Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
SEORANG IBU


__ADS_3

Bangunan besar dan paling mencolok di antara bangunan yang ada di sekelilingnya sudah berdiri kokoh menantang Dania. Tekadnya sudah bulat. Dania bahkan sudah mengumpulkan seluruh keberaniannya selama beberapa hari ini hanya untuk menghadapi wajah tuan dari rumah ini.


"Aku pasti bisa!" Dania menyemangati dirinya sendiri.


Sebelum melangkah, Dania kembali menoleh ke arah mobilnya. Maksudnya mobil Nino yang disiapkan untuknya.


"Pak, pulang saja dan istirahatlah!" titah Dania, pada pak Toto yang masih setia menunggunya di balik kemudi.


Pak Toto terlihat ragu. "Tapi, Nyonya -"


"Tuanmu akan menjemputku, Pak!" sahut Dania, menghilangkan keraguan di hati pak Toto.


"Baik, Nyonya. Kalau begitu, saya akan pulang." Pak Toto menyalakan mesin mobil dan melaju keluar dari kediaman Sanjaya.


Setelah memastikan mobilnya telah benar-benar keluar dari halaman rumah Sanjaya, Dania baru masuk sambil mengeluarkan ponselnya.


"Dia sudah membacanya, tapi kenapa tidak membalas pesanku? Apa yang sebenarnya sedang dia lakukan?" gumam Dania kesal.


Entah mengapa, sikap Nino yang dingin seperti itu selalu membuat Dania gelisah.


"Baru datang sudah kesal?" Tanya suara lembut yang selalu menenangkan Dania.


Dania mendongak dan melihat Deta yang baru selesai berolahraga. "Kakak, apa kabar?"


Rentangan tangan Dania tidak di sambut oleh Deta yang langsung menepuk keras salah satu tangan adiknya itu.


"Aduh! Sakit, Kak!" pekik Dania.


Deta dengan santainya berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum. Ia bahkan membiarkan Dania mengekori dirinya persis seperti Tary.


"Kakak!!!" rengek Dania, setelah semakin bertambah kesal karena di acuhkan oleh Deta.


"Untuk apa kau kesini?" tanya Deta, dengan tatapan sinis dari mata bulatnya. "Kakak pikir mungkin adik kecilku kini sudah benar-benar dewasa dan tidak membutuhkan kakaknya lagi."


Pandangan Dania mulai kabur karena genangan air di pelupuk matanya. "Mana mungkin begitu, Kak."


"Lalu? Kemana saja kau selama beberapa hari ini? Bahkan menghubungi Kakak saja tidak!" keluh Deta, mencoba menumpahkan semua kekhawatirannya.


Dania bergelayut manja di lengan Deta yang dingin karena keringat. "Aku ada sedikit pekerjaan, Kak."


Deta menoleh dengan memicingkan matanya. "Pekerjaan? Bukan karena kau bertengkar dengan Dito?"


Kerongkongan Dania tiba-tiba kering hingga ia butuh air dan langsung meneguk air di tangan Deta. "Maaf, Kak, aku haus!"

__ADS_1


"Kenapa kau bertengkar dengan Dito?" tanya Deta, mengulang pertanyaan yang belum terjawab.


"Itulah yang ingin aku tanyakan pada Kakak," ucap Dania lirih seraya menarik kursi meja makan.


Dari raut wajah adiknya, Deta mengerti jika ada sesuatu yang tidak benar sedang terjadi.


"Tunggulah disini! Kakak akan mandi dan mengobrol denganmu." Deta bergerak secepat kilat menuju kamarnya.


"Kakak, aku tidak ingin membuatmu khawatir. Tapi sepertinya aku sudah melakukan itu."


***


Dania merasa tubuhnya limbung. Pandangannya sedikit kabur. Kepalanya juga terasa pusing dan berputar. Tapi dari semua perasaan itu, Dania paling terkejut dengan kenyataan bahwa ia berada dalam gendongan Nino.


Seketika kesadaran menghentak pikiran Dania. Ia berusaha memberontak, tapi tubuhnya begitu lemah dan hanya bisa diam menatap wajah tampan Nino.


Dengan hati-hati Nino meletakkan tubuh Dania di atas tempat tidur yang sebenarnya asing juga bagi Dania. Namun, keduanya tidak sadar dimana mereka berada.


Saat pikirannya tengah mengingat-ingat, Dania merasakan kehangatan yang menyusuri lekuk lehernya. Tubuhnya menggeliat dan bereaksi lebih cepat daripada otaknya.


Deru nafas Dania semakin berpacu apalagi setelah menatap lekat wajah Nino yang semakin mempesona.


"Aku mencintaimu," ucap Nino dengan suara parau.


"Dania?"


"Dania!"


"Dania!!!"


Tubuh Dania berguncang hingga ia mengerjap dan menyadari dimana dirinya kini.


"Kau baik-baik saja, Sayang?" tanya Deta cemas.


Awalnya Dania masih bingung, tapi setelah ia berhasil mengumpulkan semua ingatannya. Barulah ia ingat jika dirinya sedang berada di rumah Sanjaya dan kenangan malam itu ...


'Apakah ada yang aku lupakan tentang kejadian malam itu?' Batin Dania menerka.


"Kak?" Ragu Dania ingin memulai pembicaraan.


Deta masih di liputi kecemasan. "Iya, Sayang. Katakan! Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"


Dania menatap lekat wajah cantik sang kakak. Wajah teduh dan menenangkan yang selama ini sudah membesarkannya. Tidak mungkin orang yang paling menyayangi itu tega mencelakai dirinya, tapi Dania begitu penasaran dan ingin memperjelas segalanya.

__ADS_1


"Saat aku bangun di pagi hari sejak Kakak datang ke rumah, kenapa Kakak dan kak Ricky tidak ada?" tanya Dania hati-hati.


Bola mata Deta bergerak ke atas, seperti sedang berusaha mencari kembali ingatan dalam kepalanya.


"Ah, iya! Setelah kau dan kak Nino mengatakan akan pergi tidur, Ricky mengajak Kakak untuk pulang. Kakak pikir tidak masalah meninggalkan kalian berdua karena kalian sudah biasa tinggal bersama." Deta terlihat menyesal. "Tapi Kakak benar-benar tidak menduga jika Dito akan mengusir kalian." sesalnya.


'Kak Dito tidak akan mengusir kami, jika saja kami tidak tinggal di kamarnya malam itu. Jadi, kalau begitu, kakak tidak tahu apapun. Syukurlah!' Batin Dania.


Ada sedikit sesal di hati Dania setiap mengingat kejadian malam itu. Bukan hanya karena Nino melupakan hal penting dalam hubungan mereka, tapi juga karena kebodohannya yang mengira hubungan mereka sudah sejauh itu.


"Kak Dito tidak mengusir kami, Kak, tapi aku yang pergi dari rumah dengan sukarela." Dania mengerucutkan bibirnya.


Deta menatap nanar wajah adiknya yang semakin cantik saat usianya bertambah dewasa. "Kakak bingung, kenapa kau dan Dito tidak bisa akur?"


Dania berdecak nyaring. "Kakak tahu sendiri bagaimana kak Dito!"


Tawa Deta yang terdengar mengisi ruangan ternyata mampu mengurangi sedikit kegelisahan di hati Dania. Tanpa ragu tangannya membentang memeluk tubuh Deta yang tak pernah berubah sedikitpun sejak mereka berpisah sepuluh tahun yang lalu.


"Kakakku ini semakin cantik saja," ucap Dania seraya memainkan ujung rambut Deta.


Deta melepaskan pelukan Dania. "Kau juga akan semakin cantik saat sudah menjadi seorang ibu nanti."


"Aku tidak mengerti," gumam Dania, lalu memalingkan wajahnya.


"Sayang ...." Deta meraih tangan Dania. "Saat kau memiliki anak, hidupmu akan semakin lengkap dan bahagia. Saat kau merasa bahagia, kecantikan akan terpancar secara alami dari wajahmu. Apalagi kau memiliki suami yang tampan dan baik seperti kak Nino. Kakak yakin, dia tidak akan membiarkanmu mengeluh sedikitpun." jelasnya.


Dania tersipu malu mendengar setiap kata yang di ucapkan Deta. Terlebih setiap kata yang di utarakan Deta berisi pujian untuk suaminya.


'Benarkah seperti itu? Benarkah saat aku menjadi seorang ibu hidupku akan sempurna?' Batin Dania ragu.


"Apa benar begitu, Kak?" tanya Dania ragu.


"Tentu saja benar!" sahut seseorang yang berdiri di ambang pintu utama.


Dania dan Deta menoleh bersamaan karena suara asing yang sudah lama tidak terdengar oleh keduanya.


"Kau???"


Hallo semuanya 🤗


Maaf karena jadwal up yang masih amburadul ini 🙏🏼


Stay healthy and happy readers kuhh sayang 😘

__ADS_1


__ADS_2