
Beberapa tahun yang lalu ...
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Dito sinis, ketika melihat kedatangan Nino di rumahnya.
Nino menyeringai. "Aku hanya ingin berterima kasih karena Kakak ipar sudah menyelamatkan aku."
Mendengar Nino menyebutnya kakak ipar membuat Dito kesal bukan main. Tangannya mengepal dan hampir melayang ke wajah tampan Nino yang dengan konyolnya justru tertawa di saat seperti ini.
"Kenapa berhenti, Kakak ipar?" tanya Nino, menatap tangan Dito yang sudah kembali di turunkan. "Aku akan menerima setiap pukulanmu, setiap kali aku melakukan kesalahan."
Keseriusan yang terlihat jelas di mata Nino membuat Dito tertarik dan menatap mata sipit itu dengan tajam.
"Kau menantangku?" tanya Dito datar, masih tidak percaya jika ada manusia seperti Nino di dunia ini.
Nino masih memasang senyuman di wajahnya. "Tentu saja tidak, Kakak ipar! Aku hanya memintamu menghukumku jika aku melakukan kesalahan. Hukum aku sebanyak kesalahan yang telah aku lakukan. Dengan begitu, aku akan ingat semua kesalahanku."
Dito menatap lekat manik mata Nino yang di penuhi rasa percaya diri. Tiba-tiba tangannya menekan kedua bahu Nino.
"Baiklah! Itu keinginanmu. Jika aku menghukummu, maka kau tidak boleh mengeluh sedikitpun."
Flashback off ...
"Jadi, maksudnya semua itu adalah kesepakatan di antara kalian berdua?" tanya Dania, tak percaya dengan penjelasan Nino.
"Iiisshh ...," desis Nino, merasakan perih di sudut bibirnya yang sedang di obati Dania. "Tidak sepenuhnya benar karena akulah yang memaksa kakakmu untuk melakukannya. Dia tidak pernah datang mencariku meski tahu aku melakukan kesalahan, tapi akulah yang datang menemuinya setiap kali aku merasa melakukan kesalahan." jelasnya.
Dania menatap sinis kepada Nino dengan ekor matanya. "Kau bisa mati jika aku tidak menghentikan kak Dito tadi!"
"Aku memang pantas mati, Moony! Mengingat sedalam apa aku melukaimu kali ini." Nino menahan tangan Dania yang akan memberikan obat di lukanya.
Tatapan keduanya bertemu saat Dania dengan sangat terpaksa menatap Nino yang menahan tangannya. Getaran itu masih ada di hati Dania, meskipun hatinya terluka karena ulah Nino. Dania sendiri bingung, apa yang sebenarnya di inginkan hatinya. Begitu inginnya Dania menjauh dari Nino, tapi saat melihat pria itu lemah tak berdaya membuat Dania ingin berlari dan langsung memeluknya.
"Pergilah setelah semua lukamu di obati!" ketus Dania seraya menarik paksa tangannya dari genggaman Nino. Bukannya tangan Dania yang terlepas, tapi justru tubuhnya yang terhempas di atas pangkuan Nino. "Lepaskan aku!!!" pekiknya.
Wajah Nino yang di penuhi luka lebam tetap terlihat menawan ketika ia tertawa karena berhasil menggoda istri kecilnya itu.
"Kau masih bisa tertawa rupanya." Dania menghentikan pemberontakannya dan menatap Nino dengan kesal. "Sepertinya aku harus meminta kak Dito untuk memukulmu lagi."
__ADS_1
"Dengan senang hati aku akan menerimanya, Moony, karena aku tahu kau akan siap merawat semua lukaku." Nino mendaratkan ciumannya di kening Dania. Kedua tangannya melingkari tubuh Dania dengan erat.
Awalnya, Dania melakukan protes dengan sikap Nino yang memeluknya seperti itu. Namun, lambat laun Dania diam dan membiarkan Nino berbagi kehangatan dengannya.
Di sudut ruangan, dua pasang mata tengah memandang pasangan suami istri yang sepertinya sudah berbaikan itu.
"Sepertinya semuanya sudah baik-baik saja."
"Belum semuanya! Masih ada akar masalah yang harus di cabut!"
***
Dentuman musik saling bersahutan di tengah cahaya lampu yang berpijar secara bergantian. Gemuruh sorak para pengunjung di lantai dansa membuat suasana semakin memanas.
Di salah satu sudut, seorang wanita tengah menatap hampa kerumunan orang-orang yang tengah larut dalam pesta tengah malam. Sebagian orang mulai hilang akal dan kesadaran, begitu juga dengan dirinya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya seorang pria, tanpa permisi mengisi tempat kosong di sisi wanita itu.
Mata yang mulai memerah itu menoleh dan tersenyum getir. "Aku disini karena aku tidak memiliki rumah untuk pulang ataupun bahu untuk bersandar."
Riuh tepukan tangan dan juga alunan musik mengisi keheningan di antara kedua manusia itu. Mereka seolah larut dalam lamunan masing-masing.
"Aku sudah pernah melakukan kesalahan dan mereka memaafkanku. Jika aku melakukan kesalahan lagi ...," Wanita itu meneguk minumannya dengan sekali teguk. "Hidupku akan lebih hancur dari ini."
Sorot mata wanita itu kosong. Menerawang masa lalunya yang di penuhi tinta hitam.
"Tapi jika kau tetap diam, maka selamanya kau akan seorang diri." Pria itu merebut gelas kosong di tangan sang wanita. "Perjuangkan apa yang menjadi milikmu!"
"Cukup, Gibran!!!" teriak wanita itu tiba-tiba. Matanya menatap tajam sosok pria yang tengah duduk di sampingnya. "Jika kau ingin merebut Dania dari Nino, lakukan semuanya sendiri! Jangan mencoba memanfaatkan aku lagi! Aku sudah kehilangan segalanya."
Pria itu adalah Gibran. Melihat Mikayla yang sedang seorang diri membuatnya berpikir untuk mengambil keuntungan dari wanita itu. Sayangnya, wanita itu tidak sekuat yang Gibran bayangkan. Hatinya langsung hancur hanya dengan beberapa kali penolakan dari Nino. Seperti saat ini. Hanya karena Nino bersikap dingin padanya, Mikayla sudah sehancur ini.
"Kau lemah!" cibir Gibran, kemudian berdiri hendak meninggalkan Mikayla.
Kepala Mikayla mendongak dengan tatapan yang tidak fokus, tapi matanya tetap menatap manik mata Gibran dalam kegelapan.
"Aku hanya berharap ... Kau tidak akan berada di titik seperti aku sekarang ini karena kebodohanmu ...."
__ADS_1
***
"Apa ini?"
Bola mata Nino nyaris melompat keluar ketika melihat selimut dan bantalnya berada di atas karpet tepat di bawah tempat tidur Dania.
"Untukmu tidur! Aku sudah cukup baik menyiapkan semua itu." Dania menarik selimutnya hingga menutupi separuh tubuhnya.
Nino berjalan mendekati Dania dan menarik selimut di tubuh istrinya. Berniat untuk ikut masuk ke dalam selimut itu. Sayang sekali, Dania menahan selimutnya dengan kuat.
"Moony, kenapa kita tidur terpisah?" rengek Nino, berharap Dania akan iba dan berubah pikiran.
Dania ingin sekali tertawa melihat ekspresi di wajah Nino saat ini, tapi mengingat jika dirinya sedang marah membuat Dania hanya bisa mengulum senyumnya.
"Kau tidak lihat, Om?" Dania menaikkan alisnya seraya melemparkan pandangan ke seluruh tempat tidurnya. "Kasurku ini kecil. Hanya cukup untuk satu orang."
Nino mengikuti arah pandangan Dania dan mengusap wajahnya kasar. "Kalau begitu, kita pulang saja! Tempat tidur kita sendiri akan lebih nyaman."
Sejujurnya, Nino ingin mengatakan jika tempat tidur di rumah mereka jauh lebih besar. Namun, ia takut kata-katanya akan membuat Dania semakin marah.
Dania mendengus dan memiringkan tubuhnya membelakangi Nino. "Tidurlah jika kau bisa, tapi jika tidak bisa ... Kau bisa pulang! Seorang diri!"
"Moony ...."
KLIK ...
Cahaya di kamar tidur Dania menghilang. Berganti kegelapan yang lebih sunyi dan menenangkan. Bahkan, helaan nafas Nino dapat terdengar dengan jelas. Langkah kakinya yang sedikit di hentakkan juga bisa di tangkap pendengaran Dania. Namun, semua itu tak bisa meruntuhkan amarah Dania begitu saja.
"Jangan berisik atau kau bisa keluar!" ancam Dania, ketika Nino masih mondar-mandir tidak jelas.
Nino menatap punggung Dania yang tertutupi selimut di tengah minimnya cahaya. Tak ada pergerakan dari Dania yang membuat Nino jadi gemas sendiri dengan tingkah istri kecilnya.
'Ya ampun, Moony! Aku lebih baik menerima seribu tamparan darimu daripada harus tidur di ruangan yang sama, tapi tak bisa memelukmu ....'
Hallo semuanya 🤗
Terima kasih untuk cinta dan jempolnya 😘
__ADS_1