Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
CINCIN


__ADS_3

Suara petikan gitar dan alunan sebuah lagu seakan menyatu dengan suasana malam yang sunyi dan syahdu.


Dania membuka matanya dan mengerjapkannya beberapa kali agar matanya bisa lebih jelas melihat.


"Dimana om pedofil?" gumam Dania seraya menurunkan kakinya.


Tatapan Dania menyapu seluruh kamarnya dan tidak menemukan sosok Nino disana. Ia pun berjalan keluar dari kamarnya untuk mencari Nino.


"Mungkin dia di dapur," ucap Dania pada dirinya sendiri.


Kaki Dania melangkah perlahan, sementara tangannya menjepit setengah rambutnya ke belakang. Namun, saat ia melewati kamar tidur Dito. Dania menghentikan langkahnya. Matanya terbelalak bersamaan dengan detak jantungnya yang berpacu semakin cepat.


"Lagu ini ...," Dania merasa seolah kakinya melayang dan mulai akan terbang meninggalkan bumi ini.


Perasaan yang sama. Suara yang sama. Yang selama sepuluh tahun ini selalu Dania dengar. Perlahan tangan Dania menyentuh daun pintu dan membuka sedikit pintu kamar Dito. Kepala Dania menyembul untuk mencuri pandang ke dalam ruangan.


"Moony?" Suara berat Nino mengejutkan Dania yang langsung tersungkur ke depan.


Melihat Dania yang jatuh, dengan cepat Nino menghampiri istrinya itu. Ia mengangkat tubuh Dania dan mendudukkannya di tepi tempat tidur Dito.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Nino cemas, kemudian berdiri hendak mengambil air untuk Dania. Namun, Dania menahan pergelangan tangannya. "Kau butuh sesuatu?" tanyanya lagi.


Dania menggelengkan kepalanya. "Aku hanya tidak ingin sendiri."


Sesaat Nino menatap bingung pada Dania yang nampak kehilangan sesuatu dalam dirinya, tapi Nino tidak memiliki keberanian untuk bertanya.


"Baiklah! Aku akan disini menemanimu." Nino sudah duduk di samping Dania. "Atau kau ingin aku membawamu ke kamar tidurmu sendiri?"


"Tidak perlu!" jawab Dania cepat.


Nino semakin bingung dengan sikap Dania yang seperti ini. "Kalau begitu, apa yang ingin kau lakukan sekarang?"


Dania menoleh dan menatap lekat wajah Nino. "Aku rasa tidak ada yang bisa aku lakukan untuk saat ini."


"Begitukah?" tanya Nino, setengah menggoda dengan kerlingan matanya. "Bagaimana jika kita mencari udara segar?" usulnya.


Anggukkan kepala Dania membuat Nino bersemangat dan langsung membawa Dania keluar rumah.


***


Dinginnya udara yang mulai menusuk, menandakan bahwa hari sudah semakin larut. Namun, Nino dan Dania justru baru saja keluar dari rumah keluarga Riady dengan pakaian santai dan jaket yang melekat di tubuh keduanya.


"Kita mau pergi kemana, Om?" tanya Dania, pandangannya lurus ke depan.


Nino tersenyum seraya menepuk puncak kepala Dania. "Nanti juga kau akan tahu."


"Pelit!!!" gerutu Dania, tapi tidak berusaha melepaskan pertautan tangannya dengan Nino.

__ADS_1


Sejak keluar dari mobil, Nino terus menggandeng tangan Dania seolah takut wanita itu akan kabur dari pandangannya.


Langkah kaki keduanya berjalan menyusuri pinggiran jalan yang menjajakan banyak makanan. Dimulai dari makanan ringan hingga makanan berat sekalipun, tersedia di tempat ini.


"Kau mau mencobanya?" tanya Nino, ketika mereka berhenti di depan salah satu penjual makanan.


Dania hanya mengangguk tanpa menjawab apapun karena hati dan pikirannya tidak bisa fokus akibat genggaman tangan Nino.


Nino menyadari kegugupan Dania dari tangannya yang berkeringat. Namun, Nino tidak ingin melepaskan tangan yang sudah susah payah ia raih.


"Ayo, makan!" ajak Nino, setelah satu porsi makanan berada di tangannya.


Dania sekali lagi hanya mengangguk dan mengikuti langkah kaki Nino, tapi setelah melihat hanya ada satu porsi makanan akhirnya ia pun bersuara.


"Kenapa hanya satu?" tanya Dania dengan dahi berkerut.


Nino tersenyum seraya melepaskan tangan Dania. "Bukankah berbagi itu menyenangkan? Seperti berbagi perasaan dan kebahagiaan."


Ada sesuatu dengan hati Dania. Ia merasa tangannya kosong ketika Nino melepaskan tangannya. Ia juga merasa perutnya di penuhi kupu-kupu ketika mendengar Nino mengatakan kalimat itu.


"Kau benar!" Dania memaksakan bibirnya untuk tersenyum.


Belum sempat Dania kembali mengutarakan perasaannya, tiba-tiba saja Nino sudah menyumpal mulut Dania dengan makanan.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Dania kesal, dengan mulut penuhnya.


Gelak tawa menyembur dari mulut Nino. "Aku hanya ingin membalas kebaikanmu karena telah menyuapi aku."


"Maafkan aku!" ucap Dania getir, tapi enggan menatap sang lawan bicara.


"Hei, apa maksudmu, Moony?" Nino meletakkan makanan yang ada di tangannya ke sisinya.


Dania memberanikan diri untuk menatap sepasang mata yang tengah menanti jawaban darinya. Cinta. Kehangatan. Dan juga kesabaran yang begitu besar. Semuanya hanya untuk dirinya.


'Apakah aku terlalu sombong karena telah mengabaikan semua itu?' Batin Dania.


"Aku mendengarkan, Moony." Tangan hangat Nino menyentuh punggung tangan Dania.


Helaan nafas Dania terasa begitu berat. "Maaf karena aku tidak bisa membalas cintamu padaku."


Kalimat yang begitu sulit Dania ucapkan. Rasanya seperti tulang ikan yang menyangkut di kerongkongan.


"Apa aku pernah memintamu membalas cintaku?" tanya Nino lembut.


Dania menggeleng. 'Seingatku tidak pernah!'


Nino meraih tangan Dania yang terasa dingin. Entah karena udara dingin atau karena kegugupan Dania. Yang Nino tahu, ia hanya ingin menghangatkan wanita itu dan memberikan apapun yang di inginkan olehnya.

__ADS_1


"Aku tahu. Aku ini pria tamak." Nino menggosok-gosok tangannya pada tangan Dania. "Tapi aku hanya ingin kau memberi warna dalam hidupku yang sepi ini."


Kata-kata Nino di ucapkan dengan sangat tenang dan juga tanpa air mata, tapi kenapa Dania merasa dadanya begitu sesak hingga ia kesulitan bernafas.


Dania menyentuh dadanya dengan sebelah tangannya. "Tapi ... Aku tidak bisa membalas cintamu."


"Bukan tidak bisa! Hanya belum bisa dan mencoba." Nino meletakkan kembali tangan Dania ke pangkuannya.


"Aku- " Dania mulai kehilangan kembali kata-katanya.


Tiba-tiba saja Nino berlutut dan membuat Dania terkejut hingga nyaris mendorong tubuhnya.


"Maaf," lirih Dania.


Nino menarik sebuah senyuman di sudut bibirnya. "Tidak masalah, Moony. Apapun kesalahanmu, akan aku anggap sebagai ungkapan perasaan yang tak terucap."


Mata Dania mulai berkaca-kaca. "Terima kasih. Bangunlah!"


"Tidak!" tolak Nino, lalu mengeluarkan sebuah kotak di sakunya.


Kotak kecil berwarna merah muda itu ternyata berisi sebuah cincin yang indah dengan desain yang begitu sederhana, tapi terlihat sangat elegan.


"Dania Riady, maukah kau menerima aku yang bodoh ini di hidupmu?" tanya Nino, dengan bibir bergetar.


Dania mengernyit. "Apa maksudmu?"


"Aku sedang menyatakan cintaku padamu. Tolong jangan menolakku dan membuatku malu!" canda Nino, tapi justru wajahnya benar-benar memerah.


Dania mulai mengerti maksud Nino dan menunjukkan tangannya. "Kau sudah memberikan aku cincin saat kita menikah."


Nino tidak menjawab. Ia hanya menarik tangan Dania dan melepaskan cincin pernikahan mereka yang melekat di jari manis Dania.


"Ap- Apa yang kau lakukan!" teriak Dania, terkejut sekaligus ingin menangis secara bersamaan.


Tubuh Dania bergetar. Tidak tahu mengapa. Nino melepaskan cincin di jarinya dengan lembut, tapi Dania merasakan hatinya tercabik-cabik.


Saat Dania ingin pergi dan menjauhi Nino dengan cepat Nino menahan pergelangan tangannya, tapi masih dengan posisi berlutut.


"Moony, tunggu dulu!" pinta Nino.


Dania menoleh dan memperlihatkan pipinya yang di banjiri air mata. "Apalagi? Kau ingin melepaskan aku karena aku tidak bisa membalas cintamu bukan?"


Entah mengapa. Rasanya Dania begitu terluka ketika memikirkan hal itu.


"Kau salah! Aku melepaskan cincin itu karena ingin melepaskan beban di hatimu karena pernikahan kita. Dan aku ingin memulai semuanya dari awal denganmu." Nino kembali menunjukkan kotak cincin yang ia siapkan untuk Dania. "Dania Riady, maukah kau menerima cintaku?"


"Aku ...."

__ADS_1


Hallo semuanya 🤗


Stay healthy dan happy 😘


__ADS_2