
"Nyonya, aku beritahu kau satu kebenaran! Saat ini kau sedang berhadapan dengan nyonya Ferdinan. Istri dari tuan Nino Ferdinan. Dania Ferdinan."
Kata-kata bermakna yang di ucapkan Dania kepada Mika membuat Nino sangat bahagia dan merasa telah di terima di hati Dania sebagai suaminya. Namun, sayang setelah kepergian Mika dari ruangan itu, Dania seketika berubah drastis.
"Menjauhlah!" pinta Dania seraya mendorong tubuh Nino.
Nino terperangah. "Bukankah tadi kau -"
"Aku hanya membantumu menyelematkan diri!" sanggah Dania, sambil menatap tajam pada Nino. "Kau ini, ternyata ...."
Merasa dirinya tersudut, Nino berjalan ke kursinya untuk menenangkan pikiran dan juga menutupi kecanggungannya di depan Dania. "Aku kenapa, Moony?"
Dania mendengus serta memalingkan wajahnya ke arah lain. "Berlagak setia, tapi suka menebar pesona kemana-mana."
"Pesonaku itu memang selalu menyebar kemana-mana tanpa aku harus melakukan apapun, Istriku yang cantik." Nino terkekeh untuk mencairkan suasana.
Bola mata Dania berputar, merasa jengah dengan sikap Nino yang tidak pernah serius.
Nino menyadari perubahan suasana hati Dania yang kurang baik. Segera ia menghampiri Dania dan merangkul bahunya. Dania menoleh sesaat dengan wajah masamnya.
"Tunjukkan padaku wajah cantikmu, Moony!" Nino menyentuh dagu Dania agar mau menatapnya. "Apa kau cemburu?" tanyanya tiba-tiba.
Lidah Dania keluh. Sementara, isi kepalanya tiba-tiba saja berputar untuk mencari jawaban dari serangan tiba-tiba yang Nino lakukan.
"Mana mungkin!" elak Dania, dengan bibir mengerucut dan wajah yang memerah.
"Sungguh?" goda Nino, lalu mencondongkan tubuhnya pada Dania.
Dania langsung menjauh dan menjaga jarak aman dengan Nino. "Tentu! Untuk apa aku cemburu? Tanpa di perjelas pun, sudah terlihat jelas jika aku lebih segala-galanya dari wanita penggoda itu."
Sikap percaya diri Dania membuat Nino bangga sekaligus merasa lucu, karena di balik sikap angkuh yang di perlihatkan Dania, sesungguhnya ia sedang mencoba menyembunyikan sifat kekanak-kanakan yang tak pernah ia tunjukkan pada siapapun. Selama ini, Dania selalu bersikap dewasa dan bijak dalam mengambil setiap keputusan. Walaupun Dania adalah putri bungsu dari tiga bersaudara, tapi ia tidak pernah bersikap manja dan konyol di hadapan kedua kakaknya. Mungkin juga, karena masa lalu dan kehidupan pahit yang pernah ia alami membuatnya dewasa lebih cepat daripada gadis seusianya dulu.
Nino mencubit gemas kedua pipi Dania. "Kau membuatku ingin menciummu, Moony!"
***
Beberapa hari sejak Dania mengetahui kedatangan Mika ke kantor Nino, Dania selalu datang untuk berkunjung dengan alasan mengantar makan siang.
Seperti saat ini, Dania baru saja merapihkan sisa makan siang yang ia buat sendiri untuk Nino. Dania ingin pergi, tapi takut jika wanita yang mengganggu Nino akan datang lagi karena sampai saat ini Nino masih belum memberitahu Dania siapa wanita itu.
Dania mengerutkan dahinya begitu dalam. Matanya menatap lekat wajah tampan Nino yang selalu tertawa dan tak pernah memperlihatkan kemarahan. Setidaknya di depan dirinya.
"Apakah sikapnya itu yang membuat banyak wanita mengejar-ngejar cintanya?" Batin Dania menerka.
"Jangan menatapku seperti itu! Atau aku tidak bisa lagi menahannya." ucap Nino, tapi dengan pandangan yang fokus pada berkas di atas mejanya.
"Memangnya apa yang kau tahan selama ini? Siapa yang memintamu melakukannya? Dan, kenapa kau mau melakukannya?" tanya Dania, berniat mendesak Nino dengan sejuta pemikiran yang ada di kepalanya.
Bukan jawaban yang Dania dapatkan. Melainkan tubuhnya yang seketika melayang karena Nino yang mengangkatnya.
"Lepaskan aku, Om pedofil!" pekik Dania, tangannya terus memukul dada bidang Nino.
Nino tersenyum dan mengecup kening Dania dengan penuh cinta sebelum berbisik, "biar aku tunjukkan padamu apa yang aku tahan selama ini."
Anehnya, Dania langsung bungkam. Tubuhnya seolah tersihir dengan sentuhan dan bisikan Nino hingga membuatnya seketika diam.
Tubuh Dania mendarat di atas sofa dengan lembut dan lengan kekar Nino menjadi bantalan untuk kepalanya. Sementara, tubuh Nino sudah hampir menutupi seluruh tubuh Dania. Hembusan nafas Nino bahkan menimpa wajah Dania dan terasa begitu hangat.
"Aku mencintaimu, Dania." ungkap Nino, tanpa melepaskan pandangannya.
Pertama kalinya, Dania mendengar Nino menyebut namanya. Entah mengapa, itu terdengar begitu menyentuh hingga mata Dania berkaca-kaca. Kelembutan dan kehangatan Nino ternyata mampu mencairkan es di hati Dania.
"Aku- Aku -" Bibir Dania bergetar.
__ADS_1
"Tidak perlu membalas cintaku. Sudah aku katakan bukan? Kau hanya perlu menerima cintaku dan menikmati semua cinta juga perhatian yang aku berikan padamu." Nino menghapus satu bulir air yang lolos dari mata Dania.
Dania tidak tahu harus berkata apa. Ia sendiri masih bingung dengan hatinya. Di satu sisi, Dania masih merasakan kebencian pada Nino setiap mengingat perjodohan dan hidupnya yang terasing selama sepuluh tahun. Namun, di sisi lain Dania tidak terima jika ada wanita lain yang menyentuh Nino. Hah! Perasaan yang masih terasa sangat ambigu bagi Dania.
CUP ...
Nino mengecup kedua mata Dania. "Jangan pernah menatap pria lain! Kau hanya perlu menatap aku."
Dania benar-benar menatap Nino tanpa berkedip.
CUP ...
Bibir Nino bergerak turun ke bibir Dania. Sedikit menuntut dan mulai terasa panas.
Dania mendorong dada Nino. "Ini kantor!"
Nino tersenyum usil. "Bukan! Ini pasar."
Wajah Dania sudah kesal dan hampir terbakar.
Tangan Nino menyentuh anak rambut Dania yang menutupi wajahnya. "Jangan marah! Kau tahu, semakin kau marah semakin aku bergairah. Dan itu sangat sulit bagiku."
"Apa kau melakukannya dengan semua wanita yang kau sukai?" tanya Dania, tiba-tiba saja penasaran dengan masa lalu Nino.
Nino menyeringai. "Aku ini masih suci, Moony. Kau boleh mencobanya sendiri."
Dania bukanlah gadis lugu yang tidak mengerti apapun. Sepuluh tahun bergaul dengan teman-teman dari berbagai negara memaksa Dania untuk mengikuti gaya hidup mereka, tapi Dania beruntung karena bisa menjaga dirinya meski jauh dari keluarga.
"Aku rasa ... Aku sudah mencobanya." Dania memejamkan matanya rapat-rapat.
Nino terkejut dengan jawaban Dania. Dengan cepat ia bangkit dan berdiri di samping Dania dan di ikuti oleh Dania yang merubah posisinya menjadi duduk di sisi sofa.
"Aku tidak mengerti maksud kata-katamu barusan, tapi aku yakin kau tidak salah bicara." Nino menaikkan nada bicaranya.
"Tunggu!" Nino menarik lengan Dania yang hendak pergi." Kita harus selesaikan pembicaraan ini sekarang juga."
Bola mata Dania menatap lekat sepasang mata jernih milik Nino. "Baiklah! Aku rasa itu lebih baik."
"Jadi, apa maksud kata-katamu sebelumnya?" tanya Nino, setelah Dania duduk dengan tenang.
Dania menghela nafas panjang. Berusaha mengumpulkan keberanian untuk membahas hal yang selama ini ia hindari.
"Kau ingat, saat aku pergi dari rumah dan menetap di rumah kak Dito selama beberapa hari?" tanya Dania hati-hati, dan Nino langsung menganggukkan kepalanya. "Malam itu, kita berniat untuk pergi makan malam dan memulai hubungan kita dari awal."
"Benar! Lalu?" Nino merubah posisi duduknya.
"Entah apa yang terjadi, kita berdua kehilangan kesadaran dan berakhir di kamar tidur kak Dito dengan keadaan ...," Dania merasa malu untuk meneruskan kalimatnya.
Nino menatap Dania dengan begitu banyak pertanyaan di dalam kepalanya, tapi ia takut jika Dania akan terluka karena ucapannya.
"Apa yang kau ingat?" tanya Nino akhirnya.
"Tidak banyak," jawab Dania, mencoba mengingat kembali kejadian malam itu. "Aku hanya ingat kau menggendongku dan memaksaku -"
"Aku tidak mungkin memaksamu, Moony!" sahut Nino, memotong ucapan Dania. "Aku rela menunggumu selama sepuluh tahun. Mana mungkin aku kalah oleh gairah sesaat."
Dania melihat kesungguhan di mata Nino. "Aku tidak tahu! Aku tidak ingat apapun."
Tiba-tiba, Nino meraih lengan Dania dan menariknya keluar dari ruangannya dengan tergesa-gesa.
"Kemana kau akan membawaku?" tanya Dania, bingung dengan sikap Nino.
"Memastikan apa yang sebenarnya terjadi!"
__ADS_1
***
Ruang tamu keluarga Sanjaya, kini berubah menjadi ruang peradilan. Suasana sedikit tegang karena wajah Nino yang biasanya di hiasi tawa, seketika berubah suram ketika berhadapan dengan Ricky yang menatapnya tak kalah tajam.
"Jawab pertanyaanku, Ky!!!" bentak Nino, tangannya memukul meja dengan keras.
Dania dan Deta tersentak karena teriakan Nino. Namun, kedua wanita itu hanya duduk mematung di samping suami-suami mereka.
Ricky melipat kedua tangannya di dada. "Aku menolak menjawab tuduhan tanpa bukti!"
"Bukti apa lagi?" Nino mengacak-acak rambutnya frustasi. "Hanya kau dan ibunya Tary yang ada disana bersama kami malam itu. Dan satu hal yang pasti, ibunya Tary tidak akan melakukan hal seperti itu."
Bola mata Nino bergerak ke arah Deta yang membalasnya dengan tatapan bingung.
"Lalu, apa yang mau kau lakukan jika memang aku yang melakukannya?" tanya Ricky, masih terlihat tenang menghadapi kemarahan sahabatnya.
Nino mengepalkan tangannya. "Kau tidak tahu apa yang kau lakukan!!! Dengan melakukan hal itu, aku ... Aku bisa saja melukai Dania. Dan kau tahu, aku tidak akan bisa hidup jika dia terluka apalagi karena aku!"
Dania tak kuasa menahan air matanya mendengar ucapan Nino. Rasa cinta pria itu padanya begitu besar hingga mampu mengalahkan segalanya.
"Aku tahu, No! Itu sebabnya aku melakukan semua itu. Karena apa? Karena hubungan kalian ... Stuck!" ucap Ricky, mencoba membela diri.
Nino menoleh ke arah Dania karena mendengar isak tangis dari bibir Dania. "Jangan di masukkan ke hati apa yang di katakan Ricky, Moony! Dia hanya melantur."
Pelukan hangat Nino justru membuat Dania semakin terisak. Ia tidak bisa mengatakan apapun sebagai ungkapan penyesalannya. Yang bisa Dania lakukan saat ini hanyalah menangis.
"Tuan putri, kau tahu aku tidak pernah ingin hal buruk bagimu. Aku melakukan semua itu karena aku sayang padamu dan juga Nino. Aku ingin kalian bahagia." Ricky mencoba memberikan penjelasan.
"Tapi apa yang kau lakukan tetap salah, Mas!" sergah Deta, akhirnya membuka suara setelah memahami apa yang terjadi. "Mas, menaruh obat di makanan mereka. Itu seperti kita memaksa Dania dan kak Nino, Mas!"
Ricky menghela nafasnya seraya memejamkan mata. "Baiklah, maafkan aku, Sayang!"
Deta menepis tangan Ricky yang ingin memeluknya. "Jangan meminta maaf padaku! Minta maaflah pada Dania dan kak Nino yang sudah kau rugikan!"
"Maafkan aku Dania, Nino! Aku hanya ingin kalian bersatu. That's it!" ucap Ricky pasrah.
"It's okay, Brother. Maaf juga karena aku marah padamu, tapi kau harus ingat jika aku sangat mencintai Dania. Aku tidak menikahinya hanya karena kebutuhanku sebagai seorang pria, tapi aku menikahinya karena cinta dan janjiku padanya." tutur Nino, dengan penuh keyakinan.
Ricky dan Deta saling berpandangan dan tersenyum mendengar ucapan Nino. Sementara itu, Dania semakin dalam jatuh pada rasa bersalahnya.
Dalam dekapan Nino, Dania terus menyesali sikapnya selama ini. Ingin rasanya Dania kembali ke masa lalu dan mencoba untuk mengenal sosok Nino lebih dalam lagi. Sayangnya, waktu terus berjalan tanpa mau menunggu.
"I am so proud of you, Brother." Ricky mengacungkan ibu jarinya kepada Nino. "Jadi, apakah kalian sudah melakukannya?" goda Ricky, sekaligus mencari tahu keberhasilan usahanya.
Wajah Dania sekarang pasti sudah semerah tomat karena Deta hanya terkekeh mendengar pertanyaan Ricky.
"Jika kami melakukannya, kau pasti sudah mendengar kabar baik." Nino melepaskan pelukannya dan tersenyum saat menatap Dania.
Ricky menatap Nino tak percaya. "Kau benar-benar tidak melakukannya?"
Nino menggelengkan kepalanya. "Tidak! Aku mencintainya dan tidak akan pernah memaksanya."
Jawaban Nino membuat Dania menaikkan pandangannya dan menatap Nino seolah menuntut jawaban.
"Aku tidak berbohong!" ucap Nino, seolah tahu isi hati Dania.
Dania semakin tidak mengerti. "Tapi aku sempat melihat darah -"
"Itu bukan darahmu, Dania, tapi darah tuan Ferdinan ...."
Hallo semuanya 🤗
Stay healthy and happy readers kuhh sayang 😘
__ADS_1