
Rasa kecewa yang di hadirkan oleh seseorang yang mulai memiliki tempat di hati, ternyata mampu membunuh diri secara perlahan.
Itulah yang dirasakan Dania saat ini. Ia seperti mati berulang kali di hari yang sama. Setiap melihat wajah Nino, Dania selalu teringat apa yang telah dilakukan suaminya itu padanya.
"Andai saja aku tidak mencintaimu, maka rasanya tidak akan sesakit ini saat aku mengetahui bahwa cintamu bukan hanya untukku!" lirih Dania, nyaris tertelan bersama salivanya.
Nino mencoba untuk meraih dagu Dania, tapi niatnya langsung buyar ketika pintu terbuka.
"Dania!!! Sayang?" jerit Deta, panik melihat kondisi Dania yang terbaring lemah.
Deta segera menghampiri Dania dari sisi kosong yang berseberangan dengan Nino. Mata bulatnya mengamati wajah Dania dan Nino secara bergantian.
'Sepertinya, kali ini masalahnya tidak sesimpel itu.' Batin Deta cemas. "Apa yang terjadi, Kak Nino? Bagaimana Dania bisa seperti ini?" tanyanya.
Nino mengalihkan pandangannya pada Deta. Mulutnya sudah terbuka untuk menjawab. Namun, Dania langsung menyelanya.
"Aku hanya lelah, Kak." Dania memaksakan senyumnya.
"Kau yakin?" tanya Deta, masih terlihat kecemasan di wajahnya.
Dania mengangguk lemah. "Iya, Kak. Tidak ada yang perlu di khawatirkan."
Terdengar Deta menghela nafasnya perlahan. "Baiklah! Kau lebih tahu kondisi tubuhmu saat ini. Kak Nino, sebaiknya kau pulang saja! Biar aku yang akan menjaga Dania."
Bola mata Nino melirik Dania yang tidak bereaksi sedikitpun. "Tidak, Ibunya Tary. Aku akan menjaga istriku disini. Lagi pula, udara rumah sakit tidak baik untuk ibu hamil."
Wajah Deta bersemu merah. Mata bulatnya bahkan sedikit membesar karena ucapan Nino.
"Itu bukan masalah, Kak Nino." Deta berusaha bicara setenang mungkin.
"Akan jadi masalah jika Ricky tahu aku membiarkan istrinya yang sedang hamil berada di rumah sakit semalaman," keluh Nino seraya tersenyum usil.
Sejujurnya, Deta melihat adanya kejanggalan dari sikap Nino yang terlihat biasa saja. Sayang sekali, Deta tidak memiliki kesempatan untuk bertanya karena baginya masalah rumah tangga adiknya adalah hal yang sangat sensitif. Deta juga tidak ingin melewati batasnya sebagai seorang kakak.
"Kalau begitu, aku akan turun dan membeli makanan untuk kalian." Deta tersenyum dan melangkah keluar tanpa menunggu jawaban.
Nino segera bangkit dan menyusul Deta. "Tunggu, Ibunya Tary! Biar aku saja."
Deta mengangguk dan kembali mendekati Dania. "Baiklah! Aku akan menemani Dania disini."
__ADS_1
Setelah kepergian Nino. Dania bungkam seribu bahasa. Jelas itu dapat dirasakan oleh Deta karena Dania adalah sosok gadis periang dan banyak bicara. Aneh rasanya jika Dania tiba-tiba menjadi pendiam seperti ini.
"Dania? Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Deta lembut, di barengi sapuan hangat di tangan Dania.
Dania menoleh dengan mata yang sudah di banjiri air mata. "Kakak, aku sudah tidak sanggup ...."
***
Suasana koridor rumah sakit nampak lengang di sore hari. Hanya ada beberapa petugas medis yang terlihat berlalu-lalang.
Nino berjalan penuh semangat dengan membawa dua kantung makanan di tangannya. Tak ada kecemasan di hatinya karena Deta sudah datang dan pasti akan membantu dirinya untuk menenangkan Dania.
Langkah kaki Nino terhenti ketika ia sampai di depan ruang perawatan Dania. Ia pun menyatukan dua kantung di tangannya dan membuka pintu dengan salah satu tangannya yang lain.
"Moony, makanan sudah dat -" Kata-kata Nino menggantung ketika melihat bed pasien yang sebelumnya di tempati Dania sudah kosong.
Nino menjatuhkan makanan yang di belinya dan setengah berlari untuk memeriksa kamar mandi. Kosong. Dania tidak ada di sana. Bahkan, Deta pun tidak ada.
"Suster!!!" teriak Nino, tak peduli lagi ada dimana ia saat ini.
Seorang perawat langsung masuk dan terlihat kebingungan. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
Perawat itu mengikuti arah tangan Nino sesaat, kemudian kembali menatap Nino. "Istri anda sudah pulang bersama dengan seorang wanita beberapa saat yang lalu, Tuan."
"Pulang?" tanya Nino memastikan dan di jawab anggukan pasti oleh perawat itu. "Bagaimana istriku bisa pulang? Kondisinya masih sangat lemah!" gerutu Nino kesal.
"Istri anda telah di perbolehkan pulang oleh dokter Shanum, Tuan." Perawat itu masih bersikap tenang menghadapi Nino yang mulai naik pitam.
Nino mengusap wajahnya kasar. "Seharusnya aku sudah menduganya. Baiklah, terima kasih informasinya, Suster."
Dengan cepat Nino pergi untuk menyusul Dania. Tanpa bertanya pun ia sudah tahu akan kemana Dania.
"Kenapa kau pergi, Moony? Kenapa?" gumam Nino. Berulang kali Nino membenturkan kepalanya di kemudi karena merasa begitu frustasi. "Sepertinya aku tidak ada pilihan lain."
Mobil Nino pun melaju membelah jalanan ibukota yang sudah di padati banyak kendaraan.
***
Hiks ... Hiks ... Hiks ...
__ADS_1
Suara memilukan Dania masih menjadi melodi di telinga kedua kakaknya. Ya, Deta dan Dito dengan sabarnya mendengarkan adik bungsu mereka itu menangis. Menumpahkan segala keresahan di hatinya.
"Apa kau tidak lelah?" tanya Dito, mulai bosan menghadapi Dania. "Katakan! Apa yang sebenarnya terjadi?"
Mata sipit Dania mendongak dan melihat Dito yang bersandar di ambang pintu dengan tubuh tegapnya. Ada kelegaan dan rasa takut yang datang bersamaan saat Dania menatap wajah kakak laki-lakinya itu. Bisakah Dania percaya pada kakaknya yang temperamental itu? Bagaimana jika semuanya justru semakin berantakan? Semua pertanyaan itu menghantui pikiran Dania hingga ia lupa menjawab pertanyaan sang kakak.
"Hei, bicaralah!!!" bentak Dito, hingga Dania terperanjat.
"Dito!" Deta menggeram dengan mata yang membesar dan mulut yang bergerak-gerak tanpa suara.
Wajah Dito yang awalnya dingin pun berangsur hilang dan berganti senyuman. "Dania, jika kau diam saja bagaimana aku dan kak Deta akan tahu masalahmu? Atau kau ingin kakakmu ini mencari tahu sendiri? Tapi kau harus ingat, apa konsekuensinya jika aku mengetahui sendiri apa yang sebenarnya terjadi!"
Ancaman Dito membuat tubuh Dania gemetar. "Kakak ...."
"Katakan, Sayang! Sejak di rumah sakit kau hanya mengatakan bahwa kau lelah dan ingin pulang. Kita bahkan tidak memberi kabar pada kak Nino jika kau pulang ke rumah Dito, bukan ke rumah kalian." Deta menghapus air mata Dania yang masih berjatuhan.
Bahu Dania bergerak naik turun akibat menangis sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit hingga saat ini. Dania sendiri bingung kenapa hatinya begitu hancur dan terluka. Sepanjang hidupnya, baru kali ini Dania merasa terbuang dan di campakkan. Walaupun sebelumnya Dania sudah pernah memergoki Gibran bermesraan dengan wanita lain, tapi saat itu Dania tidak sehancur ini. Mengapa ketika melihat Nino bersama wanita lain, Dania merasa begitu sangat terluka? Bukankah Dania juga mencintai Gibran saat itu? Bagaimana mungkin rasanya berbeda?
"Kak, biarkan aku tinggal disini bersama kakak dan kak Shan." Dania tidak berniat menjawab pertanyaan Dito sama sekali. Wajahnya memelas dan memohon penuh harap.
Dito mendesah kesal. "Aku tidak ada masalah jika kau ingin tinggal disini selama apapun yang kau inginkan, tapi kau harus memberi tahu padaku semua yang terjadi! Aku tidak ingin menciptakan masalah untuk rumah tanggamu."
"Tapi, Kak -"
"Dito benar, Sayang!" Deta langsung memotong ucapan Dania. "Kau sudah menjadi istri seseorang. Tidak baik jika kalian tinggal terpisah."
Tangan Dito menepuk puncak kepala Dania dengan penuh kasih. "Masalah dalam rumah tangga itu biasa terjadi, tapi jika aku boleh memberi saran padamu. Sebaiknya, jangan selalu pergi dari rumah setiap kau ada masalah. Tidak baik berperilaku seperti itu, Dania! Selesaikan masalahmu dengan suamimu dan datanglah kesini kapanpun kau menginginkannya. Aku tidak akan melarangmu datang karena ini juga rumahmu. Hanya ingatlah satu hal! Saat kau sudah menikah, maka rumah suamimu adalah satu-satunya tempat untukmu pulang."
Air mata Dania kembali meluncur bebas. "Ta- Tapi ... Dania tidak ingin kembali padanya."
Deta dan Dito saling berpandangan. Belum mengerti kemana arah pembicaraan Dania.
"Kenapa?" tanya kedua kakak beradik itu kompak.
"Karena dia sudah mengkhianati cintaku ...."
Hallo semuanya 🤗
Salam cinta terhangat dari Da Nino 😘
__ADS_1