Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
ANIKA


__ADS_3

Di bawah rindangnya sebuah pohon dan sejuknya angin yang berhembus, ada sepasang anak manusia yang tengah mengkhawatirkan masalah yang sama.


"Kenapa kau datang?" Pria tampan bertubuh tegap itu bertanya tanpa ingin menatap.


Wanita di sampingnya tersenyum. "Untuk menagih janjimu."


"Ck!" Mata itu akhirnya mau melihat walau hanya dari sudutnya saja. "Kenapa aku selalu terikat janji dengan para wanita?" Sinisnya. Bahkan mungkin lebih terdengar seperti sebuah keluhan.


"Karena kau pria yang baik." Lagi. Wanita itu tersenyum dengan tulus. "Kelembutan hatimu membuat para wanita nyaman berada di dekatmu, tapi kau juga harus ingat bahwa ada satu hati wanita yang harus selalu kau jaga."


Kali ini, kepala si pria menoleh dengan tatapan menuntut penjelasan. "Aku selalu menjaganya."


"Kau menjaga dan melukai di saat yang bersamaan ... Nino ...."


***


Kelopak mata Nino tiba-tiba terbuka. Ia mengerjapkan matanya berulang kali. Di lihatnya sekeliling, ternyata dirinya berada di ruang kerja semalaman.


Jantung Nino berdebar kencang. Rasanya seperti ia baru saja melakukan kesalahan besar dan mendapatkan teguran. Meskipun ia sering membuat onar dan menjadi bulan-bulanan Dito, entah mengapa saat membuka matanya Nino merasa jauh lebih buruk.


"Anika ...," Bola mata Nino membesar, ketika mengingat kilasan mimpinya semalam.


Wajah cantik dan anggun Anika, yang tak lain adalah ibu kandung Dania, tiba-tiba berkelebatan di hadapan Nino. Kilasan masa lalu keduanya berputar seperti sebuah film yang mengingatkan Nino akan janjinya pada wanita itu.


Flashback on ...


"Kau pasti sangat sedih?" Anika baru saja menduduki kursi kosong di sebelah Nino. Matanya tak bisa lepas dari sosok Nino yang nampak hancur tak berbentuk.


Nino tersenyum getir. "Aku miskin, tapi aku lupa diri. Itulah sebabnya Mika menolak aku."


Anika sangat iba melihat kondisi sahabat adiknya itu. "Tidak! Bukan seperti itu. Kau tahu bukan? Mika dan aku sudah menganggapmu seperti keluarga kami sendiri. Bagaimana mungkin kau dan Mika menjalin hubungan asmara? Akan terlihat lucu bukan?"

__ADS_1


Meskipun Nino tidak merasa ada yang lucu tentang hati dan perasaannya, tapi bibir pria itu tetap tertawa. "Kau benar! Aku dan Mika memang tidak akan pernah bisa bersanding. Aku akan selalu mengingat hal ini di dalam hatiku."


"Maafkan aku, Nino!" Anika mengalihkan pandangannya ke arah lain saat Nino mencoba menatapnya. "Aku tidak bisa menjadi kakak yang baik untuk Mika. Mungkin itu sebabnya ia lebih senang mengejar harta daripada cinta."


"Tidak! Tidak! Semua ini hanya tentang aku dan Mika. Tidak ada orang lain di dalamnya." Nino menarik nafas panjang. "Jika berada di sisiku menyakiti dirinya, maka aku rela untuk melepasnya."


Senyuman getir di wajah tampan Nino, mengundang satu butir air dari mata Anika. Dengan cepat ia menghapusnya agar Nino tidak mengetahuinya.


"Kau memang benar-benar pria yang sabar dan penuh pengertian. Kau selalu bisa mencintai dengan caramu. Hebat sekali!" Anika mengacungkan kedua ibu jarinya. "Kau tahu satu hal, Nino?"


"Apa?" Nino kembali memaksakan senyumnya, karena bagaimanapun, Anika tidak bersalah atas rasa sakit yang ia rasakan kini.


"Sejujurnya ...," Anika melirik ke kiri dan ke kanan untuk memeriksa keadaan, kemudian menutupi bibirnya sebelum berbisik, "Aku ingin kau menjadi keluargaku."


Nino tertawa. "Tenang saja! Aku akan selalu menjadi keluargamu, meskipun aku dan Mika tidak pernah bersatu."


"Janji!" Anika mengarahkan telunjuknya ke wajah Nino dan mendapatkan anggukan kepala dari pria itu. "Kau harus ingat! Jika sampai kau mengingkari janjimu, aku akan mengejarmu sampai ke ujung dunia."


Anika menghela nafasnya. "Andai saja aku memiliki adik yang lain ... Aku pasti akan memaksanya untuk menikah denganmu."


"Kenapa? Kau takut adikmu tidak akan laku." Nino mulai dengan mode menjengkelkan.


"Tidak! Aku hanya tidak ingin menyia-nyiakan dirimu saja. Kau pria yang hangat dan juga baik. Sangat sempurna untuk menjadi seorang pelindung. Cintamu tulus tanpa akal bulus. Dan caramu mencintai seseorang ... Sangat menyentuh." Anika memiringkan kepalanya dengan tatapan tertuju ke langit. "Bagaimana jika kau menikah dengan putriku saja?"


Terkejut? Tentu saja! Nino bahkan ingin sekali memasang filter di mulut Anika. "Apa katamu? Apa kata dunia jika aku menikah dengan putrimu? Lagi pula, kau belum menikah. Siapa yang tahu akan berapa lama aku menunggu. Saat anakmu besar nanti, aku pasti sudah tidak sanggup untuk menggendongnya ke kamar pengantin."


Anika begitu serius mendengarkan hingga tawanya menyambut kalimat terakhir yang di ucapkan Nino. Keduanya pun tertawa. Mencairkan suasana yang terasa mencekam. Menghangatkan udara dingin yang membekukan hati Nino.


Flashback off...


Nino bangkit dari kursinya dan melihat barisan potret dirinya di lemari besar yang memperlihatkan berbagai kenangan dalam hidupnya.

__ADS_1


Nino mengambil sebuah album yang cukup besar dan membukanya perlahan. Di bukanya satu persatu potret masa lalu dirinya bersama dengan keluarga dan para sahabatnya.


Tangan Nino terhenti pada potret dirinya bersama Anika. Gambar itu jelas di ambil beberapa hari sebelum semua orang mengetahui tentang kehamilan wanita itu. Nino ingat dengan jelas bagaimana kacaunya keadaan saat semua orang tahu tentang rahasia besar yang coba di sembunyikan Anika. Semua hal terjadi di luar kendali. Tubuh Nino gemetar saat mengingat kembali kenangan masa lalunya.


"Jadi, saat itu kau sudah tahu bahwa kau akan memiliki seorang putri bukan?" Nino mengelap hidungnya yang baru saja di lewati air mata. "Sekarang aku mengerti, kenapa saat itu kau memaksaku untuk berjanji. Dan kini, kau datang untuk menagih janjiku. Tapi apa yang bisa aku lakukan, Anika? Putrimu tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah ingin bersamaku. Maafkan aku!"


Bahu Nino bergerak naik turun. Matanya mulai di banjiri air mata. Bukan hanya karena janjinya pada Anika, tapi juga rasa kecewanya pada Dania serta rasa kehilangannya yang begitu besar. Di saat seharusnya mereka merasakan kebahagiaan karena kedatangan anugerah yang di nantikan, tapi Dania justru memilih untuk pergi tanpa mendengarkan penjelasan darinya.


Sebenarnya, Nino masih ingin larut dalam kenangannya. Namun, ketukan di pintu memaksanya untuk kembali bangkit dan membuka pintu.


BUG ...


Nino hampir tersungkur saat sebuah tangan tiba-tiba saja sudah mendarat mulus di wajahnya.


"Pergi dan bawa adikku pulang, Pengecut!!!" Dito sudah berapi-api, terlebih melihat Nino yang terpuruk seperti ini.


"Aku pasti sudah membawanya sejak kemarin jika dia memang menginginkannya, tapi dia tidak menginginkannya." Lirih Nino getir.


Dito geram bukan main. "Kau bisa memaksanya!"


Tatapan Nino terarah tepat ke kedua bola mata Dito. Seiring langkah kakinya yang mendekati tubuh tegap yang tengah di kuasai amarah itu.


"Apa kau ingin aku melukai adikmu lebih dalam lagi?"


Hallo semuanya πŸ€—


Terima kasih dukungan dan mood boosternya untuk Da Nino 😍


Jangan lupa di tap jempolnya πŸ‘ dan tinggalkan jejak πŸ‘£πŸ‘£ kalian di kolom komentar πŸ‘‡sertakan votenya juga 'ya πŸ‘ˆ sebagai mood booster untuk author amburadul kesayangan kalian ini 😘


I ❀ U readers kesayangan kuhh

__ADS_1


__ADS_2