Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
HARI YANG CERAH


__ADS_3

Matahari yang bersinar terang berjalan beriringan dengan cerahnya suasana hati Nino pagi ini. Pria tampan berwajah oriental itu terus saja menyunggingkan senyuman di setiap langkah kakinya.


"Selamat pagi, Tuan!" sapa Liza, begitu melihat Nino di dalam lift.


Nino tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. "Pagi, Liza! Kau terlihat sempurna hari ini."


"Terima kasih, Tuan." Liza membungkuk hormat, meski dalam hati menyimpan banyak tanya.


Walaupun Nino biasanya bersikap ramah pada setiap pegawainya, tapi pagi ini sikapnya begitu berlebihan. Ia bahkan memuji penampilan semua pegawai yang di temuinya di setiap divisi, tanpa terkecuali.


'Ini tidak bisa di biarkan! Kalau seperti ini terus, tuan akan kehilangan wibawanya sebagai seorang pimpinan.' Pikir Liza. "Tuan?" Liza mencoba membuka pembicaraan.


Nino melirik Liza dari ekor matanya. "Apa yang ingin kau katakan, Liza?"


"Sepertinya sikap anda sedikit berlebihan," ucap Liza hati-hati. Karena meskipun Nino bukanlah tipe bos arogan, tapi tetap saja pria itu bisa memecatnya jika ia salah bicara.


Kepala Nino sedikit bergerak untuk menatap Liza yang berjalan di belakangnya. "Menurutmu begitu?"


Liza mengangguk.


"Aku hanya sedang bahagia, Liza. Dan aku pikir mungkin ada baiknya aku membagi kebahagiaanku kepada para pegawaiku, karena selama ini merekalah yang menjadi keluargaku. Termasuk kau dan pak Toto." jelas Nino, tanpa ada keraguan sedikitpun.


Hidup sebatang kara. Tanpa adanya ayah dan ibu. Tanpa adik ataupun kakak. Semua itu membuat Nino berpikir bahwa siapapun yang baik padanya adalah keluarganya. Meskipun hidup dalam kesendirian, tapi Nino tidak pernah kekurangan cinta dan kehangatan keluarga yang ia dapatkan dari keluarga Sanjaya. Namun, kini Nino memiliki impian yang harus ia wujudkan. Mimpi untuk memiliki keluarganya sendiri.


***


Hari ini, Dania rasanya begitu malas untuk melakukan aktivitas apapun. Tubuhnya seolah memaksa Dania untuk terus menempel dengan tempat tidur.


"Malasnya aku ...." Dania berguling untuk mendekat ke nakas.


Dania meraih ponselnya dan baru menyadari jika ada beberapa pesan yang di kirimkan oleh Liza.


Mata Dania terbelalak ketika membaca pesan Liza. "Dasar om pedofil! Apa lagi yang kau lakukan kaki ini?"


Jemari Dania menekan nomor ponsel Liza. Dan hanya dalam satu kali nada tunggu, Liza sudah menjawab panggilannya.


"Liza, apa yang terjadi?" tanya Dania, tanpa basa-basi terlebih dahulu.


"Nyonya, ...." Liza menjelaskan semua sikap aneh yang di tunjukkan oleh Nino sejak pagi.


Dania menghela nafasnya setelah Liza memutuskan panggilannya. "Apakah dia begitu bahagia hanya dengan melakukan hal kecil seperti itu?"

__ADS_1


Flashback on ...


"Karena kau sudah mengatakan hal itu berulang kali, maka aku tidak akan mengecewakan dirimu." Nino mulai memercikkan air mengenai wajah dan tubuh Dania.


Dania terkejut dan langsung membalas perbuatan Nino hingga wajah Nino juga basah karena ulahnya.


Nino mengulurkan tangannya dan meraih tangan Dania. "Aku mencintaimu. Aku mencintaimu senyumanmu, amarahmu, dan juga semua yang ada padamu."


Wajah Dania bersemu merah. Malu dan juga rasa bersalah yang datang secara bersamaan membuat Dania merasa menjadi wanita paling jahat di dunia, karena masih belum bisa membalas perasaan Nino padanya.


Kebisuan Dania dapat di mengerti oleh Nino yang langsung mengangkat tubuh istrinya hingga Dania terperanjat.


"Om!!!" pekik Dania.


Nino terkekeh dan mendudukkan kembali Dania di tempatnya semula. Namun, kali ini membelakangi tubuh Nino.


"Buka pakaianmu!" pinta Nino.


Dania tidak bisa melihat ekspresi wajah Nino karena posisinya yang membelakangi pria itu. "Ap- Apa maksudmu?"


"Kau ingin membukanya sendiri atau aku yang akan membukanya?" goda Nino. "Tapi aku ingatkan padamu! Jika aku yang membukanya, maka kau tidak akan bisa mengenakan pakaian ini lagi nantinya." sambungnya.


Suara kain yang terkoyak kembali terngiang di telinga Dania ketika ia teringat kembali kejadian malam itu. Tangannya tanpa sadar mengeratkan pakaiannya.


Bukannya pergi, tangan Nino justru menyentuh kedua bahu Dania. "Jangan sia-siakan aku yang sudah basah karena dirimu, Moony!"


Dania membeku. Otaknya tak bisa berpikir dengan jernih. Sementara, tangannya seolah tersihir oleh ucapan Nino dan mulai menanggalkan pakaiannya satu persatu.


Tubuh terbuka Dania, tentu saja menjadi sesuatu yang sangat menggoda bagi Nino. Tanpa ia sadari, tangannya menyentuh punggung Dania hingga tubuh itu sedikit bergetar karena sentuhannya.


"Om ...," Suara Dania terdengar lirih.


Nino tersentak dan menarik kembali tangannya. "Maaf! Aku janji hanya akan menggosok punggungmu."


Dania terdiam. Menikmati setiap gerakan yang di lakukan Nino. Pria itu begitu lembut saat menggosok punggungnya, bahkan tanpa hasrat sedikitpun.


"Moony, bisakah aku melakukan ini setiap hari?" tanya Nino, tanpa menghentikan gerakan tangannya.


Karena begitu terkejut dengan pertanyaan Nino, Dania lantas berbalik dan menatap Nino dengan wajah yang menuntut penjelasan. Namun, Nino nampak kehilangan fokus. Matanya menatap ke arah lain yang di suguhkan Dania.


Dania mengikuti arah pandangan Nino dan semakin terkejut karena kebodohannya. Dengan cepat Dania membalikkan tubuhnya untuk menyembunyikan rasa malu yang tak terelakkan.

__ADS_1


"Aku ... Aku tidak bermaksud -" Nino mencoba menjelaskan. Namun, Dania tidak membiarkan Nino menyelesaikan ucapannya.


"Bukan salahmu! Berhenti meminta maaf!" sahut Dania, terdengar gemetar karena jantungnya yang tidak juga bisa tenang.


Nino tidak bersuara lagi. Tangannya kembali menggosok punggung Dania dengan lembut.


"Sudah! Sekarang, kau bisa membilas tubuhmu." Nino sudah berdiri dan keluar dari bathtub, tanpa menoleh ke arah Dania.


"Terima kasih!" ucap Dania, ketika Nino sudah mencapai pintu.


"Jangan membuatku merasa seperti orang asing bagimu, Moony!" jawab Nino, masih membelakangi Dania. "Baiklah, aku keluar! Jangan terlalu lama bermain air atau kau akan jatuh sakit!"


"Aku tidak akan sakit selama aku memiliki suami seperti dirimu."


Flashback off ...


"Dia bahagia hanya karena bisa menggosok punggungku?" gumam Dania, mencoba mencari alasan atas kebahagiaan yang di tampakkan Nino pagi ini.


Dania mengambil bantal dan menjadikannya sebagai penopang wajahnya. Mata Dania terpejam untuk mengingat sesuatu yang begitu ingin ia ketahui. Tiba-tiba saja ada banyak pertanyaan berkelebatan di dalam pikirannya.


"Jika dia bisa menahan hasratnya pagi ini, lalu malam itu ...."


***


Dania berjalan dengan tergesa-gesa ketika mendapat telepon dari Liza yang mengatakan jika wanita cantik yang pernah menemui Nino datang kembali ke kantor Da Nino Corp.


Langkah kaki Dania begitu cepat hingga ia terpaksa harus menghentikan langkahnya ketika tanpa sengaja dirinya menabrak seseorang.


"Maaf!" ucap Dania, lalu mengambil ponsel orang itu yang tergeletak di jalanan. "Ini ponsel anda, Tu- Kak Gibran!!!"


Pria yang berdiri di hadapan Dania itu tersenyum dan mengambil ponsel di tangan Dania. "Apa kabar, Dania?"


Dania menatap sosok tampan di hadapannya yang selama ini menjadi teman sekaligus pelindung baginya.


"Aku baik," jawab Dania, masih terus menatap wajah Gibran yang bagaikan mimpi baginya.


Tangan Gibran menyentuh bahu Dania. "Kau baik-baik saja?"


Kesadaran Dania telah kembali sepenuhnya karena sentuhan Gibran. Segera ia menyingkirkan tangan Gibran di bahunya.


"Aku baik-baik saja, meski tanpa dirimu."

__ADS_1


Hallo semuanya 🤗


Stay healthy and happy 😘


__ADS_2