Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
CINTA NINO


__ADS_3

"Kau salah! Hukuman ini tidak sesuai dengan apa yang telah dilakukan olehnya." Nino merungut dan berjalan menghampiri Deta.


Deta berdehem. "Baiklah, karena Ricky melakukan kesalahan pada kak Nino dan juga Dania, maka kalian berdualah yang lebih berhak menentukan hukuman untuknya."


Mata sipit Nino berbinar. Mendapatkan kesempatan untuk mengerjai sahabatnya seperti ini. Tentu saja tidak akan ia lewatkan begitu saja!


"Jangan melakukan hal yang aneh, No!" ancam Ricky, bahkan sebelum Nino membuka mulutnya.


"Hussttt!" Nino meletakkan telunjuk di bibirnya. "Kau itu terdakwa sekarang, jadi jangan banyak melawan! Atau hukumanmu akan semakin berat."


Ricky mendengus, tapi ia sadar sepenuhnya jika memang dirinya salah dan pantas mendapatkan hukuman. "Ya, baiklah! Katakan apa hukuman untukku? Walaupun sebenarnya selama beberapa hari ini aku sudah sangat tersiksa."


Wajah memelas Ricky membuat Deta dan Dania tidak tega. Kedua kakak beradik itu ingin melepaskan Ricky begitu saja untuk kesalahannya kali ini. Namun, mengingat keterlibatan Nino dalam masalah ini, mereka pun urung membuka mulut.


"Ok! Sekarang, jawab dulu pertanyaanku! Apa alasanmu melakukan hal itu pada kami?" tanya Nino, berlagak seolah dirinya sangat di rugikan.


Ricky menatap Dania dan Nino secara bergantian. "Aku hanya ingin membuat kalian lebih dekat."


"Itu saja?" selidik Nino, tak serta merta puas dengan jawaban Ricky.


"Aku rasa begitu." Ricky berusaha bersikap cuek.


"Kalau hanya itu jawabannya ... Seharusnya, kau tidak perlu sampai melakukan hal itu karena aku dan Dania sudah sepakat untuk membuka diri satu sama lain. Sayang sekali, karena ulahmu kami jadi salah paham." Nino mencebik ketika pandangannya bertemu dengan tatapan Ricky.


Ricky menghela nafasnya yang terasa berat. "Aku sungguh menyesal untuk hal itu. Tolong maafkan aku! Sebenarnya aku juga ingin memiliki keponakan darimu. Sudah lama aku tidak mendengar suara tangis bayi yang menggemaskan."


Terdengar Deta memekik karena ucapan Ricky. Tangannya menutup mulutnya rapat-rapat. Seolah berusaha menyembunyikan sesuatu yang ingin meluncur keluar dari mulutnya.


Tiba-tiba saja Nino tersenyum penuh arti. "Tuhan begitu baik padamu, Brother. Keinginanmu akan segera terpenuhi."


Dania menatap Nino. Ada begitu banyak pertanyaan yang tersirat di matanya. Hal itu lantas memancing tawa Nino yang justru membuat Dania semakin bingung.


Sebuah senyuman terbit di wajah Ricky ketika menatap Dania. "Jadi, Dania?"


"Tidak!" Nino menatap Deta yang berdiri mematung. "Tapi ibunya Tary."


Senyuman yang sempat menghiasi wajah Ricky seketika memudar. Wajah tampan itu menjadi pias ketika menyadari maksud dari kata-kata Nino.

__ADS_1


Seketika suasana menjadi sedikit menegangkan. Tak ada suara apapun, selain hembusan angin.


Nino dan Dania saling menatap. Dania bahkan mencoba berinteraksi dengan Nino melalui matanya. Alisnya bergerak naik turun meminta penjelasan pada Nino.


"Baiklah! Sepertinya ini sudah malam, kami harus pulang." Nino sudah meraih tangan Dania untuk mengajaknya pulang.


"Kakak?" panggil Dania, khawatir melihat Ricky dan Deta yang masih bungkam.


Terdengar kekehan dari mulut Nino, meski terdengar begitu di paksakan. "Moony, biarkan mereka saling bicara! Tugas kita sudah selesai."


Awalnya, Dania ragu untuk pergi. Namun, tatapan Nino menegaskan bahwa mereka harus pergi saat ini juga.


Dania menghela nafasnya perlahan dan memeluk Deta sesaat. "Dania pulang, Kak."


Deta hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum simpul. Berbeda dengan Ricky yang masih seperti patung tak bernyawa.


Nino menepuk bahu sahabatnya itu sebelum pergi hingga kedua mata Ricky mau menatapnya.


"Kau membuatnya setiap kali ada kesempatan, tentu saja kau tidak boleh terkejut saat replikamu itu akhirnya siap."


***


"Om ...," Dania menyentuh pipi Nino lembut dan memainkan jemarinya di wajah Nino.


Tangan Dania menyusuri setiap garis wajah Nino yang seolah tanpa celah. Keinginan nakal tiba-tiba saja muncul di pikiran Dania. Bibir Nino yang tertutup rapat seperti memanggil dirinya. Dengan sedikit ragu-ragu, Dania menempelkan bibirnya di atas bibir Nino yang masih terlelap.


"Kau terlalu tampan untuk pria seumur dirimu, Om pedofil. Aku tidak rela wajahmu ini menjadi pemandangan indah untuk wanita lain." Dania berbisik di telinga Nino.


Tidak ada respon sedikitpun dari Nino. Pria itu seperti tenggelam dalam mimpinya. Melihat hal itu, Dania kembali tertarik untuk bermain-main dengan bibir sang suami. Tangannya mulai mengabsen setiap jengkal wajah Nino, sementara bibirnya mengikuti pergerakan tangannya. Dania tidak menyadari jika sudah ada yang terbangun karena ulahnya.


"Ahh!!!" pekik Dania, terkejut karena kini tubuhnya berada di bawah kungkungan tubuh Nino. "Ka- Kau sudah bangun?" tanyanya gugup.


Nino menyeringai. "Kau menggodaku! Tentu saja aku harus bangun."


"Aku tidak menggodamu!" sangkal Dania seraya memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Nino.


Semburat merah di wajah Dania, membangkitkan semangat Nino. Ia langsung mengulang apa yang dilakukan Dania pada dirinya. Di mulai dari mengecup bibir hingga mengabsen setiap jengkal wajah Dania. Persis seperti yang Dania lakukan padanya.

__ADS_1


"Om ...," desah Dania, nafasnya memburu.


Nino menatap lekat ke dalam mata Dania yang menuntut lebih. "Everything for you, Darling."


***


Barisan pohon yang tertata rapih di bahu jalan menjadi pemandangan yang menarik bagi Dania. Sejak kecil, ia sangat suka menghitung pohon-pohon selama dalam perjalanan untuk menghilangkan kejenuhan atau sekedar mengisi waktu.


Hari ini, Dania berniat membawakan makan siang untuk Nino. Meskipun semua itu hanyalah alasan bagi Dania, karena sesungguhnya ia hanya ingin mengawasi Nino. Rasanya Dania tidak puas dengan laporan yang di berikan oleh Liza. Entah mengapa, semakin lama Dania mulai takut kehilangan Nino.


"Pak, bagaimana kabarmu?" tanya Dania sopan, pada pak Toto yang tengah mengemudi tanpa suara.


Sejak Dania membuka dirinya untuk Nino, ini kali pertama ia di antar kembali oleh supir kepercayaan Nino. Pak Toto. Pria yang sempat Dania duga adalah Nino Ferdinan. Mengingat kembali hal itu membuat Dania tertawa geli.


"Saya baik, Nyonya," jawab pak Toto seperlunya.


Dania melihat masih adanya kecanggungan dari cara bicara pak Toto padanya. "Pak Toto, sebenarnya ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu, tapi aku ragu jika kau akan menjawabnya."


Pak Toto melirik sekilas pada Dania melalui kaca spion tengah mobil. "Saya akan menjawab semampu saya, Nyonya."


Sebuah senyuman tertarik di sudut bibir Dania. "Saat kau dulu mengaku sebagai Nino Ferdinan, apakah kau tahu bahwa itu adalah perbuatan yang salah?"


"Saya tahu, Nyonya, tapi saya tidak bisa membantah tuan." Pak Toto tetap fokus mengemudi.


Dania menaikkan sebelah alisnya. "Sejujurnya, Pak Toto, aku kecewa padamu yang tidak bisa menunjukkan jalan yang benar pada bosmu saat itu. Kalian bersekongkol untuk mempermainkan aku!"


Terdengar helaan nafas pak Toto yang begitu halus karena sepertinya ia berusaha untuk tidak melewati batasannya.


"Pak Toto -"


"Maaf, Nyonya, Tuan Nino adalah pria paling sabar yang pernah saya temui. Tuan begitu setia menunggu anda meski anda selalu menolaknya. Tuan bahkan tidak keberatan saat anda mengira saya adalah dirinya. Harga diri tuan tidak terluka sama sekali, tapi cintanya yang terluka. Wanita yang tuan nantikan selama sepuluh tahun ternyata melupakan wajahnya, sementara tuan selalu mengukir wajah anda dengan tinta abadi di hati dan ingatannya." Bahu pak Toto bergerak naik turun, seperti tengah menahan emosi di hatinya.


Dania tersenyum kecut. Tubuhnya bersandar di jok mobil. Pandangannya menatap jauh ke jalanan di depannya. "Kau benar, Pak Toto! Sudah waktunya aku untuk melakukan hal yang sama padanya."


'Tunggu aku, Om pedofilku sayang! Aku akan mengungkapkan semua perasaanku padamu. Semoga tidak akan ada lagi yang menghalangi ....'


Hallo semuanya 🤗

__ADS_1


Keep healthy and happy 😘


__ADS_2