Istri Kecil Om Pedofil

Istri Kecil Om Pedofil
KAMAR DANIA


__ADS_3

"Kau yakin membiarkan aku tidur disini?"


Entah pertanyaan itu sudah berapa kali di lontarkan oleh Nino, sejak ia masuk ke kamar tidur Dania di rumah lama keluarga Riady. Matanya berpencar menyapu seluruh isi kamar yang memancarkan aura seorang Dania Riady.


Dania memicingkan matanya. "Kenapa? Kau takut tidur bersamaku?"


Tentu saja bukan itu alasan Nino. Ia hanya tidak ingin kehilangan kontrol dirinya seperti malam sebelumnya di pondok keluarganya. Terlebih ketika Nino melihat ukuran tempat tidur Dania yang hanya setengah dari ukuran tempat tidur miliknya di rumah besar Ferdinan. Bukan tidak mungkin mereka akan bersentuhan saat tengah tertidur.


"Kau tahu aku tidak takut, Moony." Wajah Nino memerah, sementara tangannya menutupi setengah dari wajahnya.


Sebuah senyuman terukir di wajah cantik Dania, ketika ia tanpa sengaja melihat Nino yang tersipu malu.


"Kalau begitu, apa masalahnya kita tidur bersama? Lagipula, kita sudah pernah melakukannya di apartemenmu bukan?" goda Dania seraya naik ke tempat tidurnya.


Nino merasa kakinya melekat kuat di lantai hingga ia tidak bisa bergerak. Bahkan, hanya untuk bergeser sedikit saja Nino tidak mampu.


'Astaga! Ada apa denganku? Aku ini pria tua yang hampir memasuki kepala empat dan aku justru bertingkah seperti anak remaja berusia belasan tahun saja.' Umpat Nino dalam hati.


Dania berdeham kencang hingga membuat Nino tersentak. "Hahaha ... Kau melamun, Om?"


"Tidak!" sanggah Nino, kemudian mengalihkan pandangannya pada kursi yang terdapat di meja belajar Dania. "Aku hanya sedang berpikir, sepertinya tidur di kursi juga bukan pilihan yang buruk."


Dania mengikuti ke arah Nino menatap, sebelum akhirnya mendengus. "Jika itu pilihanmu. Apa lagi yang bisa aku lakukan? Tapi ingat, jangan pernah mengatakan jika aku tidak mengurusmu dengan baik!"


Nino berjalan untuk menghampiri kursi yang akan menjadi tempatnya beristirahat. "Tidak akan! Aku tidak pernah memiliki keluhan apapun terhadapmu, Moony."


Lidah Dania kelu. Pikirannya entah melayang kemana setelah mendengar ucapan Nino. Bagaimana mungkin pria itu tidak memiliki keluhan terhadapnya. Walaupun Dania tidak ingin menikahinya, tapi bukankah Nino berhak menuntut haknya kepada Dania. Namun, saat ini pria itu justru merasa Dania adalah seorang istri yang sempurna. Sekali lagi, Dania merasa ia sangatlah istimewa.


"Tidurlah!" ucap Dania, kemudian menarik selimutnya dan bersembunyi.


Melihat tingkah sang istri yang menggemaskan, sebenarnya sedikit menyiksa Nino karena ia hanya bisa menatap tanpa bisa melakukan apapun. Meskipun Nino tahu bahwa Dania mulai membuka hatinya, tapi Nino tidak ingin terburu-buru dan membuat Dania takut sebelum memulai.


Nino bersandar di kursi dan menghadap ke arah tempat tidur Dania, sementara pandangannya terpusat ke langit-langit kamar.


'Begini sudah cukup. Iya benar! Begini saja sudah lebih baik.'


***


"Mas, menurutmu apa Dania sudah berbaikan dengan kak Nino?" tanya Deta, suaranya parau karena kelelahan dan mengantuk.


Ricky mengecupi puncak kepala Deta yang bersandar di dada bidangnya. "Aku yakin sudah."

__ADS_1


"Kenapa Mas begitu yakin?" tanya Deta lagi, masih bergelut manja pada suaminya itu.


"Karena Dania itu tidak pendendam seperti kakaknya ini." Ricky tertawa hingga tubuhnya bergetar dan membuat Deta seketika menjauhinya.


Mata bulat Deta menatap kesal suaminya. "Aku pendendam? Hah! Bagus kalau Mas sudah tahu. Jadi ... Sebaiknya, Mas, jangan buat kesalahan padaku!"


Ricky terperangah melihat reaksi Deta. "Maaf, Sayang, aku hanya bercanda. Kenapa kau sensitif sekali?"


Deta sempat menolak ketika Ricky ingin kembali merengkuh tubuhnya, tapi bukan Ricky namanya jika tidak bisa menaklukkan hati Deta. Ia pun menjatuhkan kepalanya di pangkuan Deta hingga istrinya itu hanya bisa menatapnya dengan kesal.


"Mas ...," Deta mendesah kesal, tapi tetap membiarkan Ricky berada di pangkuannya.


"Jika Detaku tidak ingin mendekat, maka biarkan aku yang menempel padanya!" gumam Ricky seraya memejamkan matanya.


Tingkah Ricky yang seperti ini selalu berhasil membuat Deta luluh dan memaafkan semua kesalahannya. Sayangnya, Deta masih belum menemukan cara untuk membuat Ricky mengalah seperti dirinya tentang satu hal hingga hari ini.


"Mas ...," Deta mengusap lembut rambut Ricky.


Ricky hanya menggeram, tanpa membuka matanya.


"Sepertinya hidup kita masih kurang lengkap." Deta mencoba berbicara dengan sangat hati-hati.


Mata Ricky tiba-tiba terbuka dan langsung menatap wajah Deta yang gugup.


Nafas Deta terengah-engah ketika Ricky akhirnya melepaskan dirinya dengan sebuah seringai di wajah tampannya.


'Kenapa selalu berakhir seperti ini?' Batin Deta kesal.


"Sayang ...," Ricky kembali memposisikan tubuhnya dengan tangan yang terlipat di dada. "Aku rasa sebaiknya kau mulai membantu hubungan Dania dan Nino. Dengan begitu, kau akan segera memiliki keponakan kecil yang lucu." sarannya.


Ricky sengaja mengatakan hal tersebut dengan nada bicara yang dingin dan penuh ancaman. Ia tahu jika istrinya itu akan mengutarakan keinginannya untuk kembali memiliki keturunan.


Deta menghela nafasnya perlahan. "Aku tidak tahu harus membantu mereka darimana, Mas."


Walaupun Deta masih sangat ingin membahas tentang keluarga kecilnya, tapi ia sudah paham betul jika Ricky tidak akan bersedia untuk membicarakannya lagi. Maka, Deta pun harus mengalah lagi untuk kali ini.


Tangan Ricky mencubit lembut kedua pipi Deta. "Kau ini! Aku heran, bagaimana mungkin Dania dan Dito tumbuh dewasa dan menjadi bijaksana sementara kakaknya begitu lugu dan polos seperti ini?"


Bibir Deta mengerucut karena kesal dengan ejekan Ricky. "Biar saja! Aku memang tidak ingin jadi dewasa."


Ricky menggigit bibirnya, menahan hasrat di hatinya ketika melihat Deta melakukan hal yang paling menggemaskan menurutnya. Namun, ia tiba-tiba saja teringat satu hal sehingga membuatnya menahan semua gejolak di hatinya.

__ADS_1


"Sayang, aku lupa bertanya padamu. Kemarin malam Dania menghubungiku beberapa kali. Apa yang terjadi? Apa karena dia bertengkar dengan Nino?" tanya Ricky seraya bangun dan bersandar di tepi tempat tidur.


Deta melipat kedua kakinya agar Ricky tidak mencuri kesempatan lagi darinya. "Aku tidak yakin, Mas, tapi Dania juga menghubungi aku. Tapi melihat sifat Dania, rasanya tidak mungkin dia menghubungi kita hanya karena bertengkar dengan kak Nino."


"Benar juga!" sahut Ricky.


"Tapi, Mas, ada yang sedikit aneh." Deta memutar bola matanya, mencari kembali ingatan yang ingin ia ceritakan pada suaminya.


Ricky menaikkan sebelah alisnya. "Aneh? Apa itu, Sayang?"


"Saat aku menemui Dania di rumah Dito, tiba-tiba saja Dania menanyakan tentang keluarga kak Nino. Dia bahkan bertanya tentang ibunya kak Nino." Deta kembali mengerucutkan bibirnya.


Tangan Ricky mengepal kuat melihat bibir menggoda sang istri. "Oh ya? Bukankah itu bagus?"


Deta mengangguk ragu. "Aku harap seperti itu, Mas."


"Sudahlah, jangan terlalu memikirkan hal yang belum tentu terjadi! Aku yakin jika pria tua konyol itu pasti akan bisa meluluhkan hati Dania." Ricky menurunkan tubuhnya hingga berbaring dan masuk ke dalam selimut.


"Aku akan mendoakan kak Nino agar cepat mendapatkan tempat di hati Dania." Deta menangkup kedua tangannya dengan penuh semangat.


Ricky memberengut kesal. "Hei, Sayang, jangan mendoakan pria lain apalagi di hadapanku!"


Deta tertawa geli menyadari sikap posesif suaminya dan langsung menyusul Ricky ke bawah selimut.


"Dasar bayi besarku yang pencemburu!" ejek Deta.


"Apa yang baru saja kau katakan? Hah!" seru Ricky, kemudian menutupi seluruh tubuh mereka dengan selimut.


"Ah, Mas! Cukup ...,"


***


Haacchii ...


Nino tiba-tiba saja bersin, tepat saat ia baru akan memejamkan matanya.


"Siapa yang mengutukku malam-malam begini?"


Hallo semuanya 🤗


Terima kasih masih setia bersama Dania dan om Nino 😘

__ADS_1


Jangan lupa ❤nya biar author makin semangat 😍


__ADS_2