yang menjadi penghalang di antara kakak beradik itu terbuka perlahan dan memperlihatkan wajah Deta yang datar.


"Kakak!!!" Dania langsung merengkuh tubuh Deta.


Deta tersenyum meski di paksakan dan membalas pelukan Dania dengan erat. "Bagaimana kabarmu, Sayang?"


"Dania baik, Kak, tapi Dania kesal pada Kakak!" ketus Dania.


Bola mata Deta membulat sempurna. "Kenapa?"


Dania melirik Ricky yang sudah berdiri tegak di belakangnya. "Kakak membiarkan pangeranku terlihat berantakan seperti ini! Aku sungguh menyesal sudah meninggalkannya dengan Kakak."


Deta menatap tajam pada Ricky yang menatapnya penuh harap. "Dia pantas menerimanya!"


"Kau salah! Hukuman ini tidak sesuai dengan apa yang telah dilakukan olehnya."


Hallo semuanya 🤗


Keep healthy and happy 😘

__ADS_1


__ADS_2